
"Motor akan di kirim..? Di kirim ke mana..? Siapa yang kirim..?"
"Yah..pasti di kirim ke rumah."
Aldi membatin setelah mendengar perkataan dari sistem. Dengan segera Aldi berpamitan dan bergegas pulang.
** 1 jam kemudian **
"Tidak ada pengiriman apapun.."
"Mengecewakan.."
"Aku kira akan ada motor yang tiba-tiba jatuh dari langit. Seperti film-film kartun."
Aldi berbicara sendiri setelah bosan menunggu di depan teras rumahnya.
"Seharusnya aku sudah sampai di tempat produksi kerupuk jika naik ojek online."
Aldi kembali berbicara sendiri dengan suara menyesal dan akan merebahkan tubuhnya di teras rumah.
Sambil rebahan, Aldi mengeluarkan ponselnya dan berniat memesan ojek online karena sudah bosan menunggu yang ternyata tidak seperti yang ada di bayangan Aldi. Yaitu motor jatuh dari langit setelah Aldi menyelesaikan misi.
Saat Aldi sedang mengatur lokasi tujuan dalam pesanan ojek online.
"Permisi.."
Suara seorang laki-laki yang tidak Aldi kenali sedang berbicara kepada Aldi yang sedang rebahan. Secara reflek Aldi bangun.
"Iya Pak..? Cari siapa..?"
"Saya cari rumahnya pak Aldi Ramadhan."
"Saya Aldi Ramadhan."
"Oh.. Ini mas.. Saya mau kirim motor. Ada pembelian motor dan di alamatkan ke sini untuk pengirimannya."
Mendengar ucapan dari laki-laki tersebut, terlihat senyuman di wajah Aldi.
"Ini dia yang aku tunggu-tunggu." Aldi membatin saat sang laki-laki menyerahkan sebuah berkas yang harus di tanda tangani Aldi.
"Tanda tangan di semua halaman yang ada namanya mas Aldi. Juga saya minta fotocopy KTPnya mas untuk persyaratan pengurusan surat-surat motornya."
"Saya mau kawal mobil pengirimnya untuk masuk ke sini dulu."
__ADS_1
Dengan semangat Aldi menerima berkas tersebut dan menandatangani semua dan mempersiapkan yang di perlukan.
Sebuah motor sport di turunkan dari atas mobil pickup. Terlihat wajah Aldi sangat kegirangan. Sebab motor yang datang sesuai dengan yang ada di bayangan Aldi. Motor sport.
****
Dengan semangat baru, Aldi bersiap untuk berangkat ke tempat produksi krupuk dengan mengendarai motor barunya.
Aldi memacu motornya membelah keramaian kota pahlawan. Meski terik panas sangat menyengat, dengan mengendarai motor baru. Aldi sangat antusias dengan semangat seorang ABG.
"Terus aku harus ngomong gimana saat ketemu sama pemilik produksi kerupuk..?"
"Aduh.. Aku gak sempat buat rencananya.. Gak mungkin kan aku tiba-tiba datang dan bilang mau jualin produknya. Mana mungkin percaya. Ini bukan pedagang kaki lima."
Aldi membatin saat sudah sampai di depan gang yang akan menuju ke rumah produksi kerupuk.
Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Aldi menoleh ke sebuah warung kopi di seberang jalan.
"Setidaknya aku minum kopi atau es di warung itu. Siapa tau dapat pencerahan ide."
Aldi bergumam dan menuju ke warung kopi di seberang jalan.
Aldi melihat ada 3 orang duduk di meja bagian timur, sedangkan di depan ada 2 orang remaja yang juga di warung kopi dan sedang asik dengan game masing-masing saat Aldi mask ke dalam warung kopi.
"Meski kita jualan melampaui target, seakan percuma. Perusahaan pasti akan gulung tikar beberapa bulan lagi."
"Iya.. Tapi gimanapun kita masih karyawan di sana. Meski perusahaan ini akan bangkrut dan tidak bisa buat kita kaya. Setidaknya perusahaan ini yang buat keluarga kita hidup untuk beberapa tahun terakhir."
