Sistem Mengubah Takdir.

Sistem Mengubah Takdir.
hidup kembali?


__ADS_3

"Astaga...?! Kenapa seperti ini?!" Bonie melihat komputer di meja nya rusak.


Tubuhnya yang tinggi dan sedikit berotot membuatnya terlihat maskulin namun tetap terlihat kurus jika dia mengenakan pakaian longgar. Mata merah yang bercahaya dengan wajah bingung dan frustasi. Wajahnya tampan dan terukir indah bagai batu giok tapi dia adalah orang yang ceroboh untuk melakukan apapun, yang paling aneh adalah alasan kenapa dia bisa tetap hidup? Dengan sifatnya yang seperti itu.


"Lupakan... aku memang seperti ini... hari ini sudah mendapat banyak sekali kesialan mulai dari melempar buku ke wajah guru, membuang uang saku ku untuk sebulan, dan... mempermalukan diri sendiri di kelas" Bonie menarik nafas panjang dan duduk di kursi depan komputer rusak miliknya.


"Andai saja aku adalah orang kaya..." Bonie meletakan kepalanya di meja.


Tanganya menyentuh komputer yang rasak.


_bizzs_ suara setruman listrik menjalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuhnya.


Belum sempat Bonie menarik tanganya dia sudah tersetrum dengan menyeramkan.


"Ah?!!" Teriak Bonie kesakitan sebelum akhirnya penglihatannya menjadi gelap dan membawanya ke sebuah tempat berkabut.


'Apa ini akhirnya? Yah... aku adalah yatim piatu tanpa memiliki saudara tak ada yang peduli jika aku mati toh, lagi pula aku sudah tak memiliki apa apa' Bonie tersenyum kecil saat kesadarannya mulai kabur.


Saat menyadari sakit yang di derita tubuhnya perlahan menghilang Bonie memberanikan diri untuk membuka matanya.


Betapa terkejutnya Bonie mendapati dirinya berada di tempat berkabut.


"Ha? Apa ini tempat orang setelah kematiannya?" Bonie melihat sekeliling dan hanya bisa melihat kabut abu abu yang mengelilinginya secara misterius.


"Apa tubuhku gosong?" Bonie menatap ke tubuhnya dan melihat tubuhnya baik baik saja dengan pakaian kasualnya yang berwarna merah kulit putihnya masih tetap bersih tanpa ada bekas gosong sama sekali.


"Apa aku mengambang? Tapi... aku merasa kaki ku berpijak di udara" Bonie melangkah kan kakinya dan merasa seperti menginjak sebuah kaca bening yang halus. Di bawah kakinya terlihat kabut yang sama seperti yang ada di sekitarnya.


Bonie terus melangkahkan kakinya untuk berjalan maju.


Semakin Bonie berjalan maju kabut abu abu tabal yang mengelilinginya semakin menipis walau tetap saja tebal dan menghalangi pandangan Bonie.


"Apa aku bisa pergi dari tempat ini?" Bonie berlari kedepan setelah menyadari bahwa semakin dia maju maka kabut yang mengelilinginya semakin menipis.


Setengah jam kemudian Bonie sudah mulai kehabisan tenaga untuk tetap berlari namun kabut yang semakin menipis dan cahaya yang mulai muncul di baliknya membuat secercah harapan muncul di benak Bonie.


"Huh, huh... hhhu" Bonie terengah dan berhenti untuk beristirahat sebentar.


"Aku sudah berlari kira kira puluhan Km tapi... kenapa belum sampai juga?!" Bonie berteriak di akhir kalimatnya karna merasa geram dengan hal yang telah menimpanya.


Tiba tiba cahaya menyilaukan muncul dari hadapan Bonie dan membuatnya menutup matanya dengan kedua tanganya karna panik.

__ADS_1


'Habislah aku... apa aku menyinggung seseorang yang berada di sini?! Apa aku akan mati lagi?' Bonie merinding saat mengingat cara kematiannya yang tersetrum tadi.


Tempat itu hening bahkan Bonie bisa mendengar suara detak jantungnya yang menguat dan hembusan nafasnya.


Beberapa detik berlalu Bonie masih menutup matanya karna matanya masih merasa sakit.


Suara hembusan angin terasa di kulit Bonie yang di penuhi keringat dan merasa tubuhnya sangat sejuk dan nyaman.


"Hem?" Bonie membuka matanya dan melihat pemandangan yang luar biasa...


Bonie sedang berada di depan jembatan melengkung yang terbuat dari kayu Ek dan terlihat indah di kelilingi dengan bunga bunga dan di bawahnya terdapat sungai kecil dengan teratai angsa dan ikat yang sangat cantik di dalamnya.


