
"Ya... nanti saja! Aku lapar, mungkin..." Bonie memegang perutnya yang sebenarnya tidak merasa lapar sama sekali.
'Dia jelas jelas berbohong' pikir Oyen.
Bonie duduk di sebuah meja sendiri di dekat jendela menghadap ke kiri dan memanggil seseorang untuk memesan makanan.
Saat seorang pria muda namun sekitar lebih tua dari Bonie 3 tahunan menuju ke arahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin memesan makanan" Bonie dengan santai setelah membolak balik buku menu yang ada.
Beberapa menit kemudian meja Bonie penuh dengan berbagai macam menu makanan.
"Ayo Yen kita makan" Bonie mengambil paha ayam yang ada di atas piring dan melahapnya dengan cepat.
"Tentu saja" Oyen sudah meneteskan air liur saat makanannya datang.
***
Sejam kemudian...
"Hah... memanjakan lidah benar benar menyenangkan, walaupun uangku tinggal 740 juta..." Bonie terlihat sangat miskin saat melangkah keluar dari restoran itu.
"Tapi! Aku harus membeli baju dan perlengkapan lain untuk sekolah besok, memang benar kalau hanya 1 bulan..." Bonie bersandar ti tembok sebuah bangunan besar.
"Tuan, mau kah kau membeli baju dengan harga yang lebih murah dari aslinya?" Oyen menawarkan.
"Hem? Kau serius? Jangan berbohong pada ku" Bonie mengangkat alisnya tak percaya.
'Jangan jangan anak ini mau menjuali ku barang bekas?' Pikir Bonie.
"Jeng jeng!" Oyen.
Muncul layar sistem dengan kata di atasnya.
'Shop sistem'
"Oh? Kenapa kau tidak berkata dari awal?" Bonie tersenyum senang.
Oyen hanya diam dan tak menanggapi perkataan Bonie.
***
Setelah beberapa menit...
Bonie telah berganti pakaian dan kini dia berjalan tak tahu ingin kemana karna merasa terpuruk.
Bonie mengenakan pakaian hitam putih yang modis dan dia terlihat sangat tampan.
"Ah... kenapa aku mempercayai bocah bodoh ini" Bonie merasa jiwanya melayang keluar dari tubuhnya melalui mulutnya.
"Tapi, bukankah tuan puas?" Oyen Berharap jawaban yang memuaskan dari tuanya.
"Ya... untuk terlihat seperti orang kaya orang miskin seperti ku harus mati dulu..." Bonie berjalan gontai.
"Tapi! Uangku masih 725 juta dolar! Itu tak apa selama aku telah mendapat selusin pakaian" Bonie menutupi kesedihannya.
__ADS_1
"Kau harus terbiasa dengan ini tuan..." Oyen menarik nafas panjang.
"Ini sudah mulai sore lebih baik kita pulang dulu" Bonie memberhentikan taksi di jalan.
"Dimana tempat tinggal ku?" Bonie saat duduk di kursi penumpang bertanya pada Oyen alamat rumah barunya.
"Apartemen RG di pusat kota" Oyen.
Sekali lagi Bonie merasakan jiwanya keluar dari tubuhnya.
"Apartemen RG di pusat kota" Bonie menguat kan mentalnya.
"Wah... tuan muda tinggal di tempat yang sangat mahal rupanya!"
"Hm" Bonie menanggapi dengan santai padahal hatinya terasa tersayat sayat.
'Ternyata setengah uangku yang ku keluarkan hanya untuk tempat tinggal untuk sebulan' Pikir Bonie karna dia merasa mati untuk kedua kalinya.
"Tuan! Sinyal host terdeteksi dekat dengan kita" Oyen sambil menatap ke layar sistem.
"Iyan bodoh itu seperti apa sih wajahnya?" Bonie mengerutkan alisnya di wajah tampannya.
"Berhenti" ucap Bonie.
Setelah membayar Bonie berlari menuju arah yang di tunjukan sistem.
Sesampainya di tempat, di sebuah kafe yang terlihat sederhana.
"Tempat ini?! Untuk apa anak orang kaya sepertinya datang ke tempat ini?" Bonie mendekat ke arah bangunan yang di tunjukan sistem.
"Logika macam apa coba itu?! Aku walau sebodoh ini tetap tahu kalau itu tindakan bodoh" maki Bonie.
