
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.."
Kau pikir aku takut dengan nama keluarga besarmu..!
"Keluarga Boukunar pengusaha tambang emas."
"Kau tidak mengenalku gadis kecil."
Wendi Suherman tertawa lalu berbicara seolah meremehkan Inez. Dengan nada bicara Wendi Suherman, membuat Inez sedikit terkejut hingga melambatkan jalannya.
"Kau tidak tau apa yang terjalin antara Keluarga Boukunar dan Wendi Suherman."
"Aku, Wendi Suherman. Memiliki kartu AS dari keluarga Boukunar."
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.."
"Dan kau kira setelah mempermalukanku di hadapan anak buahku seperti ini. Kau bisa keluar dari kantorku begitu saja..?"
Kini Inez semakin terkejut dengan pernyataan Wendi Suherman. Hal itu berhasil membuat Inez berhenti dan menoleh ke arah Wendi Suherman yang terlihat menelepon seseorang.
"Aku tidak peduli dengan bicaramu mengenai keluargaku. Tapi, jika kau berusaha menghubungi anak buahmu untuk menahanku. Coba lihat lewat jendela sebelum mencobanya."
Mendengar ucapan Inez, Wendi Suherman segera menuju jendela dan melihat ke luar. Terlihat belasan anak buah Wendi Suherman yang berbadan kekar dan tegap. Sedang di kepung oleh puluhan anak buah dari keluarga Inez. Hingga mereka tidak berkutik. Bahkan hanya sekedar mengangkat telepon dari Wendi Suherman pun mereka tidak berani.
Setelah berbicara demikian, Inez keluar dari ruangan Wendi Suherman dengan santai. Sedangkan di sisi lain, terlihat wajah Wendi Suherman memerah seperti akan terbakar.
** Di tempat berbeda **
"Sekarang apa yang harus kita lakukan mas..?"
"Nasi sudah jadi bubur. Maka tidak ada pilihan selain bersaing dengan Wendi Suherman."
"Itu jika mereka main bersih. Karena yang pernah saya dengar. Wendi Suherman tidak pernah main bersih terhadap lawan bisnisnya."
"Pak Sugeng tidak perlu memikirkan itu. Biarkan saya yang berpikir mengenai ini."
"Lalu, apa kita akan pindah hari ini juga..? Sebab, Wendi Suherman hanya memberi batas waktu sampai tengah malam ini."
"Tidak perlu. Hari ini pak sugeng beserta tim. Bekerja seperti biasanya. Kita akan pindah ke kantor baru sesuai rencana. Setelah gedung baru selesai."
Meski pak sugeng sudah mendapat perintah demikian dari Aldi. Tetap saja pak Sugeng memikirkan apa yang akan di hadapi Aldi.
__ADS_1
****
"Bagaimana pak kata mas Aldi..?"
"Iya.. Kita harus bagaimana.."
"Weeehh.. Tadi badan pengawalnya gede-gede. Nakutin."
"Iya cookk.. Badannya dah kaya kingkong aja."
Percakapan para sales di grup WhatsApp para sales.
"Kita percaya aja ke mas Aldi. Sekarang kita berjualan seperti biasa. Kita juga gak akan pindah sebelum gedung baru selesai."
"Aduh pak.. Kalo kita di berhentikan di jalan gimana..?" Salah seorang sales menanggapi chat dari pak Sugeng.
"Raimu ae sangar.. Tapi di jegat uong wedi. Lak di jegat gampang cok.. Kari jeret ae.. Tooolloongg… Toooolooong.. Ngono. {Wajahmu aja yang nakutin.. Tapi di berhentikan orang takut. Kalau di berhentikan gampang kawan. Tinggal teriank aja.. Tooolloongg… Toooolooong.. Gitu." Salah seorang sales lainnya menanggapi pertanyaan yang di peruntukan kepada pak Sugeng.
Sontak, jawaban dari sales lainnya beragam hingga di buat candaan dengan berbagai stiker konyol.
** Jam 20.11 **
"Pak Sugeng pulang aja gakpapa."
Sebenarnya, pak Sugeng mengkhawatirkan Aldi. Hingga pak Sugeng melakukan pekerjaannya di kantor yang sebenarnya bisa di kerjakan di rumah.
