Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 1.1 : Perpindahan Dunia


__ADS_3

Aku tidak ingin mati.


Mungkin kata-kata itu terdengar mustahil untuk direalisasikan ketika kematian seseorang sudah ditentukan. Terlebih lagi, setiap orang juga akan mati pada akhirnya.


Tapi aku mengatakan itu dengan bersungguh-sungguh. Hidupku masih terlalu singkat untuk menghadapi maut. Tapi serius, aku masih sekitar tujuh belas tahun saat ini. Jadi mungkin teman-temanku akan terkejut jika mendengar berita tentang kematianku yang entah darimana.


Kalian bertanya bagaimana dengan perasaan orang tuaku? Tentu saja mereka akan sedih. Anak kesayangan mereka yang sedang dalam masa terindah dalam hidupnya tiba-tiba menghilang begitu saja dari pelukan mereka. Orang tua mana pun pasti shock mendengarnya.


Maka dari itu, aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak ingin mati! Aku masih ingin hidup! Setidaknya aku ingin hidup sampai umur 130 tahun! Kalau bisa bahkan lebih! Aku ingin meninggal dalam keadaan sehat dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucuku di tempat tidur kematianku lalu meninggal dalam keadaan tersenyum.


Suatu akhir cerita yang indah, bukan?


Tapi masalahnya adalah itu tidak semudah yang aku bicarakan. Dan juga apakah diriku ini bisa mewujudkan hal itu? Apalagi saat ini, sebuah truk bergerak dalam kecepatan tinggi di sampingku dan tidak ada tanda akan berhenti saat melihatku yang jelas-jelas berada di hadapannya.


Aku bahkan dapat melihat supir truk di kemudinya juga dalam wajah yang panik. Yah ... aku tidak bisa menyalahkannya, sih. Karena sesaat lagi dia akan menabrak seseorang.


Benar. Aku berbicara seperti itu di awal tadi karena aku sedang dalam keadaan di ujung maut saat ini. Bisakah setidaknya mereka menunda kematianku lima menit lagi? Eh, bagaimana kalau sepuluh menit? Tidak, tidak, kalau bisa sehari? Ah! Pokoknya aku masih belum mau mati! Apakah itu terlalu sulit untuk diminta?!


Aku yakin hidupku tinggal tersisa satu detik lagi saat ini karena banyak orang yang bilang kalau pemikiran seseorang sebelum mati itu berjalan lebih cepat dari biasanya. Makanya aku bisa banyak berbicara seperti ini dalam waktu kurang dari satu detik.


Ekhehem! Sebelum itu, mari kita mundur beberapa saat sebelum hal mengenaskan ini terjadi padaku.


**


Namaku Arka Wijayakusuma. Seorang bocah 17 tahun asal Indonesia yang belajar di sekolah negeri yang cukup terkenal di negeri ini.


Aku cukup pintar jika aku menilai diriku sendiri. Ini bukan sedang menyombongkan diri atau memuji diriku secara berlebihan, tapi banyak temanku yang juga mengatakan hal yang sama. Jadi cukup adil untuk menganggap diriku pintar.


Beberapa pelajaran aku kuasai dengan mudah, kemampuan menghafalku juga berada di atas rata-rata. Lalu kemampuan olahraga yang aku miliki bisa aku katakan cukup baik, meskipun itu bukan keahlian utamaku dan aku juga tidak terlalu menyukainya.


Aku selalu membantu temanku yang kesulitan dalam beberapa bidang pelajaran yang aku kuasai— Dan mereka berterima kasih karena itu. Aku sebenarnya tidak pelit ilmu, hanya terkadang aku suka menyembunyikan beberapa trik-trik penyelesaian soal yang mudah agar aku tetap berada di urutan atas di kelas.


Apa? Kalian bilang kalau itu pelit dan licik? Haha! Sama sekali bukan. Itu bukan pelit. Itu strategi.


Orang yang mengeluarkan semua senjatanya hanyalah seorang dermawan yang bodoh. Dan aku cukup pintar untuk tidak melakukan hal itu. Dengan strategi itu juga yang membuatku dapat berada pada urutan atas di kelas, bahkan sekolah. Jadi kalian bisa mengatakan kalau itu adalah senjata rahasiaku.


