
Sherlyta menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu, Gita masih tidur saat dirinya sampai dirumah beberapa menit yang lalu. Memejamkan mata dan memijat pelan keningnya untuk menghilangkan rasa pusing yang datang akibat kurang tidur.
“Lo kapan pulang, Sher?” Baru saja ingin tertidur, suara Gita mengurungkan niatnya. Kembali Sherlyta membuka matanya dan menatap sinis pada sahabatnya itu. Gita tidak memperdulikan dan memilih duduk di sofa single yang tidak jauh dari Sherlyta yang duduk di Sofa panjang.
“Gimana kondisi Samuel?” penasaran, perempuan pendek itu langsung bertanya, tanpa mau memberi Sherlyta waktu untuk istirahat.
“Gak apa-apa, cuma kaki kanan yang patah sama muka yang terkena pecahan kaca. Itu doang yang parah, yang lainnya cuma luka kecil.” Dengan malas Sherlyta menjawab.
“Terus kenapa lo pulang pagi buta gini, bukannya nungguin dia dirumah sakit?”
“Buat apa? Udah ada Cesil yang jagain.” Dengan lesu Sherlyta menjawab, meringis saat hatinya kembali sakit dan dadanya yang sesak.
“Gini ya, kalau jadi kekasih kedua, rahasia lagi. Harus menanggung rasa sakit seorang diri. Tidak bisa melakukan apapun meskipun rasa cemburu itu nyata.” Entah sadar atau tidak Sherlyta mengucapkan itu semua, membuat Gita mengernyit bingung juga terkejut.
“Maksud lo? lo sama dia …?” mengangguk adalah jawaban tercepat untuk diberikan dan mudah di pahami.
“Sejak kapan?” Sulit untuk dipercaya, namun ini Gita mendengar dari mulut sahabatnya sendiri.
“Tiga hari yang lalu, saat gue ngurung diri dikamar. Dia datang. Awalnya gue gak mau buka pintu buat dia karena belum ingin bicara apapun dengannya. Tapi dia ngancam akan mendobrak pintu kamar. Akhirnya gue buka. Dia kekeh mau batalin pernikahannya sama Cesil. Ya, gue gak setuju dong. Akhirnya dia tanya tentang perasaan gue, gue bilang aja gue udah gak punya perasaan itu, tapi dia gak percaya dan akhirnya cium bibir gue, …”
“Lo marah?” Tebakan yang salah cepat memotong cerita Sherlyta. Perempuan sipit itu menggeleng.
“Jadi lo balas?” Raut wajah tak percaya terlihat jelas dari sahabatnya itu.
“Iya lah gue bales. Jujur aja gue gak bisa bohongin perasaan gue sendiri. Meskipun mulut gue bilang enggak, tapi nyatanya hati gue mengatakan iya. Sepuluh tahun, Git gue nunggu dia dengan sabar, bukan waktu yang sebentar tanpa adanya kabar sedikitpun. Dan saat bertemu, tiba-tiba dia udah mau nikah, lupa sama janji yang pernah diucapkan sebelum pergi. Bisa lo bayangkan gimana sakit dan kecewanya gue? Dia nikah dengan sahabat gue sendiri, mesra-mesraan depan gue. Dan dia baru sadar dengan semua itu saat gue bilang kalau perasaan gue masih sama seperti dulu, nunggu dia meski akhirnya sia-sia. Sakit, Git! Gue gak sekuat itu. Gue ingin egois, tapi gue gak bisa, Cesil terlalu berharga buat gue. Gue gak mau nyakitin dia, meskipun pada akhirnya gue mengecewakannya juga.” Air mata Sherlyta menetes mengiringi ceritanya.
Gita berpindah duduk menjadi disamping Sherlyta, membawa tubuh rapuh itu kedalam pelukannya, untuk memberikan sekedar ketenangan. Dapat dirinya rasakan seperti apa sakitnya Sherlyta menahan semua ini sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan Sherlyta, karena bagaimanapun Sherlyta adalah korban. Bukan juga salah Cesil, karena perempuan itu tidak mengetahui apapun, bukan juga salah Samuel, karena lupa adalah sifat alamiah manusia. Ini hanya masalah waktu dan keadaan.
“Waktu gue mungkin gak akan lama lagi, maka dari itu gue mengiyakan ajakan Samuel untuk menjalin hubungan ini. Bukan maksud menghancurkan atau menghianati sahabat gue sendiri. Tapi gue hanya ingin merasakan kebahagiaan ini meskipun hanya sekejap, gue ingin menghabiskan sisa waktu gue bersama seseorang yang selama ini menjadi tujuan gue.” Gita tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan sahabatnya itu, tapi ia merasakan ada sesuatu yang mungkin perempuan itu sembunyikan dari semua orang.
