Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 1.7 : Tanganku Kembali!


__ADS_3

Rumahku hancur.


Bersamaan dengan rumahku yang hancur, hatiku juga ikut hancur. Rumah yang aku banggakan, yang aku bangun dari nol dengan kekuatan jerih payahku sendiri kini telah rata dengan tanah.


Padahal tujuan pertarungan itu sebenarnya agar mencegah Pak Hecaton untuk tidak berjalan melewati rumahku dan menginjaknya dengan tidak sengaja. Tapi itu tidak tercapai.


Jika kalian pikir hatiku sudah cukup terluka karena rumahku istanaku telah hancur, kalian salah besar. Benar. Kini aku hanya tinggal memiliki satu tangan. Aku kehilangan tangan kiriku saat mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Pak Hecaton yang membantingku ke tanah berulang kali.


Dan meskipun sudah memakai [Healing], tapi tidak serta merta akan membuat lukaku langsung sembuh. Aku masih bisa merasakan rasa nyeri di sekujur tubuhku bekas pertarungan itu.


Sepertinya [Healing Lv. 1] hanya bisa menyembuhkan luka-luka pada bagian luar saja. Aku belum tahu pada level berapa Skill ini akan dapat menyembuhkan luka dalam pada tubuhku. Jadi untuk sementara waktu, aku harus bersabar terlebih dahulu pada keadaanku yang hanya memiliki satu tangan saja.


Tapi!


Tapi! Tapi! Tapi!


Tapi jika kalian bertanya apakah pertarunganku melawan Pak Hecaton sia-sia atau tidak. Tentu saja jawabannya adalah tidak. Berkat Pak Hecaton dan tingkat kesulitan quest-nya yang tinggi, aku berhasil mendapatkan Skill dari Side Quest sekaligus tanpa perlu menunggu lama.


Orang-orang dahulu berkata jika yang terbit setelah badai besar hanyalah sinar matahari yang hangat. Dan itu terjadi padaku saat ini! Mari kita lihat penjelasan yang terdapat pada Skill-Skill yang baru saja aku dapatkan.


Skill [Appraisal] yang membantuku untuk mengintip status musuh sudah aku dapatkan. Dengan begini, aku dapat mengatur strategi matang-matang jika sedang berhadapan dengan musuh yang asing.


Jika musuhnya terlalu kuat dan mustahil untuk dikalahkan, aku akan lari. Tapi jika musuhnya lebih mudah, maka aku akan menjadikannya sebagai ladang EXP untuk levelku. Hehehe ... bicara tentang rencana super jenius. Aku memang kadang-kadang terlalu pintar untuk dunia ini.


Aku juga ingat kalau misalnya dalam game RPG, kita bahkan bisa melihat Skill musuh dan elemen apa yang ia miliki. Saat pertarungan melawan Pak Hecaton minggu lalu, aku tidak tahu apa-apa tentangnya dan semua persepsi yang aku pikirkan hanyalah tebakanku saja.


Beruntung dia tidak memiliki elemen-elemen menyusahkan, Pak Hecaton murni hanya mengandalkan kekuatan fisik dan kecepatan ratusan tangannya lalu juga ketebalan kulitnya.


Menembus kulitnya benar-benar membuatku frustasi dan bahkan [Dark Wave] serta ilmu bela diri dari Skill [Martial Art] menjadi tidak berguna di hadapan kulit kerasnya. Aku tidak bisa membayangkan jika dia punya elemen bumi atau elemen api contohnya, aku mungkin sudah jadi Arka geprek.


Ngomong-ngomong, aku dapat titel baru. [Hecatoncheires Slayer] tertulis di sini, sepertinya itu adalah nama asli Pak Hecaton yang terlalu sulit untuk aku ucapkan. Dan ketika aku membaca keuntungan dari titel ini, ternyata aku mendapat Buff Status sebanyak 20% jika melawan musuh yang lebih besar dariku— minimal memiliki tinggi 10 meter.


Hmm .... Sepertinya setiap titel yang aku dapatkan akan mendapatkan Buff dan keunikannya masing-masing, contohnya Buff Pak Hecaton ini. Oh iya! Bukankah sebelumnya aku juga sudah mendapat titel saat baru datang kesini.


Aku men-scroll layar hologram itu sampai menemukan titel awalku, yaitu [Manusia Pindahan]. Lalu aku mencari apakah titel itu juga memiliki Buff tertentu atau tidak.


"Ada."


Mataku melebar ketika mengetahui kalau selama ini titel ini juga memiliki Buff. Aku jadi sedikit menyesal karena pernah mengejek dan ingin merubah titel ini. Lalu aku pun membaca penjelasannya.


"Mendapatkan Skill Pasif [Blessing of God] dari Dewi Loki ...."


