
Satu minggu sudah Sherlyta disibukan dengan tugas menggambar gaun dan juga jas untuk pernikahan Cesil. Beruntung hari ini sekolah tempatnya mengajar libur jadi tidak mengharuskan perempuan bermata sipit itu untuk pergi ke sekolah, dan menjadikan ini sebagai kesempatan bertemu dengan Cesil dan juga calon suaminya untuk melakukan pengukuran pada kedua calon mempelai sebelum ia mulai menjahit. Juga untuk meminta penilaian tentang gambar yang dibuatnya.
“Cesil datang belum, Git?”
“Belum, mungkin bentar lagi,” jawab perempuan pendek yang saat ini menggunakan kemeja lengan panjang berwarna baby blue dengan dipadukan celana jeans hitam juga heels setinggi lima centi, membuat penampilan perempuan pendek itu terlihat imut dan cantik.
“Kalau gitu gue tunggu di ruangan untuk tamu. Kalau dia datang suruh temuin gue langsung.” Gita mengangguk paham dengan titah sang bos.
Di ruangan bernuansa coklat muda yang biasa digunakan untuk menerima tamu yang akan melakukan fitting gaun, kini Sherlyta duduk mengecek kembali hasil gambar yang ia kerjakan seminggu ini, memberi beberapa tambahan yang menurutnya kurang dalam gambar tersebut.
“Serius amat, Bu.” tegur perempuan berwajah jutek yang kini menggunakan dres tanpa lengan selutut berwara hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Sherlyta yang kaget dengan suara tiba-tiba itu langsung menatap sahabatnya itu dengan tajam.
“Ngagetin tahu gak!” dengusnya. Cesil hanya cengengesan tak berdosa.
“Laki lo mana?” tanya Sherlyta yang kembali sibuk dengan Gambarnya.
“Di luar, lagi angkat telepon dulu.” Sherlyta mengangguk paham.
“Lo tunggu dulu aja, gue mau ke toilet bentar. Kebelet gue,” ucap Sherlyta buru-buru bangkit dari duduknya. Cesil hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sahabatnya itu.
Tok tok tok
“Masuk.”
“Yang, sini masuk, Sherly lagi ke toilet dulu bentar,” ucap Cesil saat tahu calon suaminyalah yang membuka pintu.
“Kayaknya aku gak bisa sekarang deh, Yang. Barusan mandor telepon, katanya ada masalah di pambangunan. Jadi aku harus secepatnya ke sana,” ucap laki-laki tampan berkemeja biru tua itu menyesal.
Cesil tersenyum, “Ya udah kamu pergi aja, selesaikan dulu kerjaan kamu.”
“Kamu gak marah?” Cesil menggeleng cepet. “Ya udah kalau gitu aku pergi ya? Bilang maaf sama teman kamu,” ucapnya, lalu mengelus lembut rambut hitam sebahu sang kekasih.
Cesil kembali masuk ke ruangan dimana Sherlyta berada setelah mengantarkan sang calon suami menuju parkiran. Terlihat disana perempuan yang mengenakan midi dres lengan panjang berwarna putih itu kembali menekuni kertas gambarnya.
__ADS_1
“Dari mana aja sih, baru gue tinggal bentar aja udah ilang?” tanya Sherlyta saat mendapati sahabatnya berjalan menghampiri.
“Sorry, nganterin dulu Adnan ke depan tadi.” Jawab cesil cengengesan.
“Oh iya, ke mana laki lo?” Sherlyta menatap sekeliling, namun tidak juga mendapatkan yang dicarinya.
“Adnan baru aja pulang, ada urusan mendadak di tempat kerja.” Jawab Cesil. Sherlyta mengangguk paham.
“Oke gak apa-apa. Lo dulu aja. Laki lo bisa nyusul nanti.”
Sherlyta mulai mengukur tubuh Sahabatnya itu, lalu menuliskannya di buku yang sudah ia sediakan. Mulai dari tinggi badan, lingkar pinggang, lingkar dada, lengan dan lainnya. Setelah selesai dengan pengukuran, Sherlyta kembali duduk di kursinya begitu juga Cesil.
“Gimana, lo suka gak?” tanya Sherlyta menunjukan hasil gambarnya.
“Ini gaun buat nikahan gue?” tanya balik Cesil. Sherlyta mengangguk. “Hmm, lumayan,” ucap Cesil.
Sherlyta mengerjapkan matanya tak percaya. “Lumayan lo bilang? Gue ngerjain ini seminggu full loh, bela-belain bangun tengah malam untuk nyalurin ide gambar gue. Dan lo cuma bilang lumayan?” Cesil cengengesan melihat kekesalan sahabatnya itu.
“Dia itu gengsi ngakuin kalau gambar lo itu bagus sebenarnya.” Gita yang baru datang langsung duduk di samping Cesil, dan melayangkan cibirannya.
“Suka-suka gue dong.” Jawab Gita santai. Sherlyta hanya mampu menghela napasnya lelah. Terlalu sering menyaksikan adu mulut kedua sahabatnya itu.