"Iya sih.. Tapi tetap, kita harus cari tempat kerja baru. Ya kalu bisa di perusahaan distributor juga."
"Iya.. Apa lagi kalau sampai ada perusahaan yang bakalan ambil alih prodak yang ada di distributor sekarang. Itu bakalan mudahin kita untuk cari omset. Soalnya kan kita sudah punya pelanggan."
Aldi terus mendengarkan pembicaraan ketiga orang tersebut yang ternyata merupakan sales dan salah satunya adalah atasan dari kedua sales yang lain.
"Distributor..? Apa distributor..?" Aldi membatin saat mendengar percakapan ketiga orang di warung kopi.
Dengan segera Aldi mencari tau arti distributor di google. Aldi sangat penasaran dengan arti dari distributor yang sepertinya memberikan sebuah ide kepada Aldi.
Aldi mulai membaca sambil tetap mendengarkan percakapan dari ketiga orang yang sedang berbincang.
"Kalau aku gak perlu harus prodak yang sekarang kita jual. Meski punya produk sulit, tapi gaji dan insentifnya besar. Ya aku pilih perusahaan itu."
"Secara kita sales. Gak ada yang namanya produk gak bisa di jual. Ada penjual pasti ada pembeli. Itu pasti. Kalau gak bisa jual jangan melebeli diri sebagai sales."
__ADS_1
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Omongan kamu loh.. Kayak yang udah mendahului yang buat hidup."
"Lah kan benar. Kita sales. Ya gimana caranya harus bisa jual. Kita di gaji karena penjualan kita. Kita di kasih insentif karena kualitas jualan kita. Jadi.."
"Ya wes.. Ya wes.. Intinya kita sekarang tetap kerja sambil nyari batu loncatan."
Terdengar kini mereka hanya berbicara dengan candaan. Dan mulai membahas pembicaraan yang lain.
"Mmm… sepertinya aku punya ide dari apa yang sudah mereka bicarakan."
"Distributor ya.. Berarti aku harus mengaku jika akau sedang atau akan membangun sebuah distributor."
"Dan aku ke tempat produksi kerupuk untuk mencari produk kualitas yang bisa aku pasarkan melalui perusahaanku."
"Ya.. Sepertinya aku sudah punya ide."
Aldi membatin setelah mendapatkan sebuah ide brillian.
Kini Aldi berdiri dari tempat duduknya dan berpindah ke tempat duduk kosong di meja ketiga orang sales yang kini sedang begurau.
"Boleh saya duduk di sini..?" Aldi menyapa ketiganya sebelum duduk supaya memiliki alasan untuk berbicara lebih lanjut.
"Tentu.. Ini bukan tempat duduk pribadi.."
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.."
"Gurau.. Gurau.. Duduk.. Duduk.."
Mereka bertiga menyambut Aldi yang menginginkan bergabung satu meja dengan mereka.
"Pak, tadi saya mendengar pembicaraan bapak.. Saya memiliki penawaran dan mungkin sebuah solusi untuk bapak semua."
Mendengar ucapan Aldi, mereka saling pandang satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk menyimak apa yang akan di sampaikan Aldi.
Meski mereka sedikit memandang remeh Aldi karena masih muda, tetapi mereka tetap menunjukkan antusias dengan yang akan di sampaikan Aldi.
"Saya ada uang masing-masing 100rb buat bapak." Aldi berbicara sambil menyodorkan uang kepada ketiganya.
"Maaf, bukan bermaksud menyinggung. Tetapi ini hanya sebuah apresiasi dari saya supaya pembicaraan saya di dengar sampai selesai." Aldi kembali berbicara sesaat memberikan uang kepada ketiganya.
Hal itu di lakukan Aldi supaya Aldi tidak di pandang remeh karena masih muda. Sebab Aldi mengerti suatu hal. Jika uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang.
Uang memang tidak bisa bicara, tetapi dengan uang orang akan lebih di dengar saat bicara.
__ADS_1