
Aku kemudian menekan [???] pada Reward Spesial yang aku dapatkan. Dan aku pun mendapatkan sesuatu.
[Reward : Dapat memilih satu dari tujuh elemen dasar, [Api], [Air], [Bumi], [Angin], [Listrik], [Cahaya], [Kegelapan].]
Eh? Ini hadiah yang berhasil aku dapatkan dari menyelesaikan misi pertamaku?
Aku memalingkan wajahku sebentar dari layar hologram— meskipun tidak bisa karena itu selalu mengikutiku. Lalu setelah itu aku melompat-lompat kegirangan. Bahkan aku hampir jatuh terpeleset karena tanah yang licin.
"Beneran kayak RPG, woi!"
Dunia ini! Apakah dunia ini benar-benar nyata? Bukankah dunia ini terlalu hebat untuk jadi kenyataan? Tapi apapun itu, aku sangat senang karena ini adalah dunia impian banyak orang.
"Walaupun makhluk-makhluk di sini kadang membuatmu ketakutan setengah mati, sih," gumamku.
Yap. Kurasa itu adalah kelemahan setiap dunia dengan sistem RPG. Selalu saja terdapat monster-monster mustahil yang besarnya tidak terkira dan kekuatannya diluar nalar manusia.
Contohnya adalah Naga Legendaris itu. Hmm ... kalau dipikir-pikir lagi, apa yang membuatnya turun ke hutan ini dan setelah itu pergi lagi, ya? Dia tidak mungkin seluang itu hanya untuk membunuh makhluk-makhluk tak bersalah yang ingin hidup di sini, kan?
Tapi aku belum mengerti sifat-sifat makhluk yang ada di sini, jadi aku tidak bisa langsung menilainya. Dan tatapan Naga itu sebelum aku pergi ....
Aku kembali mengingat tatapan iba yang diberikan naga itu kepadaku. Dia menatapku seolah aku ini bukan ancaman berarti yang akan mengancamnya bahkan di masa depan. Sialan! Aku kesal!
Aku meninju batang pohon yang ada di depanku dan membekas sedikit tinju di sana. Sepertinya hal itu berkat level ku yang bertambah menjadi level 5, jadi aku tidak merasakan sakit sama sekali ketika meninjunya.
Akh! Lupakan dulu soal itu! Sekarang bagaimana caranya aku bisa meluapkan kekesalanku yang tak terbendung ini?! Naga sialan. Mentang-mentang dia naga legendaris, beraninya dia meremehkanku. Awas saja nanti!
Eh? Tunggu sebentar. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang cukup penting. Sepertinya aku tahu alasan dari naga itu tidak menyerangku dan langsung membunuh monster elang tanpa ampun.
Dia adalah penguasa hutan ini.
Kurasa memang begitu. Dan dia tidak suka jika ada raja kecil yang menguasai daerah hutannya, contohnya monster elang tadi. Pasti dia tidak peduli dengan naga legendaris itu dan lebih condong pada ego dan harga dirinya.
Aku melihat pada tempat yang Naga Gaia itu pijak sebelumnya. Retakkannya perlahan sudah mulai menutup dan dalam sekejap juga pohon-pohon baru juga tumbuh yang langsung menghilangkan jejak keberadaan Naga Gaia.
Seperti yang bisa diharapkan dari Naga Bumi Legendaris. Dia benar-benar menghidupkan julukannya sampai ke tingkat tertinggi. Dia hanya tidak suka jika ada penguasa lain di teritorinya, tapi bukan berarti dia akan menghancurkan daerah kekuasaannya.
Dia benar-benar seorang diktator di dunia para monster. Aku jadi membayangkan apakah ada monster legendaris lagi selain dirinya. Jika memang ada, mungkin akan seru jika mereka saling bertarung satu sama lain.
Tapi kembali lagi pada yang tadi, monster elang menolak untuk tunduk dan dia pun mati bersama dengan harga dirinya. Bicara tentang seorang prajurit sejati. Mungkin kalau monster elang itu adalah manusia, dia bisa menjadi kandidat pahlawan di dunia ini.
Pahlawan, ya? Apa di dunia sistem RPG ini mereka juga punya yang seperti itu? Atau bahkan mungkin aku bisa menjadi pahlawan itu?! Siapa yang tahu, kan? Tentu saja akan keren jika menjadi pahlawan yang dihormati semua orang, tapi entah kenapa rasanya merepotkan.
