
"Hey, lihat! Ada seseorang di sana!"
"Hah? Orang? Apa matamu tidak salah lihat? Kita sedang ada di tepi hutan Jinnestan, lho."
"Tidak mungkin mataku salah lihat!"
"Ah! Kau benar, ada orang di sana."
Nggh ... berisik sekali. Apa mereka tidak tahu kalau aku sedang tidur? Memangnya kalian tidak sadar sekarang jam berapa? Setidaknya berikan aku waktu lima menit, aku masih ngantuk.
"Dia masih muda. Apa dia anak akademi?"
"Jangan bodoh! Kalau dia anak akademi, kita pasti sudah mengenalinya."
"Apa itu sabit? Benda panjang itu ada di sampingnya, apa itu senjatanya?"
"Coba kau ambil, siapa tahu kita bisa menjualnya."
"Be-berat banget! Ini bahkan tidak bergerak."
Oi! Apa yang kalian lakukan dengan sabitku? Dan sabit itu tidak berat sama sekali, salahkan kalian yang harus banyak makan lagi supaya tubuh kalian terisi.
"Kalau begitu, apa dia punya uang?"
"Heh! Aku meremehkan orang dengan pakaian lusuh dan jelek seperti dia punya uang."
"Coba kita periksa."
Kemudian aku merasakan kalau bagian kantong bajuku di balik jubah hitamku di buka dan mereka mulai mencari-cari sesuatu. Tapi sayangnya— atau mungkin untungnya, mereka tidak menemukan apapun di sana.
"Kau benar. Dia tidak punya uang sepeserpun."
"Tuh, kan?"
Okey, kalian sudah berlebihan. Berani-beraninya kalian menyebut pakaian paling keren sedunia ini dengan sebutan lusuh dan jelek. Kalian akan membayarnya!
Aku yang sudah kehilangan kesabaran kemudian membuka mataku padahal aku masih lumayan mengantuk, dan yang aku lihat pertama kali adalah wajah dua orang yang berlatarkan langit biru dan beberapa daun pepohonan yang jarang.
"Uwaakh!"
Mereka berdua jatuh terduduk secara berbarengan saat aku membuka mataku.
Kepalaku masih terasa pusing, sepertinya Dewi Loki melakukan sesuatu lagi kepadaku. Tapi saat aku sedang bingung, aku menyadari sesuatu yang membuatku tanpa sadar berteriak semangat.
"Hah?!"
"Hiikh!"
"Aku punya tangan! Terlebih lagi, ini tangan sungguhan! Bukan [Shadow Construct] atau semacamnya! Apa ini perbuatan Dewi Loki? Sialan, terkadang dia memang bisa diandalkan!"
Aku melompat-lompat kegirangan meninggalkan dua orang yang sebelumnya ingin mencuri uangku dalam tanda tanya. Dan mereka dapat menyimpulkan sesuatu dari sikapku barusan.
"Nee, Ele. Aku rasa dia sudah tidak waras."
"Iya, mari kita secara perlahan pergi dari sini."
Saat aku sedang sibuk melompat-lompat kegirangan karena tanganku kembali, dua orang yang hendak mencuri uangku itu ingin kabur dari sini. Dan mereka pikir mereka bisa kabur dengan mudah.
"Dan kalian pikir kalian mau kemana?" Kesenangannya bisa aku tunda dulu. Sekarang aku harus mengajari dua anak kecil ini tentang yang namanya sopan santun. "Bukankah kalian memiliki sesuatu yang harus dijelaskan kepadaku?" lanjutku dengan seringai kejam.
Mereka mengeluarkan suara yang mirip tikus kejepit saat aku memergoki mereka. Dan mereka pun langsung duduk bersimpuh dengan ekspresi ketakutan.
"Siapa sebenarnya kalian?"
"B-baik! Namaku Eric Norius Talt Odyz Daxiriff! Aku biasa dipanggil Eric!"
"Na-namaku Eleanor Wolfz Etszisyan! Panggil saja Eleanor."
