Sistem Mengubah Takdir.

Sistem Mengubah Takdir.
Eh membunuh?!


__ADS_3

"Di perpustakaan kau tidak boleh membawa makanan!" Bonie saat sudah mulai fokus duduk di atas sofa.


"Aku bisa membersihkan kekacauannya dengan mudah" Oyen duduk di ata meja yang terbuat dari kayu.


"Bisakah kau duduk di kursi, apa pantat mu akan rusak jika duduk di kursi? Hah?!" Bonie geram.


"Ya, ya pak tua, kenapa kau terlihat sangat serius untuk membaca buku itu?" Oyen mendekat dan mengintip isi buku dari belakang punggung Bonie.


"Entah... aku sedang memperhatikan gambar aneh ini" Bonie menunjuk gambar di halaman pertama buku 'inti kegelapan'


"Itu bisa di bilang adalah perwujudan kegelapan yang seunguhnya, Gambar itu di dapat di sebuah Dunia tingkat atas yang sangat misterius" Oyen sambil mengamati juga gambar di buku tersebut.


"Oh? Kalu begitu mari kita baca, Sejarah..." Bonie melanjutkan bacaannya.


***


Beberapa jam kemudian...


"Tuan, Bangun tangan mu sudah sepenuhnya sembuh" Oyen membangunkan Bonie yang berbaring di sofa dengan buku menutupi wajahnya. Sepertinya dia sudah lelah membaca danTertidur.


"Kenapa?" Bonie menyingkirkan buku di atas wajahnya dan meletakkannya di atas meja.


"Sudah sembuh!" Oyen berkata dengan riang.


"Oh?" Bonie Duduk dan mengangkat tangan kirinya.


"Benar benar sudah sembuh... kira kira... aku sudah tidur berapa lama?" Bonie Karna dia tak bisa melihat jam dengan matahari karna di tempat ini. Sama sekali tak ada benda seperti itu.


"5 Jam an mungkin? Kenapa porsi tidurmu sangat mengerikan tuan?" Oyen terlihat lelah menunggu Bonie bangun dari tidurnya.


"Mungkin karna aku merasa sangat lelah mental maupun fisik saat memahami buku ini?" Bonie mengangkat buku itu lalu melamparnya kebelakang.


Buku yang di lemparkan Bonie menjatuhkan buku lainya.


Suara kekacauan berasal dari buku buku yang jatuh berantakan.


"Hem?" Bonie melirik ke belakang dan melihat buku buku berserakan.


Bonie menatap Oyen dengan penuh arti, itu menjengkelkan bagi Oyen sendiri.


"Pembuat onar" maki Oyen.


"Hehe, siapa tadi? Ah... aku rasa aku sedikit budek bisakah kau mengulanginya?" Bonie tersenyum memaksa kepada Oyen.


"Aku adalah pembuat onar" Oyen menjentikan jarinya dan semua kembali seperti semula.


"Ayo, Oyen kita berpetualang untuk membunuh! Eh... membunuh?!" Wajah Bonie yang bersemangat saat melihat deskripsi Misi tiba tiba pucat pasi suara yang terdengar lirih di akhir kalimatnya.


"Hem Hem, benar mari kita bunuh para bajingan itu" Oyen menyetujui dangan pasti.


"Oyen!? Kamu gak tau arti membunuh atau gimana?!" Bonie menggoyangkan tubuh Oyen lagi dan jiwa Oyen melayang keluar dari mulutnya karna merasa pusing.


"Aku... tahu" Oyen ter bata bata saat Bonie meletakanya di sofa.

__ADS_1


"Lalu?" Bonie mengangkat alisnya tak percaya.


"Aku sudah sering mengikuti wanita iblis itu untuk membunuh" Oyen menjelaskan saat pusingnya sudah mulai menghilang.


"Apa membunuh di dunia ini sama seperti di Game? Tidak ada darah? Dan yang di bunuh itu akan menghilang?" Bonie amat penasaran.


"Hem? Gimana ya? Mungkin..." Oyen ragu ragu dengan perkataannya sendiri namun menutupinya dengan sikap imutnya.


"Baiklah! Tapi setalah aku mandi, berganti pakaian, dan makan" Bonie percaya diri.


Bonie bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju kolam.


'Aku rasa dia akan terkejut jika mengetahui kebenaranya' Oyen berkata dalam hati dengan rasa bersalah.


'Yah... yang kau katakan ada benarnya' suara yang tidak asing muncul di kepala Oyen.


'Huh?! Kau...' Oyen mengeluarkan keringat dingin di dahinya.


***


"Ah... aku sudah sangat penuh dengan energi" Bonie merenggangkan tubuhnya yang sudah berpakaian rapi di depan gerbang berkabut.


