
Setelah menerima tawaran untuk mengikuti suatu turnamen bernama Turnamen Pahlawan Cadangan di Lux Aeterna, aku pun pergi keluar untuk menghirup udara segar setelah menghajar semua orang yang ada di dalam.
Menghajar semua orang itu aku lakukan untuk membalaskan dendam kepada Kak Viveli— sekaligus aku juga pengen cari keringat, sih. Tapi yang aku dapatkan bukanlah ucapan terima kasih darinya, malah aku dapat omelan.
"APA KAU SUDAH GILA?!?"
"Teriaknya kurang kencang, Kak," ucapku sarkas sambil menutup telingaku.
"Kenapa kau malah mau ikut Turnamen Pahlawan Cadangan?! Padahal kau juga masih level rendah! Apa kau tidak tahu seberapa besar turnamen itu di negara ini?! Lalu kau ...!"
Sepertinya karena hal itu ia jadi marah. Setidaknya terima kasih dulu karena aku telah menutup mulut orang-orang berisik di tempat tadi, tapi kurasa aku tidak akan mendapat hal itu dalam waktu dekat.
Bisa dibilang, aku terkena pancingan dari orang itu. Sialan. Bahkan aku tidak tahu namanya, dia begitu sok ganteng sampai membuatku kesal. Dia memberiku tepuk tangan ketika aku berhasil menghajar para petualang di Guild Petualang, dan tidak ada rasa kagum setelah aku melakukan hal itu.
Aku ingin sekali memukul wajah sok kerennya. Dan fakta kalau dia memang beneran keren membuat hal itu semakin menyebalkan. Mungkin itu salah satu alasan aku ikut turnamen itu.
Tapi alasan sebenarnya adalah karena aku ingin sekali bertemu dengan orang yang dijuluki Pahlawan di negara ini.
Kredit yang diberikan Naga Gaia kepada orang itu serta alasan kenapa dia menolak Kak Viveli sudah cukup untuk membuatku yakin kalau aku harus bertemu dengannya. Aku ingin tahu bagaimana sikap aslinya saat aku bertemu langsung dengannya.
Tapi hal itu masih cukup jauh, ada hal lebih penting yang perlu aku lakukan saat ini. Yaitu, bagaimana caranya aku kabur dari omelan Kak Viveli.
Dia masih terus mengoceh— meskipun aku tidak terlalu mendengar apa yang dia ucapkan. Aku melirik ke kanan dan kiri untuk mencari sesuatu sebagai pengalih perhatian. Dan aku menemukannya, sebuah papan pengumuman tentang kriminal yang dicari di tempat ini.
Aku memperhatikan beberapa poster yang dipasang di sana dan perhatianku tertuju pada poster dengan wajah seorang laki-laki yang memiliki nilai bounty sebesar satu juta keping emas.
Apa-apaan itu? Memangnya dia incaran negara atau bagaimana sampai nilai bounty yang dia miliki sangat besar.
"Oi! Apa kau mendengarku?!"
"Wah ... orang buruan itu punya nilai satu juta keping emas," ucapku datar mencoba mengalihkan perhatian.
Tapi Kak Viveli langsung menarik telingaku lagi. "Dasar bocah sialan! Kau tidak mendengarku!" Dan pengalih perhatianku gagal.
"Adu-du-duh! Aku mengerti, aku mengerti! Aku akan mendengarkan!" Kak Viveli pun melepas jewerannya dari telingaku.
"Hah ... kau ini." Kak Viveli sepertinya sudah lelah dengan sikap tak peduliku. "Apa sebegitu anehnya jika aku ikut turnamen itu? Apa tidak ada anak kecil yang ikut turnamen itu selain aku?" tanyaku.
"Kau benar-benar tidak mendengarkanku." Aku bisa melihat urat yang terbentuk di dahi Kak Viveli karena kesal. "Dengar ya, Turnamen Pahlawan Cadangan adalah turnamen terbesar di negeri ini. Karena pemenangnya akan diangkat menjadi ksatria dan membantu Pahlawan berperang melawan raja iblis," jelasnya.
"Aku tahu itu. Tapi bukan berarti anak kecil tidak boleh ikut turnamen itu, kan?"
"Karena lawannya adalah orang dewasa! Aku tidak tahu lawan seperti apa yang pernah kau temui, tapi aku yakin mereka jauh lebih kuat dari yang pernah kau lawan!"
"Lebih kuat dari yang pernah aku lawan ...?"
Aku membayangkan monster-monster yang aku lawan sebelumnya di Hutan Jinnestan.
