Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 1.4 : Berhadapan Dengan Monster Tangan Seratus


__ADS_3

Sstt! Jangan berisik!


Apa kalian tidak lihat aku sedang apa? Apa? Kalian tidak tahu? Baiklah, mendekatlah dan akan aku beritahu.


Kali ini aku sedang bersembunyi di balik semak-semak dan memperhatikan apakah ada binatang yang lewat dan mengenai jebakanku. Jebakan yang aku buat dari semacam tanaman rambat dengan duri di sekujur batangnya.


Saat berjalan dengan sembrono tempo hari, aku tanpa sengaja menabrak tanaman rambat itu yang membuatku panik. Dan oleh karena itu karena aku masih belum tahu apa-apa, maka aku dengan kasar mencoba melepaskannya. Tapi itu malah membuat duri menusukku semakin dalam.


Jadi dari sana lah aku mendapatkan ide untuk menggunakan tanaman rambat itu sebagai jebakan.


Aku menggantungkan tanaman rambat berduri pada dahan pohon dan membiarkannya begitu saja. Sudah hampir satu jam aku menunggu di semak-semak tanpa bergerak, tapi masih belum ada satupun tanda binatang akan lewat.


Aku kemudian memejamkan mataku dan menajamkan pendengaranku. Cuping telingaku merespon ketika aku mendengar ranting di tanah patah. Itu berarti ada sesuatu yang akan segera lewat.


"Baiklah, sabar sebentar lagi."


Akhirnya aku dapat melihatnya. Hewan sejenis rusa tapi lebih besar dua kali lipat. Sekarang aku sudah terbiasa dengan hewan-hewan yang lebih besar dari yang ada di bumi.


Yang membuatku terkejut adalah rusa itu memiliki sepasang taring?— tidak, mungkin sejenis gading kecil yang muncul di ujung mulutnya. Apa rusa di sini makan daging, ya? Atau mungkin hanya untuk pertahanan diri saja.


Melupakan pemikiran liarku, rusa itu terus berjalan dengan santai sambil memeriksa sekitar. Dan saat dia sudah dalam jarak yang dekat dengan tanaman rambatku, di situlah saatnya aku beraksi.


Aku mengarahkan jari telunjukku ke tanah belakang rusa dan kemudian merapalkan Skill.


"[Dark Marble]"


Sebuah aura berukuran kecil kemudian terkumpul di ujung telunjukku. Berbentuk bulat seukuran kelereng, aura itu kemudian melesat dan menimbulkan ledakan kecil serta suara cukup keras yang mengagetkan rusa tadi.


Sontak dia pun langsung lari lurus ke depan tanpa memikirkan apapun dan rusa itu pun terkena jebakan buatanku.


"Yaho!" Aku langsung keluar dari balik semak-semak dan menghampirinya dengan gembira.


Rusa itu meronta mencoba melepaskan diri, tapi tanaman rambat ini cukup kuat bahkan aku yang dulu sudah [Lv. 15] kesulitan untuk melepaskan diri. Semakin keras dia meronta, maka akan semakin kesakitan dirinya. Oleh karena itu aku akan segera mengakhiri penderitaannya.


"Maafkan aku."


Aku kemudian mengeluarkan pisau yang aku taruh di pinggang, aku membuatnya dari tulang kadal yang aku kalahkan dulu. Dan dengan cepat langsung memenggal kepala rusa itu.


"Asyik! Makan enak hari ini!"


Setelah membunuhnya, aku pun membawanya ke rumahku tercinta. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini dan dengan kecepatan lari dan kekuatan untuk membawa tubuh serta kepala rusa, aku pun melesat dengan cepat dan akhirnya sampai.


Jeng! Jeng! Jeng!


Rumahku istanaku!


Lihatlah bagaimana indahnya kawasan rumah buatanku ini! Bahkan aku punya kamar tidur pribadi! Terbuat dari tulang rusuk kadal sebesar lima meter itu, jadi terdapat rongga yang cukup luas untuk bisa aku masuki. Dan celah-celah pada tulang rusuk itu aku tutupi dengan daun-daun.


