
maaf guys, cerita ini sudah pindah ke aplikasi orange ya
jadi disini gak lengkap lagi.
***
“Sher, gue pulang duluan ya, mau jemput calon suami di bandara,” pamit Cesil tersenyum lebar.
“Calon suami? Yang dari Belanda itu?” tanya Sherlyta memastikan.
Perempuan berwajah jutek itu mengangguk membenarkan sebelum kemudian pergi meninggalkan Sherlyta di ruang kerjanya seorang diri. Sherlyta hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala saja melihat semangat sahabatnya itu.
perempuan cantik bermata minimalis dan hidung mancung itu menatap jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan angka empat sore, itu artinya tinggal satu jam lagi S&C Boutique tutup. Sherlyta bangkit dari duduknya, merapikan midi dres lengan panjang sederhana berwarna ungu muda yang dikenakannya hari ini dan mengambil tas tangan yang disimpan di atas meja lalu melangkah meninggalkan ruangannya, tidak lupa juga untuk menguncinya. Menghampiri salah satu karyawannya yang kini tengah melayani pembayaran dari seorang konsumen di balik meja kasir.
Sherlyta tersenyum melihat kinerja karyawannya yang satu itu, dia selalu bisa memuaskan pengunjung dengan pelayanannya.
“Penjualan hari ini gimana, Git?” tanya Sherlyta pada karyawan bernama Gita itu.
“Allhamdulilah meningkat 10% dari hari kemarin,” ucapnya tersenyum lebar.
Gita adalah kepercayaan Cesil dan juga Sherlyta, dia juga sudah seperti saudara bagi keduanya. Sedari awal butik ini dibuka, Gita lah orang pertama yang menjadi karyawan disini. pekerjaannya yang gesit dan juga rapi membuat kedua pemilik butik itu puas akan kinerjanya.
“Gue gak liat Cesil sedari tadi siang, ke mana dia?” Gita menatap sekeliling, mencari sosok yang di tanyakannya.
“Dia pulang duluan tadi, lo lagi makan siang kayaknya.” Sherlyta memberi jawaban.
“Tumben. Ada acara apa emang?” tanya perempuan imut bermata bulat itu lagi dengan nada heran.
“Mau kebandara, jemput calon suaminya.”
Gita terkekeh kecil. “Baru tahu gue, cewek judes itu punya calon suami.”
“Dia mukanya doang yang judes, tapi hatinya kayak Barbie.” Sherlyta ikut terkekeh.
“Emang siapa calon suaminya, kok gue gak pernah tahu?” tanya Gita penasaran.
“Jangankan lo, gue aja yang temenan lebih dulu gak tahu siapa calon suami dia.” Jawab Sherlyta seraya mengedikkan bahunya
“Kok bisa?” herannya.
__ADS_1
“Dulu waktu masih kuliah dia emang pernah cerita, tapi gue gak fokus dengerin. Kalau gak salah namanya Adnan, pacaran waktu dia masih di Belanda.” Jelas Sherlyta mencoba mengingat.
“Cowoknya asli Belanda?” tanya si gadis pendek bermata bulat itu lagi. Gita memang memiliki tubuh yang mungil dibandingkan Sherlyta dan Cesil. Tapi kelebihannya adalah Gita memiliki mata lebar yang bulat tidak seperti Sherlyta yang bermata sipit.
“Bukan. Cowoknya asli sini kok, Cuma pindah ikut keluarganya, sedangkan Cesil kan memang sudah sedari kecil tinggal disana dan baru pindah waktu masuk kuliah.” Gita mengangguk paham.
“Terus calon suami lo mana?” mata sipit Sherlyta mendelik tak suka mendengar pertanyaan yang dilayangkan karyawan sekaligus sahabatnya itu, membuat Gita tertawa tanpa merasa bersalah.
“Udah jam lima, tutup aja Git, gue mau pulang duluan.” Sherlyta langsung berjalan meninggalkan butik dan juga karyawan lainnya sebelum Gita sempat memberi jawaban.