Pak Hecaton dengan seratus tangan dan lima puluh wajah, lalu laba-laba Neigh yang menjebakku di dalam ilusi buatannya tentang masa laluku di bumi, si makhluk lumpur aneh itu, dan yang terakhir dan paling 'lemah' dari semuanya adalah Naga Gaia yang membuatku harus kehilangan kedua tanganku dan bahkan membuatku hampir mati beberapa kali.
Yap. Tentu saja mereka tidak lebih kuat dari manusia.
"Ah ... sepertinya kau benar."
"Sudah kuduga! Berarti sudah diputuskan, kalau kau tidak akan ikut turnamen itu."
"Tapi aku akan tetap ikut."
"Hah?! Apa kau mengerti dengan apa yang aku katakan?!"
"Ada yang harus aku lakukan, dan jalan satu-satunya hanya dengan mengikuti turnamen itu."
Benar. Sejauh ini hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa bertemu dengan Pahlawan itu dengan cepat tanpa harus membuat keributan. Dan tidak akan ada orang yang bisa menghentikanku untuk melakukannya.
"Bukankah aku sudah membuktikannya? Aku sudah menghajar para petualang yang ada di Guild Petualang," lanjutku.
"Mereka itu berbeda, mereka hanya kumpulan orang lemah yang bahkan tidak bisa mengalahkanku di turnamen."
Jadi orang-orang tadi juga ikut Turnamen Pahlawan Cadangan? Aku yakin kalau mereka cuma mau titel ksatria dan uangnya saja, aku tidak melihat kalau mereka akan berguna jika berperang melawan raja iblis.
Yah ... mungkin berguna. Sebagai umpan atau perisai daging.
"Lalu kenapa Kak Viveli tidak menghajar mereka?"
"...."
Ups. Sepertinya aku telah menginjak ranjau. Aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak aku tanyakan. Kak Viveli tidak langsung menjawab dan hanya terdiam membuang wajahnya ke arah lain dengan tatapan gelisah.
"Sudah kuduga terjadi sesuatu antara Kakak dengan Pahlawan. Itu membuatku semakin yakin kalau aku memang harus mengikuti turnamen itu."
__ADS_1
Dia masih membuang wajahnya. Tapi dia berbicara kepadaku dan bertanya. "Apa pedulimu kepadaku? Kita bahkan tidak kenal satu sama lain. Kenapa kau sangat suka ikut campur dengan urusanku?"
Kurasa dia ada benarnya. Aku memang tidak mengenalnya dan kita baru bertemu hari ini. Berurusan dengannya lebih dalam juga sepertinya akan membawaku ke lebih banyak masalah di masa depan.
Tapi ....
Aku mengusap kepalaku. Perkataan selanjutnya lebih karena aku merasa bersalah padanya, sih. "Yah ... untuk meminta maaf, mungkin?"
"Meminta maaf?"
"Aku melibatkanmu dalam dramaku sebagai guruku, jadi ini mungkin adalah permintaan maaf yang bisa aku berikan padamu, Kak. Atau tentu saja Kak Viveli bisa menganggap itu hanyalah sebuah alasan, tapi aku hanya merasa tidak enak karena membawamu ke dalam masalahku. Hanya itu."
Kak Viveli terdiam karena itu. Ini memang tidak sepenuhnya permintaan maaf, ada tujuan tersendiri juga dibaliknya. Lagipula, aku tetap akan ikut turnamen itu meski dia melarangku.
"Baiklah, aku mengerti."
"Eh? Beneran?"
"Tapi aku harus mengujimu terlebih dahulu."
"Mengujiku?"
**
Kak Viveli mengajakku keluar kota. Dia bilang dia akan mengujiku terlebih dahulu sebelum mengizinkanku untuk ikut dalam turnamen itu, dan tentu saja aku sudah tahu ujian apa yang akan diberikan kepadaku.
"Kita akan berlatih tanding."
Tuh kan benar! Mengajakku ke tempat yang lebih sepi penduduk dan Kak Viveli juga sudah menjaga jaraknya dariku. Tentu saja kita akan berlatih tanding! Aku tidak mau membuka kekuatanku terlebih dahulu di depan orang lain secepat ini.
"Apa tidak ada cara lain?"
"Tidak ada, aku akan melihat kemampuanmu dengan mata kepalaku sendiri."
Aku menghela nafas pasrah. Sepertinya sudah tidak ada jalan keluar lagi dari situasi ini. Tapi jika dilihat dari sisi positifnya, aku memang belum punya Skill yang cocok untuk melawan manusia.