"Tentu saja, kau menghabiskan 2 hari dengan alasan tangan mu masih sakit" Gumam Oyen pelan di belakang Bonie.


"Hah? Bisa kau ucapkan sekali lagi? Aku rasa belakangan ini aku jadi agak budek" Bonie menggosok telinganya sambil menatap Oyen dengan senyum iseng.


"Ah! Lupakan! Ayo kita menjalankan misi!" Oyen mendorong Bonie namun tidak bisa benar benar mendorongnya.


"Apa waktu nya akan di mundurkan?" Bonie.


"Tidak, apa kau berpikir untuk menyelamatkan adik Jendral koko itu?" Oyen mengangkat alisnya.


"Entahlah..." Bonie mengangkat bahunya pelan.


Melangkah ke dalam gerbang Mata Bonie menjadi silau seperti saat dia pertama kali menjalankan misi.


"Ayo" ucap keduanya saat tubuh mereka mulai menghilang dari tempat itu.


***


Seorang pria sedang duduk, auranya sangat mendominasi.


Namun wajah yang kira kira berusia 30 tahunan dan sedikit keriput itu terlihat muram.


Kantung matanya hitam, menurutku mirip seperti panda, tidak! Lebih cocok di sebut manusia panda.


Pria itu mendesah pelan dan melihat sekelilingnya.


Dia berada di sebuah ruangan yang terbuat dari beton, tapi... kalau di lihat lihat, bangunan itu tidak seindah di bumi bahkan sebuah bangunan yang sudah tidak berpenghuni selama 20 tahun itu lebih baik.


Pakaiannya terbuat dari kulit tubuhnya kekar dan mendominasi di antara dua orang yang sedang berlutut di hapannya.


Duduk di kursi kayu yang bagus namun terlihat permukaannya kasar. Sangat mirip dengan orang yang menduduki nya menurut ku.

__ADS_1


"Jendral! Pasukan sudah siap untuk berangkat besok" pria dengan wajah ramping dengan kulit gelap berkata pada pria yang sedang duduk di hadapannya.


"Baiklah! Biarkan semuanya beristirahat besok kita akan melakukan penyerangan" ucap


Jendral koko tegas.


"Laksanakan Jendral! Saya undur diri"


Pria berkulit gelap itu bangkit berdiri membungkuk, mundur beberapa langkah lalu keluar dari ruangan batu itu.


"Kau juga boleh pergi, aku ingin sendiri sebentar" Jendral koko pada seorang pria dengan kulit sao matang.


"Baik"


********


"Eh?! Kenapa dunia ini terlihat sangat busuk?!" Bonie berteriak kaget namun karna dia berada jauh dari keramaian perkataannya tidak di dengar oleh siapapun kecuali Oyen.


"Ini hanya dunia kecil, tidak mungkin seindah yang kau bayangkan, dunia ini bahkan 10 kali lebih kecil dari bumi" Oyen menambahkan.


"Lalu? Kapan perang akan di mulai?" Bonie mengecek informasi Misi.


"Besok" Oyen.


"Besok? Ya sudahlah. Aku harus mencari tempat tinggal untuk sementara" Bonie menuju ke arah keramaian untuk bertanya adakah penginapan di sana.


"Apa mau sistem carikan?" Oyen menawarkan.


"Tidak! Kau bisa menghabiskan setengah uangku hanya untuk tempat tinggal lagi, itu merugikan" Bonie memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing mengingat telah di kerjain oleh Oyen.


"Yen apa perang di sini mengunakan baju jirah besi?" Bonie.


"Tidak, kecuali para komandan dan jendral" Oyen sambil menggeser geser layar sistem.


"Syukurlah... aku tidak akan sulit bergerak karna harus memakai benda seperti itu" Bonie bergumam sambil mendekati sebuah bangunan yang cukup besar dari yang lainnya.


"Bukankah kau jadi mudah terluka?" Oyen.


"Dan kalau meraka memakainya itu lebih sulit untuk di hajar" Bonie memasuki tempat itu setelah melihat plang yang berada di atas bangunan.


Oyen tak menjawab dan terus mengikuti Bonie.


"Apakah di sini adalah penginapan?" Tanya Bonie pada salah satu orang di sana.


"Benar, ada yang bisa saya bantu?" Seorang perempuan menjawab perkataan Bonie.


"Kalau begitu aku mau memesan 1 kamar" Bonie.


"10 perunggu silahkan ini kuncinya" ujar perempuan itu dengan ramah.


'Yen apa kita memiliki 10 perunggu?' Bonie takut dia tak bisa membayarnya.


"Kau bahkan bisa membeli dunia ini dengan uang mu!" Oyen mengendus kesal dan sebuah layar muncul di hadapan Bonie dan mengagetkan Bonie.

__ADS_1


__ADS_2