Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 2.2 : Mengikuti Penyihir Wanita!


__ADS_3

Baiklah, mereka sudah pergi. Sekarang saatnya aku masuk ke dalam penginapan. Tanpa menunggu berlama-lama lagi, aku pun langsung masuk ke dalam.


Saat sudah di dalam, suasananya cukup sepi. Hanya ada beberapa pria yang sedang duduk dan minum bir lalu ada juga orang yang berlalu lalang naik ke lantai dua.


Aku tidak bisa menahan rasa senang yang berdebar-debar di hatiku ini dan memutuskan untuk segera pergi ke meja resepsionis.


"Ada yang bisa aku bantu?" ucap resepsionis itu.


Aku mengerti apa yang dia ucapkan. Pengaturan 'Bahasa' itu benar-benar bisa merubah hal yang besar ini dengan mudah, ya?


Ngomong-ngomong, sepertinya dia pemilik tempat ini. Seorang wanita yang sudah memiliki sedikit kerutan di wajahnya, meskipun rambutnya masih belum ada yang memutih. Tingginya setara denganku dan tubuhnya cukup berisi untuk orang setara dirinya.


"Apa masih ada kamar yang kosong?"


"Tentu saja, kami sedang kekurangan pelanggan akhir-akhir ini, jadi masih banyak tempat yang bisa kau pilih ...." Dia menjelaskan dengan sedikit helaan nafas kecewa di ujung kalimatnya.


Aku tidak tahu kenapa Eleanor membawaku kesini, tapi sepertinya ini tempat yang tidak terlalu istimewa. Meskipun dia memang bilang kalau ini memang penginapan standar, sih.


"... Ngomong-ngomong, bayarannya satu keping emas per malam," lanjutnya.


"Baiklah."


Aku mengeluarkan beberapa koin emas dari kantong kain dan menaruhnya di atas meja. "Aku akan menyewa selama tujuh hari." Tujuh keping emas itu berkilauan di atas meja resepsionis.


Setelah menghitung jumlahnya, ibu resepsionis tadi menarik nafasnya dalam-dalam dan bersiap untuk berteriak. "Lucy! Antar pelanggan kita ke kamarnya!"


Teriakannya keras sekali, aku yakin kalau satu bangunan ini dapat mendengar teriakannya barusan. Dan benar saja, jawaban 'Baik!' muncul dari seseorang yang berada di ruangan lain dan segera berjalan ke sini.


Lalu seseorang muncul. Seorang gadis muda yang memiliki rambut coklat dengan gaya kuncir kuda. Memakai apron berwarna putih dan baju merah sederhana. Pakaian dan gaya rambutnya berhasil memunculkan kesan cantik yang natural pada dirinya.


"Mari saya antarkan."


"Ah ... iya."


Apa aku terpesona dengannya? Sial. Perempuan di sini cantik-cantik semua. Apakah ini pesona dari Isekai yang sesungguhnya? Tidak, tidak, tidak. Hal remeh semacam itu bisa menunggu nanti, sekarang aku harus meningkatkan levelku agar setidaknya aku bisa lepas dari jeratan Dewi Loki.


Sekarang aku yakin dia sedang duduk santai dengan semangkok snack sambil menontonku.


Aku pun terus mengikuti gadis ini dan pada akhirnya sampai di depan sebuah kamar di lantai dua. Kamar nomor 23.


"Ini adalah kamar yang akan anda gunakan selama tujuh hari ke depan. Lalu ...." Dia melirik ke arah sabit besar yang sedang aku pegang sekarang.


"Ah ... kau tidak perlu memikirkan tentang sabitku, aku tidak akan membuat kekacauan di penginapan ini," ucapku meyakinkannya.


Karena dulu di bumi, selalu ada peraturan bahwa tidak boleh bawa senjata tajam ke hotel. Jadi aku sedikit khawatir tentang sabitku.


Tapi dia malah menatapku. Dan tatapannya ... terlihat seperti iba? Entahlah, tapi aku rasa itu bukan tatapan yang biasa ditunjukkan kepada seorang pelanggan. "Etto ... apa ada masalah?" Aku menyadarkannya.


"Maafkan aku, apa anda seorang petualang? Tapi anda masih terlihat terlalu muda untuk itu. Bahkan mungkin lebih muda dariku. Namaku Lucy Isvana, usiaku 19 tahun."


"Aku Arka Wijayakusuma, 16 tahun."