Nama mereka panjang banget, woi! Aku tidak mungkin mengingat nama mereka. Bahkan aku sudah lupa nama laki-laki yang pertama. Tapi setidaknya aku akan memanggil mereka dengan nama depan mereka saja.
Dan pakaian yang mereka kenakan juga lumayan bagus. Apa itu seragam? Seragam sekolah mewah khas abad pertengahan berwarna dominan biru dengan garis-garis putih di pinggirnya, lalu ditambah dengan corak emas pada bagian tengah baju, kerah, dan lengan.
Tentu saja desain laki-laki dan perempuan berbeda, tapi corak mereka rata-rata sama. Lalu juga perempuan memakai rok di atas lutut sementara laki-laki memakai celana panjang dengan warna dan corak yang keduanya hampir sama.
Sepertinya itu memang seragam. Pantas saja mereka menghina pakaianku— bukan berarti aku tidak menganggap pakaian buatanku keren lagi, ini tetap pakaian paling keren sedunia! Tapi aku jadi tergoda untuk memakai seragam itu.
"Apa kalian mencoba melakukan sesuatu padaku?"
"Ti-ti-tidak mungkin kami melakukan hal seperti itu! Y-ya kan, Ele?" ucap laki-laki itu— Eric.
"Ah! Nn! Benar sekali kata Eric, kami bahkan ingin menolongmu saat kau pingsan tadi!"
"Benar tuh, benar tuh."
Mereka benar-benar payah dalam berbohong. Dalam keadaan panik begitu tentu saja orang-orang bakal curiga. Mereka pikir aku tidak dengar dengan pembicaraan mereka sebelumnya. Tapi yah ... mereka bersimpuh dan kelihatannya juga sangat ketakutan, sepertinya aku tidak akan menggodanya lebih jauh lagi. Apalagi di tempat berbahaya seperti ini.
"Ya sudahlah. Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan di Hutan Jinnestan sedalam ini? Di sini sangat berbahaya, kalian tahu?"
"Dalam?" Eric bertanya. Mereka berdua juga memiringkan kepalanya. "Kita masih di pinggir hutan, kau tahu," lanjut Eleanor.
__ADS_1
Eh? Ini bukan di Hutan Jinnestan? Itu berarti aku sudah keluar dari sana? Tapi bagaimana caranya? Bukankah perjalanan keluar hutan bisa memakan waktu seminggu?
"Ahh ...." Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Jadi ini yang Dewi Loki maksud dengan akan melakukan sesuatu sesuai keinginannya sendiri. Dia memindahkanku keluar Hutan Jinnestan, selain itu dia juga menyembuhkan tanganku. Apa dia benar-benar Dewi Busuk seperti yang Gaia katakan? Aku sungguh tidak tahu sekarang.
"Apa ada yang salah?" tanya Eric melihatku melamun. "Hn? Tidak ada. Pertanyaanku selanjutnya, kalian berasal dari mana?" lanjutku bertanya.
"Kami dari Lux Aeterna."
Mataku berbinar-binar ketika dia menyebut kata 'Lux Aeterna'. Itu adalah negara yang ingin aku kunjungi sejak lama. Sesi pertanyaan telah selesai, sekarang aku akan menyuruh mereka untuk menuntun jalan ke negara itu.
"Baiklah, aku akan melepaskan kalian jika kalian membawaku ke negara kalian."
"Kami memang ingin pulang, tapi kenapa aku harus menurutimu?" Eleanor tidak terima.
Sepertinya perempuan ini tipe-tipe anak orang kaya yang dimanjakan di keluarganya, atau bahkan mungkin dia seorang bangsawan. Rambut merah muda dengan gaya twintail sampai ke perut, penampilannya saja sudah menunjukkan sifatnya dia.
Lalu kalau si bocah laki-laki hanya seperti kutu buku biasa. Memakai kacamata, sifatnya pemalu, dan kelihatannya dia mudah disuruh-suruh oleh Eleanor.
"Karena kalian harus," jawabku. "Atau kalian mau aku tinggalkan dengan monster yang akan menyerang punggung kalian?"
Mereka berdua bingung. Tapi seakan dengan cepat menjawab kebingungan mereka, sebuah suara teriakan monster mengagetkan mereka yang hanya bisa berpelukan satu sama lain.