Tetapi, hingga 1 jam melebihi dari waktu yang di tentukan. Tidak ada tanda-tanda kehadiran dari Wendi Suherman ataupun orang suruhannya. Hingga jam 2 dini hari, pak Sugeng baru pulang setelah tidak terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
****
"Tidak seperti biasanya.."
"Kenapa banyak orang nongkrong di sekitaran jalan ini."
"Pandangan mereka semua juga terlihat seperti mengikuti jalanku."
Pak Sugeng membatin saat baru keluar dari gang rumah Aldi atau kantornya.
Orang-orang yang di lihat oleh pak Sugeng, adalah orang-orang dari keluarga Boukunar yang di minta Inez untuk menjaga kantor Aldi dari kejauhan dan mengusir orang-orang yang di curigai adalah orang-orang dari Wendi Suherman.
** Beberapa Jam Sebelumnya **
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan..!!"
"Maksud Paman apa..?"
"Kau jangan berkelit. Cepat ceritakan versimu dari kejadian tadi siang. Kenapa kau membawa orang-orang kita dan mengacau ke kantor Wendi Suherman..!!"
Inez sedang di panggil untuk melakukan rapat keluarga yang berada di Surabaya. Keluarga Boukunar di Surabaya di pimpin oleh paman Heri yang merupakan kakak dari ayahnya Inez.
"Aku hanya melakukan hal yang memang perlu aku lakukan."
"Dengan cara membawa puluhan pengawal keluarga dan menyerang kantor Wendi Suherman..? Bodoh..!! Tindakan Bodoh..!!" Paman Heri memaki Inez di hadapan keluarga besar Boukunar Surabaya.
"Aku bodoh..!! Paman kira aku tidak tau rahasia paman..? Bagaimana jika rahasia paman aku bongkar ke kakek buyut Boukunar..?"
"Aku sebagai cicit pertama dari keluarga Boukunar, memiliki hak untuk menggunakan kekuatan keluarga Boukunar. Terlebih jika aku melakukan hal yang benar."
Inez yang sudah menyelidiki hubungan Wendi Suherman dengan keluarga Boukunar. Memiliki fakta jika pamannya sebagai pemimpin keluarga Boukunar Surabaya yang merupakan pusat keluarga Boukunar di Jawa Timur.
Memiliki perjanjian khusus yang tidak di ketahui oleh buyut dari Inez yang merupakan pemimpin keluarga Boukunar. Yaitu kakek buyut Boukunar.
"Lancang..!!"
"Galang..!! Ajarkan anakmu sopan santun di hadapan pemimpin keluarga cabang." Paman Heri berteriak dan mengingatkan Galang adeknya tentang Inez.
Akan tetapi, sebelum ayah Inez berbicara. Inez segera meninggalkan rapat keluarga. Hal itu sontak membuat paman Heri semakin meradang hingga memukul meja.
Setelah meninggalkan rapat keluarga, Inez segera mengirim orang-orang nya untuk menjaga dan mengawasi rumah Aldi dari kejauhan.
****
"Bos.. Kita tidak bisa mendekati rumah Aldi Ramadhan. Jalanan rumah Aldi Ramadhan di jaga oleh orang-orang dari keluarga Boukunar." Orang suruhan dari Wendi Suherman mengabari lewat sambungan telepon.
"Sial..!! Boukunar masih tetap melindungi meski aku sudah menelepon Heri." Sambil menggebrak meja, Wendi Suherman berbicara dengan emosi.
****
Ke esokan Harinya, kantor Aldi berjalan seperti biasanya seolah semua orang telah melupakan kejadian kemarin saat Wendi Suherman datang.
Mereka bukannya tidak memperdulikan atau tidak mengkhawatirkan sesuatu hal atas kejadian kemarin. Melainkan mereka semua di kantor yang di pimpin Aldi secara langsung, sudah terbiasa dan terlatih untuk tidak terfokus pada masalah. Mereka terbisa fokus menatap kedepan dan hanya sesekali menoleh kebelakang untuk sebuah pelajaran.
"Setidaknya kini kita sudah mengerti jika kita benar-benar harus berlari agar saus Maritim tidak lagi dapat menghentikan sausu."
__ADS_1
"Apakah kalian siap berlari dan berkompetisi..?"
"YA.. YA.. KAMI SIAP.. BINTANG NAGA EMAS AKAN SELALU BERKIBAR." Semua sales meneriakkan yel-yel perusahaan untuk membakar semangat pagi mereka semua saat Aldi memimpin brifing pagi.