Hehe .... Seseorang yang mengeluarkan senjata rahasianya saat musuh sudah merasa menang, lalu seketika mereka terkejut langsung putus asa. Aku benar-benar menyukai hal itu. Gawat. Mungkin aku terlalu banyak membaca Manga dan nonton Anime, tapi berkat itu, sekarang hal semacam itu adalah momen favoritku di sebuah Anime atau Manga.


Aku tahu, aku tahu. Kalian mungkin menganggap seorang yang pintar dan hanya mementingkan belajar. Tidak sama sekali! Bahkan orang sepertiku juga terpengaruh budaya globalisasi jejepangan lewat anime dan manga. Tentu saja aku merahasiakannya dari teman-temanku di sekolah karena mereka akan menganggapku sebagai anak kecil yang menyukai kartun.


Jadi aku tidak boleh menghancurkan image yang telah aku bangun sejak lama. Aku harus mempertahankannya sebaik mungkin dan membuat orang-orang berpikir kalau aku adalah bentuk kehidupan sempurna di masa SMA.


Okey, mungkin itu sedikit berlebihan.

__ADS_1


Tapi yang kurang dari kehidupan sempurna SMA-ku adalah mendapatkan pacar. Benar! Seorang kekasih! Masa muda yang penuh keromantisan! Seseorang yang selalu mengingatkanku untuk makan setiap waktu, agar selalu tidur tepat waktu, sosok yang begitu perhatian dan penyayang.


Aku butuh seseorang seperti itu! Jika aku berhasil menemukannya, mungkin aku akan membuat rasa iri semua orang akan meningkat tinggi— meskipun itu bukan tujuan utamaku, tentu saja kalian percaya denganku, kan? Ya, kan?Okey, kalian percaya.


Dan pemikiran acak itu berlangsung saat aku pulang sekolah. Sepanjang jalan aku terus memikirkan bagaimana kriteria perempuan yang akan menjadi pacarku. Dia harus dingin. Bukan secara harfiah, tapi sifatnya yang dingin kepada orang lain adalah kesukaanku.


Aku tidak mau melihat dia baik ke setiap orang yang ia temui. Aku hanya ingin dia tersenyum tulus kepadaku dengan wajahnya yang imut dan manis! Ah ...! Membayangkannya saja sudah membuatku berdebar kencang.


Kalau dipikir-pikir, ternyata aku ini orang yang cukup cemburuan, ya? Tapi tidak apa. Selama itu bisa membuatku bahagia, aku rasa tidak ada salahnya memiliki satu atau dua kriteria pasangan.


TIINN... TIINN...


"Eh?"


Tapi aku lengah. Aku terlalu sibuk bermain di dalam kepalaku sendiri dan membayangkan yang tidak-tidak sampai aku lupa memperhatikan sekitarku. Bahkan aku juga baru menyadari kalau sekarang aku sedang berada di tengah trotoar jalan. Dengan lampu lalu lintas yang bahkan tidak berwarna merah.


Dan ... semuanya terasa lambat.


Dan begitulah ceritanya bagaimana aku terus berteriak 'tidak ingin mati!' di dalam kepalaku dari tadi.


Sialan. Kehidupan sempurnaku akan berakhir begitu saja karena satu kelengahanku. Apa tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini? Apapun itu!


Aku mencoba menggerakan tubuhku, tapi tidak bisa. Bahkan berkedip saja rasanya lambat sekali, sepertinya yang bekerja normal saat ini hanyalah otakku saja. Atau mungkin otakku yang bekerja lebih cepat dari biasanya? Mungkin bisa saja begitu.


Diriku telah mencoba berbagai cara. Tapi sepertinya ... ini memang waktuku untuk pergi dari dunia ini. Mau tidak mau aku harus menerimanya, karena meskipun aku pintar, aku hanyalah seorang manusia biasa.


Cukup indah juga untuk hidup yang singkat. Kurasa hanya sedikit penyesalanku saat hidup.


Pada akhirnya, aku berhenti berusaha. Aku menutup mataku tanda kalau aku sudah pasrah dengan keadaan yang akan terjadi padaku selanjutnya. Mungkin akan terasa sedikit sakit, tapi aku yakin itu akan berlalu dengan cepat.


Selamat tinggal dunia, dari Arka Wijayakusuma.


[Menginstal Sistem Super Pada Jiwa Arka Wijayakusuma]


Eh?


[Penginstalan Berhasil]


Apa itu? Sekejap aku dapat mendengar samar-samar suara di dalam kepalaku. Tapi aku tahu pasti kalau suara dingin perempuan datar itu bukanlah milikku.


