Sherlyta

Sherlyta
Chapter 22


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama untuk Samuel dapat kembali menggunakan kakinya untuk berjalan, keinginannya untuk sembuh dan dengan semangat yang di berikan oleh sang kekasih, membuat Samuel rajin berlatih berjalan seorang diri di kamaranya tanpa sepengetahuan siapapun. Kini laki-laki itu sudah bisa berjalan normal hanya dengan hitungan minggu, walau belum bisa berjalan terlalu jauh dan berdiri terlalu lama. Namun Samuel masih berpura-pura kesulitan berjalan saat di hadapan orang tua dan juga tunangannya yang tidak pernah absen datang, bahkan Sherlyta pun belum tahu perihal itu karena Samuel ingin memberikan kejutan pada kekasihnya itu.


Kini Samuel duduk di sofa ruang tengah, menonton televisi dengan ditemani berbagai cemilan yang sebelumnya Arini sediakan. Kedua orang tuanya itu akan pergi menghadiri pernikahan anak dari kerabat sang Ayah yang berada di luar kota. Dan menitip kan anak laki-laki satu-satunya itu pada Cesil, sang calon mantu untuk menjaga Samuel. Awalnya laki-laki itu menolak, namun Arini tidak menerima protesan dari anaknnya, membuat Samuel mendengus kesal.


Setengah jam kemudian Cesil sampai di kediaman Samuel dengan membawa rantang yang sudah bisa di tebak berisi makanan. Tidak sedikit pun rasa bahagia di hati Samuel saat sosok cantik yang beberapa tahun menjadi kekasihnya itu datang dengan senyum yang mengembang manis, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona begitupun dengan Samuel, tapi itu beberapa tahun yang lalu, karena kini senyum itu sudah tergantikan oleh senyuman lain yang lebih bisa memikatnya hanya dalam waktu singkat.


Cesil duduk di samping Samuel, meletakan rantang berwarna merah muda yang dibawanya di atas meja lalu membukanya satu persatu. Samuel tak lepas memperhatikan perempuan cantik berwajah jutek itu, ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya yang melintas begitu saja. dalam hati ia terus merapalkan kata maaf untuk perempuan yang tidak bersalah itu. Samuel mengakui bahwa ia salah, menghianati perempuan sebaik Cesil. Tapi apalah daya perasaan tak mampu ia kendalikan, hatinya menginginkan Sherlyta, meskipun sebelumnya perempuan didepannya lah yang ia inginkan, tapi sekarang berbeda.


“Kamu kenapa ngeliatin aku gitu banget?” Samuel mengalihkan tatapannya kembali kearah layar televisi tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan tunangannya. Cesil menghela napasnya, menatap laki-laki yang menjadi raja di hatinya selama hampir 10 tahun itu dengan serius.


“Adnan, aku kok ngerasa kamu akhir-akhir ini berubah sama aku. Kamu gak lagi sehangat dulu, dan pancaran mata kamu juga sekarang berubah. Kamu lebih banyak diam saat bersamaku, tak pernah lagi kamu menghubungiku sesering dulu, tak pernah lagi kamu memberi perhatian, dan mengunjungiku. Tak ada lagi ungkapan sayang dan cinta yang dulu selalu kamu ucapkan.”


“Aku gak ngerti, Nan, apa yang membuat kamu berubah seperti ini. Aku juga tidak mengerti dimana letak kesalahanku.” Ucapan yang Cesil utarakan membuat hati kecil Samuel tersentil, rasa bersalah itu kian besar apalagi melihat setetes air mata yang terjatuh dari sudut mata perempuan yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun ini. Samuel membawa Cesil kedalam pelukannya, memeluk tubuh ramping itu dengan erat.


“Maaf, maaf kan aku, Sil.” Cesil mengeratkan pelukan pada tubuh tegap milik tunangannya itu, tangisnya semakin menjadi saat kata maaf yang selalu di ucapkan Samuel tanpa memberi tahu alasan yang mendasari kata maafnya itu.