Jadi Skill pasif ini ya yang jadi Buff titel ini? Pantas saja namanya agak aneh. [Blessing of God] yang artinya 'Berkah Tuhan'.


Eh? Sebentar, sebentar! Di sini sistem bilang kalau yang memberikan Skill pasif ini adalah Dewi Loki.


Dewi?! Apa sistem tidak salah tulis? Huruf 'A' dengan huruf 'I' itu cukup jauh di keyboard, lho! Bukankah seharusnya Loki kalau di film itu Dewa yang terkenal dengan sifat berandal dan tidak mau tunduknya, ya? Apa jangan-jangan sifatnya masih sama di sini?


Argh! Entahlah! Kepalaku jadi pusing kalau berpikir soal hal-hal seperti ini! Lebih baik aku mengagumi kepintaran dan kekuatanku sendiri yang sudah semakin meningkat ini! Hahaha ...! Benar juga. Itu adalah cara terbaikku untuk menghilangkan kepala pusing karena stress ini.


Saat aku sedang tertawa dan menyeringai, tanpa sengaja aku menyenggol senjata yang aku sandarkan pada batang pohon. Senjata berbentuk sabit gagang panjang yang bilahnya aku buat dari tulang rusuk Pak Hecaton.


Aku mengambilnya dan memperhatikannya lebih detail lagi. Tulang rusuk Pak Hecaton terlalu besar jadi aku harus memotongnya dan mengambil bagian yang melengkung saja, lalu aku harus mengasahnya agar bagian bilahnya menjadi lebih tajam dan akhirnya bilah sabit sepanjang delapan puluh senti itu pun selesai dibuat.


Dan untuk gagangnya, aku memakai batang kayu pinus yang sudah aku serut dan amplas sedemikian rupa agar diameternya cocok dan pas pada genggamanku. Dan tingginya sendiri lebih tinggi dari tubuhku.


Terakhir kali aku mengukur tinggi badanku adalah sekitar 165 cm— kau bisa mengatakan 166 cm untuk membuatku senang. Tapi yang pasti tidak jauh dari sekitar segitu. Dan panjang gagang sabit ini sekitar 180 cm, jadi agak sedikit merepotkan untuk membawanya kemana-mana.


Apa?! Kalian bertanya kenapa aku memilih sabit sebagai senjata utamaku? Tentu saja untuk menghidupkan elemen utamaku! Elemen [Kegelapan] erat kaitannya dengan kematian dan malaikat kematian alias Grim Reaper.


Terlebih lagi sekarang aku memiliki Skill [Rot]. Bayangkan jika aku mencampurkan Skill itu dengan sabitku, makhluk hidup yang mengenainya akan langsung hilang dari peradaban dan menjadi abu.


Hehe ... membayangkannya saja sudah membuatku cengar-cengir sendiri. Tapi sayangnya aku masih belum bisa menggabungkan kedua hal itu. Saat aku mencobanya sebelumnya, sabitku yang sebelumnya langsung menjadi hancur menjadi abu dan tidak bisa aku pakai lagi.


Jadi bisa aku simpulkan kalau bahan senjata yang lebih lemah dari Skill [Rot] tidak akan aku bisa gabungkan dengannya. Oleh karena itu ... aku hanya bisa menghela nafas pasrah dan mengubur dalam-dalam impian kerenku sebelumnya.

__ADS_1


Dan yang selanjutnya ingin aku komentari adalah pakaian.


Pakaian yang terakhir aku pakai saat datang kesini adalah seragam SMA biasa, putih abu-abu. Tapi seragam itu tidak kuat dalam menahan pertempuran yang intens dan lama. Bahkan saat melawan kadal bakar pertama kali pun, seragamku sudah mulai robek dan lusuh.


Dan puncaknya saat melawan Pak Hecaton. Tepat saat aku kehilangan tanganku, aku juga kehilangan pakaianku. Jadi mau tidak mau aku harus merelakannya dan menguburkan mereka dengan layak.


Terima kasih karena sudah menemaniku selama satu tahun sekolah dan tiga minggu di sini, jasamu tidak akan pernah aku lupakan. Aku bisa merasakan kalau dia sudah tenang berada di langit saat ini dan mengacungkan jempolnya padaku.


Oleh karena itu!


Jeng! Jeng! Jeng!


Aku telah membuat pakaianku sendiri! Untuk baju dan celana, aku membuatnya dengan menggunakan kulit kadal bakar yang tak terpakai. Kulit sisiknya yang keras berguna untuk menangkis setidaknya anak panah dan pedang. Lalu warnanya yang hijau dominan hitam membuatnya menyamar dengan baik di hutan.


