
"Dia adalah seorang yang baik namun terlalu waspada seperti tadi saat aku merubah raut wajah dia tampak mewaspadaiku dan takut" Bonie.
"Lalu?" Oyen.
"Pelan... itu berguna dalam beberapa situasi". Bonie.
"Oh, aku paham sekarang!" Oyen.
"Hah... andaikan aku punya mobil sendiri..." Bonie berdiri menunggu mobil taksi yang lewat di depannya.
"Mau membelinya?" Oyen dengan senyum manis.
"Tidak! Lagipula hanya sebulan aku pasti akan membuangnya nanti jika sudah selesai lagi pula tidak bisa di simpan di ruang penyimpanan sistem bukan?" Tanya Bonie dengan wajah datar saat menaiki sebuah taksi.
"Tentu saja bisa,siapa bilang tidak bisa?" Oyen menyela dengan wajah percaya diri.
"Oh? Kalau begitu besok saja" Bonie menutup matanya. Perjalanan menuju tempat tinggalnya lumayan memakan banyak waktu jadi Bonie memutuskan untuk tidur sebentar.
***
Sesampainya di depan bangunan apartemennya.
Bonie takjub melihat tempat itu.
"Serius? Apa aku akan tinggal di sini?" Bonie menggosok matanya tidak percaya.
"Tentu saja, bukankah rumahmu sendiri lebih besar dari tempat ini?" Oyen.
"Rumahku?" Bonie mengangkat alisnya tidak percaya.
"Rumah di dalam ruang sistem!" Jelas Oyen melihat Bonie yang memasang tampang tidak tahu apa apa.
"Haha aku kurang memperhatikanya" Bonie menggaruk kepalanya dengan canggung.
"Huuh" Oyen dengan suara yang terdengar menggemaskan.
"Sudahlah... nanti kita akan melihat lihat rumah di ruangan sistem" Bonie mengelus kepala Oyen dengan lembut saat memasuki tempat itu.
"Hem, mari beristirahat tuan" Oyen menanggapi dengan senyum umurnya sambil menggoyangkan ekornya ke sana kemari.
***
Keesokan harinya.
Bonie sedang memutar tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk.
Di wajahnya terlihat jelas kalau dia tak ingin berpisah dengan kasur empuknya.
"Tuan... kau harus sekolah, lagi pula kau juga harus menyelesaikan misi" Oyen menyentuh pipi tuannya dengan tangan kecilnya yang imut dan mendorong nya pelan.
"Hem... baiklah, aku akan mandi dulu" Bonie bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman dan menggosok matanya yang masih merasa ngantuk.
Bonie berjalan menuju ke kamar mandi.
"Hem... kematian yang konyol membawaku ke sebuah dunia yang sangat sulit di pahami" gumam Bonie sambil mengenakan pakaianya.
Dia bersekolah di sekolah elit yang tidak mengharuskannya untuk mengenakan seragam, dia bebas untuk mengenakan pakaian apa pun selama itu sopan.
"Tuan kau ingin memakai pakaian ini untuk ke sekolah? Bukannya sedikit sederhana?" Oyen mengelilingi tubuh tuanya.
"Ini sudah cocok, aku tak ingin terlihat mencolok walau sudah jelas ini masih mencolok, tapi bukanya sekolah elit tentu saja banyak anak anak kaya yang bergaya keren dan modis jadi aku tidak akan terlalu mencolok" ucap Bonie dengan percaya diri.
Bonie mengenakan kemeja dengan motif kotak kotak berwarna merah dan hitam dan yang lainya yang mendukung penampilannya, dan jelas itu bukan pakaian biasa karna di rancang oleh Desainer terkenal di bumi yang memastikan kalau harganya menjulang tinggi.
Bonie menggendong tas nya di bahu sebelah kiri dan berjalan keluar dari apartemen.
Jalanan sudah mulai ramai pada jam 6 pagi.
__ADS_1
"Oh ya, sistem aku ingin membeli mobil terbagus di bumi ini" Bonie dengan nada angkuhnya.
"Baik" Oyen terlihat bersemangat menyambut hari yang baru.
Layar sistem muncul dan memunculkan berbagai kategori mobil dan muncul sebuah mobil yang terlihat sangat indah di layar.
"Ini dia" Oyen.
"Wah... serius? Keren! Tapi... 75 juta dolar?! Kau gila?" Bonie merasakan jantungnya ingin keluar dari tubuhnya.
"Itu sudah seharga standar dengan diskon 99%" Oyen menunjukan wajah seperti sangat terbebani dengan protes Bonie.
"Kau pandai berbohong, sudahlah... aku mau beli mobil itu" Bonie memeluk Oyen tanpa menanggapi candaan yang merepotkan itu.
"Sukses, uang di kurangi. Sisa uang 650 juta dolar" Oyen dengan nada datar.
Waktu seakan berhenti saat mobil itu keluar di hadapan Bonie yang sedang berdiri di tepi jalan.
Beberapa detik kemudian aktifitas kembali menjadi normal.
"Huh? Apa yang terjadi barusan?" Bonie bisa mengetahui kalau ada yang tidak beres dengan orang orang yang sedang lalu lalang di sekitarnya.