"Kyaaa! Eric, lindungi aku! Lindungi aku!"
"Tidak sempat, tidak sempat! Kita akan mati! Mati!"
CRAAASHH...
"Eh?"
Dan ... monster itu terbelah dua akibat tebasan sabitku. Sepertinya semacam beruang? Entahlah, aku tidak bisa melihatnya terlalu jelas karena sudah terkapar dan mati sekarang.
"Ka-kau yang membunuhnya?" tanya Eric terbata-bata.
"Hn? Iya, ada masalah?"
Mereka hanya tercengang melihatku yang santai dan tidak merasa senang atau ketakutan, dan pada akhirnya mereka setuju untuk mengantarku ke Lux Aeterna asal aku melindungi mereka sepanjang perjalanan. Terdengar seperti tawaran yang bagus menurutku.
Kami pun mulai berjalan. Ternyata jarak dari bibir Hutan Jinnestan dengan kota Lux Aeterna berjarak sekitar sepuluh kilometer, jarak yang lumayan jauh jika di bumi. Tapi kata Eric, jika tidak lebih dari dua puluh kilometer, orang-orang lebih memilih menggunakan kakinya daripada kereta kuda atau semacamnya.
Perjalanan sepuluh kilometer itu cukup hening dan sunyi, sepertinya mereka masih sedikit waspada kepadaku. Ya wajar sih, aku orang asing baru ketemu yang tiba-tiba minta diantar ke negara mereka. Tentu saja mereka waspada.
Saat aku memeriksa level mereka dengan Skill [Appraisal] milikku, Eleanor memiliki level 17 sementara Eric level 16. Apa manusia di dunia ini benar-benar selemah ini, ya? Atau hanya karena mereka masih muda?
Tapi ketika sudah dekat dengan kota, Eleanor mulai berani berbicara kepadaku. Dia kira sudah aman jika sudah di dekat kota.
"Dari Indonesia."
"Indonesia? Negara apa itu? Aku tidak pernah dengar."
"Kalau aku mengatakannya mungkin kau tidak akan percaya, tapi pokoknya itu sebuah negara kepulauan yang besar di tenggara."
"Lalu namamu? Umurmu?"
"Arka, 16 tahun."
"16 tahun? Yang benar saja?! Kau lebih muda dari kami berdua, aku dan Eric sudah berusia 18 tahun. Seharusnya kau menghormati kami berdua."
"Aku tidak suka senioritas seperti itu, jadi aku menolak. Lagipula aku lebih kuat dari kalian."
"Tch."
Eleanor tidak senang, tapi dia juga tidak bisa protes karena aku telah menyelamatkan nyawanya, sementara Eric hanya terkekeh pelan mendengar percakapan kami berdua.
"Kita sudah sampai."
Dan tanpa terasa karena percakapan kami barusan, akhirnya kami telah sampai di depan gerbang utama negara Lux Aeterna. 500 meter lagi dan kami sudah bisa melihat antrian kereta pedagang dan orang-orang yang ingin masuk ke negara itu.
Benteng pertahanan yang tinggi yang diatasnya terdapat penjaga dengan panah dan seragam ksatria juga terlihat dari sini. Dari balik tembok, aku juga bisa melihat beberapa bangunan bahkan istana yang berada di bebukitan. Ini beneran ... beneran Isekai, woi!
Mataku berbinar-binar ketika melihat pemandangan kota sampai tanpa sadar aku ditinggal oleh Eric dan Eleanor.
"Apa yang kau tunggu lagi? Cepat kesini!"
"Aku segera datang."
Kami pun ikut mengantri. Tapi ada satu hal yang Eleanor peringatkan kepadaku. "Aku tidak bisa membantumu saat di gerbang masuk, karena kau tidak punya identitas penduduk dan tidak bawa barang dagangan. Jadi pikirkan hal itu sendiri."
Jadi begitu, tentu saja aku akan dicurigai jika masuk tanpa membawa apa-apa. Barang bawaanku hanya sabit kesayanganku saja, jadi aku harus memikirkan sesuatu. Kira-kira apa, ya?