Perempuan yang usianya satu tahun lebih muda dari Sherlyta itu melongo menatap sang bos yang selalu pergi begitu saja saat jam selalu menunjukan pukul lima tepat.
Sherlyta melajukan mobilnya menuju danau yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Danau yang setiap harinya selalu perempuan itu kunjungi tanpa rasa bosan, menunggu seseorang yang telah lama pergi.
Perempuan cantik bermata sipit itu hanya berdiam diri menikmati keindahan danau di sore hari sambil menunggu matahari terbenam dan setelahnya barulah ia meninggalkan tempat itu. Tidak seorang pun yang tahu rutinitasnya, baik Cesil maupun Gita. Dan tidak seorang pun yang tahu siapa orang yang selama ini Sherlyta tunggu. Jika pun mereka bertanya maka Sherlyta cukup memberikan senyum untuk menanggapi pertanyaan kedua orang terdekatnya itu.
Dalam perjalanan menuju rumah, ponsel Sherlyta berbunyi nyaring. Dan ternyata Cesil lah orang yang menghubunginya. Setelah menepikan mobilnya terlebih dulu barulah Sherlyta mengangkat telepon masuk dari sang sahabat.
“Kenapa Sil?”
“Lo dimana?” tanya Cesil dari seberang telpon.
“Di jalan pulang.” Sherlyta menjawab seadanya.
“Dari suatu tempat. Ada apa lo nelepon?” tanya Sherlyta mengalihkan.
“Oh iya, hampir aja gue lupa. Besok gue izin gak ke butik ya, soalnya mau ke rumah Camer,” ucap Cesil yang diakhiri dengan kekehan.
“Gegayaan lo ke rumah Camer. Bukannya calon suami lo baru nyampe Indonesia, ya, apa cuma mau jemput lo doang buat pergi ke Belanda?” tanya Sherlyta.
“Camer gue udah ada di Indo dari seminggu yang lalu. Jadi gue gak perlulah pergi ke Belanda jauh-jauh. Calon suami gue juga pindah lagi ke Indo, jadi mulai sekarang gue gak akan lagi jauh-jauh nyusulin dia ke negera kincir itu,” ucapnya menjelaskan. Sherlyta mengangguk paham, meskipun sebenarnya yang dilakukannya itu tidak akan terlihat oleh sang lawan bicara.
Setelah mengakhiri obrolan lewat telpon, Sherlyta kembali melajukan mobilnya menuju rumah yang hanya berjarak 1km dari danau. Sesampainya di depan rumah, ia menutup kembali gerbang tinggi bercat hitam dan menguncinya sebelum masuk ke dalam rumah, merebahkan tubuh lelahnya pada ranjang, menatap deretan foto yang tertempel di dinding, tersusun membentuk love cukup besar karena menghabiskan sebagian tembok. Sherlyta tersenyum memperhatikan satu per satu pose yang berada di foto tersebut, dirinya seakan bisa masuk kedalamnya, kembali merasakan dan berada di posisi setiap foto yang tertempel disana.
♥♥♥
Sherlyta tersenyum menatap anak-anak didiknya yang kini tengah menggambar dan duduk berkelompok. Setiap hari kelas ini tidak pernah Stabil, ada saja hal yang diributkan oleh bocah-bocah berusia rata-rata lima tahun itu. Seperti saat ini, ada yang berebut pewarna, hingga berebut hasil gambar yang serupa. Membuat Anak-anak ini beradu argument, saling menyalahkan tentang siapa yang meniru siapa.
Suasana seperti itu adalah kesenangan tersendiri bagi Sherlyta, ia tidak mempermasalahkan karena baginya itu wajar selagi tidak saling melukai. Menjadi seorang guru TK memang harus memiliki kesabaran lebih, karena tidak sedikit dari mereka yang sulit untuk diarahkan. Tapi bagi Sherlyta itu tidak masalah, karena ia menyukai pekerjaan ini, ia juga menyukai anak-anak. Dan ini sudah menjadi kebahagian dan juga semangat untuknya.
