
"Maaf jika tadi kata-kataku terlalu kasar."
"Kau tidak perlu melindungiku.."
"Jika memang alasanmu untuk melindungiku, aku bisa melindungi diriku sendiri."
Setelah Aldi berbicara demikian, Aldi berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Inez.
"Kau akan kemana..? Tidak akan ada yang menerima koin emasmu. Hanya aku yang bisa menjualnya ke toko emas lainnya."
"Maka aku akan mencari toko emas yang lainnya lagi. Sampai ada yang mau membelinya." Mendengar jawaban dari Aldi, kini Inez seakan kehabisan akal dan mengejar Aldi yang terus berjalan akan keluar dari toko setelah keluar dari ruangan Inez.
"Apa beratnya mengajakku keluar jalan-jalan..? Apa aku tidak cantik..? Apa kamu sudah punya kekasih..?" Inez mengejar Aldi lalu berbicara kepada Aldi setelah berada di hadapan Aldi.
"Tidak berat, karena aku tidak akan menggendongmu. Cukup cantik.. Bahkan sangat cantik.. Aku tidak punya kekasih."
"Lalu kenapa kamu menolak jalan denganku..? Astaga.. Jangan-jangan kamu… …"
"Jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya tidak suka caramu yang mengajukan syarat seperti itu." Aldi berbicara mendahului sebelum Inez melanjutkan kalimatnya.
"Sepertinya aku harus menggunakan cara lain untuk mendapatkan Aldi ini.."
"Baru kali ini aku tertarik dengan seorang pria sampai aku rela untuk mengejarnya."
"Tetapi, dengan kepribadian yang teguh seperti ini. Membuatku semakin ingin berada di belakangnya untuk selalu mendorongnya."
Inez membatin sesaat mendengar alasan Aldi menolak syarat darinya.
"Baiklah, maafkan aku. Tetapi sebagai gantinya, aku akan selalu mengantarmu pulang setiap kali kamu selesai menjual emas. Anggap itu pelayanan dari tokoku."
Setelah percakapan tersebut, Aldi menjual semua Emasnya kepada toko milik orang tua Inez. Semua emas Aldi, terhitung memiliki berat 922 gram. Total uang yang di dapatkan Aldi dari penjualan emas senilai Rp 871.290.000.
****
"Tidak mungkin rumah ini milik Aldi.
"Seolah tidak mencerminkan dari seseorang yang memiliki harta miliaran."
"Dia sudah menerima 1 miliar lebih dari hasil penjualan emas. Tidak mungkin hanya memiliki rumah seperti ini."
Inez membatin saat sampai di rumah Aldi. Rumah yang memang terlihat sangat biasa dan hanya memiliki parkiran yang cukup luas.
"Ini benar rumahmu..?"
__ADS_1
"Bisa di katakan iya.. Bisa di katakan tidak.. Dan bisa di katakan bukan rumah." Mendengar jawaban Aldi, Inez menoleh dengan tanda tanya besar.
Rumah ini adalah rumah sahabat dari almarhum papa. Dia memperbolehkan mama dan aku tinggal di sini. Entah sampai kapan. Aku juga tidak tahu. Yang pasti, aku harus memiliki rumah sendiri sebelum aku di usir dari sini.
** Di tempat terpisah **
"Sausu kembali menunjukkan peningkatan penjualan pak."
"Apa yang harus di khawatirkan dari Sausu. Peningkatan. Bulan depan juga akan kembali turun. Sudah 4 tahun lebih kita merebut pasar Sausu. Peningkatan Sausu tidak akan memangkas pemasukan kita."
"Saat ini berbeda pak. Sausu sachet dan kemasan 75 gram mereka kini di distribusikan perusahaan baru. Sebaiknya bapak lihat grafik ini."
Seorang direktur marketing dari perusahaan saus Maritim menghadap kepada owner perusahaan dan menjelaskan grafik penjualan dari produk kompetitor yang merupakan produk Sausu.
"Mana mungkin hanya penjualan sachet dan kemasan kecil bisa mencapai omset 1,3 milyar!!"
"Apa lagi hanya di pasarkan di surabaya!!"
"Perusahaan mana yang memasarkan sausu..!!"
Owner saus Maritim sangat terkejut melihat grafik penjualan kompetitor mereka.
"Ini data owner dari distributornya pak. Dia anak dari almarhum Fadil Ramadhan. Aldi Ramadhan baru membuka usahanya di bidang distribusi 4 bulanan pak."
****
"Mas Aldi, ada tamu.. Menurut salah seorang dari mereka, mas Aldi mengenalnya." Admin Aldi berucap kepada Aldi yang masih ada di ruangannya.
Mendapatkan kabar tersebut, Aldi menghentikan pekerjaannya yang sedang memetakan area serta menyiapkan konsep baru untuk perusahaannya.