Perlahan Cesil melepaskan pelukan di tubuh Samuel, menatap tepat pada bola mata berwarna hitam tajam itu, tatapan laki-laki itu sulit untuk dirinya tebak, membuat Cesil sulit untuk mengetahui apa yang tengah ada dalam pikiran calon suaminya.


Banyak cerita yang disampaikan oleh Cesil dikala keduanya menikmati waktu seperti ini. Kebiasaan yang dulu sering menjadi rutinitasnya namun beberapa waktu ini tidak keduanya lakukan. Samuel hanya mendengarkan tunangannya itu bercerita, menceritakan bagaimana kesehariannya di butik beberapa hari belakangan ini, mulai dari pengunjung yang mengesalkan dan tingkah Gita yang menyebalkan tak luput perempuan cantik itu ceritakan. Samuel hanya menanggapi dengan senyuman karena sesungguhnya pikirannya tidak sedang bersama perempuan di sampingnya, melainkan berkelana pada perempuan cantik bermata sipit yang tengah menampilkan raut cemberutnya.


“Maafin aku, Lyt, aku janji ini terakhir kali aku memeluk perempuan lain. Karena setelah ini hanya akan ada kamu seorang. Aku tak akan perduli lagi dengan ketidak setujuanmu. Bukan karena tidak mencintaimu, namun aku ingin memperjuangkanmu, menjadikan kamu satu-satunya dalam hidupku.”


Samuel tersenyum manis kearah tunangannya itu, lalu memeluk perempuan itu dengan erat, mengecup puncak kepalanya dengan dalam yang Cesil artikan sebagai kecupan sayang, tapi dalam maksud Samuel itu adalah kecupan perpisahan juga kecupan permintaan maaf. Cesil membalas pelukan tunangannya itu tak kalah erat, perasaannya saat ini berbunga-bunga kerena kini Adnan nya sudah kembali hangat dan memperlakukan dirinya penuh cinta. Cesil tidak menyadari keanehan apapun pada sikap calon suaminya itu karena terhalang oleh rasa bahagia yang nyatanya hanya akan berlangsung sementara.


“Maafkan aku, Sil. Aku telah mengecewakan kamu bahkan mungkin menyakitimu. Tapi ini terpaksa aku lakukan demi Lyta. Aku lebih memilih melepaskan kamu yang selama hampir sepuluh tahun itu berada disampingku, menemani hari-hari sepiku, dan mengisi hatiku yang saat itu merasakan sepi.”


“Aku lebih memilih Lyta yang dulu sempat aku tinggalkan tanpa kabar dan kepastian. Aku memilihnya bukan karena dia lebih baik darimu, tapi karena hati ini yang menginginkannya dan raga ini yang menginginkan selalu dekat dengannya. Maaf, karena aku menjadi laki-laki pengecut yang tidak mampu mengatakan ini langsung kepadamu, Maafkan aku.”


Setetes air mata terjun begitu bebas dari pelupuk mata Samuel tanpa bisa di cegah. Beruntung saat ini kepalanya berada di atas puncak kepala Cesil, jadi perempuan cantik berwajah jutek itu tidak akan mengetahui bahwa dirinya kini tengah menangis.


“Adnan, kamu masih mencintaiku, kan?”


♥♥♥


Sherlyta menghela napas lega setelah menyelesaikan semua pesanan sang pelanggan tetap. Beberapa waktu lalu ia meminta Gita untuk tidak menyetujui jika ada pelanggan yang ingin memesan jasa dirinya dan menyuruh untuk memberikan pada Cesil atau Gita sendiri. Bukan karena ia menolak rezeki, tapi akhir-akhir ini tubuhnya semakin lemah, pandangannya pun kurang fokus membuat Sherlyta sedikit kesulitan, apalagi saat mengganti jika jarum patah, sudah tidak terhitung berapa tusukan yang mengenai jarinya.