Sembari memikirkan apa yang akan aku lakukan, tiba-tiba barisan kami terus maju sampai pada giliran Eric dan Eleanor. Mereka dapat masuk dengan mudah karena mereka memiliki kartu penduduk dan sepertinya juga karena seragam mereka.
Dan sekarang adalah giliranku.
Aku terlalu lama memikirkan strategi sampai akhirnya sekarang giliranku, tapi aku sudah mendapatkan caranya. Meskipun aku tidak yakin kalau ini akan berhasil atau tidak.
Kini aku berada di depan loket penjaga pintu gerbang Lux Aeterna. Dan, wah ... seragamnya sangat bagus! Bahkan terlihat lumayan modern meskipun masih ada corak-corak abad pertengahan dan jubah yang membuatnya terlihat agamis.
__ADS_1
"Kartu penduduk anda?" Dia bertanya.
"Etto ... tidak ada."
"Kalau begitu, apa anda seorang pedagang? Biaya masuknya sepuluh keping emas untuk pedagang dan kami juga harus memeriksa barang dagangan anda terlebih dahulu."
Aku melihat ke arah sabitku— dan dia juga melakukan hal yang sama, sepertinya dia tahu apa yang aku maksud di sini. Kalau aku sebenarnya bukan pedagang.
Setelah melihat sabitku, dua penjaga dengan tongkat sihir dan pakaian petualang abad pertengahan muncul di belakang sang resepsionis. Sepertinya ini mulai gawat karena aku dicurigai.
"Kau bukan pedagang dan tidak punya kartu penduduk, apa kau punya identitas pengenal supaya kami bisa tahu siapa dirimu?"
Tenang, Arka, tenang! Ini memang keadaan yang harus kau hadapi. Jika kau tidak tenang, maka keadaannya akan semakin rumit. Setelah memenangkan diri di dalam hatiku, aku pun menaruh kedua tanganku di atas meja loket dan mendekat untuk berbicara.
"Dengar, bisakah kita lewati hal-hal merepotkan itu dan biarkan saja aku masuk?"
Sang penjaga loket juga tidak tinggal diam dan tidak menurut. "Ada monster yang dapat merubah wujudnya menjadi manusia dan memiliki kecerdasan setara manusia. Kami tidak akan mengambil resiko untuk membiarkan salah satu dari mereka masuk."
Dia lumayan juga. Tapi mau bagaimana pun yang dia katakan, aku akan membuatnya membiarkanku masuk. Karena aku punya senjata andalan.
"Benarkah? Kalau begitu, apa monster di Hutan Jinnestan punya uang sebanyak ini?"
Dan .... Jebret! Aku mengeluarkannya!
Kantong uang yang jika aku hitung sejumlah lima puluh keping emas. Di sini keping emas dan metal lainnya cukup berharga karena merupakan mata uang, jadi mengumpulkan mereka sepertinya bukan keputusan yang buruk.
Ekspresi kepala loket itu berubah dan matanya tidak lagi tertuju padaku— tapi sekarang ke kantong penuh uang. Dia kemudian mengambilnya dan menyuruh penjaga yang ada di belakangnya untuk menghitungnya.
"Jumlahnya lima puluh keping emas."
"Anggap saja itu bukti kalau aku bukan monster, dan aku akan tetap bayar uang masuk untuk pedagang. Bagaimana?" Aku mengeluarkan senyum sombong. Bagaimana? Bagaimana? Apa kau akan menolak uang sebanyak itu? Di tambah aku masih akan membayar sepuluh keping emas lagi.
Sungguh. Dulu tinggal di Indonesia benar-benar membuat skill negosiasi dengan uang menjadi sangat terlatih— Yah ... you know what i mean. Skill tentang suap, lho.
Kepala loket itu kemudian mengambil sebuah kertas dan menulis sesuatu di atasnya, lalu setelah itu ia memberikan cap stempel dan diberikan kepadaku setelah aku membayar sepuluh keping emas lagi.
"Selamat datang di Lux Aeterna."
"Terima kasih banyak."
