
Dewi Loki merapalkan sebuah Skill kepadaku yang membuatku langsung berpindah dari pinggir danau. Kini aku sedang berada di udara. Jatuh bebas. Benar. Dewi sialan itu memindahkanku di langit yang tinggi.
"Eeehhhhh!!!! Dasar Dewi sialan!!!"
Meskipun aku kini sedang jatuh bebas. Tapi aku bisa melihat di bawahku dengan jelas, sayap membentang luas yang sedang terlipat dan makhluk super besar yang tertidur pulas. Dia adalah Naga Legendaris Gaia yang sedang tertidur.
"Apa maksudnya ini?!"
"Baiklah, silahkan lakukan apapun untuk menghiburku. Oh iya satu lagi, kau dilarang untuk mati, lho."
"Persetan dengan hal itu! Aku memang bilang kalau aku ingin membunuhnya, tapi tidak secara tiba-tiba begini!"
"Ara, ara, kau banyak mengeluh, ya? Tapi tidak ada yang bisa kau lakukan untuk kabur di sini. Karena kau sudah masuk ke dalam dimensi milik Naga itu."
"Dimensi?"
"Aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut, kita akan bertemu lagi setelah kau mengalahkannya. Sampai jumpa~"
"Oi! Tunggu sebentar!"
Tapi dia benar-benar sudah pergi. Aku tidak bisa mendengarkan suara menyebalkannya lagi saat ini. Sialan. Apa yang harus aku lakukan untuk melawan monster sebesar ini?! Skill-skill milikku juga tidak ada yang bisa memberikan dampak area yang besar.
Dengan kata lain, ini sangat buruk!
Aku yang masih jatuh dari langit sebentar lagi akan sampai ke tanah. Lalu dengan cepat aku pun merapalkan Skill [Shadow Construct] untuk membuat jatuhku tidak menimbulkan suara yang keras, dan aku tahu apa yang harus aku buat.
"[Shadow Construct : Pond]"
Sebuah kolam kecil kemudian tercipta di bawah arah jatuhku dan aku pun jatuh ke dalamnya dan air yang muncrat tidak menimbulkan suara yang begitu keras sehingga dapat membangunkan Naga Gaia.
Ini juga membuktikan bahwa teoriku berhasil. Ternyata [Shadow Construct] juga bisa menirukan sifat air yang tidak padat. Itu berarti aku bisa menciptakan lebih banyak hal lagi dengan Skill ini.
Baiklah, baiklah. Aku keluar dari kolam kecil buatanku dan langsung menonaktifkan kolam bayangan tadi. Sekarang aku sedang berdiri di depan Naga Legendaris yang sedang tidur. Ahaha ... aku tidak tahu apakah ada orang lain di dunia ini yang punya kesempatan seperti yang aku miliki saat ini. Tapi jika ada, maka dia adalah orang bodoh.
Yap. Seperti diriku saat ini.
Sekarang aku bahkan tidak tahu harus menyerangnya dari mana. Memakai [Rot] mungkin saja bisa melukainya, tapi itu memiliki waktu lama untuk menyebar. Bisa-bisa aku sudah mati duluan sebelum [Rot] menyebar.
Tapi Skill serangan yang aku miliki saat ini adalah [Dark Marble], [Dark Wave], dan [Rot] saja. Aku masih sangat kurang dalam Skill serangan. Kebanyakan yang aku miliki adalah Skill support dan bertahan.
Mulai ke depannya, aku harus lebih banyak untuk mendapatkan Skill serangan. Aku bisa saja hanya mengandalkan tiga Skill itu, tapi semakin banyak Skill yang bisa aku miliki maka akan semakin baik.
"Hn?!"
Gawat! Naga Gaia mulai melakukan pergerakan, sepertinya dia akan segera menyelesaikan tidur siangnya. Aku harus sembunyi, aku harus sembunyi.
Naga Gaia membuka matanya dan mengangkat kepalanya untuk menengok ke kanan dan kiri seperti seseorang yang baru bangun tidur. Wah ... ternyata hewan legendaris nan suci juga butuh ngumpulin nyawa setelah bangun tidur.