“Kalian lanjutin aja deh berantemnya, gue mau pergi.” Sherlyta bangkit dari duduknya dan meraih Tas tangan berwarna hitam yang tadi ia letakan di atas meja.
“Lo mau ke mana?” tanya Gita.
“Belanja kain,” jawabnya singkat.
“Mau gue temenin gak?” tanya Cesil kali ini.
“Gak usah, lo jaga butik aja bareng Gita. Sekalian rekap pengeluaran dan pemasukan bulan ini. Gue gak ada waktu untuk itu gara-gara ngurusin gaun pernikahan lo.” Seteleh mengucapkan itu Sherlyta pergi begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya tanpa menunggu jawaban.
“Teman lo itu, selalu pergi gitu aja,” ucap Cesil menatap pintu yang baru saja ditutup dari luar.
__ADS_1
“Teman lo juga, Bambang!”
♥
Sepulangnya membeli kain, kini Sherlyta berdiri menatap danau di depannya. Menghirup udara sejuk sore hari yang cerah ini membuat jiwanya tenang, beban pikiran pun seolah menghilang. Tempat ini merupakan tempat yang pas untuk Sherlyta membuang lelahnya.
“Sam, kenapa lo belum kembali juga. Gue kangen sama lo, gue butuh lo, Sam.” Gumam Sherlyta.
“Gue gak tahu sampai kapan gue sanggup nunggu lo.”
Untuk hari ini pertama kalinya perempuan cantik bermata sipit itu beranjak pulang sebelum menyaksikan terbenamnya matahari seperti hari-hari biasanya. Sherlyta merasa itu percuma saja, karena yang ditunggunya pun tidak akan datang. Jadi ia memilih pulang sebelum hari mulai gelap. Tidak lupa Sherlyta mengusap batang pohon yang terdapat ukiran namanya dan juga nama Samuel di sana. Senyum cantik di bibir tipisnya itu mengembang saat kembali mengingat bagaimana semangatnya Samuel mengukirkan nama mereka berdua sambil memegang erat tangannya.
“Sherlyta adalah milik Samuel, itu hukum mutlak. Tidak ada yang boleh merebutnya apa lagi menyakitinya.”
Kata-kata yang di ucapkan Samuel sepuluh tahun lalu masih terukir jelas dalam ingatannya. Ia tidak akan pernah lupa, kerena itu semua selalu menjadi semangat untuk dirinya tetap menjalani hari.
Di perjalanan pulang seusai mengunjungi danau, Sherlyta merasakan sakit dikepalanya yang tiba-tiba menyerang membuat mobil yang dikendarai tidak stabil dan akhirnya menabrak pohon besar disisi jalan. Jalanan yang cukup sepi di sore hari ini membuat Sherlyta sulit mendapat pertolongan.
“Sam, tolong gue,” gumamnya sebelum matanya perlahan menutup dan penglihatannya mengabur digantikan dengan gelap disekelilingnya.
Perempuan cantik dengan perban di pelipis kiri yang kini terbaring di ranjang itu mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu. Ruangan serba putih dan juga bau obat-obatan membuat perempuan dengan wajah pucat itu tahu bahwa kini dirinya tengah berada dalam kamar rumah sakit. Matanya menatap sekeliling, tidak ada siapa pun diruangan itu. Ia teringat dengan kejadian mobilnya yang telah menabrak pohon. Kepalanya kembali terasa nyeri meski tidak sesakit ketika dirinya belum pingsan.
“Akhirnya kamu sudah sadar. Kamu pingsan hampir dua hari ini,” ucap seorang laki-laki dengan jas putih khas dokter menghampiri Sherlyta.
“Bagaimana, apa ada yang sakit?” Sherlyta menatap laki-laki tersebut dengan tatapan bertanya.
“Saya Alvian Dirgantara, dua hari lalu saya lihat mobil yang menabrak pohon saat akan menuju rumah sakit. Jadi sekalian saya bawa kamu ke sini.” Jelas Alvian. Sherlyta menggangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Tidak ada luka yang serius di tubuh kamu. Tapi saya sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh, takutnya ada luka lain di dalam. Hasilnya mungkin akan keluar besok. Jadi sekarang kamu istirahat saja.” Alvin menjelaskan.
“Dan ini barang-barang kamu, mobil kamu sudah saya suruh orang bengkel untuk mengambilnya. Maaf sudah lancang membuka dompet kamu, saya perlu tanda pengenal kamu untuk administrasi.” Sherlyta mengangguk, lalu tersenyum tak lupa kembali mengucapkan terima kasih. Sherlyta masih sulit bicara panjang lebar karena rasa sakit di kepalanya belum juga reda.
Setelah selesai memeriksa keadaan pasiennya, Alvin pamit undur dari kamar rawat Sherlyta. Setelah kepergian Dokter itu, perlahan Sherlyta kembali memejamkan matanya, berharap esok rasa sakit di kepalanya hilang.
__ADS_1
****
...Hallo guys, jika ingin membaca cerita ini secara lengkap, kalian bisa kunjungi Drea**/Inov** ya karena cerita ini pindah ke sana. cari dengan judul yang sama 'Aku Bahagia Walau Sementara' terima kasih...