Aku berhasil masuk! Aku berhasil masuk ke kota isekai! Orang tuaku pasti bangga kepadaku! Ibu, ayah, aku di Isekai, lho!
Aku berjalan melewati terowongan bawah benteng dan setelah keluar, aku melongo terkejut. Rumah-rumah abad pertengahan, anak-anak yang sedang main permainan tradisional, dan fountain megah dengan ukiran dan pahatan yang rumit dan indah seolah mengucapkan selamat datang kepadaku di sini.
"Aku terkejut kau berhasil masuk."
"Hn?"
Seseorang memanggilku, dan ternyata Eleanor dan Eric masih menungguku. "Heh~ Apa kalian menungguku?" tanyaku menggodanya.
"Sebenarnya aku menunggu keributan yang akan kau hasilkan, tapi sepertinya tidak ada masalah berarti."
"Ya, aku punya keahlian khusus untuk hal itu. Ngomong-ngomong, apa kalian mau menunjukkan kepadaku penginapan yang lumayan bagus?"
"Tentu. Lagipula kau menyelamatkan nyawa kami, jadi setidaknya akan kami bantu untuk hal itu," ucap Eric.
"Lagipula kau juga masih bocah, aku tidak enak meninggalkanmu sendiri," ucap Eleanor.
Aku bisa yakin satu hal. Mereka adalah orang baik. Sepertinya aku akan bergantung pada mereka untuk beberapa saat.
Dan pada akhirnya kami pun mencari sebuah penginapan. Sekaligus berkeliling kota dan melewati sebuah pasar, kota juga terbilang sangat ramai, ada pasar yang menjual berbagai macam kebutuhan bahan pokok seperti sayuran dan daging, lalu ada juga senjata dan alat perkakas.
Setelah melewati pasar, kami bertiga melewati sebuah area yang lebih ramai lagi. Tapi meski begitu, entah kenapa suasananya lebih tenang. Aku juga bisa melihat beberapa golongan orang memakai pakaian yang sama lalu menundukkan kepalanya dan menyatukan kedua tangannya berdoa.
Di sini terdapat berbagai macam kuil-kuil yang memiliki ukiran dan ukuran yang berbeda tergantung seberapa besar pengaruh dewa tersebut dan seberapa banyak pengikutnya.
Eric dan Eleanor juga sempat berhenti di salah satu kuil dan berdoa bersama dengan yang lainnya. Sebuah kuil dengan patung naga besar di depannya dan masih banyak ukiran naga di langit-langit serta pilarnya.
Tunggu. Ini sedikit tidak benar.
Aku menelan ludah keringku dan bertanya pada Eric dengan ragu. "Eric, kalau boleh tahu ini kuil untuk Dewa apa?"
"Ahh ... ini kuil untuk Dewa Naga Gaia."
Tuh kan benar!
"Aku dan Eric berteman dari kecil karena kebetulan orang tua kami sama-sama penyembah Dewa Naga Gaia," lanjut Eleanor.
"Naga Gaia memberikan kesuburan kepada tanah dan hasil pertanian di Lux Aeterna, semoga keberkahan selalu diberikan kepada dirinya."
"Ma-maaf."
"Hn?"
Aku menundukkan kepalaku sedikit dan meminta maaf. Tentu saja mereka bingung kenapa tiba-tiba aku meminta maaf, tapi aku tidak akan memberitahu mereka alasannya. Kalau aku baru saja membunuh dewa mereka.
Setelah kebetulan yang aneh tadi, kami pun melanjutkan perjalanan kami dan akhirnya sampai di sebuah penginapan. Punya dua lantai dan dominan terbuat dari kayu. 'Pulchra Et Tutus' adalah nama penginapan ini, lagi-lagi nama yang aneh.
"Ini yang aku rekomendasikan, tidak terlalu mahal dan masih lumayan bagus. Kalau kau tidak suka, ya ... aku tidak tahu lagi."
__ADS_1
"Tidak apa, aku di sini saja."
Mereka berdua kemudian pamit untuk pergi karena masih ada urusan lagi, sementara aku masuk ke dalam penginapan. Tidur di kota Isekai, oi!