Meskipun keras di bagian luar, tapi kulit sisik ini cukup fleksibel dan halus pada bagian dalam sisiknya. Benar-benar pakaian yang mahal jika kualitas bahan seperti ini ada di bumi, dan sekarang aku dapat menemukannya di mana-mana.


Selain kulit kadal bakar, aku juga membuat jubah dengan menggunakan kulit berbulu Rusa Bergading. Tubuh hewan-hewan di sini besar-besar, jadi aku bisa membuatnya sepanjang yang aku inginkan dan aku membuatnya dari kepala sampai ujung kaki.


Dengan model kupluk Hoodie yang bisa dibuka tutup dan jubah yang bisa menutup tubuh sampai kaki sampai bagian depan. Saat pertama memakainya, aku mengaca di sungai dan pikiranku tidak sengaja terselip pada kata-kataku.


"Gila, keren banget aku."


Hehehe. Memikirkan betapa kerennya diriku selalu membuatku cengar-cengir sendiri.


SRRKK... SRRKK...


"Hnn ...?"


Saat aku sedang mengagumi betapa kerennya diriku, tiba-tiba aku mendengar suara semak-semak yang bergerak. Jaraknya cukup dekat dengan lapangan latihan terbuka tempatku berdiri saat ini.


"[Clairvoyance]"


Aku menggunakan Skill [Clairvoyance] untuk mengetahui ada berapa musuh yang ingin menyerangku. Dan aku terkejut karena jumlahnya ada sekitar lima puluh bahkan lebih yang sedang bersembunyi dari semak-semak dan pepohonan.


Padahal kukira aku sudah memastikan tempat ini aman dengan membersihkan beberapa predator yang biasa mondar-mandir di sekitar sini. Tapi yang akan menyerangku saat ini seperti sebuah monster dalam kawanan yang bergerak bersama.


Aku mengambil sabit dan waspada terhadap musuh yang akan datang. Semakin dekat dan dekat, aku kemudian membuka mataku ketika mereka keluar dari balik semak-semak. Tapi aku malah merasa kecewa setelah melihat sesuatu yang ingin menyergapku.


"Kahh! Kahh!"


"Goblin?"


Yap. Mereka adalah kawanan goblin. Mereka bergerak bersama dalam jumlah besar karena, yah ... karena mereka lemah. Tidak ada alasan lain.


Tubuh mereka yang bahkan lebih pendek dariku, dengan kulit hijau pucat dan kebanyakan dari mereka memiliki perut yang buncit— beberapa mungkin punya tubuh yang bagus dan sixpack, tapi hanya itu saja.


Senjata mereka hanyalah tombak kecil dan perisai yang kelihatannya sangat rapuh. Mereka juga terlihat tidak yakin untuk menyerangku. Saat aku memeriksa status para goblin dengan [Appraisal], kebanyakan mereka hanya Level 5 sampai Level 12. Sementara aku kini sudah Level 23.


Goblin di dunia ini biasanya tinggal di dalam gua dan bersembunyi dari dunia luar. Kegiatan berburu mereka juga dilakukan oleh para goblin terkuat. Dan jika mereka sampai harus pindah begini, itu berarti ada sesuatu yang mengusir mereka dari tempat tinggalnya.


Hah?! Kalian bertanya bagaimana aku bisa tahu semua itu?! Tentu saja petualangan dalam dua minggu pertama mengelilingi hutan ini menghasilkan banyak hal. Salah satunya adalah pengetahuan tentang goblin ini.


Aku memang tidak suka melawan monster yang lebih lemah dariku, sih. EXP yang didapatkan rendah. Dan juga, itu membuatku kelihatan suka menyiksa yang lemah. Tapi ....


"Kah!"


BRAAKK...


Kalau dikepung begini sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Seekor goblin melompat dari atas tebing di atas kepalaku, mencoba untuk menyerang dari titik buta. Tapi aku masih bisa menghindarinya dengan mudah.


Yang melakukannya adalah goblin dengan level tertinggi dan punya perut sixpack. Sementara para goblin kroco di depanku sepertinya hanya menjadi umpan untuk mengecohku.


Jadi begini ya kehidupan seseorang yang lemah? Hanya menjadi umpan bagi yang kuat untuk menjaga kawanan agar bisa terus melanjutkan kehidupan.


Aku menyeringai memikirkan fakta itu. "Baiklah jika itu yang kalian mau!" Mereka semua terkejut dengan perubahan sifat yang aku tunjukkan. "Kalian mau menjadikan tempat ini sebagai rumah kalian, kan?! Coba saja kalau bisa!"

__ADS_1


"Kah!" Mereka langsung menjadi waspada dan memasang kuda-kuda bertahan.


"Benar, harus seperti itu! Tunjukkan kalau kalian memang ingin bertahan hidup! Sementara aku akan menjadikan kalian eksperimen untuk Skill baruku!"


