
pukul 22.38 malam, Setelah cukup lama berbincang bincang, Zergan kini segera berpamitan kepada nenek begitu juga yang lainnya untuk kembali pulang menuju kediamannya bersama Sofia.
Nara beranjak mengikuti Zergan untuk mengantarkan pria itu menuju mobilnya dan setiba di luar rumah Nara begitu juga Zergan terlihat tengah membicarakan sesuatu yang cukup serius entah apa yang keduanya itu bicarakan saat itu.
" kamu yang baik disini, sebelum saya cariin rumah untuk kamu tinggal " ujar Zergan kepada Nara
" loh, kenapa harus cari rumah, Nara kan bisa tinggal bersama nenek dan bibik aja mas " ucap Nara
" tapi saya gak mau kamu di perlakukan kaya tadi Nara, meski dia bibi kamu, tapi perlakuan dia membuat saya gak suka " titah Zergan
" bibi Rani memang seperti itu kok mas, Nara udah terbiasa " sahut Nara lagi
" Nara, mulai sekarang kamu itu istri saya, meski pernikahan kita hanya sebatas nikah siri, tapi itu termasuk sah, dan saya gak mau kamu di perlakukan seperti itu, jadi saya mohon sama kamu, selepas saya pulang dari kantor saya akan pergi ke Mandila untuk memberitahu bik Yani kalau besok kamu akan saya bawa untuk tinggal di rumah saya di sana " jelas Zergan kepada Nara.
" tapi mas " ucap Nara tergantung
" saya gak suka di tolak Nara, dengarkan saya, besok selepas kamu pulang kerja saya jemput kamu " titah Zergan lagi dan lagi membuat Nara hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" yaudah kalau begitu saya pulang dulu, kamu istirahat sekarang " ujar Zergan dan kini mengecup pucuk kepala Nara dengan lembut dan segera pria itu beranjak pergi meninggalkan halaman rumah itu untuk kesekian kalinya.
***
Di sebuah rumah mewah tepat pada pukul 23.00, Zergan yang baru saja tiba di rumah dan beranjak menuju kamarnya yang dimana terletak di lantai dua rumah itu.
Namun sesaat dirinya tiba di dalam kamar, Zergan tampak tertegun menatap kosong kamar itu tak ada sosok Sofia di sana.
" apa dia tidak pulang malam ini? " gumam Zergan dan kini meraih ponselnya dan segera menghubungi Sofia
Namun percuma tak ada jawaban dari ponsel gadis itu, Zergan terdiam seraya berpikir sejenak akan keberadaan Sofia saat itu.
" biasanya dia sudah pulang jam jam begini meski mabuk berat sekalipun, dan sekarang dia mungkin bersama Khansa, ck sudahlah aku akan meminta yang lainnya untuk mencarinya saja " gumam Zergan dan kini mengirimkan sebuah pesan singkat kepada salah satu anak buahnya, setelah selesai Zergan beranjak menuju tempat tidurnya dan bergegas untuk tidur saat itu.
Tak terasa hari kini telah berganti pagi, tepat di sebuah kamar berwarna putih, Nara yang baru saja selesai bersiap siap untuk berangkat kerja, tak biasanya pagi itu hati Nara begitu terlihat bersemangat.
__ADS_1
" nenek Nara berangkat kerja dulu ya " ucap Nara kepada sang nenek
" iya hati hati di jalan ya Nar " balas sang nenek dari dalam rumah.
Di perjalanan, tepat di sebuah jalan gang yang seperti biasanya dirinya lewati, Nara yang tengah asik membalas sebuah pesan dari seseorang kini di kejutkan dengan keberadaan sesosok laki laki yang tiba tiba berdiri menghalangi jalannya.
Sreek
" pagi Nara? " ucap suara orang pria kepada Nara
Deg..
" hai? sudah satu minggu ya Nar kita tidak bertemu, terakhir kali kita bertemu saat kita ke hotel itu, tapi kamu gak ada di sana heheh " ucap pria tersebut kepada Nara.
" kau? Viko " ucap Nara menatap jengkel pria tersebut mengingat kejadian malam itu yang dimana pria itu meninggalkan dirinya sendirian di sebuah hotel hingga mabuk dan mencampakan nya begitu saja, hingga akhirnya dirinya berujung mengalami pemer***an oleh pria asing di sebuah kamar.