"Aku rasa dia jauh lebih bodoh dari mu, jadi semangat untuk membuatnya lulus ujian" Oyen menyemangati Bonie yang sudah melangkah masuk dari pintu Kafe tempat Host nya Iyan berada.
Kedatangan Bonie ke tempat seperti itu jelas membawa banyak perhatian karna dia kini terlihat seperti tuan muda kaya yang sombong.
"Wah... apa dia adalah seorang model?"
"Tampan sekali!"
"Aku ingin menikahinya"
"Dia pasti orang yang kaya raya"
Di banding memperhatikan perkataan orang orang dalam kafe itu Bonie malah menyapu sekitarnya dengan tatapan tajamnya.
Sebenarnya itu karna dia amat penasaran dengan Host nya yang amat bodoh.
Tempat itu langsung hening menyadari Bonie sedang mencari seseorang.
"Ah, itu dia!" Bonie melihat pria dengan cahaya hijau redup mengelilinginya yang berarti dia adalah Host Bonie yang bernama Iyan tubuhnya seperti rata rata pria lainya namun dia tampak kurus, tidak! Maksudku memang kurus dia mengenakan pakaian pelayan kafe rambut pirang dengan bola mata biru yang sayu wajahnya tampak lelah saat mengantarkan secangkir kopi ke salah satu meja pelanggan.
'Tapi... bukankah sedikit mencurigakan kalau aku langsung mendatanginya? Lebih baik aku pura pura ingin minum kopi saja deh' Pikir Bonie.
Bonie mengarah ke sebuah meja kosong dan duduk di sana.
"Lihat ada pelanggan langka! Iyan cepat layani dia"
__ADS_1
"Baiklah"
"Permisi... ada yang bisa saya bantu?" Iyan pada Bonie dengan senyum ramahnya.
"Aku ingin memesan kopi hitam" Bonie santai.
Dalam hatinya.
'Anak usia 19 tahun bagaimana caraku untuk membuatnya menuruti ku?' Pikir Bonie memutar otaknya.
"Tuan... aku rasa kau suka menanggung beban sendiri dan tak menyadari bahwa sebenarnya kau adalah naga di bentuk kadal mu" Oyen.
'Bukankah itu adalah penghinaan? Oyen... kau tak terlihat seperti kucing yang mengenaskan seperti berjam jam yang lalu' maki Bonie.
"Haha tentu saja" Oyen tertawa lepas.
Wajah Bonie yang tenang berubah menjadi gelap mendengar perkataan Oyen.
"Hehe aku hanya bercanda" saat Oyen menyadari itu bukan waktu yang tepat untuk bercanda.
'Terserah kau saja, lalu? Apa yang bisa membuatku dekat denganya?' Bonie.
"Mungkin kau harus menyatakan perasaan mu padanya?" Oyen.
_buk_ benturan keras mendarat ke kepala Oyen.
Bonie terlihat sedang mengibas tangannya ke udara. yang sebenarnya sedang memukul Oyen.
"Hiks... kasar, kau sama seperti wanita jahat itu" Oyen menangis.
"Aduh... jangan menangis, aku akan membelikan kau makanan yang kau mau nanti" Bonie berbicara ti telpon. Padahal dia sedang membujuk Oyen agar tidak menangis.
"Hiks... baiklah" Oyen menyeka air matanya.
"Kau anak pintar" ucap Bonie.
"Tuan ini kopinya" Iyan muncul dengan sebuah gelas berisi kopi hitam di tangan ya.
"Ah? Terima kasih" Bonie tersadar kembali ketika Iyan menyapanya.
"Kau terlihat sangat lelah kenapa tidak istirahat dulu?" Tanya Bonie.
"Aku harus berkerja lagi" Iyan menjawab.
"Baiklah... lupakan itu" Ujar Bonie dingin.
"Maaf, apa aku menyinggungmu?" Iyan saat melihat wajah dingin Bonie.
"Tidak, aku hanya butuh teman ngobrol saja, oh ya, nama ku Bonie Noir kau bisa menghubungiku jika ada perlu" Bonie memberikan kartu namanya ke Iyan.
"Terima kasih..." Iyan masih terdiam saat Boni sudah meninggalkan Kafe dan meninggalkan sejumlah uang di atas meja.
"Tuan? Kenapa kau meninggalkannya seperti itu?" Oyen bingung.
"Bukankah kau sudah memiliki tuan sebelumnya kenapa kau terlihat seperti tak tahu apa apa?" Bonie balik bertanya.
"Maksudnya?" Oyen.
__ADS_1