Hampir semua Skill ku berdaya ledak besar dan dapat menghancurkan apapun yang dilewatinya. Jadi mungkin ini adalah kesempatan yang bagus untuk menciptakan Skill baru.
Kak Viveli sudah memasang kuda-kuda. Bukan sesuatu yang spesial, hanya mengarahkan kepala tongkat sihirnya kepadaku. "Apa kau punya senjata? Kau boleh menggunakannya jika mau."
"Iya, iya."
"Sabit itu ... dari mana kau mengeluarkannya?" tanya Kak Viveli.
"Tidak usah dipikirkan, apa Kak Viveli sudah siap?" Aku rasa seharusnya tidak mengeluarkan sabit di depan matanya, tapi mau bagaimana lagi. "Kakak bisa menyerangku duluan," tawarku.
"Kalau begitu, aku datang! [Nature Binding] !!"
"?!!" Dari depan, tanah bergetar dan menciptakan kerak lalu muncul akar pohon yang bergerak dari bawah tanah, mencoba menangkapku. Tapi aku menebasnya dan mereka pun juga sesuai dugaanku, mudah untuk ditebas.
"[Earth Spread]!"
Lagi-lagi bumi bergetar. Kali ini getarannya terasa sangat dekat yang ternyata berada di bawah kakiku dan mencoba untuk menjebakku ke dalam tanah.
Walau sempat pergi dari sana, [Nature Binding] lainnya juga muncul dari sana dan berhasil menangkap salah satu kakiku. Kak Viveli juga tidak memberiku istirahat, saat aku ingin menebas akar yang mengikat kakiku, akar yang lebih banyak muncul dan menghentikan pergerakanku dengan mengikat kedua kaki dan tanganku.
"Apa cuma segitu?" Kak Viveli bertanya padaku.
Wah ... apa dia mencoba memprovokasiku? Tentu saja aku tidak akan terprovokasi hanya karena hal seperti ini. Aku menjatuhkan sabitku ke tanah lalu merapalkan Skill [Rot] pada kaki kananku.
Setelah itu, aku menendang sabit itu cukup kencang sampai melesat berputar liar ke arah Kak Viveli. Tapi Kak Viveli tidak perlu menghindari serangan itu karena tendanganku juga tidak mengarah kepadanya.
"Apa itu sebuah serangan putus asa?"
"Tidak juga. [Shadow]"
Aku memberikan kode dengan kepala kepada Kak Viveli supaya menengok ke belakang, awalnya dia tidak terpancing, tapi ia melihat bayangan seseorang dari belakang dan barulah ia menengok dengan panik.
"Apa?!" Sebuah klon diriku yang terbuat dari Skill [Shadow] menangkap sabit yang aku tendang sebelumnya dan kini sudah bersiap untuk menebas Kak Viveli yang penuh celah.
"[Earth Wall] !!"
Tapi ia kembali merapalkan Skill, kali ini sebuah tembok tanah yang terangkat di belakang tubuhnya mencoba menghalau tebasan klonku. Meskipun begitu, tumpukan batu tidak akan bisa menahan sabitan tulang Pak Hecaton, Kak Viveli.
BRAAAKHH...
Dan klonku menebasnya secara horizontal, membuat tembok tanah tadi terbelah menjadi dua bagian besar. Tapi mata klonku melebar terkejut, kedatangannya telah ditunggu oleh Kak Viveli yang langsung menodongnya dengan tongkat sihir.
"[Hurricane Twist]"
__ADS_1
Ujung tongkat sihirnya menciptakan sebuah tornado seukuran manusia yang membawa klonku terbang tinggi ke udara. Selama menempel dengan tornado, klonku juga tersayat secara kasar serta cepat dan akhirnya menghilang menjadi bayangan, meninggalkan sabitku yang jatuh ke tanah.
Hebat. Bukankah dia terlalu hebat sampai bisa menguasai berbagai macam elemen? Elemen bumi dan angin, entah apalagi yang masih belum ia keluarkan.
[Syarat Penciptaan Skill Baru Telah Diraih, Silahkan Beri Nama Skill Tersebut]
Tapi dengan begitu, aku berhasil mempelajari Skill baru ketika melihat, memperhatikan, dan mempelajari cara kerja Skill tersebut.
Heh. Bicara tentang keuntungan karena sering memperhatikan benda tertentu dan menganalisanya terlalu lama, meski sering dianggap kurang kerjaan oleh temanku waktu di bumi, tapi sekarang itu menjadi Skill pasif yang sangat berguna di dunia Isekai ini. Aku memang seseorang yang jenius.
