
Mendengar ucapan lembut Samuel juga tatapan penuh cinta yang diberikan laki-laki itu membuat Sherlyta terharu dan mengangguk pelan. Perempuan cantik itu semakin memeluk Samuel erat yang di balas Samuel tak kalah eratnya. Penantian sepuluh tahun dulu terbalas dengan kebahagian sederhana ini.
Sherlyta teramat menikmati kebersamaannya saat ini begitu pun juga dengan Samuel. Tak lagi melintas rasa bersalah atau takut jika Cesil mau pun orang tuanya memergoki, karena nyatanya kedua insan itu memang lah benar-benar saling mencintai.
Samuel kembali mendekatkan wajahnya pada wajah sherlyta mengecup singkat sudut bibir tipis berwarna merah alami itu. Lengan Sherlyta masih melingkar di tubuh Samuel begitupun dengan lengan kokoh Samuel yang melingkar di pinggang perempuan tercintanya. Tak ada kata lagi diantara keduanya, hanya tatapan mata lah yang menjadi perantara ungkapan cinta mereka.
Lembut namun pasti Samuel mulai ******* bibir tipis beraroma strawberry itu, terasa manis dan memabukan, membuat Samuel tak ingin melepaskan meski untuk sejenak.
Sherlyta membalas lumatan dan gigitan-gigitan kecil yang di lakukan Samuel kepadanya membuat Sherlyta membuka mulutnya, memberikan akses agar laki-laki itu lebih dalam bermain-main dengan lidah di mulutnya. Meskipun sedikit sulit dan kaku karena belum terbiasa namun Sherlyta sebisa mungkin mengimbangi dan mengikuti permainan kekasihnya itu yang kini sudah mulai bermain-main dengan lidahnya. Suara decapan terdengar merdu di indra keduanya, begitu juga dengan suara lenguhan yang dikeluarkan Sherlyta membuat Samuel semakin semangat mencium kekasih cantiknya.
“Kamu tahu, honey baru kali ini aku semangat berciuman. Dan itu saat aku melakukannya bersamamu.” Ucapan yang sedikit vulgar itu membuat pipi Sherlyta memanas, malu juga terharu.
“Ak…”
Belum juga sempat Sherlyta menyelesaikan ucapannya Samuel kembali mencium bibir tipis yang kini sedikit bengkak. ******* bibir Sherlyta dengan lembut membuat perempuan itu nyaman dan merasa dicintai. Tangan Sherlyta beralih memeluk leher Samuel dan menekan sedikit agar laki-laki itu menciumnya lebih dalam. Tangan kokoh Samuel pun kini tak tinggal diam, tangan itu kini mulai nakal, mengelus punggung Sherlyta dengan lembut dan tak beraturan. Lenguhan-lenguhan kembali keluar dari mulut Sherlyta membuat Samuel semakin terangsang dan ingin bertindak lebih. Perlahan Samuel mulai menganggat tubuh Sherlyta yang duduk di kursi dan memindahkannya beralih menjadi duduk di pangkuannya.
Tangan kanan Samuel kembali mengelus punggung ramping yang terbalut dres tidur berbahan sutra berwarna hitam, elusannya semakin naik hingga ke leher belakang. Sherlyta semakin terbuai begitupun Samuel, lumatan demi lumatan masih keduanya lakukan sampai Samuel kini beralir menciumi leher mulus Sherlyta, desahan kecil keluar dari bibir tipisnya saat Samuel menggigit kecil leher putih itu. Mata Sherlyta kini mulai terpejam, kepalanya mendongak seakan memberi akses lebih untuk Samuel menjelajah leher jenjang itu dan tangannya menarik-narik pelan rambut lebat Samuel.