"Ternyata benar lebih muda dariku, pasti kehidupanmu cukup berat ya sampai membuatmu harus menjadi petualang di usia segitu?"


Eh, tunggu. Sepertinya ada yang salah di sini. Kehidupanku memang berat sejak datang ke sini, tapi interpretasi yang dia mengerti sepertinya jauh berbeda dari yang aku pikirkan.


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Karena aku kuat."


Aku meyakinkan dirinya dengan senyuman optimis. Dan itu bukan hanya kata-kata pemanis saja, aku memang sudah cukup kuat sehingga aku tidak akan tersandung lalu mati begitu saja.


Dan Lucy sepertinya mengerti tentang hal itu. Ia lalu memberikan kunci kamarku dan mengucapkan permisi untuk pergi dari sini, sementara aku masuk ke dalam kamarku.


Ketika aku masuk, yah ... kamarnya sangat biasa. Tidak terlalu spesial dan hanya memiliki satu tempat tidur, satu meja kecil dengan lampu malam, dan sebuah wastafel.


Aku pun duduk di tempat tidurnya, tidak terlalu empuk tapi ini adalah yang paling nyaman yang pernah aku tiduri selama di dunia ini. Masih terlalu siang untuk tidur, jadi sepertinya aku bisa jalan-jalan sebentar.

__ADS_1


"Jika anda ingin mengunjungi Guild Petualang, gedungnya bisa ditemui di pusat kota ini."


Sebelum meninggalkanku, perempuan tadi— Lucy, memberitahuku sesuatu tentang Guild Petualang. Jika ada petualang di dunia ini, tentu saja akan ada Guild Petualang. Mungkin saja aku bisa memulai perjalananku sebagai petualang di kota ini.


Aku pun memutuskan untuk bersiap-siap dan mencuci wajahku di wastafel. Setelah bercermin dan dirasa siap, aku akhirnya berjalan keluar. "Hm?" Tapi aku terpikir lagi soal sabitku.


Sabit ini lumayan berat dan menciptakan suara yang dalam ketika aku menyandarkannya di tembok karena beratnya. Terlebih lagi, ini besar. Aku tentu akan jadi pusat perhatian semua orang jika membawa ini kemana-mana.


"Oh! Apa mungkin ...?" Tiba-tiba aku memiliki sebuah ide. "[Dark Domain]" Aku mengaktifkan Skill [Dark Domain] dan itu muncul dari bawah lantai kayu. Jika ini merupakan sebuah Skill yang menciptakan sebuah dimensi, apa mungkin Skill ini juga bisa menjadi ruang penyimpanan?


Daripada terus berandai-andai, aku langsung memasukkan sabitku dari gagang sampai bagian bilahnya. Dan .... "Berhasil!" Ternyata memang bisa dijadikan ruang penyimpanan! Ini benar-benar Skill yang sangat berguna! Beruntung kesenanganku tidak membuatku berteriak kegirangan, bisa-bisa aku diusir dari sini.


"Baiklah, baiklah. Saatnya jalan-jalan sendiri."


Dan jalan-jalanku pun dimulai.


Setelah berjalan-jalan sebentar, ini benar-benar kota besar— bahkan banyak orang menganggap ini adalah sebuah negara, yang sangat agamis. Begitu banyak kuil-kuil yang dibangun di sini.


Dari kuil Naga Gaia, sampai pencipta Naga Gaia itu sendiri, Dewa Bellerofon. Masing-masing dari agama itu juga memiliki seragamnya tersendiri, meskipun kebanyakan bahannya hampir mirip. Ada juga turis yang tidak memakai seragam lalu berkunjung serta berdoa di depan kuil.


Sepertinya ini memang area tempat di mana jajaran kuil dibangun. Dan hebatnya, aku tidak melihat satupun dari mereka yang berselisih atau sebagainya.


Lalu di paling ujung area ini, di area dengan akses jalanan yang paling mudah untuk dimasuki. Terdapat sebuah kuil yang sangat megah dan besar. Turis yang berziarah banyak, seragam yang dikenakan para pemujanya terlihat mahal dan mewah dibandingkan kuil-kuil lainnya.


Kuil ini bahkan sedikit menarik perhatianku yang membuatku menghentikan langkahku untuk bertanya.


"Permisi, kalau boleh tahu, ini kuil dewa apa?"


"Ah! Seorang atheis! Kau datang ke tempat yang tepat! Jika kau ingin mendapatkan pertolongan dan kekuatan, Tuan Ares adalah jawaban yang tepat!" Salah satu pemujanya menjelaskan dengan semangat.


