
Setelah penjaga villa milik keluarga Sherlyta membukakan pintu, Samuel dan Sherlyta langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang utama. Kepala Sherlyta bersandar pada pundak kekasihnya itu begitupun Samuel yang meletakan kepalanya di atas kepala Shrelyta.
“Aku lelah, Sam. Berkendara sejauh ini membuat ku pegal dan seluruh badanku sakit.” Keluh Sherlyta.
“Salah siapa juga coba? Tadikan aku udah minta gentian. Kamunya aja yang keras kepala.” Sherlyta mendengus kesal dan mendorong kepala laki-laki itu untuk menjauh.
“Ya udah sekarang ambilin aku minum,” titah Sherlyta. Samuel mencebikan bibirnya tapi kemudian ia bangkit dan berlajan menuju dapur.
Sherlyta cepat-cepat mengeluarkan dua butir obat dari dalam tasnya dan langsung menelannya begitu saja. Tak lama Samuel kembali dengan segelas air putih, tanpa mengatakan apa-apa Sherlyta langsung meneguk air itu hingga tandas. Ia merasa lega karena obat yang terasa pahit itu sempat mengganjal di tenggorokannya.
“Segitu hausnya kamu, Lyt.” Sherlyta menampilkan cengirannya dan memberikan kembali gelas yang sudah kosong itu pada Samuel yang masih berdiri si depannya.
“Baju yang di beli tadi ambil gih, aku mau mandi dan langsung istirahat.” Titahnya lagi pada Samuel.
“Kenapa gak kamu aja yang ngambil?” tanya Samuel seraya duduk di samping Sherlyta.
“Aku cape, Sam. Nyetir selama 4 jam itu menguras tenaga. Sayang, ambilin ya. Badan aku udah lengket banget gak enak.” Melas Sherlyta dengan manja.
“Giliran ada maunya aja, manggil sayang, ck!" dengus Samuel lalu bangkit dari duduknya. Sherlyta terkekeh geli lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang dulu selalu ia tempati di kala liburan bersama keluarganya juga keluarga Samuel. Kamar yang berada di lantai atas dengan lantai kayu dan cat dinding berwarna putih. Kamar ini tidak seluas kamarnya di rumah, tapi cukup nyaman dan hangat apa lagi cuaca puncak yang dingin membuat kamar Sherlyta di desain khusus dan di pasang penghangat.
Setelah meletakan tas dan juga ponsel yang baru ia kenakan untuk menelpon Gita diatas nakas, Sheryta berjalan menuju lemari kayu dua pintu bercat putih untuk mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi yang berada di kamar sebelah, kamar yang lebih besar dari kamarnya dan ini selalu di pakai oleh orang tuan Samuel ketika liburan dulu.
Sherlyta mengatur temperature untuk air hangat dan mengisi bathtub hingga setengah penuh, tidak lupa ia juga menuangkan sabun cair beraroma strawberry kesukaannya sejak kecil yang selalu tersedia di nakas yang menyatu dengan wastafel. Satu persatu pakaian yang dikenakannya ia tanggalkan dan masuk kedalam bathtub untuk berendam. Tubuh lelahnya sedikit demi sedikit lebih relax karena air hangat, membuat Sherlyta nyaman.
Tok tok tok
“Kamu lagi mandi bukan?” suara Samuel terdengar dibarengi dengan ketukan pada pintu.
__ADS_1
“Aku mandi bareng kamu boleh gak?” tanya Samuel polos, kepalanya sudah menyembul masuk kedalam kamar mandi.
“Gak!!” penolakan tegas itu keluar dari mulut Sherlyta.
“Kenapa? Toh aku udah liat semuanya, kok.” Kedipan genit Samuel berikan untuk menggoda kekasihnya itu.
“Aku mau mandi dengan tenang, Sam. Kamu mandi di kamar bawah aja, sana.” Kini penolakan dan juga pengusiran yang Sherlyta keluarkan, namun masih tidak mampu membuat laki-laki yang belakangan ini menjadi mesum itu pergi.