Perlahan ciuman Samuel semakin turun hingga kini dagu lancip itu berada tepat di belahan dada Sherlyta yang memang sedari tadi terekpos, apa lagi ketika Sherlyta mendongak tadi, dada itu semakin membusung dan menyentuh dada bidangnya, membuat Samuel semakin ingin melahap benda bulat yang masih terbungkus itu. Tapi Samuel segera menahan keinginannya itu, takut Sherlyta akan kecewa dan marah. Dengan cepat Samuel menghentikan ciumannya dan langsung memeluk tubuh ramping yang berada di pangkuannya dengan erat, kepalanya ia sembunyikan di ceruk leher Sherlyta membuat perempuan cantik itu menaikan satu alisnya bingung.
“Maaf, maaf kan aku.” Ucapan Samuel barusan terdengar lirih dan bersalah, membuat Sherlyta menarik pelan kepala kekasihnya itu agar menatapnya.
__ADS_1
“Kenapa minta maaf, hum?” tanya Sherlyta masih dengan raut bingung.
“Maaf kerena aku gak bisa nahan diri, dan malah bertindak lebih.” Kini barulah Sherlyta mengerti, perempuan cantik itu tersenyum lembut dan mengusap wajah tampan Samuel dengan kedua tangannya. Kecupan singkat ia berikan pada kedua mata Samuel yang masih menyiratkan penyesalan.
“Kamu tahu, kenapa aku tadi membiarkanmu?” tanya Sherlyta. Samuel menggeleng pelan.
“Karena aku percaya bahwa kamu tidak akan melakukan lebih dari itu. Dan terbukti bukan? Kamu berhasil, berhenti di saat kamu menginginkan lebih dari itu.” Sherlyta menampilkan senyum cantiknya. Jelas terasa ada sesuatu yang mengeras di bawah sana, tapi Sherlyta memilih untuk tetap diam meskipun sebenarnya merasa risi. Karena jujur ini merupakan pengalaman pertamanya. Apa pun yang dilakukannya dengan Samuel itu adalah yang pertama, begitu pun dengan cintanya.
“Sebenarnya aku gak mau berhenti, tapi aku takut kamu marah dan kecewa. Karena hanya itu ketakukan terbesarku,” Aku Samuel. Sherlyta terharu mendengar pengakuan tulus kekasihnya itu dan memeluknya erat.
“Jujur, baru kali ini aku sangat menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Dan baru kali ini aku merasa candu pada bibir seorang perempuan dan itu hanya bibirmu. Selama Sembilan tahun aku pacaran dengan Cesil mungkin bisa di hitung jari aku berciuman dengannya, itu pun tidak pernah selama aku mencium kamu.” Sherlyta tentu saja semakin terharu dengan pengakuan-pengakuan Samuel, meskipun ada sedikit rasa sakit mengetahui bahwa dirinya bukan lah perempuan yang pertama mendapatkan ciuman laki-laki itu.
“Lyt, apa boleh?” Sherlyta diam mematung, mencerna apa maksud dari pertanyaan yang di lontarkan kekasihnya itu.
“Buka matanya, honey jangan pejamkan mata indah itu.” Bisikan parau itu sukses membuat Sherlyta kembali membuka matanya. Samuel tersenyum dan kembali ******* bibir yang kini sudah membengkak itu masih dengan lembut.
Ciumannya semakin dalam dan menuntut, napas Sherlyta mulai menipis begitupun juga Samuel, tapi keduanya enggan untuk melepaskan. Sherlyta terlalu menikmati ciuman kekasihnya hingga tanpa sadar desahan itu keluar saat Samuel mulai mengarahkan tangannya kearah dada Sherlyta dan meremas pelan benda bulat dan kenyal yang masih terbungkus itu.