Dan sekarang aku sedang bersembunyi. Bersembunyi cukup jauh— tidak, tidak terlalu jauh juga, sih. Sekiranya pada jarak yang aman agar tidak langsung ketahuan oleh Naga Gaia setelah ia bangun.
Ngomong-ngomong aku bersembunyi di belakang batu yang seukuran tubuhku, jadi aku harap ini dapat berhasil untuk menyembunyikan keberadaanku. Dan tempat ini juga aneh, Dewi itu bilang kalau ini adalah sebuah Dimensi, ya?
Tempat ini berbentuk padang rumput yang luas. Rumput-rumputnya juga sepanjang pinggangku dan menghampar sejauh mata memandang. Hanya ada pohon yang jarang-jarang dan beberapa batu yang salah satunya aku jadikan tempat persembunyian.
Mungkin itu tidak cukup aneh bagi kalian, tapi yang membuatnya aneh adalah padang rumput ini didominasi oleh warna ungu gelap, seperti lavender. Dan langitnya berwarna biru pucat, bukan seperti langit biasa yang berwarna biru cerah. Hal itulah yang membuatku yakin kalau aku berada di dimensi lain.
Naga Gaia bangun dan mulai bergerak tapi untungnya, dia tidak bergerak ke arahku. Hah ... keberuntungan yang lumayan besar. Aku menyadari kalau tempat dia tertidur sebelumnya juga merupakan padang rumput ungu dan itu rusak setelah ditiduri olehnya.
__ADS_1
Tapi setelah dia bangun dan berjalan pergi, rumput ungu itu kembali hidup dan segar seakan tidak terjadi apa-apa padanya. He-hebat. Seperti yang bisa diharapkan dari naga bumi.
Apa dia bisa menghidupkan kembali tumbuhan hanya dengan keberadaannya? Tunggu. Apa itu berarti aku tidak bisa membunuhnya? Apa dia juga bisa menghidupkan makhluk hidup termasuk dirinya? Bukankah berarti itu gawat sekali!
Eeehhh! Apakah angan-anganku selama ini untuk balas dendam akan sia-sia?!
Tenang dulu, Arka. Tidak boleh panik. Kita masih belum tahu apakah itu benar atau tidak. Yang paling penting saat ini adalah menyusun strategi. Benar! Menyusun strategi!
Tapi ....
"Apa yang harus aku susun?!"
Gawat! Aku menutup mulutku dengan tangan. Tapi itu sudah terlambat. Itu sudah sangat terlambat, dasar Arka bodoh! Aku memang ingin berteriak, tapi hanya ingin aku lakukan di dalam hati! Di dalam hati! Kenapa bisa-bisanya pikiranku selalu keluar di waktu yang tidak tepat, sih!
Sambil terus menutup mulutku, aku mengintip dari balik batu dan mataku dengan naga itu kembali bertatapan untuk kedua kalinya. Tapi kali ini berbeda, aku sedang ada di dimensinya! Dan aku masuk tanpa izin!
"Sial ...."
Dia mengaum sangat keras cukup lama dan pada akhirnya berniat untuk menyerangku. Tapi karena tubuhnya yang terlampau besar, dia menciptakan klon-klon naga kecil lagi seperti dulu. Dan sekarang ada seratus— tidak, aku yakin kalau jumlahnya jauh lebih dari itu.
"Ehhh?!!! Ini hampir seribu, woi!"
Gila! Naga Gaia ini gila! Tunggu, tunggu. Tidak ada waktu untuk mengeluh. Jalan keluar! Dimana jalan keluar?! Aku harus keluar dari sini. Aku menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada jalan keluar! Aku juga masuk kesini karena ulah Dewi sialan itu, jadi keluar dari sini bukanlah hal yang mudah!
"Mau tidak mau ...."
Aku tahu kalau melawannya hanya akan membuatnya semakin marah, tapi aku juga tidak ingin mati. Masih ada negara manusia yang kedengarannya indah harus aku kunjungi setelah ini! Aku tidak bisa mati begitu saja!
Aku mencabut sabit dari punggungku dan melapisinya dengan elemen kegelapan. Aura gelap menyelimuti sabit dan diriku sementara percikan-percikan elemen kegelapan menari dengan bebas pada bilah sabit.