Ares? Kalau tidak salah dia adalah Dewa Perang di bumi, ya? Dia menjadi Dewa paling disegani di dunia ini.


"Bahkan Tuan Pahlawan pun menyembah Tuan Ares, kebanyakan Para Pahlawan sebelumnya juga menyembahnya. Maka dari itu—!"


"Aku tidak tertarik." Aku langsung kabur dari sana.


Aku kemudian melanjutkan jalan-jalanku. Selain kuil-kuil, ada juga bangunan gereja dan wanita serta gadis yang memakai pakaian sister khas gereja. Bangunan gereja kuno yang biasa ditemui di abad pertengahan juga sangat terasa di area ini.


Dari sekian banyak kuil dan gereja yang aku temui di area penyembahan, aku tidak menemukan satu pun kuil dari seorang Dewi yang aku kenal.


"Kau dikirim oleh Dewi Loki?! Dewi busuk nan kotor itu?!"


Aku jadi terpikirkan kata-kata Gaia sebelumnya. Apa dia melakukan sesuatu sampai dia dibenci seperti itu? Setelah melihatnya secara langsung, aku tidak bisa merasakan sesuatu yang jahat dari dirinya seperti yang aku rasakan pada Gaia. Dia hanya seperti gadis yang kesepian.


Tapi aku menggelengkan kepalaku, menghilangkan pemikiran itu. Aku lupa kalau dia hanya menganggapku sebagai tontonan, aku tidak boleh terlalu nyaman terhadapnya. Aku harus menjadi lebih kuat.


Dan setelah berjalan sekitar 10 menit melewati area itu—dengan himpitan dan desak-desakan, akhirnya aku bisa keluar dari sana. "Fyuhh ... cukup sesak juga," gumamku.


Kalau menurut Lucy, pusat kota tidak terlalu jauh dari area kuil. Setelah keluar dari area itu, aku pasti sudah tidak akan tersesat. Tapi, tetap saja tidak semudah itu.


Maskudku, ini adalah kota yang sudah setara negara. Apalagi aku masih sangat awam dengan daerah ini. Aku harus mencari strategi yang paling efektif untuk menemukan Guild Petualang itu.


Setelah berpikir sebentar dan menengok ke kanan kiri, aku mengeluarkan seringai. Terkadang aku selalu kagum dengan kepintaranku sendiri. Hanya dengan melihat seseorang, aku bisa terpikirkan ide sebagus ini.


Langkahku kemudian bergerak mengikutinya. Seorang wanita yang mengenakan pakaian penyihir dengan tongkat kayu yang menyamai tinggi lehernya di genggamannya, dia juga memakai topi penyihir wanita yang semakin meyakinkanku kalau dia pasti seorang petualang.


Langkah kakinya lumayan cepat padahal dia hanya berjalan biasa. Dengan kepadatan orang seperti ini, aku harus benar-benar fokus kepadanya supaya tidak kehilangan jejaknya.


Aku terus mengikuti. Mengikuti. Dan mengikutinya.


Tapi lama-lama jalan yang kami lewati semakin sepi dari orang-orang, dan setelah itu ia masuk ke sebuah gang kecil. Meski sedikit curiga, tapi aku memutuskan untuk terus mengikutinya.


Dan setelah berbelok ke gang kecil itu, aku tidak bisa menemukannya.


"Yang benar saja, aku kehilangan jejaknya?"

__ADS_1


SWUUUSHH...


Tiba-tiba angin besar berhembus dari belakangku yang membuatku dengan refleks cepat berbalik ke belakang, tapi pandangan pertamaku saat melihat ke belakang adalah todongan dari tongkat kayu sihir yang familiar.


Ini tongkat sihir milik perempuan penyihir itu. Aku hanya bisa mengangkat kedua tangan tanda kalau aku tidak bersalah dan tidak ingin menyerangnya.


"Siapa kau? Kenapa kau mengikutiku? Hnm?"


"A-aku tidak bermaksud! A-aku hanya berpikir jika mengikutimu, aku bisa menemukan Guild Petualang! Hanya itu, sumpah!"


Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah. "Anak kecil?" Dan itu adalah kata-kata pertamanya setelah memperhatikanku cukup lama. Aku juga sempat melakukan [Appraisal] kepadanya, dan level yang dia miliki adalah Lv. 33. Cukup tinggi juga.


