Siluman Jin

Siluman Jin
Siluman Kancil


__ADS_3

“Hmm... tidak usah guru, jika tempatnya sudah dekat lebih baik kita melanjutkannya saja!” ujar Lie Zi dengan semangatnya.


Loi Wi memandang Lie Zi sejenak, sebelum menggelengkan kepalanya pelan. Dia berniat untuk menyuruh Lie Zi menggunakan tenaga dalamnya agar tidak terlalu lelah, tetapi dia menepis pikiran itu, dia tidak mau tenaga dalam Lie Zi habis sebelum menyelesaikan misi.


***


Kini mereka telah sampai di tengah-tengah hutan yang sangat lebat, Loi Wi berhenti setelah melihat sebuah goa dengan penampilan yang cukup mengesankan suasana purbakala, dengan sebuah seni cap tangan atau lukisan-lukisan hewan bewarna merah darah. Terlihat dari tempat Loi Wi berada, sebuah batu besar yang menutupi goa.


Visual contoh



Sumber: Internet


Catatan: Gambar hanya sebagai pemanis alur cerita.


“Sepertinya kita telah sampai!” ujar Loi Wi sambil menunjuk sebuah goa yang berada tepat dihadapannya.


“Goa itu tertutupi batu!” ujar Mey Wan.


“Guru..., kemana Siluman yang dimaksud?” tanya Lie Zi sambil memeriksa sekelilingnya.


Loi Wi hanya menggelengkan kepalanya pelan, tidak mau ambil pusing dengan semuanya, menurutnya jika tidak ada hambatan bukan hal yang buruk untuk di permasalahkan.


Hutan itu sangat berada di tempat yang jauh dari kalangan masyarakat kota ataupun desa, tidak ada yang menggunakan hutan itu sebagai tempat untuk lalu lalang, hutan itu sekilas terlihat tidak terurus.

__ADS_1


Contoh Visual



Sumber: Internet


“Kalau begitu lebih baik kita bergerak cepat, lebih cepat lebih baik!” ajak Loi Wi.


Mereka bertiga langsung mengawasi batu yang menutupi goa, untuk orang biasa mungkin saja hal itu sulit, namun tidak untuk mereka bertiga, selama menggunakan tenaga dalam bukanlah hal yang sulit untuk ketiganya bekerja sama.


Perlahan batu yang menutupi goa itu terbuka, seekor kancil yang berukuran kecil seketika menjelma menjadi sangat besar. Loi Wi berteriak kepada Mey Wan dan Lie Zi agar siap siaga.


Contoh Visual



Sumber: Internet


“Tutup goanya!” teriak Loi Wi kepada Mey Wan dan Lie Zi, dengan alasan agar kancil raksasa itu tidak keluar dari dalam goa dan merusak semua pohon-pohon yang ada di dalam hutan itu.


Loi Wi mengeluarkan sebuah pedang dari sakunya, kancil itu berteriak keras dengan suaranya, Loi Wi mundur beberapa langkah.


Loi Wi mengatur tenaga dalamnya untuk menyerang balik. Sedangkan Lie Zi yang baru selesai menutup goa dengan batu besar itu langsung menangis untuk mengganggu kefokusan Siluman kancil itu.


Mey Wan berada disamping Loi Wi dengan siap siaga. Lie Zi seketika menangis, teriakan kancil itu semakin keras mengisi goa, stalaktit yang menggantung di atap goa kemudian retak dan berjatuhan satu persatu. Teriakan dua Siluman yang beradu mengundang sensasi panas pada dalam goa.

__ADS_1


Loi Wi sedikit terusik untuk menghindari stalaktit yang berjatuhan, Lie Zi menghentikan tangisannya sejenak, seraya berteriak “Guru! Ayo!” melihat kancil yang sudah kehilangan kefokusannya, Lie Zi menyuruh Loi Wi melakukan teknik yang biasa dilakukan pada saat duet bertarung.


Siluman kancil itu menghindari tebasan pedang Loi Wi, memberikan serangan balik dengan sebuah cakaran, Loi Wi segera menghindarinya. Nada tangisan Lie Zi semakin tinggi, tubuh goa itu sudah hampir luluh lantak.


Meskipun tergolong dalam Siluman berjenis makhluk beda alam, bukan berarti mudah untuk Lie Zi melawan seekor Siluman yang berusia 200 tahun dibandingkan usianya yang masih muda.


Siluman kancil yang sudah kehilangan kefokusannya menatap kearah Lie Zi berada, seolah mangsanya sekarang adalah Lie Zi. Sayatan pedang Loi Wi dan Mey Wan sedikit demi sedikit mengenai tubuh Siluman itu. Untuk saat ini Loi Wi dan Mey Wan masih belum banyak terkena serangan balik yang diberikan.


Lie Zi menghindar menggunakan tenaga dalamnya saat hampir dicakar oleh spesies Siluman yang berbeda dengan dirinya itu, sambil meningkatkan suara tangisannya dan juga mengeluarkan pedang dari sakunya, kini Lie Zi, Loi Wi dan Mey Wan bekerja sama untuk menghabisi Siluman kancil itu.


Suasana gelap mengisi goa itu, pandangan Mey Wan jatuh kepada sebuah buku bewarna keemasan yang berada tepat dibelakang Siluman kancil itu. Mey Wan yang menyadari hal itu berpikir bahwa itu adalah kitab yang dicari, ia langsung berlari menuju kearah kitab itu tanpa mengingat ada sebuah ancaman besar dihadapannya.


“Ibu!!"


“Wan!!”


Lie Zi menghentikan tangisannya. Melihat Mey Wan berlari menuju kearah Siluman kancil itu membuat keduanya berteriak.


Siluman kancil itu langsung mengalihkan serangannya tepat mengenai Mey Wan. Loi Wi berlari menangkap tubuh yang hampir jatuh ketanah goa itu, sedangkan Lie Zi melesatkan sebuah tebasan menggunakan seluruh tenaga dalamnya tepat mengenai perut Siluman kancil itu.


Siluman itu berteriak sekerasnya dan mengalihkan serangannya kearah Lie Zi, namun Lie Zi segera menghindar dari cakaran Siluman kancil itu, “Sial!!!” teriak Loi Wi sambil mengalirkan tenaga dalam kepedangnya dan bergerak melesat menuju Siluman kancil itu.


Sebuah serangan bertubi-tubi diberikan Loi Wi menggunakan pedangnya, darah hitam pekat membanjiri lantai goa itu. Siluman kancil itu kini mengalihkan serangannya kearah Loi Wi, namun Lie Zi berhasil menebas tubuh Siluman itu sampai terbelah dua.


Sebuah cahaya keluar dari tubuh Siluman yang sudah terbelah itu, mengisi keterangan pada dalam goa. Loi Wi dan Lie Zi langsung bergerak menuju Mey Wan.

__ADS_1


__ADS_2