Aku menamakannya Skill Pasif [A.T.M.]. Amati, tiru, modifikasi. Dan itu adalah Skill andalanku. Berkat Skill itu, aku akhirnya tahu rahasia dari sistem yang selalu bisa menciptakan Skill baru untukku. Dan ini adalah Skill terbaruku yang tercipta berkat [A.T.M.].
"[Dark Binding]"
Sebuah bayangan pipih dan kurus melesat dengan cepat menuju ke Kak Viveli. Hal itu juga membuatnya terkejut karena Skill tersebut mirip dengan [Nature Binding] miliknya— karena aku memang terinspirasi dari situ.
"[Earth Wall]"
Ia menciptakan sebuah tembok tanah di depannya, tapi itu bukan masalah bagi [Dark Binding] milikku, karena dia hanya tinggal merayap ke atasnya dan melewatinya. "Apa?!"
"Kena kau!"
[Dark Binding] melesat dan tidak lagi menempel pada tanah. Ujungnya juga memperbanyak diri dan pada akhirnya berhasil mengikat dan menangkap Kak Viveli.
"A-aku tidak bisa bergerak."
Fyuuh ... akhirnya selesai juga. Sepertinya aku memenangkan pertandingan ini. Aku melepaskan diri dari akar-akar itu dengan mudah menggunakan Skill [Rot] lalu kemudian berjalan mendekati Kak Viveli.
[Earth Wall] miliknya otomatis hancur setelah beberapa saat dan aku bisa melihat Kak Viveli masih mencoba melepaskan diri. "Jadi bagaimana?" tanyaku kepadanya.
Seharusnya dengan begini ia percaya kalau aku akan baik-baik saja dalam turnamen itu. Kak Viveli juga juara tahun lalu, jadi itu artinya aku sudah mengalahkan juara turnamen tahun lalu.
Dia berhenti melawan dan kemudian menunduk pasrah. Aku mencoba melihat langsung ke wajahnya tapi dia terus membuang muka, jadi aku menyerah.
"Aku belum dengar jawabanmu, lho."
"Sebelum itu, bisa lepaskan ini dulu? Aku akan memberikan jawabanku setelah kau melepaskanku."
Ya, aku juga sudah menang, sih. Aku pun menonaktifkan Skill [Dark Binding] dan kini Kak Viveli sudah bisa bebas bergerak. Ia langsung mengambil tongkatnya dan melihat ke arahku.
"Apa sekarang Kak Viveli sudah yakin?"
"...."
"Ka-kak?"
Dia diam. Tidak berbicara apa-apa dan hanya menatapku dengan tatapan kesal. Tunggu. Apa aku salah karena sudah mengalahkannya? Dia yang bilang ingin latih tanding, kan? Berarti tidak apa-apa dong kalau aku mengalahkannya, ya kan?!
"A-ano ... apa ada yang sa—"
TUUNGG...
"Aduh!"
Tapi kepalaku malah dipukul menggunakan tongkat sihir. Bukankah seharusnya hal itu mengeluarkan Skill dengan tongkat itu dan bukan menjadikannya alat pukul?! Apa yang sebenarnya terjadi di sini, woi?!
Aku yang masih terduduk dan mengusap-usap kepalaku yang kena pukul, menjadi lebih terkejut lagi karena sekarang Kak Viveli malah menodongkan tongkat sihirnya ke arahku.
"Aku yang menang."
"Eh?" Dia ini .... "Kak Viveli ini bocah, kah?" Dia benar-benar tidak mau kalah walaupun ini hanya latih tanding.
"Kau tidak boleh lengah sedikitpun di medan perang."
"Tapi ini cuma latih tand—"
"Tetap saja kau tidak boleh lengah! Itulah yang membuktikan kalau kau masih belum berpengalaman."
Aku tidak tahu kenapa dia sangat bersikeras untuk menang atau untuk menghalangiku ikut turnamen itu. Tapi untuk saat ini, aku sudah lelah meladeninya.
Aku mengangkat kedua tanganku. "Baiklah, aku menyerah. Aku yang kalah." Lalu Kak Viveli tersenyum puas. "Jadi? Karena aku kalah, aku tidak boleh ikut turnamen itu?"
"Tidak, aku mengizinkanmu."
"Eh? Serius?"
"Iya, besok ayo ikut aku mendaftar. Untuk sekarang, aku akan mentraktirmu karena sudah hampir mengalahkanku."
Perasaan Kak Viveli sepertinya sedang senang. Apa semudah itu membuat perasaannya senang? Kak Viveli berjalan duluan meninggalkanku sementara aku berdiri dan menyusulnya lalu berjalan di sampingnya.
__ADS_1