Setelah keluar dari ruangan pribadinya, Aldi melihat 4 orang sedang duduk di ruang tamu. Sambil memperhatikan satu persatu tamu yang ingin menemuinya saat Aldi berjalan mendekat, Aldi berusaha mengingat siapa salah satu dari mereka yang Aldi kenal.
"Aldi Ramadhan.. Kau sekarang sudah dewasa dan cukup hebat." Salah seorang menyapa Aldi seakan sudah mengenal Aldi cukup lama.
Tetapi, hingga Aldi sudah duduk bersama, Aldi tidak berhasil mengingat.
"Apakah kita saling mengenal..?"
"Tentu, tetapi kemungkinan kau tidak lupa karena saat itu kau masih kecil." Mendengar ucapan orang tersebut, Aldi menyipitkan matanya dan berusaha mengingat lebih keras.
"Wendi Suherman. Aku adalah sahabat dari almarhum Fadil Ramadhan." Mendengar nama tersebut, kini Aldi mengingat nama yang sering di sebut oleh pembantunya.
Pembantunya dulu sering mengatakan jika rumah yang di tinggali oleh Aldi kini adalah rumah milik Wendi Suherman yang merupakan sahabat papa Aldi.
__ADS_1
"Senang berjumpa dengan anda pak. Saya memang tidak mengenali wajah anda. Tetapi saya sangat mengingat nama anda."
"Baiklah-baiklah. Aku datang ke sini bukan untuk reoni. Tetapi aku kemari untuk memintamu berhenti memasarkan sausu."
"Maksud pak Wendi..?" Seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Aldi beusaha bertanya untuk memperjelas.
"Aku adalah pemilik saus Maritim. Aku juga sudah menguasai pasar Jawa Timur. Sausu telah lama stagnan seoalah hidup segan mati tak mau."
"Biarkan hal itu terjadi tanpa ada yang berubah. Perusahaanmu bisa memasarkan produk yang lain tanpa harus bersaing denganku."
"Sahabat dari papamu dan yang sudah membantu keluargamu di saat terjatuh. Jadi anggap ini balas budi yang sepadan."
Mendengar permintaan dari orang yang sudah berjasa bagi keluarganya, Aldi merasa bingung dan bimbang dengan permintaan tersebut. Aldi mengetahui jika permintaan tersebut karena perusahaan milik sahabat papanya takut khawatir dengan bangkitnya kompetitor.
"Pikirkanlah tentang balas budi. Kini saatnya kau membalas budi kepadaku." Setelah mengucapkan hal tersebut, Wendi Suherman yang di dampingi 3 orang yang lain pergi meninggalkan kantor Aldi.
****
"Wendi Suherman..! Ada apa dia kemari..?" Pak sugeng yang mengenali orang yang baru keluar dari kantornya membatin saat berpapasan di luar.
Mendapatkan firasat yang kurang enak, pak sugeng segera menemui Aldi.
Di dalam kantor, pak sugeng yang bertanya kepada Aldi. Mendapatkan jawaban yang mengejutkan atas permintaan orang yang baru keluar dari kantornya.
Pak sugeng juga baru mengetahui jika Aldi adalah putra dari Fadil Ramadhan yang merupakan mantan bosnya dulu.
"Sebaiknya mas Aldi menuruti permintaan Wendi Suherman. Nama beliau sangat tenar di kalangan pebisnis. Terutama di kalangan Ritail."
"Sebelum dia memiliki perusahaannya sendiri. Dia sudah melalang melintang di dunia sales. Dia juga beberapa kali menjadi direktur di beberapa perusahaan sebelum membuka usahanya sendiri."
"Terakhir kali dia menjabat direktur marketing di perusahaan milik Fadil Ramadhan yang merupakan papa dari mas Aldi sebelum dia membuka usahanya sendiri karena perusahaan milik papa mas Aldi bangkrut karena kebakaran hebat di saat perusahaan akan berkembang pesat."
"Yang paling mengejutkan di saat perusahaan milik papa mas Aldi bangkrut, Wendi Suherman memiliki saham di perusahaan kompetitor dari perusahaan milik papa mas Aldi. Dan kini, Wendi Suherman sudah menguasai seluruh saham perusahaan tersebut dan sudah mengembangkan berbagai produk baru termasuk saus Maritim."
"Wendi Suherman terkenal sering menjegal perusahaan kompetitor yang di nilai mengancam perusahaannya."
Mendengar cerita dari pak sugeng, Aldi seakan memiliki keinginan tau yang lebih untuk mengetahui siapa Wendi Suherman.
(Misi terdeteksi.)
(Membuka 10 cabang di 10 kota di Jawa Timur dengan omset masing-masing cabang mencapai 1 milliar di bulan terakhir batas waktu. Minimal 650jt omset kerupuk, dan 350jt omset sausu.)
(Waktu yang di berikan 2 bulan.)
__ADS_1
"Sial. Misi ini memaksaku supaya tidak menyerah kepada Wendi Suherman."