" kamu gak bilang sama siapa siapa kan Nara kalau kau pergi bersamaku, sebenarnya malam itu aku tidak berniat mencampakan mu sendirian, sebelum aku menidurimu terlebih dahulu, tapi saat aku balik kau telah hilang, pergi entah kemana hahah " jelas Viko tanpa rasa bersalah.
" sutthh cantik jangan teriak teriak, nanti orang datang dan mengira kalau aku melakukan tindakan seksual kepadamu, jadi dengarkan aku, kemana malam itu kau? Jangan bilang kau kabur, atau.. Tidur dengan pria lain dan kalian melakukan nya " ucap Viko berbisik di telinga Nara.
" sepertinya kau benar benar sudah melakukan nya Nara, jadi tidak salah kalau aku juga mencicipi tubuh harum mu " bisik Viko lagi dengan sarkas, menunjukan sisinya sebagai penjahat kel*min.
plaaaak
Satu tamparan di wajah kiri Viko dan meninggalkan bekas merah pada wajah pria itu, Viko sontak memegangi wajahnya yang terasa panas nyeri akibat tamparan yang di terimanya begitu saja.
" brengsek, kau gadis yang berani menamparku, hh kau pikir kau pantas melakukan nya "
Plaaak sebuah tamparan kini mendarat tepat di wajah kiri Nara dan menyebabkan bibir gadis itu seketika mengeluarkan darah segar.
" aaahkk " pekik Nara menahan nyeri di wajah dan bibirnya.
" apa itu sakit? Makanya jadi gadis jangan macam macam, tapi gadis seperti mu harus di kasih pelajaran agar kau tau rasa " teriak pria itu berbicara cukup keras.
__ADS_1
Lagi lagi Viko melayangkan pukulan kepada Nara namun dengan cepat sebuah tangan besar kini menghalangi pukulan pria itu dan menghantamnya bertubi tubi.
" jika kau berani memukul gadis lagi ku patahkan tangan mu " teriak pria tersebut yang tak lain Jhon yang dimana pria itu baru saja hendak pergi menuju tokonya namun seketika langkahnya terhenti sesaat mendapati pemandangan yang tak mengenakan membuat dirinya harus ikut andil dalam tersebut
" apa kau baik baik saja? " tanya Jhon sebelum dirinya menyadari sosok gadis tersebut.
" aku baik baik saja " jawab Nara dengan suara gemetar
" N-Nara? " ucap Jhon shock seketika mendapati sosok Nara yang menjadi korban kekerasan.
" astagah brengsek, apa kau baik baik saja Nara? " tanya Jhon khawatir.
" aku baik baik saja paman terimakasih telah membantuku " ucap Nara memegangi wajahnya yang penuh luka lebam akibat pukulan dari Viko.
***
Setiba di Market Jhon dengan cepat mencari sebuah kotak p3k untul dirinya berikan kepada Nara, untuk mengobati luka pada wajah dan bibir gadis itu.
" sini biar aku obati? " ujar Jhon yang kini menyeka pendarahan pada bibir Nara dan mengolesi sebuah obat peredah nyeri untuk Nara.
Namun sesaat Jhon tengah sibuk mengobati luka Nara tiba tiba dirinya di kejutkan dengan keberadaan Mirna yang tiba tiba masuk kedalam toko tersebut dan menyaksikan hal tersebut begitu saja
" upss sory aku gak lihat " ucap Mirna spontan membalikan tubuhnya membelakangi keduanya itu.
" apaan sih Mir, orang saya cuma ngobatin luka pada bibir Nara saja, jangan berpikir yang tidak tidak kamu " cetus Jhon kepada Mirna.
" loh Nara kenapa? Kok di obatin? " tanya Mirna spontan memutar tubuhnya kembali menatap Nara dan Jhon
" gak apa apa kok Mir cuma di pukul aja " jawab Nara
" dari siapa? Om om yang kemaren? " tanya Mirna ceplas ceplos.
" om? Siapa yang kalian maksud? kamu punya seorang om Nara? " tanya Jhon seketika menatap bingung Nara.
__ADS_1