Kemudian pada lantainya, aku mencari sebuah batu yang cukup datar dan kemudian membuatnya lebih datar dan halus lagi dengan amplas dari tangan dan kekuatanku. Tidak berhenti sampai di sana, aku juga membakar batu itu secara perlahan selama seminggu dengan api kecil yang semakin lama membuat batu itu menjadi semakin lunak. Dan jadilah kasur pertamaku di dunia ini!


Walaupun memang tidak seempuk kasur di rumah, tapi ini sudah lebih dari cukup daripada tidur beralaskan tanah.


Lalu ada tempat penyimpanan makanan! Aku menaruh sebuah ranting kayu yang tidak mudah patah diantara dua pohon, lalu menggantungkan semua hasil buruanku di sana. Seperti sekarang, aku juga menggantungkan rusa ini.


Dan yang selanjutnya adalah tempat latihanku! Aku membuat sandbag sederhana yang terbuat dari batang kayu yang aku lapisi dengan daun dan batu. Tapi ini tidak terlalu berguna karena setiap kali aku naik level, batang pohon dan batu itu selalu hancur saat aku pukul. Jadi aku memutuskan untuk latihan di tempat yang lumayan jauh dari sini.


Aku kemudian menengok ke atas. Kukuku ... Kalian pikir hanya itu yang aku miliki? Tentu saja tidak! Tali-tali yang mengular panjang di setiap pohon di dekat rumahku sebenarnya adalah alarm peringatan.

__ADS_1


Aku memasangnya untuk sementara waktu karena aku belum memiliki Skill [Clairvoyance] yang aku inginkan, jadi aku akan bergantung pada hal itu untuk sementara waktu. Selain alarm peringatan, aku juga dapat membedakan makhluk-makhluk yang melintas lewat getarannya.


Aku menggantungkan sekitar lima potong kayu sebagai bel alarm. Jika bel itu hanya berbunyi dua sampai tiga kayu, itu berarti makhluk yang lewat lebih kecil dari kadal bakar— aku tidak tahu nama spesiesnya, tapi aku selalu mengingatnya sebagai kadal bakar karena rasanya terlalu luar biasa. Dan juga mereka mengular sejauh kira-kira lima ratus meter dari tempat ini.


Jadi begitulah bagaimana aku bisa mengetahui jika rumahku ada dalam bahaya. Bicara tentang keefisienan dan kepintaran, kurasa aku memang cukup pintar.


Sudah dua minggu aku berada di hutan ini sejak di teleport kesini. Dan selama itu pula aku juga mengelilingi hutan ini mencari tempat untuk rumahku sementara.


Apa? Kalian kira aku hanya diam saja dan menerima keadaan? Hahaha! Kalian salah orang! Dari awal aku memang tidak ingin mati, jadi tentu saja aku akan terus tetap hidup sesuai keinginanku.


Ngomong-ngomong, aku menemukan beberapa pengetahuan mengenai hutan ini berkat penjelajahan yang aku lakukan.


Yang pertama, hutan ini sangat luas. Maksudku, sangaaaat luas! Bahkan jika kau sudah tersesat di dalamnya, aku yakin kau tidak akan bisa keluar dari sini. Aku mencoba memanjat pohon tertinggi yang bisa aku temukan di sini dan yang aku dapatkan sepanjang mata memandang adalah pohon, pohon, kemudian bukit, lalu pohon lagi, dan pohon lagi, dan pohon lagi!


Selain pohon dan bukit kecil, aku juga menemukan menemukan sesuatu yang menarik. Benar. Apalagi kalau bukan pegunungan salju yang berbaris-baris di bagian utara hutan, seakan berfungsi sebagai benteng alam yang memisahkan hutan ini dengan apapun yang ada di baliknya.


Aku yakin tidak ada orang biasa yang mau mendaki pegunungan itu. Jika ada dia hanyalah orang gila atau mau bunuh diri, itu pun kalau dia bisa melewati hutan ini dengan selamat.