Apa ini juga khayalan seseorang sebelum meninggal? Aku dapat melihat layar hologram biru tiba-tiba muncul di depan wajahku. Dan terdapat beberapa pertanyaan dan tulisan di sana.


[Kehidupan Arka Wijayakusuma Di Dunia Ini Telah Berakhir. Perpindahan Dunia Dibutuhkan Untuk Terus Menjalankan Sistem Super. Terima?]

__ADS_1


[Ya] [Tidak]


Suara itu muncul lagi. Tapi kali ini suara itu membacakan ulang apa yang terdapat pada layar hologram. Apa aku harus menjawabnya atau bagaimana?


Tapi di sini tertulis kalau aku harus melakukan yang namanya 'Perpindahan Dunia'. Apa itu berarti aku tidak akan hidup di dunia ini lagi? Memangnya ada tempat lain lagi selain bumi yang bisa manusia tinggali?


Aku ingat kalau ada yang namanya dunia paralel. Planet bumi yang hampir mirip dengan tempat kita tinggal saat ini. Tapi bukankah itu masih menjadi perdebatan?


[Waktu Anda Tersisa 1 Detik Sebelum Truk Menabrak Tubuh Anda. Terima?]


[Ya] [Tidak]


Tu-tu-tu-tunggu sebentar, dasar suara wanita datar tidak sabaran! Biarkan aku berpikir dulu atau setidaknya menyiapkan hatiku! Tapi sepertinya suara wanita ini berasal dari mesin sistem atau apalah Itu yang tidak memiliki perasaan, jadi aku rasa tidak ada gunanya untuk memarahinya.


Aku memang tidak ingin mati. Tapi berpindah dunia secara tiba-tiba tanpa persiapan benar-benar tidak pernah aku bayangkan.


Aku menelan ludah kering dalam imajinasiku. Mulutku terbuka dan aku mengambil nafas sebelum akhirnya aku mengatakannya dengan mantap.


"Ya! Aku menerimanya!"


[Perpindahan Dunia Disetujui. Melakukan Persiapan Memindahkan Tubuh Arka Wijayakusuma]


Tubuhku terasa ringan. Aku dapat menggerakkan tubuhku lagi tidak seperti sebelumnya. Pandanganku saat ini cukup terang karena secara tiba-tiba muncul cahaya kebiruan yang mengelilingiku dan perlahan melayang ke atas.


Aku mencoba menangkap partikel-partikel kebiruan itu tapi tidak ada gunanya. Hal itu seakan menembus telapak tanganku dan melewati punggungnya. Lalu setelah melakukan percobaan tidak berguna itu, aku merasa kalau sesuatu menarikku ke atas dan terbang ke langit.


Aku ingin berteriak dan jantungku ingin copot karena aku melesat dalam kecepatan tinggi, tapi itu semua percuma karena suaraku tidak mau keluar. Dan setelah aku terbang ke atas langit cukup jauh meninggalkan bumi, suara wanita datar itu kembali bergema di kepalaku.


[Perpindahan Dunia Pada Tubuh Arka Wijayakusuma Berhasil Dilakukan]


**


Sementara pada tempat Arka sebelum kecelakaan terjadi, cahaya kebiruan yang menyilaukan menghalangi pandangan semua orang— termasuk supir truk.


Supir truk itu menginjak pedal remnya setelah ia melewati cahaya kebiruan yang sekarang sudah menghilang. Ia sudah sangat yakin kalau dirinya akan menabrak seorang anak sekolah tadi.


Tapi dirinya juga bingung karena bagian depan truknya tidak hancur atau lecet, dan ia juga tidak merasa kalau dirinya menabrak sesuatu. Makanya ia memberhentikan truknya dan keluar dari sana memeriksa apakah yang dilihatnya itu benar.


"Ta-tadi ada orang di situ, kan?" Seorang dari trotoar berbicara tak yakin.


"Apa dia sudah tertabrak?"


"Tapi di mana tubuhnya?"

__ADS_1


Semua orang yang berada di tempat kejadian bingung dengan apa yang baru saja mereka lihat, begitu juga dengan supir truk itu. Wajahnya seketika pucat pasi menyadari kalau ia akan menabrak seseorang.


Tapi ada satu hal yang supir truk— dan orang-orang di sekitarnya tidak tahu, kalau Arka kini telah pergi ke tempat yang jauh. Sangat, sangat jauh.


__ADS_2