“Yah gimana dong, baju sama celananya udah aku buka. Gak mungkin kalo aku harus turun lagi ke bawah, nanti kalo Mang Didin tiba-tiba datang dan liat aku telanjang gimana?” ucapan polos Samuel itu membuat Sherlyta menahan amarahnya, apa lagi melihat laki-laki itu masuk sudah tidak mengenakan pakaiannya, hanya bokser satu-satunya kain yang masih menempel.
“Dari kapan kamu buka pakainnya?” tanya Sherlyta heran.
“Barusan di depan pintu.” Sherlyta menghela napasnya lelah. Memejamkan kedua matanya dan menyandarkan kepalanya pada kepala bathtub. Bukankah menolak pun akan percuma? Jadi lebih baik Sherlyta membiarkannya, ia hanya ingin sejenak beristirahat untuk meredakan sakit di kepalanya juga rasa lelah pada tubuhnya yang semakin hari semakin lemah.
Perlahan Samuel ikut masuk ke dalam bathtub yang cukup lebar itu, duduk disamping Sherlyta yang masih memejamkan mata sipitnya. Bisa ia rasakan bahwa perempuan cantik itu tidak mengenakan sehelai benang pun. Terasa saat kulitnya bersentuhan dengan kulit lembut Sherlyta. Kadang Samuel bertanya-tanya kenapa kekasihnya itu tidak merasa risi apa lagi berteriak melihat dirinya telanjang.
Sherlyta bilang entah kenapa ia tidak merasa malu jika itu berkaitan dengan Samuel, karena sedari kecil dirinya memang sudah hidup bersama. Jadi tidak ada lagi rasa malu yang harus iya tunjukan secara berlebihan, meskipun sebenarnya itu sudah berbeda karena mereka sama-sama sudah dewasa, apalagi sempat tidak bertemu selama sepuluh tahun, harusnya ada rasa canggung bukan? Tapi justru Sherlyta biasa saja seolah tubuh Samuel memang sudah menjadi tontonannya setiap hari. Tidak masuk akal memang. Tapi sudah lah itu terserah Sherlyta, yang penting Samuel mencintai perempuan bermata sipit itu.
“Airnya kurangin sedikit, ya? Ini kebanyakan nanti busa sabunnya kena mata kamu.” Sherlyta mengangguk pelan tanda mengizinkan.
“Muka kamu kok pucat?” tanya Samuel khawatir.
“Gak apa-apa kok. Aku cuma kecapean aja,” jawab Sherlyta lembut kemudian tersenyum, tidak ingin kekasihnya itu khawatir berlebihan. Samuel mengangguk, lalu menganggat tubuh Sherlyta, diletakannya tubuh itu di atasnya dan meposisikan kepala Sherlyta untuk bersandar di dada bidangnya. Sherlyta tidak menolak dan justru kembali memejamkan matanya. Lengan Samuel memeluk tubuh polos Sherlyta dan kepalanya iya tumpukan pada kepala Sherlyta.
“Sam, tolong kepalanya jangan di simpan di situ, sakit. Kepala kamu berat.” Samuel menarik kembali kepalanya dan mengecup lembut puncak kepala itu.
Lengan Samuel mulai mengelus-ngelus perut Sherlyta lembut, memiringkan kepalanya dan menunduk agar sejajar dengan wajah cantik Sherlyta. Mata indah itu kini terbuka, saling beradu pandang dan perlahan bibir keduanya mulai mendekat, satu kecupan mendarat tepat di bibir, dan kecupan lain menyusul hingga berubah jadi lumatan-lumatan kecil dan lembut.
__ADS_1
“Kenapa kamu selalu menolak ketika aku ingin membatalkan pernikahan itu?” tanya Samuel saat mengakhiri ciumannya.