Maksudku, hey, kawan! Ada naga legendaris yang menjadi penguasa tempat ini. Naga! N-a-g-a, naga! Lalu besarnya melebihi apa yang pernah kalian bayangkan. Jika kalian tidak puas dengan naga, mungkin kalian bisa bertemu dengan makana— maksudku teman favoritku, kadal bakar. Lalu juga monster-monster besar yang dengan bebasnya lalu lalang di langit.


Ini terlalu liar untuk disebut sebagai alam liar! Kenapa aku bisa berteleportasi ke sini. Terlebih lagi dari level awal, apa aku tidak bisa mendapat cheat atau semacamnya seperti protagonis Isekai yang keren-keren itu?!


Hah .... Sepertinya itu terlalu sulit untuk dikabulkan oleh Sistem RPG ini. Meskipun begitu, aku tetap menyukai sistem ini sih. Salah satu alasannya adalah ini.


"Open Side Quest Skill."


[Side Quest Skill Dibuka]


Setelah suara sistem terdengar, kemudian muncul layar hologram yang menampilkan beberapa Skill beserta persentase progres yang telah aku lakukan sejauh ini.


[Cooking Lv. 3] (Progress : Telah Selesai)


[Martial Art Lv. 2] (Progress : Telah Selesai)


[Healing] (Progress : 54/100%)


[Appraisal] (Progress : 27/100%)


[Clairvoyance] (Progress : 2/100%)


Side quest skill. Sepertinya ini adalah semacam Skill yang tidak berhubungan dengan Skill Elemen yang aku miliki. Aku memiliki [Dark Wave Lv. 5], [Dark Marble Lv. 2], dan [Shadow Lv. 1] yang aku dapatkan ketika berhasil aku dapatkan saat menaikkan level Elemen [Kegelapan].


Sementara Skill pada Side Quest Skill ini, aku harus menyelesaikan quest-nya yang ada hubungannya dengan Skill itu sebelum aku berhasil mendapatkannya. Contohnya adalah [Cooking] di mana aku harus memasak berbagai macam makanan dan membedakan jenis-jenis jamur yang beracun dan yang aman untuk dimakan.


'Bagaimana aku bisa tahu?! Aku bukan anak pramuka!' Awalnya aku berpikir begitu, tapi ternyata membedakannya cukup mudah. Jamur yang berwarna mencolok adalah spesies yang beracun, jadi pada akhirnya aku berhasil mendapatkan Skill [Cooking] dan rasa masakanku meningkat drastis sampai aku ingin menangis.


Kesulitan setiap quest juga berbeda tergantung pada seberapa kuat Skill itu, jadi [Clairvoyance] sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama.


Hah ... padahal itu Skill favoritku. Aku yang tadinya bersemangat langsung lemas dan memutuskan pergi ke sungai untuk sekedar membasuh wajah. Aku juga sengaja membangun tempat yang dekat dengan sumber air agar aku tidak sulit untuk minum atau mandi.


Setelah membasuh wajah, aku menyadari refleksi wajahku di air dan menyentuh untuk mengeceknya.


"Hehe .... Aku masih tampan seperti biasanya."


Sepertinya aku masih mempertahankan wujud asliku di bumi. Aku tidak bisa membayangkan jika aku datang ke sini dengan wujud orc atau beast, mungkin aku akan langsung bunuh diri.


Tapi tidak kehilangan wujud manusia juga lumayan menguntungkan, karena aku bisa masuk ke wilayah manusia dengan mudah tanpa perlu penyamaran.

__ADS_1


Meskipun aku masih suka di sini, sih. Terlebih lagi aku juga belum begitu kuat. Jadi asalkan tidak ada naga legendaris atau monster langka yang sangat kuat, kurasa aku akan hidup nyaman di sini.


"Yap, hidup bahagia di sini."


Buummm...


"Wooahh ...!"


Aku merasakan getaran di tanah. Apa terjadi gempa bumi? Tidak, getarannya kembali terasa lagi. Lalu terasa lagi. Semakin dekat. Jangan bilang kalau ada sesuatu yang berjalan ke arah sini?!


Aku langsung kembali ke rumahku dan memeriksa alarm kayu. Kelima potongan kayu itu saling berbenturan dengan hebat. Ini sudah pasti lebih dari kadal bakar!