Aku memang ingin menguji Skill ini, tapi tidak pernah bertemu dengan musuh yang tepat. Dan sekarang adalah saatnya.


"[Shadow Construct]"


...


Tapi setelah menunggu beberapa lama, lagi-lagi tidak ada yang terjadi. "Begini lagi?!"


[Skill [Shadow Construct] Tidak Berhasil Karena Target Yang Dituju Tidak Jelas]


Apa?! Target yang dituju tidak jelas? Apa maksudnya itu? Apa aku memerlukan sesuatu lagi untuk mengaktifkan Skill ini?


Tapi para goblin tidak memberikanku kesempatan untuk berpikir. Mereka menyerangku secara bersamaan dengan senjata-senjata rapuh milik mereka.


"Tch! Sabar sebentar, sialan!"


Meskipun mereka menyerangku secara bersamaan, tapi perbedaan Level tidak dapat diabaikan. Aku dengan mudah membunuh mereka satu persatu menggunakan sabit, Skill Pasif [Weapon Mastery] membuatku lebih mudah untuk menguasai senjata ini.


Tapi bukan ini yang aku incar. Aku tidak mengincar kemenangan mudah melawan mereka. Sebisa mungkin aku ingin mengetes tentang Skill itu. Sambil bertarung, aku terus berpikir caranya agar Skill itu bisa aktif.


"??!!"


Dan aku menemukannya.


"[Shadow Construct : Arrow]"


Setelah aku merapalkannya, kali ini muncul panah hitam yang terbentuk dari aura melayang di depan sabit. Dengan cepat aku langsung menghantamnya dengan sabit dan melesat sampai panah itu menembus ke salah satu goblin.


Seringai lebar tercipta di wajahku saat ini. Akhirnya aku mengerti cara menggunakan Skill baru ini. Ternyata aku harus memikirkan benda apa yang ingin aku ciptakan, baru benda itu bisa tercipta.


"[Shadow Construct : Shield]"


Sebuah perisai hitam tercipta melayang di belakang punggungku dan menangkis pedang goblin sixpack. Kau pikir aku tidak memperhatikan kalian? Kalian salah besar.


"Aku sudah puas dengan eksperimenku. Sekarang saatnya kalian mati!"


Aku pun menghabisi mereka semua dengan cepat dan tanpa terluka meskipun hanya dengan satu tangan. Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, level mereka yang kecil membuat levelku tidak bertambah banyak. Dari lima puluh goblin itu, levelku hanya bertambah dua level saja ke level 25.


"Tapi [Shadow Construct] ini berguna juga, ya? Bisa menciptakan apapun yang aku inginkan." Andaikan di bumi aku memiliki kemampuan seperti ini, mungkin aku tidak akan kesusahan.


Eh?


Tunggu sebentar!


Aku yang sedang bersandar pada tembok, dudukku langsung tegap karena telah menyadari sesuatu. "Kalau Skill ini bisa menciptakan apapun yang aku inginkan, itu berarti ..." Aku melihat ke arah tangan kiriku dan tanpa basa basi langsung mencobanya.


"[Shadow Construct : Arka's Left Hand]"


Aku mengarahkan skill itu ke tangan kiriku dan perlahan namun pasti, aura hitam itu mulai membentuk proporsi tangan mulai dari lengan atas, lengan bawah, sampai ke telapak tangan.


Semuanya tercipta dengan sempurna, meskipun masih tidak stabil dan aura hitam itu suka menyebar kemana-mana. Tapi aku juga memiliki ide brilian lainnya.


"[Healing] !!!"


Jika [Healing] hanya bisa mengobati luka luar untuk saat ini, itu berarti regenerasi kulitku juga masuk ke dalam luka luar, kan?


Seakan menjawab pertanyaan dan keraguanku, kulit manusia baru mulai merayap menutupi aura hitam berbentuk tangan sebelumnya dan berkat tambahan [Healing], tangan kiriku dapat kembali seperti sebelumnya.


Aku mengangkat tangan kiriku perlahan dan menggerakkan setiap jarinya dengan ragu lalu berpindah ke keseluruhan tangan. Setelah itu, aku mencoba untuk mengangkat sabit yang sedang aku sandarkan. Dan itu kuat.


"Be .... BERHASIL!!!" Aku berteriak sekencang-kencangnya. "Gawat. Aku berteriak sangat kencang karena terlalu senang. Tapi eksperimenku berhasil dan kini tangan kiriku telah kembali!"

__ADS_1


Gawat, gawat, gawat. Senyum bahagiaku tidak bisa hilang dari tadi. Aku benar-benar ... bersyukur karena ini berhasil.


Dan malam itu pun, aku tidur pulas dengan senyum bahagia di wajahku.


__ADS_2