“Git, pesanan untuk minggu ini udah selesai. Lo gak terima lagi pesanan yang mesti di kerjain sama gue, kan?” Tanya Sherlyta penuh selidik. Perempuan pendek yang kini duduk cantik di balik meja kasir sambil memakan kripik ubi itu mengacungkan jempolnya.


“Takut banget lo kalau gue kasih orderan baru.” Cibirnya. Sherlyta mendengus kesal lalu ikut duduk disamping sahabat sekaligus karyawannya itu.

__ADS_1


“Gue udah lelah, Git pengen istirahat,” ucapnya lesu.


“Lo tenang aja, minggu depan mungkin giliran si muka jutek itu yang sibuk. Lo puas-puasin deh sama laki lo. Biar gue disini yang awasin istrinya.” Sherlyta tertawa geli saat mendengar candaan sahabatnya itu, begitu pun juga Gita.


“Tapi jujur, gue merasa bersalah banget sama dia, Git. Gue udah nyakitin dia secara nyata. Dia gak tahu apa-apa, tapi malah menerima luka dari gue. Gue gak tahu jika suatu saat nanti dia tahu penghianatan yang gue lakuin dibelakangnya.” Sherlyta menundukan kepalanya, setitik air mata terjatuh mewakili penyesalannya.


“Lo jangan begini, Sher. Gue tahu lo lakuin semua itu dengan suatu alasan. Mungkin jika gue yang berada di posisi lo pun, gue akan melakukan hal yang sama. Gue percaya, lo gak sedikit pun memiliki niat untuk menghancurkan sahabat lo sendiri. Kadang kita memang harus memilih salah satu diantara dua pilihan, bahkan mungkin lebih. Ada pun salah satu yang harus kita korbankan, entah itu cinta atau persahabatan.” Gita menepuk pundak Sherlyta pelan, menyalurkan sedikit kekuatan untuk sahabat yang sudah begitu membantunya selama ini.


“Terima kasih karena lo gak menghakimi gue, terima kasih juga atas dukungan yang lo beri. Gue lakuin ini memang gak ada niat untuk menyakiti sahabat gue sendiri, selain karena keinginan gue untuk bersama cinta pertama gue, juga kerena laki-laki itu yang menjadi tujuan gue selama ini. Ada alasan yang gak bisa gue ucapkan dibalik tindakan bodoh gue ini, tapi mungkin suatu saat nanti kalian akan paham.” Sherlyta dan rahasianya mungkin sudah mendarah daging, itu yang membuat Gita selalu penasaran pada sahabatnya yang satu ini.


“Makan sea food yuk, Git?” Tawaran yang begitu menggiurkan untuk seorang Gita Felysa, dengan cepat perempuan berambut kecoklatan itu mengangguk sebelum sang bos menarik kembali penawarannya.


“Mumpung gue lagi baik dan dapat duit banyak, lo tutup aja deh ini butik, terus ajak yang lainnya untuk pergi ke restoran sea food yang ada di belokan depan sana. Hubungin Cesil juga.” Gita tentu saja bersorak bahagia hingga membuat dua karyawan lainnya menatap Gita heran.


Sherlyta meninggalkan sahabatnya itu untuk menuju ruangannya, sedangkan Gita tengah menunggu seorang pembeli sedang berjalan kearahnya dengan ditemani Seni dibelakang yang membawakan pakaian-pakaian yang di pilih si ibu menor dengan gaun merah menyala yang begitu pas di tubuh aduhainya.


Pembeli terakhir telah keluar, dengan cepat Gita berlari kearah pintu kaca depan dan membalik tulisan ‘open’ menjadi ‘clos’ dan setelah itu kembali lagi untuk duduk di mesin kasir, menghitung penghasilan yang masuk hari ini.