Apa yang harus aku lakukan?! Getarannya semakin mendekat ke sini. Oh iya! Ke atas pohon! Kita harus melihat apa yang sedang menuju kesini. Aku pun dengan cepat menuju ke puncak pohon paling tinggi di dekat sini.


Haahhh ...?!!! Apa-apaan itu?! Baru saja aku berpikir kalau rumahku akan aman jika tidak ada naga legendaris atau monster langka yang sangat kuat. Dan sekarang salah satu dari mereka ada di sini!


Aku dan mulut besarku! Kenapa aku selalu mengucapkan hal-hal yang tidak perlu?! Tentu saja itu akan menjadi kenyataan!


Baiklah, Arka. Kau harus tenang. Tidak usah panik karena kau adalah orang yang pintar dan jenius. Tenang, santai, dan dibawa kalem.


Aku berhasil menenangkan diriku. Terlebih lagi, sepertinya dia tidak menargetkanku atau semacamnya seperti yang naga legendaris lakukan. Jadi aku akan baik-baik saja.


Atau seperti itulah yang aku pikirkan.


Kenapa! Kau! Harus! Berjalan! Kesini?!


Kenapa kau harus berjalan secara acak menuju ke rumahku, dasar monster jelek?! Apa kau memang di desain untuk membuat hidupku tidak tenang, hah?! Monster jelek itu, meski tidak mengincarku, tapi dia berjalan tepat menuju ke arah rumahku.


Dan jika tidak aku hentikan, dia akan menghancurkan rumah kesayangan yang sudah aku buat dengan susah payah.


Ngomong-ngomong monster itu besar, tapi masih seperti semut jika ada di hadapan Gaia. Tidak ada pohon yang bisa menyamai tinggi dada sampai kepalanya. Dia berjalan dengan dua kaki dan berbentuk humanoid ..., mungkin?


Bagian kaki ke perutnya normal seperti laki-laki berotot pada umumnya dengan perut sixpack dan lain-lain. Tapi jika kalian melihat dari bagian dada sampai ke kepala, hal itu benar-benar keseluruhan cerita yang berbeda.


Tangannya ada seratus. Iya, kalian tidak salah dengar. Seratus! Di bagian dada depan, di kanan dan kiri, bahkan di bagian punggung atas juga ada tangan. Ukurannya pun bervariasi mulai dari kecil sampai sangat besar.


Jika kalian pikir itu sudah sangat gila, maka kalian tidak akan siap dengan yang akan kalian dengar selanjutnya. Yap, kepalanya ada lima puluh. Aku tidak tahu dewa mabuk mana yang menciptakan makhluk ini. Tapi aku ingin berbicara dengannya secara langsung. Sepertinya akan menarik berbicara dengan dewa yang menciptakannya.


Lupakan itu! Monster itu semakin mendekat dan menghancurkan apapun yang dilewatinya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus merelakan rumah yang sudah aku bangun dengan susah payah begitu saja? Tidak! Tentu saja aku tidak mau! Tapi apa aku harus bertarung dengannya? Tentu saja itu bunuh diri!


Sialan. Dimana Gaia di saat aku membutuhkannya saat ini?! Giliran ada makhluk gila seperti ini, dia malah tidak datang.


Aku memejamkan mataku berpikir keras dengan cepat karena tidak punya banyak waktu. Berpikir ... Berpikir ... Apa yang harus aku lakukan ...?! Dan setelah memutuskan apa yang akan aku perbuat, aku menatap tajam monster itu.


**


Monster itu terus berjalan lurus semakin mendekati rumahku. Tapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku kini berdiri di puncak pohon lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum berteriak sekencang mungkin menarik perhatian monster itu.


"Woi, monster jelek! Enggak ada jadwal penggusuran rumah sekarang!"


Perhatiannya pun teralihkan kepadaku. Dan setelah dia berjalan menghampiriku, suara datar sistem bergema di kepalaku.


[Quest Dadakan Dimulai]


[Kalahkan The Prisoner of Tartarus, Hecatoncheires]


[Tingkat Kesulitan : Sangat Sulit]

__ADS_1


[Reward : ???]


__ADS_2