Sistem Mengubah Takdir.

Sistem Mengubah Takdir.
Dia benar benar menangis sekarang


__ADS_3

Di jalan yang lumayan ramai Bonie bisa melihat wajah wajah sedih dan bahagia warga kota itu.


Tak terlalu jauh dari penginapan tempat Bonie tinggal Bonie melihat Seorang anak kecil berjualan buah.


"Anak sekecil itu berjualan? Apa dia tidak memiliki orang tua?" Bonie berjalan cepat menuju anak kecil itu.


"Kau ingin apa tuan?" Oyen merasa tuan nya itu akan berulah lagi.


"Aku ingin... Membunuh anak itu" Bonie dengan senyum iseng nya.


"EHH?! APA TUAN SUDAH KECANDUAN MEMBUNUH?!" Oyen tak kuasa untuk tidak berteriak, untung saja hanya Bonie yang mendengarnya kalau tidak seluruh kota gempar karna teriakan Oyen.


"Berisik! Aku hanya bercanda kau benar benar menganggapnya serius hah?" Bonie menutup telinganya dengan kesal.


'Kenapa tidak ada seorangpun yang ikut menerima penderitaanku karna Oyen?' Bonie menangis di hati.


Tidak lanjut menenangkan Oyen yang masih mengoceh.


Bonie melangkah lebih dekat dengan anak kecil yang di liatnya.


"Berapa harga buah apel ini?"Bonie Mengambil sebuah apel dan menggigitnya sepotong besar.


"Pria bejat! Kau memakan milik anak itu? Bukan kah ada lebih banyak penjual buah di tempat lain?!" Oyen Emosi nya meluap luap.


"Ternyata kau benar benar tidak memiliki sifat imut, apa saat pertama kali kita bertemu itu cuma akting? Kau terlihat seperti kucing yang nakal sekarang" Bonie sambil menikmati apelnya, maksudku apel milik anak di depannya yang sebentar lagi menangis itu.


"Kita tidak berbicara tentang itu bukan sekarang?! Lihat dia sudah mau menangis" Oyen menunjuk ke arah anak kecil pemilik apel yang di makan Bonie.


'Tidak, dia benar benar menangis sekarang!' Pikir Bonie.


"Kenapa kau menangis?" Bonie berpura pura tidak menyadari keusilannya pada anak kecil itu.


"Kakak memakan buah ku" menangis terisak.


"Aku akan membayarnya, bukankah kau berjualan?" Bonie sedikit canggung.


"Benar, tapi kalau belum di bayar itu berarti kakak mengambilnya bukan membelinya" terus menangis dengan suara pelan.


Bonie Langsung menjadi pusat perhatian semua orang.


"Dia mengerjai anak kecil!"


"Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya"


"Ini satu koin emas apa cukup?" Bonie memberikan pada anak kecil itu karna merasa bersalah.


'Sebenarnya aku ingin memberinya uang untuk hidup tapi siapa sangka anak ini terlalu hebat' Pikir Bonie dengan wajah aneh.

__ADS_1


"Satu koin emas?!" Semua orang yang berlalu lalang di tempat itu melihat sebuah koin yang bersinar tertera sinar mata hari.


"Itu benar benar satu koin emas! Apa buah apel itu buah apel dewa? Dia membelinya dengan penghasilan kota kita!" Seseorang pedagang berteriak tak percaya.


"Bagaimana? Apa kau puas?" Bonie meletakan koin emas ke tangan kecil anak itu yang tercengang.


"Tidak! Aku tidak bisa menerimanya buah ini hanya 1 perunggu 1 koin emas terlalu banyak dan aku tidak memiliki kembalian" anak itu mengembalikan uang yang di berikan oleh Bonie.


"Aku tidak akan mengambilnya Lagi, anggap saja sebagai permintaan maaf, apa kau berjualan sendiri? Di mana orang tua mu?" Bonie bertanya tanpa jeda.


"Em... baiklah aku akan menerimanya, aku tinggal dan berjualan sendiri aku tidak memiliki orang tua" ucap anak itu tertunduk sedih.


"Tak apa! Kau harus tegar untuk membuat hidupmu sendiri bercahaya! Berusahalah" Bonie tersenyum menyemangati.


"Hem! Terimalah kakak" anak itu tersenyum senang menggenggam kuat koin yang di berikan oleh Bonie.


"Tuan aku tidak menyangka kau juga bisa menyemangati orang lain" Oyen duduk di atas tumpukan buah milik anak kecil itu.


