
Hening, wanita yang dirasuki Qiu Shen itu terdiam sebelum menangis perlahan-lahan suaranya yang kian terisak-isak.
Kini wajah wanita yang tidak bersalah dan dirasuki itu kembali seperti sediakala, tumbang dan jatuh ketanah, sama halnya dengan tubuh Changyi, jatuh bersamaan dengan tubuh wanita itu.
Tidak ada yang berani bergerak, Lie Zi dan semua orang yang ada disana mematung, wajahnya pucat pasi melihat suasana yang baru saja terjadi dihadapannya.
Waktu seperti berhenti, pria sepuh yang sebelumnya meminta pertolongan kepada Lie Zi menangis ditempatnya, menahan rasa sedih yang melanda, langsung berlari bergegas kearah jasad Changyi, tak mengira ajal orang yang sudah dianggap penolongnya harus sepahit sekarang ini.
“Cha-ng-er, hikss, inikah akhirnya? inikah AKHIRNYA!” Menangis, berteriak, mengguncang tubuh pria malang itu dengan tenaga yang masih dimilikinya.
Namun tidak ada yang bisa menyalahkan takdir, hatinya luluh lantak tak berdaya.
***
Senja indah meraungi kota Ling, kesedihan dapat dirasakan dikota itu, dimana semua orang harus menerima pahitnya kenyataan tentang kematian Changyi, nama yang hebat dan pribadi yang hebat pula, namanya akan dikenang dalam sejarah kota Ling.
Seorang pria kecil bersama guru dan ibunya berdiri tegak menyaksikan senja yang sangat indah.
“Guru, setelah ini apakah mungkin kita akan mendapatkan kitab itu?”
__ADS_1
“Aku tidak dapat memastikannya, apapun yang kita terima di kedepannya ini bukan salah kita, kita sudah berusaha namun kita salah membantu orang.” Loi Wi mendengus pelan.
“Biar saja mereka menilai kita, kalau mereka tahu kondisinya pasti mereka tidak salah menilai...” Mey Wan berpendapat, mereka bertiga sangat merasa bersalah atas kematian Changyi.
***
Seorang pria sepuh mendatangi tempat Lie Zi, Loi Wi dan Mey Wan berada dengan tergopoh-gopoh, “Anak muda, kota sangat berterima kasih atas bantuanmu, meskipun tidak mencapai konsekuensinya," pria sepuh itu mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Tetapi ketahuilah bahwa kota ini tidak pernah lepas dari janjinya, kitab penghancur bumi yang ku janjikan kepadamu itu sebenarnya berada tidak jauh dari kota ini... terdapat sebuah perkampungan kecil di sebelah Utara kota, di kampung itu bernama Wuwei, kitab itu sendiri berada di goa hijau terkutuk, ditempat itu dijaga oleh Siluman kancil yang berusia 200 tahun, mitosnya susah untuk mendapatkan kitab itu dengan kemampuan yang rendah, apalagi banyak yang mengatakan kalau ingin mendapatkan kitab itu harus sama-sama dari kalangan Siluman setengah manusia yang dipercaya dapat menjaga kitab itu...” pria itu melanjutkan lagi.
“Masalahnya seorang Siluman dari kalangan setengah manusia susah untuk didapatkan, 100 tahun sekali mungkin seperti seorang Siluman Jin.” pria sepuh itu menjelaskan sambil duduk di samping Loi Wi, “Masalahnya aku juga tidak yakin kalian berhasil mendapatkannya...” pria sepuh itu menundukkan kepalanya.
Setelah mendengar hal itu Lie Zi, Mey Wan dan Loi Wi terlihat antusias terlebih lagi ketika mendengar akan mudah untuk seorang Siluman mendapatkan kitab itu.
Pria sepuh itu menundukkan kepalanya, “Ternyata di dunia yang luas ini masih ada orang baik sepertimu...”
Suasana menjadi hening, Lie Zi, guru dan ibunya memikirkan hal yang menyangkut tentang Kitab penghancur bumi, sedangkan pria sepuh itu masih terpuruk atas kematian Changyi. Satu hal yang dia takuti yaitu tidak yakin bisa bertahan hidup tanpa bantuan yang biasanya diberikan kebutuhan hidup oleh Changyi.
Mey Wan memecahkan keheningan dengan membawakan beberapa botol dan arak, “Sebaiknya kau jangan terlalu terburu-buru pak tua, silahkan diminum...” kata Mey Wan.
__ADS_1
Pria sepuh itu tertawa atas julukan yang diberikan Mey Wan kepadanya, “Pak tua ya? hahaha, aku bahkan tidak sadar usiaku sudah hampir 200 tahun.” katanya sambil menikmati arak yang disediakan.
Loi Wi tersedak araknya saat ketika pria sepuh itu mengatakan nominal usianya. Pria sepuh itu kelihatan lebih muda dari 200 tahun.
***
Malam sudah larut, suasana ramai seperti biasanya mengisi kota yang damai itu, jalanan yang indah kini padat dengan pusat perbelanjaan kota, Lie Zi, guru dan ibunya sudah siap untuk pergi meninggalkan kota.
Mereka bersama-sama berjalan keluar dari penginapan, mereka baru saja membuka pintu penginapan tempat mereka menginap, merasa takjub atas keadaan yang dilihatnya.
“Kami tidak tahu harus dengan apa membalas kebaikan kalian, semoga perjalanan kalian sampai tujuan, terima kasih telah berkunjung ke kota kami.” kata Pria sepuh itu dengan rombongan warga kota yang ada dibelakangnya.
Lie Zi, guru dan ibunya sebenarnya ingin tertawa melihat persiapan warga kota, padahal mereka adalah penduduk di kota ini, hanya saja mereka kurang terbuka di dalam kota, namun mereka takjub melihat keantusiasan warga di kota ini.
Pelukan hangat dari pria sepuh itu diberikan kepada Loi Wi dan Lie Zi, “Terima kasih.” katanya sambil memberikan tanda hormat.
Saat ini mereka dianggap seperti pahlawan di kota itu, padahal mereka tidak lebih hanyalah warga kota yang derajatnya sama.
Setelah diberikan petunjuk arah oleh warga kota, kemudian Lie Zi, Loi Wi dan Mey Wan berjalan mengikuti arah yang ditujukan.
__ADS_1
___________________________
Jangan lupa untuk vote, like dan komen