Harus menjadi garda terdepan yang diandalkan seluruh manusia di dunia. Menyelamatkan manusia bersama party legendaris pahlawan dan berperang dengan raja iblis dan pasukannya. Setelah itu kami berhasil menang dan di akhiri senyuman bersama party kami yang secara ajaib tidak ada yang tewas, lalu setelah itu hidup damai sampai ajal menjemput.
Hebat. Aku baru saja menyimpulkan satu game RPG dalam satu paragraf. Sepertinya aku kebanyakan bermain game sampai hafal seluk-beluk hal seperti itu.
Jadi jika seseorang mengharapkan diriku untuk menjadi seorang pahlawan manusia, aku akan berkata pada mereka. 'Ah, maaf. Aku orang yang sibuk, jadi silahkan cari orang lain saja.' atau semacamnya.
Aku terkekeh sendiri membayangkan hal lucu yang belum tentu akan terjadi di masa depan itu. Lalu akhirnya aku tersadar dari lamunanku dan kembali pada [Reward] di layar hologram.
Lupakan dulu soal hal itu. Kemarahanku juga sudah lumayan mereda. Saatnya aku fokus pada kekuatan elemen apa yang akan aku pilih untuk mengarungi dunia fantasi ini.
Kita lihat. Dari ketujuh elemen yang ada, lima dari mereka adalah elemen paling dasar yang dapat ditemui di game RPG manapun.
Elemen [Api]. Fokus elemen api pasti pada serangan eksplosif dengan kemampuan kerusakan yang besar, ini pasti akan menjadi elemen yang paling banyak dikuasai oleh pemula karena daya serangnya yang tinggi— meskipun juga dapat melukai penggunanya sendiri.
Terlebih lagi, api juga memang sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari seperti untuk menyalakan kompor dan memasak. Juga berguna sebagai penerangan saat malam hari. Aku sepertinya akan memilih ini, tapi mari pindah ke elemen lain dulu.
Elemen [Air] dan [Bumi], mereka adalah saudara yang tidak dapat dipisahkan. Air dekat dengan yang namanya sihir penyembuhan sementara elemen bumi dapat menyuburkan tanah dan memulai perkebunan atau pertanian. Tanah yang subur juga memerlukan air, jadi mereka adalah satu kesatuan.
Sementara untukku sendiri, aku tidak bermimpi untuk menjadi petani. Jadi elemen ini adalah 'Big No' untukku yang suka dengan pertarungan dan ingin menjadi karakter game RPG terkuat di dunia ini.
__ADS_1
kemudian Elemen [Angin]. Ini mungkin bisa jadi sesuatu yang berguna bagiku. Kau tahu ..., aku mungkin bisa menggunakan sesuatu seperti angin di bawah telapak kakiku yang membuat langkahku menjadi cepat, bahkan mungkin aku bisa terbang.
Tapi aku tidak bisa membayangkan apapun hal bagus tentang Elemen angin jika berhubungan dengan serangan. Elemen itu memang bagus untuk kehidupan sehari-hari dan elemen pendukung, tapi hal itu tidak cukup kuat dalam hal serangan— setidaknya untukku. Jadi skip!
Lalu yang selanjutnya adalah Elemen [Listrik]. Mm ... bagaimana mengatakannya, ya. Sepertinya ini tidak cocok untuk dunia fantasi sistem RPG. Aku tahu kalau petir dan listrik memang suatu hal yang tidak jauh berbeda, tapi aku merasa akan ada sesuatu yang janggal jika aku memilih elemen ini.
Terlebih lagi, aku tahu karakter dari novel ringan lain yang pernah aku baca juga menggunakan elemen listrik ini. Dan dia payah. Jadi aku tidak akan mengambil elemen ini. Skip!
Yang selanjutnya ada Elemen [Cahaya]. Ini dia. Kita mulai memasuki bagian yang menarik. Elemen cahaya adalah sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang-orang dan hanya orang suci saja yang bisa mendapatkannya. Dari anime dan manga yang aku baca, Pahlawan juga termasuk orang suci yang dapat menggunakan elemen ini.
Jadi aku rasa, aku tidak akan mengambil elemen ini. Aku takut kalau saja syarat untuk menjadi pahlawan adalah memiliki elemen Cahaya. Dan tanpa sengaja aku membeberkannya, itu akan menjadi sebuah hal yang sangat merepotkan untuk kehidupanku di dunia ini.
Lalu yang terakhir ....
