Sistem Mengubah Takdir.

Sistem Mengubah Takdir.
Matahari kedua


__ADS_3

"Tidak! Maksudku aku ingin berteman dengan mu karna kau terlihat seperti orang yang berkerja keras" Bonie karna dia baru menyadari kalau perkataannya bisa mengundang salah paham.


"Haha" Iyan tertawa pelan.


"Huh?" Bonie terlihat bingung.


"Tak ada, aku mengandalkan mu lain waktu, oh ya kau sekolah di sini? Kenapa aku tak pernah melihat mu?" Iyan merubah sifatnya yang ragu ragu menjadi ramah dan di penuhi senyum.


'Baiklah... sepertinya aku harus berterima kasih pada antagonis itu' Pikir Bonie sambil membalas senyum Iyan dan berkata.


"Aku murid pindahan dari kota J kau adalah orang pertama yang ku temui jadi aku akan mengandalkan mu juga dari sekarang" Bonie.


"Hahaha" mereka berdua tertawa.


'Hah... sepertinya Tuan ku yang satu ini sangat berbeda dari tuanku yang sebelumnya' Pikir Oyen.


***


Kelas hening ketika seorang pria paruh baya masuk ke dalam kelas.


"Semuanya kita kedatangan murid baru, silahkan masuk"


Bonie melangkahkan kakinya pelan masuk kedalam kelas dengan gayanya yang sedikit menjengkelkan bagi Oyen.


"Halo semuanya, perkernalkan nama ku Bonie Noir, aku adalah murid pindahan dari kota J" Bonie tersenyum ramah.


Sementara itu kelas menjadi riuh dengan sorak sorai dan komentar komentar yang bermunculan di kelas yang tadinya hening.


"Baiklah, kau bisa duduk di sebelah Iyan"


"Terimakasih pak" Bonie tersenyum senang saat dia tahu dia di suruh duduk di sisi hostnya.


Mendengar perkataan guru mereka para perempuan melirik Iyan dengan tatapan Iri dan dengki.


"Dia beruntung bisa duduk di samping pangeran kita"


"Kenapa dia tidak duduk di sebelah saja? Aku adalah wanita tercantik di kelas"


Sementara Iyan hanya diam memperhatikan pria yang berjalan santai menuju ke arahnya.


"Aku tak menyangka ternyata kita satu kelas" Iyan.


"Tentu saja" Bonie tersenyum dan duduk di samping Iyan.


***


"Iyan apa kau selalu berkerja setiap hari di tempat kemarin?" Bonie bertanya pada Iyan yang telah fokus mencatat pelajaran.


"Ya, begitulah... untuk kelangsungan hidupku" Iyan masih tak memalingkan wajahnya dari bukunya.


'Aduh... apa lagi yang harus ku lakukan Oyen?' Bonie berkata pada Oyen.


"Bodoh..." Oyen bersenandung menjawab perkataan Bonie.


"Hem?!" Bonie terlihat kesal.


"Ya, ya, Aku juga tidak tahu..." Oyen.


'Aku akan menghajarmu nanti' Bonie pada Oyen


"Huh? Lalu kedua orangtua mu?" Bonie melanjutkan pertanyaannya.


Iyan yang sedang menulis di bukunya terdiam. Lalu menatap ke arah Bonie dengan tatapan yang aneh.

__ADS_1


"Mereka... tidak ada" ujarnya singkat.


'Hah?! Apa apaan itu? Nyata nyatanya mereka masih sehat dan mencari mu! Sebentar, kalau kedua orang tuanya mencarinya kenapa mereka tak pernah menemukan Iyan?' Bonie mengomentari di dalam hatinya.


"Itu di karenakan Iyan yang meminta tolong pada orang orang yang mencarinya untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada kedua orang tuanya" jawab Oyen.


'Bukanya sedikit aneh?' Bonie berpikir.


"Tentu saja tidak, entah kenapa pemikiran orang orang di dunia ini sangat dangkal dan bodoh" Oyen mengasihani Bonie.


Percakapan mereka berlangsung sangat cepat dan hanya dua detik.


"Maaf karna mengingatkan mu tentang hal yang menyedihkan" Bonie memperlihatkan ekspresi bersalah.


"Tak apa" Iyan melanjutkan belajarnya.


***


"Ngomong ngomong kau tinggal di mana? Aku akan mengantarmu pulang" Bonie menawarkan.


"Kita sudah memiliki lokasi tempat tinggal host kenapa kau perlu menanyakanya?" Oyen.


'Itu karna aku akan di curigai oleh host kalau aku menyelidikinya' ujar Bonie pada Oyen dalam telepati.


"Tak usah, aku harus berkerja sambilan setelah ini" Iyan.


"Baiklah kita akan bertemu lagi besok" Bonie melambaikan tangannya saat Iyan berlari pergi ke arah yang berlawanan dengan tujuan Bonie.


"Kenapa kau tak menawarkan untuk mengantarnya ke tempat kerja?" Oyen.