“Lo istirahat, gih, udah makin ngaco ngomongnya. Gak usah ke butik, biar gue aja yang urus.” Titahan itu dibalas anggukan lemah oleh Sherlyta, perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki satu persatu undakan tangga dengan lemas.
Gita menatap punggung rapuh itu dengan iba, hatinya tersentil mengetahui beban yang di pikul sahabat sekaligus bosnya itu. Hidup sebatang kara di usia yang masih sangat muda, di tuntut untuk mandiri, melakukan segala sesuatu seorang diri, berjuang untuk bisa bertahan hingga sejauh ini. Tidak banyak manusia yang mampu berada di posisi Sherlyta. Dan maka dari itu, Gita amat bersyukur karena masih memiliki orang tua yang lengkap, keluarga yang menyayanginya meskipun dalam kesederhanaan.
__ADS_1
“Gue berdoa, semoga kebahagiaan akan segera menghampiri lo.” Batin Gita berbicara.
♥
Hingga siang ini kemunculan Sherlyta belum juga terlihat, membuat laki-laki dengan sebelah kaki dan wajah yang berbalut perban itu terus bergerak gelisah. Ia ingin segera bertemu dengan kekasihnya, perempuan bermata sipit dengan bulu mata lentik, hidung mancung yang mungil, dagu lancip, pipi yang Chuby dan bibir tipis merah alami, ditambah dengan kulit putih yang halus, merupakan devinisi sempurna di mata Samuel. Dengan mengingatnya saja dada Samuel mampu berdesir hangat, hatinya seperti tergelitik ribuan kupu-kupu. Betapa Samuel merindukan perempuan cantik bermata tipis itu.
Sebenarnya Samuel tidak sendiri, ada Cesil yang duduk di kursi sebelah ranjangnya, ada Mama dan Papanya yang duduk di sofa tengah menonton siaran televisi, suasana pun tidak sepi, karena selalu ada obrolan dan tawa dari ketiga orang itu. Hanya hati Samuel lah yang terasa kosong dan sunyi, tidak sedikitpun laki-laki itu merasa kesal saat mendapat ledekan dari kedua orang tuanya. Tidak juga tersenyum saat Ibunya membahas masa kecil Samuel pada Cesil yang akan menjadi menantunya, laki-laki itu tetap tanpa ekpresi, terlihat jelas dari kedua matanya yang tidak menampilkan binar itu.
Samsul memperhatikan anak laki-laki semata wayangnya yang sedari tadi selalu menghela napasnya, dadanya yang naik turun. Akhirnya Samsul berjalan menghampiri laki-laki berusia 25 tahun itu, meminta Cesil untuk berganti tempat duduk. Samsul dapat melihat mata putranya itu yang menunjukan rasa bosan dan tidak bersemangat.
“Kamu kenapa?” pelan Samsul bertanya karena tidak ingin kedua perempuan beda generasi yang kini membicarakan persiapan pernikahan antara Samuel dan Cesil di sofa sana. Terlihat jelas ketidak nyamanan dari mata putranya itu.
“Lyta mana?” hanya gerakan bibir tanpa suara yang Samuel lakukan. Samsul menggelengkan kepalanya tak tahu. Samuel mengangkat tangan kirinya yang bebas dari selang infus, melipat tiga jari yang posisinya berada di tengah sambil mendekatkan pada telinganya, meminta sang Ayah untuk menghubungi Sherlyta. Tangan kiri dengan beberapa luka gores yang tidak di balut perban itu kembali Samuel turunkan dari dekat telinganya. Menatap sang Ayah dengan tatapan memohon.
Samsul menghela napasnya, memutar kepalanya melihat kerah istri dan juga calon menantunya yang masih mengobrol dan kembali menatap Samuel yang masih memohon dengan matanya membuat Samsul tidak tega dan akhirnya mengangguk. Seutas senyum terbit di bibir tipis yang tidak terbalut perban. Matanya pun menyiratkan kebahagiaan. Samsul masuk kedalam toilet yang berada didalam kamar itu untuk menghubungi Sherlyta dan meminta perempuan itu untuk datang. Berusaha berbicara dengan volume kecil agar tidak terdengar oleh Arini dan Cesil yang berada di sofa sana.
Sherlyta terbangun dari tidurnya karena suara deringan dari ponsel yang berada di samping bantal, merasa menyesal karena tidak meletakan benda persegi itu jauh dari jangkauannya. Tanpa perduli siapa yang menghubungi, Sherlyta langsung menekan tombol merah, menolak panggilan itu, lalu kembali meletakan ponsel tersebut di sisi batalnya. Bebebrapa detik kemudian benda persegi itu kembali berdering, membuat Sherlyta mengerang kesal.