Aku memandangi elemen terakhir ini cukup lama. Aku tidak tahu apa saja yang akan aku hadapi jika aku memilih elemen ini. Sesuatu yang buruk mungkin saja akan menimpaku jika aku memilih yang satu ini.
Elemen [Kegelapan]. Ini adalah kebalikan dari elemen suci [Cahaya]. Lekat dengan kematian, penyiksaan, dan juga semua hal kotor lainnya— bukan berarti elemen lain tidak seperti itu, sih. Tapi aku yakin akan jarang sekali menemukan pengguna elemen ini jika aku sudah berada di peradaban manusia.
Tapi ....
Aku menekan Elemen yang ingin aku pilih dan suara sistem kembali bergema di dalam kepalaku.
[Anda memilih Elemen [Kegelapan] Apa Anda Yakin?]
[Ya] [Tidak]
Aku tidak tahu apa pilihanku benar atau salah. Tapi entah kenapa aku punya perasaan kalau jika aku memilih elemen ini sekarang, maka dunia baru akan terbuka untukku.
"Ya!" Aku menerima elemen itu dengan mantap.
[Elemen [Kegelapan] telah dipilih. Selamat! Anda telah berhasil mempelajari Elemen [Kegelapan].]
Setelah itu, aku dapat merasakannya. Sesuatu yang asing mengalir ke dalam tubuhku. Rasanya panas dan lumayan menyiksa, sensasinya bergerak perlahan mulai dari kedua tangan, perut, kaki, dan yang terakhir adalah kepalaku.
"Aku sudah memilikinya, kan?"
Meskipun aku sudah merasakannya, tapi aku masih meragukannya karena tidak ada hal spesial kecuali sensasi panas itu. "Open Status." Aku kemudian membuka layar statusku dan melihat apakah ada yang berbeda di sana.
Semuanya masih sama, kecuali pada bagian Skill Aktif. Di sana terdapat [Elemen Kegelapan Lv. 1] dan [Dark Wave Lv.1]. Dari namanya sih kedengaran kalau ini cukup keren, tapi aku tidak tahu bagaimana bentuk atau daya kekuatannya.
Tidak ada salahnya jika aku mencobanya, kan?
Aku pun mengulurkan tangan kananku ke depan dan menjadikan sebuah pohon sebagai target. Menyipitkan satu mataku dan dengan perlahan tapi jelas merapalkan nama Skill itu.
"Melesatlah, [Dark Wave]"
Sebuah aura hitam berkumpul di tanganku dalam sekejap, menciptakan dentuman sesaat dan angin kencang yang berasal dari telapak tanganku. Hempasan anginnya sangat kencang bahkan ketika aura hitam itu melesat dan membuatku terpental ke belakang.
"Adu-du-duh ... Hm?"
Aku melihat lagi ke arah aura hitam yang aku keluarkan tadi. Lubang yang dihasilkan dari lesatan [Dark Wave] itu cukup besar sehingga dapat membuat dua pohon berukuran medium langsung rubuh.
Gehehehe .... Ini dia yang aku cari. Kekuatan hebat yang selama ini ada di dalam game, akhirnya dapat aku gunakan sendiri! Yay! Jayalah diriku! Jayalah kekuatan sistem!
Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil melompat-lompat kegirangan. Lagi. Untung saja tidak ada orang di sekitar sini, jadi aku tidak perlu memperhatikan sikapku dan bisa bebas untuk melakukan apapun di sini.
Sepertinya rencanaku untuk mencari peradaban manusia akan aku undur sementara. Jika aku terus berada di sini dan meningkatkan kekuatanku, aku tidak butuh belajar di akademi sihir atau latihan secara intens dengan orang terhebat di kota.
Aku bisa melewati tahap generik isekai itu dan menjadi lebih kuat lebih cepat daripada mereka. Hahaha!!
"Sekarang, apa yang akan kulakukan ya—"
__ADS_1
Kruyukk...
Perutku berbunyi. Benar juga. Sebelumnya aku memang ingin mencari makan, tapi karena tiba-tiba ada naga random yang datang dan pergi begitu saja, aku jadi melupakan hal itu karena saking ketakutannya.
Aku mulai menjelajahi hutan tanpa ujung ini cukup lama dan rasa laparku semakin lama juga semakin menyiksa. Cepatlah datang, makanan!