“Bisa gak usah bahas dulu tentang itu? Bukannya di sini kita sedang liburan?” ucapan bernada lembut itu membuat Samuel akhirnya mengangguk.
“Airnya udah mulai dingin, naik yuk,” ajak Sherlyta lembut.
Samuel menggeleng. “Aku masih pengen meluk kamu kayak gini, Lyt.”
“Ya udah, tapi airnya di ganti dulu ya,” pinta Sherlyta yang di setujui Samuel. Sherlyta lebih dulu bangkit hingga tubuh yang tidak terhalang sehelai benang itu terpangpang jelas di depan Samuel, melihat punggung polosnya saja sudah mampu membuat Samuel susah payah menelan ludah, apalagi bagian depan.
Sherlyta dengan cueknya berjalan menuju Shower dan memutar kran hingga air hangat keluar dari lubang-lubang kecil itu. Sherlyta membersihkan tubuhnya dari busa-busa sabun hingga sebuah tangan kekar melingkar di perut ratanya. Perempuan cantik itu berjengit kaget lalu kembali menetralkan dari keterkejutannya.
“Airnya udah di buang belum?” tanya Sherlyta masih dengan posisi membelakangi Samuel yang sedang memeluknya.
“Udah, lagi aku isi ulang.” Jawabnya lalu mendaratkan ciuman di bahu polos itu, rambut Sherlyta diikat ke atas hingga menampilkan leher belakangnya yang jenjang dan putih.
“Geli, Sam.”
Laki-laki itu tak memperdulikan protesan Sherlyta dan terus mencumbui leher, pundak hingga punggung putih itu dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya. Kedua tangan Samuel bermain-main di payudara Sherlyta membuat perempuan cantik itu melenguh nikmat. Samuel membalikan tubuh polos itu agar menghadapnya dan mencium bibir tipis merah itu dengan lembut.
“Matiin dulu airnya, Sam.”
Samuel ******* bibir tipis itu, sembari tangannya berusaha untuk mematikan kran air yang masih menyala. Setelah berhasil, tangan itu lalu menyentuh punggung Sherlyta dan mengelusnya lembut. Samuel semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Sherlyta membuat gundukan kenyal Sherlyta menempel sempurna pada dada bidangnya.
Ciuman keduanya semakin dalam dan suara decapan itu semakin keras terdengar. Kaki Sherlyta mulai melemas dan hampir luruh jika saja Samuel tidak cepat-cepat menahan. Mundur beberapa langkah tanpa melepaskan ciumannya, kini Samuel berhasil duduk di atas closet yang tertutup, kepala Sherlyta sedikit membungkuk dan kepala Samuel mendongak ke atas, tangan kirinya ia gunakan untuk meremas payudara Sherlyta yang menggantung, sedangkan tangan kanannya masih berada di pinggang untuk menahan tubuh itu agar tidak terjatuh.
Desahan-desahan lembut keluar dari mulut keduanya membuat gairah kedua insan itu semakin memanas, ciuman Samuel mulai menuntut dan semakin dalam hingga Sherlyta sulit mengimbangi. Remasan pada payudara Sherlyta pun bertambah kuat begitu juga dengan desahannya. Samuel menuntun Sherlyta untuk duduk mengangkang di pangkuannya dan posisi keduanya kini berhadapan. Bagian bawah Sherlyta yang sedari tadi tidak tertutap apapun itu merasakan benda keras di balik celana tipis Samuel menusuk-nusuk daerah kewanitaannya, membuat Sherlyta tidak tahan dan menginginkan lebih.
__ADS_1
Ciuman Samuel turun ke leher, dada dan berakhir di payudara besar dan bulat itu, mengelumnya dalam dan sesekali menggigit kecil membuat lenguhan Sherlyta semakin dalam dan menggairahkan, tubuh ramping itu melengkung hingga membuat payudaranya semakin masuk ke dalam mulut Samuel. Tangan Sherlyta berada di kepala Samuel, menarik-narik pelan rambut lebat itu.