Siluman Jin

Siluman Jin
Rencana


__ADS_3

Para petugas yang sudah yakin atas sikap yang diambil oleh Changyi langsung buka suara sebelum emosi Changyi hilang kendali.


“Chang, dengarkan penjelasan kami dahulu... kami membawanya dengan suatu alasan.” Salah satu petugas pria sepuh yang paling tua langsung buka bicara.


Alasan pria sepuh berani angkat bicara karena mengetahui betul karakter Changyi yang masih memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua darinya.


Changyi merapatkan giginya dengan geram, andai saja yang berani menyanggahnya itu adalah petugas sebayanya mungkin saja Changyi menghabisi petugas itu.


Pria sepuh itu menjelaskan kejadian yang disaksikan mereka pada saat wanita yang dibawanya itu dikejar-kejar oleh pria yang tidak dikenali oleh mereka.


“Jadi kami semua sepakat membawa wanita ini pulang dengan rencana untuk berpura-pura melukainya agar Qiu Shen membantu wanita ini dengan merasukinya.”


Akhir kalimat pria sepuh itu.


Menurut Changyi alasan itu masuk akal, namun ia tidak yakin atas tindakan untuk berpura-pura melukai wanita yang ada dihadapannya itu, mungkin yang adanya Qiu Shen kecewa atas perlakuannya.


***


“Aarrgh.” Changyi bingung bagaimana cara untuk membuat wanita yang dihadapannya itu seolah-olah sedang disakiti.


“Ah! aku tidak yakin hal ini berhasil! kalian saja yang mengurusnya sendiri!” Changyi berkata lantang kepada para petugas itu sebelum berjalan pergi keluar ruangan.


Para petugas itu saling berpandangan dan mencari akal bagaimana cara membuat wanita itu ketakutan, hingga pada akhirnya seorang petugas angkat bicara.


“Hmm... Bagaimana kalau kita berpura-pura untuk membunuhnya.” Katanya dengan antusias.


Para petugas yang lain sebenarnya masih belum setuju atas tindakan yang diambil oleh rekannya itu, tapi mereka tidak memiliki pilihan lain, sehingga mereka mempersiapkan diri layaknya seorang pembunuh dan menunggu wanita yang dihadapan mereka telah sadarkan diri.


***


Suasana ditempat itu semakin hening, hingga para petugas sadar dari lamunannya masing-masing setelah melihat wanita itu menyadarkan diri.

__ADS_1


“Hahaha akhirnya kau sudah sadar, aku sudah puas menikmatimu hahaha.”


Belum saja wanita itu ingat apa yang terjadi padanya sebelumnya, ia sudah dibuat bingung atas perkataan pria yang ada dihadapannya itu, ia merasa ketakutan dan berteriak histeris.


Pria itu mengeluarkan pisau dari jubahnya dan mengangkat pisau itu tepat dihadapan wanita itu layaknya seorang pembunuh.


Changyi dan para petugas lainnya mengintip perlakuan salah seorang petugas itu dari kejauhan.


Sejauh ini belum terjadi perubahan apapun pada wanita itu, hingga sebelum petugas itu menancapkan pisau keperut wanita itu dengan seketika tangan wanita itu dapat menangkis pisau itu dan mengarahkannya kearah petugas itu.


Wajah wanita itu berubah menjadi hitam pekat seperti Qiu Shen, sebelum saja sempat wanita itu menghantam petugas itu, Changyi yang pertama kali menyadari bahwa Qiu Shen telah merasuki tubuh wanita itu langsung berlari kearahnya.


“Tunggu! Qiu Shen, ini aku...” Selepas berkata demikian Qiu Shen bingung atas perlakuan Changyi kepadanya.


Qiu Shen baru sadar ketika semua para petugas Changyi berlari kearahnya.


Qiu Shen hanya terdiam tidak menanggapi Changyi, namun dia merasa tindakan Changyi ini membuatnya sangat terharu dan membuat benaknya menimbulkan rasa sedikit benci kepada pamannya yang membunuhnya hanya karena hal sepele.


***


Qiu Shen dikurung oleh pamannya selama sebulan tanpa diberikan bekal apapun, pada saat itu Changyi telah bingung dan mencari Qiu Shen kemana-mana namun hasilnya nihil.


Qiu Shen yang tidak memiliki bekal makanan selama dikurung dalam waktu sebulan ditambah lagi dikurung ditempat yang tidak banyak dimasuki oksigen membuat tenaga dalamnya tidak dapat menggunakan ilmu ilusi untuk melarikan diri dari kurungannya, hingga ia mati didalam ruangan kurungan itu.


Pada saat sebulan tiba, pamannya yang ingin melepaskan Qiu Shen didalam kurungannya kaget setelah melihat Qiu Shen tidak bernyawa lagi, dia segera memanggil orang-orang untuk mengurusnya, namun dia tidak mengakui kesalahannya.


Changyi yang mendengar kematian Qiu Shen masih tidak percaya dan memberontak setiap siapapun orang yang mengatakan bahwa Qiu Shen sudah mati, hingga saat ini dia masih sangat frustasi akibat kematian Qiu shen.