"Ayo maju kalian semua! [Appraisal] !!"
Kalau begitu, aku punya rencana!
Beberapa dari mereka mulai mendekatiku. Aku langsung menebasnya dengan tebasan horizontal dan memenggal mereka secara bersamaan. Tapi aku tidak bisa lengah sedikitpun, karena rombongan yang lainnya juga datang tanpa jeda.
"[Shadow] !!"
Aku menghasilkan sepuluh [Shadow] dengan kekuatan yang kurang lebih sama dengan diriku yang asli. Dan mereka pun juga mulai membantai para klon Naga Gaia.
Yah ... tidak bisa kubilang membantai juga, sih. Aku dan bayanganku perlu usaha lumayan keras untuk membunuh mereka, tapi sejauh ini aku masih bisa mengendalikan situasi.
Sambil bertarung, mataku juga tidak lepas dari tubuh Naga Gaia yang asli. Dia masih tetap tenang dan memperhatikan jalannya pertarungan. Hoho .... Kau pikir kau akan menang semudah itu, wahai Naga Legendaris? Tidak semudah itu, Ferguso!
Klon-klon naga yang mati tidak menghilang. Itu berarti mayatnya akan tetap ada meskipun aku tidak tahu batas waktunya, tapi itu sudah lebih dari cukup. Aku mengambil salah satu mayat klon naga dan langsung memakannya dengan rakus.
"...."
Naga Gaia sepertinya bingung dengan apa yang aku lakukan. Hah! Kau bingung ya aku sedang apa?! Lihatlah bagaimana klon buatanmu akan membuatku semakin kuat!
"[Shadow] !!"
Aku terus makan dan menciptakan bayangan lagi. Bahkan bayanganku sudah tidak mirip denganku dari segi wajah— hanya dalam proporsi dan anatomi humanoid nya saja, sementara bagian luarnya adalah hitam dengan aura kegelapan di sekitarnya.
Mungkin bisa aku bilang kalau ini adalah pertarungan paling membosankan di dunia. Tapi aku tidak peduli. Karena ini adalah caraku bertarung! Melakukan sesuatu berulang-ulang kali sampai aku mencapai tujuanku dan menang!
Setiap kali bayanganku mengalahkan klon Naga Gaia, maka aku pun langsung memakannya dengan lahap dan rakus. Setelah itu, aku menciptakan satu bayangan di setiap kali aku selesai memakan satu klon.
__ADS_1
Semakin lama jalannya pertarungan, keadaan semakin berpihak kepadaku dan klon naga juga semakin sedikit. Karena bayanganku membunuhnya dan aku memakannya.
"...?"
Ho ...? Sepertinya Naga Gaia mulai menyadari kalau ada yang salah dengan pertarungan ini? Dia juga kelihatan gelisah. Hahaha! Bagaimana? Apa kau terkejut karena keadaannya tidak sesuai dengan apa yang kau prediksikan?! Meskipun kau hewan legendaris atau apalah itu, aku tidak takut melawanmu!
Atau setidaknya itu yang aku pikirkan.
"Hah ... hah ... hah ...."
[Level Anda Meningkat Dari Lv. 48 Menuju Lv. 52]
Pertarungan berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Dan di saat pertarungan itu, mulutku tidak pernah berhenti mengunyah. Bibirku dan sekitar mulutnya penuh dengan darah dari klon Naga Gaia
Berkat itu juga, levelku meningkat lumayan banyak. Sepertinya setiap bayanganku mengalahkan klon Naga Gaia, EXP yang mereka dapatkan akan langsung ditransfer ke diriku.
Tapi aku kelelahan. Tentu saja. Meskipun SP dan MP-ku tidak menunjukkan hal itu— karena masih menunjukkan lebih dari setengah bar, tapi yang lelah dari diriku saat ini adalah mentalku. Mengunyah tanpa istirahat dan dengan dada yang berdebar waspada pada apa yang akan dilakukan oleh Naga Gaia.