"Itu adalah efek sistem yang menghentikan waktu untuk mengeluarkan barang agar tidak tampak mencurigakan" jelas Oyen.
"Oh? Kalau begitu ayo mengemudi" Bonie masuk ke dalam mobil dengan wajah senang.
Beberapa detik kemudian.
"Ah?! Bagaimana ini yen? Aku tidak bisa mengendarai mobil! Bagaimana jika aku kecelakaan jika mengendarainya?!" Bonie berteriak histeris.
"Bodoh! Kau bisa menyentuh layar itu dan mengaktifkan mode auto mengemudi dan mengatakan tujuanmu" Oyen duduk di sebelah Bonie.
"Oh?" Bonie menekan di tampat yang di katakan Oyen.
***
Sesampainya di sekolah.
Saat Bonie keluar dari mobil sosok tampanya langsung di sorot mata.
Bonie bersandar di mobil dan menutup matanya.
"Wah... sepertinya dia sedang menunggu seseorang"
"Siapa yang dia tunggu?"
"Apa aku bisa mendapatkan hatinya?"
"Apa dia anak pindahan?"
"Kenapa sangat keren?!"
Berbagai kata mengomentari penampilan Bonie.
'Ah... gagal sudah menjadi siswa biasa' Pikir Bonie.
"Tuan, sepertinya host sedang bermasalah dengan antagonis yang membuatnya bunuh diri sebulan lagi" ucap Oyen.
"Apa?!" Bonie berteriak kaget dan membuka matanya.
Sontak Bonie berlari kemenuju ke arah Host.
Wajah panik Bonie yang tiba tiba membuat orang orang yang sibuk mengomentarinya.
"Kenapa dia terlihat sangat panik?"
"Apa pacarnya selingkuh?"
__ADS_1
"Apa dia sudah punya pacar?"
Komentar komentar terus bermunculan sementara Bonie sudah berlari jauh dari tempat itu.
***
Di tempat lain.
Seorang pria sedang meringkuk di sisi dinding wajahnya tampak memar karna pukulan.
"Hahaha Iyan, berikan uang mu pada ku sekarang"
Seorang pria yang terlihat memimpin sekelompok orang yang sedang merudung pria yang sedang meringkuk takut itu.
"Tidak! Aku membutuhkannya!" Iyan memeluk tas nya erat.
***
Kembali ketempat Bonie.
Bonie sedang berlari cepat menuju ke arah yang di tunjukan sistem.
Sesampainya di tempat.
Tak jauh dari tempat Bonie berhenti ada pemandangan yang sangat di kenalnya. Ya itu adalah Bulling.
"Sial! Berani sekali mereka melukai sumber uangku?" Bonie dengan hawa kemarahan yang meluap luap.
"Benar benar uang adalah segalanya bagimu ya Tuan?" Oyen.
"Brengsek! Cepat berikan perutku sudah lapar"
Seorang mengayunkan tangannya untuk menampar Iyan.
_buk_
Iyan menutup matanya saat tangan pria itu melayang ke arahnya.
Namun bukanya mengenai Iyan tangan pria itu di tahan oleh seorang pria bertumbuh tinggi dan mengesankan.
"He? Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Bonie dengan senyum kejamnya.
Alasan kenapa Bonie masih hidup sampai ke usia 21 tahunya adalah karna dia menolong seorang anak Smp yang sedang ingin di rampok. Walaupun ceroboh Bonie memiliki fisik yang bagus dan dia sangat kuat.
Ternyata anak yang di tolong Bonie itu adalah anak seorang pengusaha kaya.
Sebagai imbalannya Bonie mendapat sejumlah uang yang mampu membuatnya bertahan hidup. Karna kedua orang tuanya sudah meninggal karna kecelakaan saat dia Sd dan meninggalkan dia sendiri.
"Sial siapa Kau?!"
"Aku? Aku adalah orang yang siap mencabut nyawa kalian!" Bonie Merenggangkan tubuhnya bersiap untuk berkelahi.
_buk bung dak_ suara pukulan keras mendarat kesetiap bagian tubuh 6 orang yang ingin memeras uang Iyan terutama si antagonis.
"Huh... bersyukurlah kalian karna bisa merasakan pukulan tuan muda ini" Bonie meletakan tangannya di samping pinggang melihat orang orang it lari terbirit birit.
"Apa kau baik baik saja?" Bonie berbalik dan mengulurkan tangannya untuk membantu Iyan berdiri.
"A anu... terimakasih banyak" Iyan menyambut tangan Bonie dan berdiri.
"Hahaha Untuk apa? Kenapa kau tak menghubungi ku saja jika ada perlu?" Bonie tersenyum lebar.
"Eh..." Iyan menarik tanganya dan mengepalkan tangannya ke belakang.
"Aku Bonie, siapa nama mu?" Bonie bertanya untuk basa basi karna sudah beberapa detik mereka lalui dengan suasana hening.
"Iyan, kenapa kau mau menolong ku?" Iyan.
__ADS_1
"Kenapa? Mungkin karna aku menyukai mu?" Bonie.
"EH?!!" Iyan merona dengan perkataan Bonie begitu juga dengan Oyen.