Kadang memang aku menemukan buah dan jamur, tapi bentuk dan baunya sangat berbeda dengan apa yang biasa ada di bumi. Aku tidak ingin mengambil resiko untuk memakannya lalu keracunan, lebih baik aku mencari makhluk hidup lalu aku buru.
"Oh?"
Akhirnya aku menemukan sesuatu yang lumayan terlihat seperti makanan. Seekor kadal sekitar panjang lima meteran sedang berjalan santai belum menyadari keberadaanku. Hehehe ... meskipun besar, tapi kini aku sudah berbeda dari sebelumnya.
Kini aku punya elemen! Terlebih lagi, kegelapan! Tidak ada yang bisa mengalahkanku saat ini!
Aku langsung muncul di depan kadal itu dengan gagah dan penuh dengan senyuman percaya diri. Jangan salahkan aku ya wahai kadal, tapi salahkan takdir karena kau telah bertemu denganku.
Kadal itu terlihat waspada dan mulai menjulur-julurkan lidahnya untuk mengetahui situasi sekitar. Tentu saja dia waspada, lawannya adalah diriku.
Aku mengulurkan tanganku dan bersiap menggunakan Skill-ku. Rapalan mantra sudah siap di dalam kepalaku dan aku pun melafalkannya dengan lantang.
"Melesatlah! [Dark Wave]"
...
....
Mmm .... Permisi? Kenapa tidak terjadi apa-apa padahal sudah lewat sepuluh detik setelah aku merapalkan mantra? Apa aku salah mengucapkannya? Tidak mungkin kan aku salah padahal nama Skill-nya hanya dua kata.
"Dark Wave! Dark Wave! Dark Wave!"
Aku terus mengucapkannya berulang-ulang, tapi masih belum ada yang keluar dari tanganku seperti sebelumnya. Sementara kadal itu tidak membiarkanku untuk bingung, dia yang awalnya waspada kemudian berubah menjadi agresif dan bergerak ke arahku dengan cepat.
"E-eh?! Tu-tunggu sebentar?! Ini tidak seperti yang kau bayangkan! Uwaah!"
**
Pada malamnya di hari yang sama, sebuah asap kurus membumbung tinggi ke atas menandakan kalau ada seseorang yang menyalakan api di sana.
Iya. Itu aku.
Aku membakar daging kadal yang pada sore hari tadi aku buru. Pada akhirnya, aku berhasil mengalahkannya.
Meskipun kini kondisi tubuhku penuh lebam dan luka lain. Di tambah lagi, bajuku robek-robek. Padahal ini bajuku satu-satunya. Sialan, dasar kadal bakar!
Soal kenapa aku tidak bisa menggunakan Skill [Dark Wave] sebelumnya, ternyata satu kali [Dark Wave] dapat menghabiskan MP ku sampai ke titik nol. Itulah kenapa aku tidak bisa mengeluarkannya lagi.
Sepertinya aku harus meningkatkan kapasitas MP-ku agar aku tidak mudah kehabisan Mana. MP adalah hal terpenting untukku yang mengandalkan Skill. Aku tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan mentahku saja karena aku belum punya Skill yang bisa menambah kekuatan dan aku juga belum meningkatkannya.
Saat lawan kadal tadi, aku hanya beruntung karena aku mengincar matanya dan dia langsung kesakitan lalu tumbang saat aku membutakan kedua matanya. Mau apapun makhluknya, mata memang selalu jadi titik lemah, ya?
"Auum ...."
Tapi kadal bakar ini setelah masuk ke mulutku, aku jadi tidak bisa marah kepadanya dan malah hampir menangis terharu. Walau tanpa bumbu dapur atau semacamnya, rasa dagingnya masih lumayan enak. Apa mungkin karena aku sedang lapar, ya?
Dan untuk menambah cita rasa, aku mengambil beberapa semut merah yang sedang berbaris panjang menuju ke sarangnya. Setelah itu aku menekannya sampai cairan tubuhnya keluar. Kata orang, itu akan memberikan rasa pedas. Dan ternyata mereka tidak bohong.
Sekarang, aku hanya memakan beberapa bagian kecil saja dan sisanya ada di belakangku menjadi cadangan makananku— itu pun aku harus memakannya sebelum basi dan membusuk.
Setelah memakan beberapa tusuk daging, aku kemudian telentang di sebelah api unggun, menatap langit penuh bintang-bintang. Dalam keheningan malam itu aku berpikir sendiri dan menggumam.
"Benar-benar hari pertama yang panjang sekali."
__ADS_1