"Siapa nama mu?" Bonie bertanya lagi.


"Gani nama kakak?" Gani balik bertanya.


"Bonie kau harus mengingatnya ya?" Bonie tersenyum.


"Tuan kau harus mengingat peraturan sistem?" Oyen khawatir tuan nya akan di hukum lagi karna di dalam tubuhnya Hitam sedang mengomel.


"Haha aku hanya memberinya uang apa itu salah?" Bonie tak mengerti.


"Aku pergi dulu Gani semoga kita bis bertemu lagi di masa depan" Bonie melambaikan tangannya dan pergi.


Gani hanya diam dalam lamunannya tanpa menyadari Bonie sudah pergi jauh dari hadapannya.


***


Sosok yang terlihat bermartabat sedang duduk dan menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.


"Bisakah kalian memanggil kan pria yang membantai sebagian pasukan musuh itu?" Jendral koko pada salah satu bawahannya yang berdiri di belakangnya.


"Baik"


****


Sedangkan di tempat lain Bonie sedang melihat lihat senjata di toko senjata terbesar di kota tersebut.


"Tidak lebih bagus dari pisau dapur baru" Bonie bergumam pelan agar tidak di dengar oleh orang orang di sekitarnya yang juga sedang melihat lihat senjata.


"Bukan kah sudah ku bilang? Dunia ini terlalu terbelakang" Oyen juga ikut melihat lihat."Tuan ada kah senjata yang membuat mu tertarik?" Pemilik toko dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin melihat lihat" Bonie ingin melangkah pergi dari toko senjata saat seseorang muncul di hadapannya.


"Tuan ku ingin menemui mu, silahkan ikut dengan ku"


Bonie memperhatikan pria di hadapannya dengan tatapan menyelidik.


'Yen bukan kah dia adalah salah satu bawahan jendral koko? Untuk apa Jendral koko ingin bertemu dengan ku?' Bonie masih belum menjawab perkataan pria di hadapanya malah berbicara dengan Oyen.


"Mana ku tahu? Aku tidak bisa meramal masa depan" Oyen.


"Baiklah ayo" Bonie mengangguk pada pria di hadapannya yang sudah beberapa saat menunggu.


'Siapa pria ini? Dia melihat ku dengan cara yang menyeramkan, jika aku adalah orang biasa mungkin aku akan pingsan karna takut' Pikir nya saat Bonie menatap dengan seksama dirinya.


Nyatanya dia terlalu banyak berpikir. Bonie hanya penasaran kenapa jendral koko ingin menemui nya.


****


Setengah jam berlalu dan Bonie memasuki sebuah bangunan yang bisa di bilang lebih layak dari yang lain.


Berjalan masuk sambil mengikuti pria yang membawanya Bonie melihat ke sekitarnya.


Di dalam bangunan itu hanya ada satu ruang dan di sana hanya ada kursi kursi yang di bener rapi sepanjang dinding dengan 1 kursi menghadap pintu masuk.


Di kursi itu duduk Jendral koko yang terlihat sudah menunggu lama.


"Tuan saya sudah membawanya"


"Terimakasih kembali ke tampat mu" Jendral koko berdiri dan menghampiri Bonie yang berdiri diam memperhatikan mereka.


"Siapa nama mu prajurit?" Jendral koko.


"Nama ku Bonie" Bonie dengan santai.


Walau penampilan jendral koko sangat tangguh kekuatannya hanya 13 poin dan itu jauh di bawah Bonie.


Pria yang berdiri di belakang kursi Jendral koko mengerutkan kening dan berbisik pelan pada pria yang membawa Bonie kemari.


"Apa dia tidak tahu kalau Jendral kita sangat kuat?" Bisiknya.


"Tapi aku rasa dia juga kuat karna bisa membantai para musuh dengan mudah apa kau pikir kita bisa?" Pria yang membawa Bonie menjelaskan.


Jendral koko tersenyum sebelum menarik pedang beratnya dari sarung pedang yang ada di pinggangnya.


_prang_


Suara pedang beradu.

__ADS_1


"Bagaimana dia bisa menangkis serangan Tuan dengan pedang kecil nya?!" Kedua bawahan jendral koko berteriak tak percaya melihat Bonie menangkis serangan dengan mudah.


"Kenapa anda menyerang saya?" Bonie bertanya wajahnya masih datar namun hawa membunuh jelas keluar dari matanya.


__ADS_2