Tangan Sherlyta mengalung di leher Samuel, sedikit menekan kepala Samuel agar ciumannya lebih dalam. Lenguhan dan desahan kembali keluar dari bibir manis itu menambah semangat Samuel untuk semakin mencumbu kekasih cantiknya. Ciuman Samuel turun ke leher Sherlyta yang sebelumnya sudah ada beberapa tanda merah yang di buat laki-laki itu, hanya mencium dan menjilat tanpa membubuhkan tanda seperti sebelumnya, karena ia masih sadar daerah itu akan terlihat oleh orang lain, apa lagi Gita yang tinggal satu atap dengan kekasihnya. Samuel takut sahabat kekasihnya itu bertanya-tanya dan membuat Sherlyta sulit untuk menjawab, parahnya lagi jika Gita menganggap Sherlyta sebagai perempuan tidak baik. Samuel tidak ingin itu terjadi, karena bagaimanapun kekasihnya adalah perempuan baik-baik, dirinyalah yang brengsek.
Sherlyta melenguh nikmat. Ini adalah rasa baru yang Sherlyta rasakan selama dua puluh lima tahun ia hidup.
__ADS_1
Kini bibir Samuel sudah berada tepat di belahan dada Sherlyta yang menyembul keluar, mata laki-laki itu kini terlihat sayu karena menahan gairah begitu pun dengan Sherlyta. Perlahan dan lembut Samuel mengecup, menghisap dan menggigit kecil payudara bagian atas Sherlyta hingga menimbulkan warna kemerahan. Tangan kanannya sibuk mengelus paha mulus Sherlyta yang sedari tadi terekpos, sedangkan tangan kirinya berada di punggung Sherlyta mengelusnya lembut untuk memberikan perempuan itu kenyamanan.
Desahan demi desahan itu keluar ketika mulut Samuel kembali menghisap payudara bagian atas Sherlyta.
“Mau lanjut disini apa pindah kekamar?” bisik Samuel seraya menghentikan cumbuannya. Sherlyta menatap jam yang tergantung di dinding, sudah pukul 11:25 siang, itu artinya mereka cukup lama berciuman.
“Honey ...?"
“Ke kamar aja, Sam.” Putus Sherlyta kemudian. Samuel mengangguk.
“Aku gak bisa gendong kamu, kaki aku masih belum kuat untuk menanggung beban berat,” ucap Samuel pelan, membuat Sherlyta sadar dan akhirnya bangkit dari pangkuan Samuel.
Selagi Shelyta mematikan televisi dan mengambil kaset dari dalam DVD lalu meletakan kembali pada tempat yang seharusnya, Samuel sudah lebih dulu berjalan, menaiki satu persatu undakan tangga untuk menuju kamar milik Sherlyta. Perempuan cantik yang masih belum juga beranjak itu menatap punggung tegap Samuel, sebenarnya Sherlyta masih belum yakin, perasaan takut juga kerap iya rasakan karena bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamnya. Tapi gejolak dalam tubuhnya mendorong ia untuk melakukan itu. Sherlyta tak mau munafik dan sok suci karena memang hati kecilnya menginginkan sentuhan Samuel, bahkan mungkin lebih dari sekedar sentuhan. Shelyta menyusul langkah kekasihnya hingga kini keduanya berjalan berdampingan.
“Kakinya masih suka sakit gak?” tanya Sherlyta khawatir.
“Sedikit, itu pun kalau berdiri terlalu lama atau jalan terlalu jauh. Selebihnya aku baik-baik aja.” Samuel tersenyum seraya menjelaskan, tak ingin membuat kekasihnya itu semakin khawatir.
Tanpa terasa keduanya kini sudah berada di ambang pintu kamar milik Sherlyta yang pintunya sedari tadi terbuka. Samuel menarik pelan kekasihnya itu ke dalam pelukannya dan mencium kening Sherlyta penuh cinta, lalu mencium mata minimalis yang terlihat indah itu secara bergantian, turun ke hidung, pipi dan berakhir mengecup lembut bibir favoritnya berkali-kali, hanya kecupan sampai akhirnya berubah menjadi lumatan.
“Dari tadi kamu cium aku terus, padahal aku belum mandi loh, Sam,” ucap Sherlyta saat ciuman itu terlepas.
__ADS_1
“Gak apa-apa, biar nanti aku sekalian yang mandiin kamu.”