“Mbak Git, kok udah tutup, ini kan baru jam tiga?” Seni menghampiri Gita dengan penasaran, diikuti Sera dibelakangnya.


Gita menepuk dahinya lumayan kuat. “Lupa ngasih tahu gue. Bos mau ngajak makan Sea food, jadi kita tutup lebih awal. Kalian siap-siap deh sekarang sebelum Sherlyta berubah pikiran. Kasih tahu juga Lina dan Dina sekalian.” Kedua pramuniaga cantik itu mengangguk semangat lalu cepat-cepat berlalu menuju belakang dimana ruang khusus karyawan untuk istirahat berada.


Setalah memberitahukan dimana tempat yang akan menjadi tujuannya, Gita langsung menutup sambungan tanpa menunggu persetujuan dari sahabat yang juga merangkap sebagi bosnya itu.


“Gimana, udah pada siap belum?” Tanya perempuan cantik yang kini menggunakan midi dres floral berwarna kuning dan Heels lima centi berwarna hitam senada dengan jam tangan yang di kenakan di lengan kirinya.


“Siap dong. Yuk berangkat sekarang aja, si muka jutek udah gue suruh nyusul kok,” ucap Gita semangat.


“Giliran diajak makan aja lo semangat banget,” cibir Sherlyta.


Tanpa membalas cibiran perempuan sipit itu, Gita langsung menarik Sherlyta keluar diikuti keempat karyawan lainnya. Tidak lupa mengunci pintu dan menutup rolling door terlebih dulu sebelum benar-benar meninggalkan butik. Sherlyta masuk kedalam mobil merah kesayangannya, diikuti Gita dan dua karyawan lainnya yang bertugas sebagai penjahit, sedangkan kedua pramuniaganya menaiki motor masing-masing.


Sherlyta tak tanggung-tanggung memesan segala makanan, dari mulai masakan laut hingga masakan daerah. Di atas meja yang lumayan besar ini sudah di penuhi beberapa makanan mulai dari kerang dara manis pedas kesukaannya, udang tepung, kepiting saus padang, sup ikan, ayam bakar, dan masih banyak yang lainnya. Keempat karyawan Sherlyta sampai terbengong melihat semua makanan yang baru saja diletakan oleh beberapa orang pelayan. Berbeda dengan Gita yang malah tersenyum senang.


“Banyak banget nih makanan, yakin bakalan abis?” suara yang sangat di kenali itu membuat ke enam orang itu berbalik untuk memastikan. Gita langsung menarik tangan putih mulus Cesil untuk duduk disampingnya tanpa menyadari seseorang yang berada di belakang perempuan berwajah jutek itu.


“Lo jangan banyak ngomong! Mumpung Sherlyta lagi baik sekarang. Lo tahu sendiri kan dia pelitnya kayak gimana? Ini pasti bakalan abis kok, gue yang bakal abisin. Mumpung gratis!” Gita tertawa setelah menyelesaikan ucapannya itu sedangkan ke empat karyawan lain tersenyum kikuk merasa tak enak hati.


Ke enam orang itu tidak ada yang menyadari bahwa sedari tadi Sherlyta tengah bertatapan dengan laki-laki yang masih berdiri di sampingnya, tatapan keduanya menyiratkan kerinduan. Sherlyta memutuskan tatapan itu lebih dulu sebelum ada orang yang menyadari. Sekilas ia melihat senyum manis terukir dari bibir tipis kekasihnya, dan tanpa ia sadari bibirnya pun tertarik hingga membentuk senyuman meskipun tipis.

__ADS_1


“Kok kamu gak duduk, Yang?” tanya Cesil saat melihat bangku sebelahnya masih kosong.


“Gak ada yang nyuruh aku duduk soalnya,” jawab Samuel yang tatapannya masih tertuju pada Sherlyta yang kini tengah meneguk es jeruknya.


“Manja banget lo! Biasanya juga duduk-duduk aja tanpa disuruh.” Gita mendelik jengah.