__ADS_1
“Lo lama banget sih,” ucap Cesil cemberut ketika baru saja Sherlyta membuka pintu kaca butik berniat untuk masuk.
“Ya sorry, jalan macet tadi.” Jawab Sherlyta merasa bersalah. Cesil mendengus kesal.
“Mana calon suami lo? Belum ke sini?” tanya Sherlyta.
“Lo telat Sher, dia baru aja pulang.” Gita yang menjawab, sedangkan Cesil masih juga cemberut dan memalingkan wajahnya enggan menatap Sherlyta.
“Nyesel lo gak ketemu dia, Sher. Keren banget lakinya. Gue aja pengen. kalau bukan dia yang punya udah gue tikung di belokan depan,” ucap Gita menunjuk Cesil dengan dagunya membuat perempuan berwajah judes itu menatap Gita dengan tajam.
“Awas aja lo kalau berani.” Ancam Cesil membuat Gita semakin terkekeh.
“Lo yakin, Sil mau gue yang desain gaun nikah lo? kenapa gak lo sendiri aja yang buat?” tanya Serlyta mengalihkan berdebatan dua orang didepannya itu.
“Gue pengen buatan lo aja sih, lo gak keberatan kan?”
“Ngaku aja kalau desain lo gak sebagus yang dibuat Sherly.” Cibir Gita.
“Sembarangan lo kalau ngomong! Desain gue lebih bagus dari siapapun. Cuma gue pengen Sherlyta yang bikin karena gue bakalan sibuk ngurusin yang lainnya.” Elak Cesil. Gita mencebikkan bibirnya.
“Berani bayar berapa lo sama desain gue?” Sherlyta menaik turunkan alisnya.
“Perhitungan banget lo sama sobat sendiri.” Cesil mendengus.
“Pernah dengar istilah, Bisnis tidak mengenal sahabat bahkan sodara?” ucap Sherlyta membuat Cesil berdecak kesal sedangkan Gita tertawa puas.
“Sebelum gue mulai ngerjain pesanan lo, tolong dong beliin gue makanan dulu, gue lapar banget. Apa lagi mau bikin desain gaun nikahan lo, gue butuh energi banyak nih,” ucap Sherlyta memelas.
“Ya udah lo mau makan apa?” tanya Cesil sedikit tak ihklas.
“Gue pengen Bakmie-nya Mang Maman.”
“Gila lo, itu jauh banget dari sini!” Cesil membelalakan matanya tidak percaya. Sedangkan Sherlyta mengedikkan bahunya tidak perduli sementara Gita tengah menahan tawanya.
“Oke, gue beliin! Tapi awas aja lo kalau gaun pernikahan gue nanti hasilnya gak memuaskan,” ucap Cesil lantas berlalu keluar dari butik dengan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Gita dan Sherlyta tertawa menatap kepergian sahabatnya itu.
“Oh iya, gue lupa nanya, dia kapan kawinnya?” tanya Sherlyta pada Gita.
“Tadi kalo gak salah denger katanya tiga bulan lagi deh.” Cesil mencoba mengingat.
__ADS_1
“Emang keterlaluan tuh anak. Padahal dia tahu sendiri bikin gaun nikah itu sulit, mana bisa gue selesai dalam waktu kurang dari tiga bulan,”gerutu Sherlyta melangkah menuju ruangannya yang berada di lantai dua tanpa mengatakan sepatah katapun pada Gita yang kini tengah melongo menatap punggung Sherlyta.
“Gak sopan banget tuh orang pergi gitu aja, gak ada pamit-pamitnya. Untuk bos gue, lo Sher.” gerutu Gita seraya menggelengkan kepala sebelum melanjutkan memakan camilannya di tengah pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan ini.