“Kamu lagi tidur, Nak?”
“Hemm.”
“Sam, minta kamu datang kesini. Dari tadi dia cemberut terus nunggu kamu.” Mata Sherlyta terbuka lebar saat menyadari siapa yang menghubunginya. Melihat layar ponsel untuk sekedar memastikan, Sherlyta kembali menempelkan ponsel tersebut pada telinga kirinya.
“Maaf, Yah, Lyta gak tahu kalo Ayah yang telpon,” sesalnya meringis.
“Gak apa-apa, Nak, Ayah mengerti.” Samsul berbicara dengan lembut.
“Kamu bisa, kan kesini?”
“Bukannya disana udah ada Cesil?” Sherlyta bertanya dengan hati-hati.
“Sam inginnya kamu, Nak. Kamu kesini ya? Temui Samuel. Kamu tahu sendiri manjanya dia kalau lagi sakit,” Bujuk Samsul memohon. Sherlyta menghela napasnya kemudian mengangguk meskipun Samsul tidak dapat melihat anggukannya itu.
__ADS_1
Setelah mengakhiri sambungan tersebut, Sherlyta bangkit dari tidurnya dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Celana jeans warna hitam yang dipadukan dengan blus berwarna putih tanpa lengan membuat Sherlyta terlihat cantik, di tambah rambut hitam sepinggang yang tergerai dan sedikit gelombang terlihat indah dan menambah kecantikannya.
Seperti biasa rumah besar ini selalu sepi setiap hari karena memang hanya Sherlyta dan Gita lah yang menjadi penghuni rumah dua lantai ini. Gita seperti biasa berangkat ke Butik karena kebetulan hari ini Sherlyta dan Cesil tidak ada yang pergi kesana, jadi Gita lah yang menghendle semuanya.
Setelah mengunci pintu rumah, Sherlyta menyalakan mobilnya dan melajukannya meninggalkan gerasi rumah, tidak lupa menutup dan mengunci pagar kembali sebelum benar-benar pergi. Teringat jika dirinya belum makan apapun sedari kemarin di tambah dengan suara perut yang meronta minta di isi, akhirnya perempuan cantik itu berhenti di sebuah rumah makan padang dan memesan lima bungkus nasi beserta rendang.
Tok tok tok
Sherlyta mengetuk pintu terlebih dulu sebelum akhirnya masuk kedalam ruang rawat Samuel. Semua yang berada di ruangan itu tersenyum menyambut kedatangan Sherlyta, terutama laki-laki yang duduk bersandar pada kepala brangkar yang di naikan.Ddia lah yang terlihat amat bahagia, terlihat dari matanya yang berbinar, dan bibir yang menyungging di barengi dengan ringisan-ringisan kecil.
“Selamat siang Ayah, Bunda,” sapaan dan senyuman Sherlyta berikan pada kedua paruh baya itu yang di balas suka cita oleh keduanya.
“Sini, Nak,” Titah Arini, menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, menyuruh perempuan cantik itu untuk duduk di sampingnya. Sherlyta menurut.
“Cesil mana?” tanyanya saat tak mendapati keberadaan perempuan berwajah jutek itu di sekeliling kamar rawat ini.
“Cesil pulang dulu buat istirahat.” Sherlyta mengengguk paham.
“Bunda sama Ayah udah makan belum? Ini Lyta bawakan nasi padang.” Kedua paruh baya itu tersenyum saat Sherlyta mengeluarkan apa yang di bawanya.
“Kok banyak banget, Lyt?”
“Tadi Lyta beli untuk satu orang satu, tapi ternyata Cesil udah pulang. Sam di bolehin makan nasi padang gak?” perempuan sipit itu menoleh kearah Samuel yang terus menatapnya.
“Boleh kayaknya, itu juga kalo dia bisa ngunyahnya. Tadi di suapin bubur aja dia meringis terus.” Arini mencibir anak laki-lakinya itu.
Sherlyta berjalan mendekat pada ranjang rumah sakit dengan membawa satu bungkus nasi padang bagiannya, duduk di kursi yang berada di samping kiri ranjang dan tersenyum pada laki-laki yang tengah bersandar di kepala ranjang dengan wajah masih di balut perban itu.
“Mau gak?” tawar Sherlyta setelah membuka bungkusan itu. Samuel mengangguk pelan, tatapan matanya tidak lepas dari wajah cantik sang kekasih. Shelyta menyuapi laki-laki itu sedikit demi sedikit karena Samuel yang tidak bisa membuka lebar mulutnya, sesekali ringisan kecil terdengar membuat Sherlyta tidak tega.
“Sakit?” Tanya Shelyta Khawatir. Samuel mengangguk pelan, namun kemudian tersenyum seolah mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.
“Aku kangen.”
__ADS_1