"Kenapa kita harus menempel pada nya selalu? Itu akan membuatnya tidak nyaman dengan ku, dan merasa curiga bukanya itu sudah pasti?" Bonie menyalakan mobilnya dan kembali ke apartemen.


***


_buk_ suara pukulan keras mendarat ke kepala Oyen.


Bonie sedang berjalan pelan menuju kasur empuknya.


Bonie merebahkan tubuhnya dengan cepat ke kasur.


"Ah! Aku bosan! Aku harus mengajarinya seperti anak kecil? Itu tidak akan berhasil! Adalah sesuatu yang bisa membantu ku?!" Bonie melihat layar sistem yang memunculkan statusnya.


Status


Nama:Bonie noir


Poin:9 (bonus)


Kekuatan:17


Kecerdasan:4


Energi:8


Kecepatan:6


Skil:-


Label: sampah pemula


"Buka Shop sistem" ujar Bonie.


"Yen adakah sesuatu yang bisa membuat host pintar seketika?" Bonie menggeser geser menu pilihan di shop sistem.

__ADS_1


"Tentu saja" Oyen masih memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Lalu?" Bonie terlihat sangat penasaran.


"Ini dia" Oyen mengotak atik layar sistem miliknya sendiri.


Layar sistem di depan Bonie menampilkan banyak sekali pilihan barang.


"Silahkan pilih... tuan, informasi barang akan muncul jika kau menyentuhnya dua kali" jelas Oyen.


"Hem..." Bonie menggeser layar sistem dengan cepat.


Bonie mengetuk gambar pil merah polos yang terlihat seperti permen.


[Pil pengetahuan super]


[Kelas E]


[Mampu meningkatkan pengetahuan sebanyak 5 kali lipat dan berfungsi selama seminggu]


[1 poin]


"Akan aneh jika aku memberi pil tidak di ketahui asalnya, bisa bisa dia mengira aku berniat meracuninya" Bonie menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Tuan, tuan ku yang sebelumnya, si wanita iblis itu pernah membeli ini" Oyen memperlihatkan gambar sebuah minuman kaleng dengan warna hijau cerah dan bergambar sebuah tumbuhan.


[Minuman penguat ingatan]


[Kelas E]


[Setelah meminum ini ingatan seseorang akan meningkat 10× dan dalam waktu tak terbatas namun efek samping yang di terima adalah menerima rasa sakit di kepala yang lumayan menyakitkan]


[1 poin]


"Ha! Ini dia, tapi... efek samping yang begitu menyeramkan" Bonie menyentuh kepalanya dan merasa pusing.


"Yah... wanita itu juga merasa sakit sampai dia tertidur walau tingkat energinya yang sudah mencapai angka yang tinggi" Oyen merasa tanggapan tuanya biasa saja.


"Tertidur?? Hahaha benar! Tertidur!" Bonie duduk dan senyum yang lebar terlukis di wajahnya dan bola matanya yang merah menyala sedikit menyempit.


"Memangnya Kenapa?" Oyen menggaruk kepalanya tidak mengerti.


"Kau akan tahu nanti, aku mau membeli minuman ini dua!" Bonie mengetuk layar.


***


Iyan melamun sambil merebahkan tubuhnya di sofa yang tua dan ada bagian bagian di mana sofa itu rusak dan berlubang.


Hari sudah mulai malam Dia baru sampai di rumah nya yang kecil dan tampak sedikit kumuh.


"Bonie... pria itu, entah kenapa aku merasa dia bisa merubah sesuatu dari ku, dan menjadikannya lebih baik. Entah kapan perasaan seperti itu muncul, padahal aku baru mengenalnya, tapi aku merasa ada semacam koneksi" Iyan memandang setiap sudut rumahnya.


"Aku ingin pulang... kerumah ku yang sebenarnya, ibu dan ayah apa kalian merindukan ku? Aku harus bisa lulus Sma dengan kemampuan ku sendiri, kalau tidak... aku terlalu malu untuk pulang" Iyan menutup matanya setelah dia melihat sekeliling dan kemudian tertidur karna kelelahan.


***


Pagi hari yang begitu indah.


Bonie berlari dengan semangat keluar dari mobilnya, sesaat setelah sampai di sekolah.


Melihat Host nya dia seperti melihat matahari keduanya setelah uang.


"Hai, iyan, apa yang kau pikirkan?" Bonie merangkul Iyan yang sedang berjalan gontai menuju ke kelas.

__ADS_1


"Tidak ada, apa yang membuatmu semangat seperti ini?" Iyan mencoba melepaskan tangan Bonie dari belakang bahunya tapi itu sia sia, dia lupa kalau Bonie memiliki kekuatan yang luar biasa.


"Mungkin karna aku mendapat sebuah permaian baru, mau bermain dengan ku?" Bonie melepaskan rangkulanya saat menyadari Iyan kurang menyukai di perlakukan seperti itu.


__ADS_2