“Beda lagi, Git. Di meja ini isinya perempuan semua. Cuma gue satu-satunya cowok.” Tanpa mau mendengar lebih banyak ucapan Samuel, Sherlyta bangkit dari duduknya dan langsung menarik pelan lengan kasar laki-laki itu untuk duduk, tak ingin membuat kaki Samuel kembali merasakan sakit . Samuel tersenyum tipis dengan apa yang dilakukan kekasihnya.


“Ribet banget lo, cuma mau duduk aja!” cibir Gita lagi.


“Kaki gue kan sakit, Git. Gak liat nih gue masih pakai tongkat?” Gita dan Cesil meringis kecil karena sempat melupkaan keadaan kaki Samuel.


“Maaf, Yang, aku…?”


“Udah gak apa-apa kok, sebenarnya aku bisa, cuma tadi agak sungkan aja duduk gabung sama yang lain. Takutnya pada gak biasa sama aku.” Jelas Samuel, yang melihat keempat orang yang belum dikenalnya menundukan kepala malu.


“Udah gak usah pada nundung gitu, kalian harus kenal dan membiasakan diri sama laki-laki ini, karena dia calon suami Cesil. Gak usah sungkan, dia baik kok, gak gigit.” Tutur Sherlyta sembari tersenyum.


Samuel menatap tak suka saat kekasihnya itu menegaskan pada keempat karyawannya bahwa dirinya merupakan calon suami dari Cesil. Tapi Sherlyta mengabaikan tatapan tak suka dari laki-laki tampan di sampingnya itu.


Kedelapan orang yang duduk melingkar di atas kursi itu mulai menyantap makanan yang terhidang. Sudah bisa ditebak bukan siapa yang paling semangat melahap semua hidangan ini? Ya, Gita lah yang paling semangat, tidak seperti keempat karyawan lainnya yang masih merasa sedikit sungkan.


“Jangan makan itu, Sam!” teriak Sherlyta membuat semua orang yang berada dimeja itu menatapnya, termasuk Samuel. Cesil menatap bingung, batinnya bertanya kenapa calon suaminya tidak di bolehkan untuk memakan kepiting.


“Jangan macam-macam deh, Sam. Lo masih ingat kan bahwa lo alergi kepiting?” nada suara Sherlyta terdengar marah meskipun Samuel belum sempat melahap makanan laut yang satu itu.


Dalam hati Samuel bersorak bahagia karena nyatanya kekasihnya itu masih mengingatnya. Sebenarnya barusan Samuel hanya pura-pura ingin memakan kepiting saus padang yang terlihat menggiurkan itu, ia hanya ingin melihat reaksi sang kekasih dan mengetes ingatan perempuan itu mengenai dirinya. Dan berhasil, reaksi Sherlyta sesuai dengan apa yang Samuel harapkan, membuatnya bahagia bukan main.


Cesil menaikan sebelah alisnya menatap Samuel. “Kamu alergi kepiting?” tanya Cesil. Samuel mengangguk membenarkan.


“Terus kalo gitu kenapa kamu nekat mau makan?” kembali Cesil bertanya.


“Aku ngiler lihat kepiting besar dengan bumbu yang menggiurkan ada di depan. Jadi penasaran pengen nyobain.”


“Kalo gitu ya lo cobain aja. Dari pada penasaran, kan? Nih gue suapin deh,” ucap Gita sambil menyodorkan daging kepiting yang sebelumnya ia pisahkan dari cangkang.


Samuel menggeleng cepat dan menjauhkan wajahnya. “Gak deh. Kalo gue mati gara-gara itu kepiting gimana?”


“Ya kalo mati di kubur,” ucap Sherlyta ringan sambil sibuk melahap kerang manis pedas di piring hadapannya. Samuel mendengus kesal sedangkan yang lainnya terkekeh geli melihat kekesalan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2