Setelah ia merasa kalau aku tidak berbahaya dan mengancamnya, dia menarik todongan tongkat sihirnya. "Anak kecil tidak seharusnya berkeliaran mengikuti seseorang seperti itu, bagaimana jika orang yang kau ikuti malah menyerangmu tanpa ampun?"


"Ma-maaf." Aku malah diceramahi.


"Selain itu, apa yang kau ingin lakukan di Guild Petualang? Mengunjungi orang tuamu?"


"A-aku ingin menjadi petualang!"


"Tck!" Ketika aku mengatakannya dengan percaya diri, dia terlihat kesal dan menekan dahiku dengan jari telunjuknya. "Dengar ya, bocah. Jadi petualang itu bukan main-main, lebih baik kau pulang atau belajar dari sekolah dan kembali setelah jadi cukup kuat—"


GREB...


Aku mencengkram lengannya dengan cukup kuat yang membuat matanya melebar terkejut, aku tidak tahu kenapa dia tidak melakukan [Appraisal] kepadaku, tapi aku mengatakan hal selanjutnya dengan serius.


"Apa aku ... tidak cukup kuat?"


Tatapan seriusku sepertinya membuat wajahnya menjadi lebih terkejut bercampur dengan sedikit ketakutan. Aku kemudian melepaskan cengkeramanku yang tanpa sadar cukup kuat. Wanita itu kemudian mengelus lengannya yang baru saja aku cengkram.


"Orang tuaku tidak ada di dunia ini, jadi mau tidak mau aku harus menjadi mencari uang dan menjadi lebih kuat dengan kemampuanku sendiri. Itu alasannya aku datang ke kota ini dan menjadi seorang petualang!"


Dia sedikit tertegun dengan kata-kataku dan terdiam memikirkannya sebentar.


Padahal itu bohong, wlee! Bagaimana? Bagaimana? Apakah sandiwaraku cukup bagus? Orang tuaku memang tidak ada di sini karena mereka ada di bumi. Aku juga sebenarnya punya cukup uang untuk hidup berfoya-foya untuk beberapa tahun ke depan.


Tapi aku akan membiarkan dia merasa bersalah jika tidak membawa anak 'yatim piatu' untuk menjadi petualang dan mencari uang.


"Baiklah. Aku akan membawamu kesana."


Aha! Berhasil! Sandiwaraku memang hebat! Dia termakan ke dalam jebakanku.


"Ikuti aku."


Aku dengan senang hati mengikuti wanita penyihir ini. Ternyata jaraknya cukup jauh dari gang kecil itu karena dia memang berusaha untuk menjebakku, tapi akhirnya kami sampai di Guild Petualang.


Seperti yang Lucy bilang sebelumnya, tempat ini benar-benar berada di pusat kota. Seolah semua tempat—kecuali area kerajaan yang berada pada dataran tinggi dan daerahnya tersendiri, berpusat ke bangunan ini. Akses jalannya pun juga begitu mudah menuju ke setiap area di kota ini.


Aku dan wanita itu kemudian masuk ke dalam dan suasananya cukup ramai. Kebanyakan di sini adalah orang dewasa dan aku rasa, yang paling bocah di sini adalah diriku.


"Ini Guild Petualang. Apa kau sudah puas?" tanya wanita itu.


"A-ah! Terima kasih banyak karena telah mengantarkanku." Aku menundukkan kepalaku tanda terima kasih. Dia juga kelihatan tidak keberatan dengan hal ini, meskipun masih sedikit jengkel.


Dan ketika aku mengangkat kembali kepalaku, ada sesuatu yang aneh. Ini bukan hanya perasaanku, tapi semua orang yang ada di sini melihat ke arah kami berdua— atau lebih tepatnya, ke arah penyihir wanita itu.


"Hei, bukankah dia ...?"


"Tidak salah lagi."


"Dia wanita yang itu, kan?"


Eh? Apa yang terjadi? Apa dia memiliki suatu masalah yang tidak aku ketahui di sini. Bukankah itu berarti aku sedikit bersalah karena membawanya ke tempat yang tidak dia inginkan.


Aku melihat ke arah wanita itu. Dan wajah jengkelnya semakin terlihat jelas meskipun topi penyihir mencoba menutupinya.

__ADS_1


"Berhenti menatapku, dasar orang-orang bodoh!" Dia bergumam kecil yang sayangnya hanya aku sendiri yang bisa mendengarnya.


Oi, dia beneran jengkel, tuh. Bukankah kalian sudah sedikit berlebihan?


__ADS_2