Jembatan itu menuju ke pulau kecil di mana disana terdapat pohon besar, dan Bonie merasa kenyamanan yang di rasanya berasal dari pohon tersebut.


Di pohon itu tergelantung buah yang terlihat seperti apel berwarna merah ranum yang mengiurkan.


Daun daun pohon itu sangat lebat dan terlihat indah.


Sementara di bawah kakinya Bonie melihat jalan yang terbuat dari batu halus dan bagian bagian yang sedikit menonjol itu membuat keindahan yang istimewa.


"Tempat macam apa ini? Apa surga?" Bonie sebelum dia membantah perkataannya sendiri.


Saat telah sampai di bawah pohon besar itu Bonie baru menoleh ke belakangnya dan sekitarnya.


Dia melihat sebuah rumah yang indah sangat besar dan taman bunga yang membanjiri tempat itu dengan aroma yang menyegarkan.


Di samping itu Bonie melihat gerbang yang terlihat aneh.


Gerbang itu seperti menuju ke pusaran kabut abu abu tebal.


"Itu tempat aku masuk tadi?" Bonie menatap gerbang itu.


"Benar! Selamat datang tuan baru sistem perkenalkan nama ku Oyen terdengar aneh bukan? Tapi yah itu namaku, oh ya tempat ini adalah tempat yang di sediakan sistem saat kau tidak memiliki misi" pria kecil yang imut dengan telinga kucing dan ekor kucing di mana di ekornya terdapat lonceng kecil yang berbunyi saat dia menggoyangkan ekornya suara yang pelan namun bisa terdengar. Rambut ekor dan telinganya berwarna oranye dan pipinya merah merona.


"Imut" Bonie mengelus kepala Oyen.


"Hem?" Oyen terlihat senang dan dia menggoyangkan ekornya ke segala arah dan telinganya bergerak gerak naik turun.


"Kau bilang sistem? Apa ini sistem yang membantu ku menguasai dunia?" Bonie terlihat bersemangat.


"Bukan" Oyen dengan pasti.

__ADS_1


"Hah?!" Segala macam harapan dalam pikiran Bonie tiba tiba lenyap karna perkataan Oyen.


"Perkenalkan diri secara singkat" Oyen berkata dengan lantang lalu muncul sebuah layar di hadapan Bonie.


"Sistem adalah sistem yang membantu orang yang telah menawarkan imbalan pada sistem untuk menyelesaikan masalah" Oyen.


"Hah? Lalu? Menurutmu aku yang selalu mendapat masalah ini memiliki keberuntungan untuk menolong orang?" Bonie duduk di bawah pohon sambil menghela nafas panjang.


"Begini..." Oyen melanjutkan penjelasannya.


***


Sejam kemudian...


Bonie terlihat mengantuk mendengar penjelasan Oyen.


"Baiklah Oyen apa kau punya sesuatu untuk ku makan?" Bonie merenggangkan tubuhnya.


"Tuh..."oyen menunjuk ke atas dan terlihat buah merah yang indah di salah satu ranting pohon.


"Apa aku harus memanjat?" Bonie berdiri mencoba menggapai buah yang dua kali tinggi nadanya itu, tubuh bonie memang tinggi kira kira 189 Cm tapi pohon itu sangat besar, yah tentu saja!


"Oyen bisa mengambilnya untuk tuan" Oyen setelah melihat sikap Bonie.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" Bonie sedang bersusah payah memanjat pohon yang 5 kali lebih besar dari tubuhnya itu.


"Hehe..." Oyen menghentikan jarinya.


_buk_ buah merah sebesar pergelangan tangan Bonie jatuh ke rerumputan di dekat kaki Bonie yang sudah kembali turun dari memanjat.


_glek_ Bonie menatap buah di tangannya dengan nafsu.


_krak_ suara gigitan besar langsung masuk ke dalam mulut Bonie.


Bonie memakainya dengan rakus sementara Oyen hanya menatap tuanya dengan senyuman.


"Enak..." Bonie sambil mengunyah gigitan terakhirnya.


"Ngomong ngomong ini buah apa?" Bonie melempar sisa buah yang sudah tak bisa di makanya itu sembarangan ke samping.


"Tuan! Apa kau tahu itu buah Apa?!" Oyen panik melihat Bonie membuang sisa buah itu sembarangan padahal itu adalah peristiwa langka di mana pohon Keajaiban memunculkan buah.

__ADS_1


__ADS_2