Tapi kini aku memenangkan pertarungan kecil ini. Benar. Klon terakhir telah terbunuh dan aku makan, itu berarti bayangan yang telah aku ciptakan saat ini juga berjumlah lebih dari seribu.
Dengan nafas terengah-engah aku menengok ke belakang melihat lautan bayangan hitam humanoid, lalu kemudian fokus lagi pada Naga Gaia di depanku. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Naga Legendaris Gaia?
Dia menatap mataku dengan tatapan yang sulit kubaca. Dia marah? Sepertinya tidak juga. Mata kadal ternyata lebih sulit diprediksi daripada mata manusia.
"??!!"
Naga Gaia kemudian mengaum keras sekali lagi. Dia akhirnya bergerak dan ingin melakukan sesuatu. Baiklah ... apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apa kau punya rencana hebat lainnya?
"Eh?"
Dia kembali membentuk klon dengan sisik tubuhnya. Meskipun jumlahnya lebih banyak, tapi bukankah rencana ini masih sama saja? Apa dia sudah putus asa dan hanya melakukan rencana yang sama?
Jumlah kami kira-kira satu banding tiga. Tapi sulit membayangkan bagiku untuk kalah. Karena dari segi level dan kemampuan kami lebih unggul darinya. Aku pun mengarahkan tanganku ke depan dan memerintahkan para bayanganku untuk maju menyerang.
Dan kalian bisa membayangkan para prajurit yang menyerang melawan musuhnya saling bertabrakan dan menyerang satu sama lain. Tapi seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, pasukan bayanganku lebih unggul dari klon Naga Gaia.
Hal itu juga sekaligus membuatku naik level. Jadi terserah apa yang mau Naga Gaia lakukan, itu tetap akan menguntungkanku.
"Eh?"
Saat aku berpikir kalau ini akan menjadi kemenangan yang mudah, aku baru saja menyadari satu perbedaan para klon dari yang sebelumnya. "Mayatnya ...." Benar. Perbedaannya ada pada mayat mereka setelah dikalahkan dan mati.
"Mereka menguap?" Menguap mungkin bukan kata yang tepat. Tapi hanya kata itu yang bisa aku pikirkan saat kebingungan saat ini.
Tidak seperti sebelumnya, mayat para klon itu tidak tetap tapi berubah menjadi partikel yang terbang ke udara dan menghilang. Persis seperti di dalam game.
"??!!!"
Selain perasaan bingung, aku juga merasakan perasaan lain. Kali ini berhubungan dengan fisikku. Tubuhku tiba-tiba merasa panas dan dari atas terdapat cahaya yang sangat terang. Naga Gaia ..., ingin meluncurkan bola api dari mulutnya. Terlebih lagi, sangat besar!
Ini gawat! "[Shadow Construct : Wall] !!" Aku menciptakan sebuah tembok bayangan yang menutupi bagian depan, atas, kanan, dan kiri.
Aku tidak bisa melihat apa-apa setelah itu. Tapi yang aku rasakan saat itu adalah api yang sangat, sangat, sangat, panas menembak ke arahku untuk beberapa saat.
Bahkan tembok bayangan buatanku tidak bisa menahannya terlalu lama dan terkikis. Dengan kekuatan yang aku miliki, aku berteriak sekeras-kerasnya untuk mempertahankan tembok itu agar tubuhku tidak terkena langsung. Tapi setelah semua itu, bahkan masih menciptakan sebuah celah yang membakar lengan, tubuh, dan wajahku.
Tapi beruntungnya tembakan api itu berhenti beberapa detik kemudian. Tembok bayanganku langsung menghilang dan aku terlutut lemas. Dengan kekuatan yang tersisa aku mengangkat kepalaku untuk melihat ke depan, dan mataku terlebar melihat efek tembakan api Naga Gaia.
__ADS_1
Padang rumput yang seharusnya berwarna ungu kini tidak menampakkan lagi warnanya dan hanya penuh dengan warna hitam. Sementara itu, aku juga tidak bisa merasakan satu pun bayangan yang masih tersisa. Semuanya telah lenyap. Termasuk tangan kiri yang aku buat dari Skill [Shadow Construct].
"Apa-apaan Skill curang ini?"