***


“Qiu Shen, mengapa kau diam saja... ini aku... hahaha... aku tau kau masih hidup...” Changyi berkata demikian sebelum berkeringat dingin, dan tersedak nafasnya sendiri.

__ADS_1


“Qiu Shen... apa maksudmu-...”


“Diamlah! sadar! apa kau tidak sadar! aku sudah mati! ha-ha-ha Paman bajing*n itu yang membunuhku ha-ha-ha.” Qiu Shen tidak bisa lagi menahan kebenciannya kepada pamannya dan berniat menumpahkan rasa bencinya itu kepada semua orang termasuk Changyi.


Changyi yang merasakan perubahan Qiu Shen tidak berani menatapnya dan juga bergerak mundur beberapa langkah sebelum Qiu Shen melemparkan meja besar yang ada disampingnya kepada Changyi dan petugas-petugasnya.


Namun Changyi berhasil menangkis perbuatan Qiu shen.


Pria sepuh yang merupakan salah satu dari petugas Changyi berfikir bahwa hal ini akan menjadi pertumpahan darah yang besar dan berniat untuk meminta bantuan kepada Lie Zi dan Loi Wi setelah melihat kemampuan mereka melawan Zhao Hong, ketua kelompok naga merah.


Pria sepuh itu langsung berlari gesit menggunakan tenaga dalam keluar kediaman Changyi.


“Qiu Shen, sadar, kau pernah mengatakan kita ini satu! kita satu Qiu Shen!!” Changyi berkata demikian untuk meyakinkan Qiu Shen.


Qiu Shen pernah mengatakan hal itu kepada Changyi karena pada saat itu kekuatan mereka tidak akan terkalahkan jika kekuatannya disatukan.


“Ha-ha-ha itu dulu! sekarang aku sudah mati! semuanya sudah tidak berguna! Kau dan semua manusia ditempat ini akan kuhabisi termasuk Paman bajing*n itu!” Qiu Shen berkata terbata-bata namun bisa didengar jelas oleh Changyi dan petugasnya sebelum melemparkan satu persatu benda yang ditemuinya kearah Changyi, ditambah lagi posisi mereka sekarang adalah diruangan gudang yang banyak barang-barang.


Changyi sebenarnya tidak menyangka Qiu Shen akan melakukan hal ini kepadanya, terlebih lagi dia paling mengerti atas sifat dan kelakuan Qiu Shen. Sejujurnya ia juga kesalahan melawan Qiu Shen karena tidak memiliki banyak tenaga dalam akibat dia kurang beristirahat setelah kematian Qiu Shen.


“Qiu Shen, jujur aku tidak menyangka alasan dirimu seperti ini...” Changyi sudah putus asa dan berniat mati bersama-sama Qiu Shen agar mereka bisa bersama di dunia lain sebelum berkata demikian.


Qiu Shen tidak bisa lagi sedikitpun menahan rasa emosinya, meskipun sudah terlihat jelas bahwa Changyi terlihat kwalahan.


Qiu Shen mengambil pisau tajam dan besar yang sebelumnya digunakan petugas Changyi untuk berpura-pura membunuh wanita yang dirasukinya itu, dan langsung melemparkan pisau itu kearah Changyi.


Pisau itu bergerak gesit kearah Changyi dan hampir mengenai tubuhnya, kali ini Changyi sudah berfikir matang untuk tidak menghindar dan berniat mati bersama-sama, namun pisau yang sudah hampir mengenai tubuhnya seketika dihentikan oleh seseorang.


Changyi membuka matanya perlahan sebelum menemukan seorang anak kecil yang tidak lain adalah Lie Zi, yang ditemuinya kemarin.


Pria sepuh itu berhasil menemukan Lie Zi dan Loi Wi tidak jauh dari kediaman Changyi, dia merasa bersyukur karena dapat menemui mereka dengan cepat, tanpa aba-aba pria sepuh itu menceritakan kisah yang dilihatnya langsung sebelum meminta bantuan dan menawarkan Kitab penghancur bumi atas imbalan yang akan diberikan setelah membantu mereka.

__ADS_1


Tentu saja pria sepuh itu sudah berfikir matang untuk memberikan imbalan Kitab penghancur bumi kepada seseorang yang baru dikenalnya, apalagi seorang anak kecil seperti Lie Zi, namun ia tidak merasa keberatan setelah mengetahui kemampuan Lie Zi dan Loi Wi yang hebat apalagi berhasil mengalahkan Zhao Hong, tepat dihadapannya.


Changyi membuka mulut lebar setelah menemukan Lie Zi dihadapannya, tentu saja dia sudah mendengar kemampuan Lie Zi yang berhasil mengalahkan Zhao Hong, seorang pemimpin kelompok naga merah yang terkenal itu, namun ia tidak menyangka anak itu akan menolong nyawanya yang sedang terancam. disisi lain dia merasa bersyukur atas bantuan Lie Zi dan disisi lain dia merasa bantuan itu tidak penting setelah membulatkan niat dan tekadnya untuk mati.


__ADS_2