Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 1.12 : Menolong Party Manusia


__ADS_3

Aku tidak salah lihat. Mereka benar-benar manusia. Postur tubuhnya, kulitnya, dan mereka juga bisa berbicara! Ini tidak baik, aku bisa menangis karena terlalu senang. Hapus air mata, hapus air mata.


Setelah mataku bersih dari air mata haru, aku kemudian memperhatikan mereka lagi. Pakaian yang mereka gunakan terbuat dari kulit dan armor besi yang biasa dipakai oleh para petarung pada abad pertengahan.


Tubuh mereka juga kekar-kekar dan berotot. Itu perempuan sungguhan, kan? Bagaimana dia bisa membangun ototnya sampai sebesar itu? Orang dunia lain memang hebat.


Mereka memiliki tanker sebagai pelindung mereka, lalu dua lainnya adalah petarung jarak dekat. Sepertinya mereka merupakan satu party yang berpengalaman, apa aku menghampiri mereka saja, ya? Lalu berpura-pura akrab dan siapa tahu mereka ingin menerimaku. Setelah itu, petualangan di dunia isekai yang sebenarnya akhirnya bisa aku rasakan!


Aku membayangkan petualangan menyenangkan seperti anime-anime yang aku tonton saat ada di bumi. Aku pun mengepalkan tanganku. Yosh. Aku sudah memutuskannya, aku akan masuk ke party mereka.


Tapi aku sadar kalau aku ketinggalan satu orang. Seorang laki-laki muda yang berada jauh di belakang dari ketiga teman partynya. Dia memegang tongkat kayu besar— tongkat sihir? Pokoknya ia memegangnya dengan ragu dan kelihatan kalau tubuhnya juga gemetaran.


Dia anak baru, ya?


Kenapa dia bisa masuk ke dalam party sekuat ini. Aku kemudian menggunakan Skill [Appraisal] untuk memeriksa level dan status yang ia miliki. Level 16? Levelnya dua kali lebih rendah daripada anggota party lainnya— yang rata-rata memiliki level sekitar 30an.


Apa yang membuatnya bisa masuk ke party kuat begini? Sepertinya aku harus memastikannya lebih jauh lagi. Tapi ....


Aku melihat ke arah monster yang sedang mereka lawan. Party itu sedang berada di pinggir sebuah danau melawan monster aneh itu. Tempat ini awalnya adalah salah satu kandidat untuk tempat tinggalku sebelum akhirnya aku mendirikan rumah di dekat sungai. Dan aku mengurungkan niatku karena monster itu.


Jika kalian menyuruhku mendeskripsikannya. Emm, aku rasa aku akan mengangkat tanganku. Dia terlalu absurd untuk dibilang makhluk hidup. Maksudku, lihat tubuhnya yang meleleh itu! Monster itu lebih mirip lumpur yang bergerak daripada sebuah makhluk hidup.


Matanya hanya berbentuk dua lubang bulat yang sama besarnya, sementara satu lagi lubang besar di bawahnya membentuk sebuah mulut dengan lekukan tajam yang menyerupai taring. Bentuk yang sederhana tapi juga aneh, aku curiga dia itu adalah makhluk purba yang belum berevolusi di dunia ini.


Yang membuatku tidak ingin repot-repot melawannya adalah satu kelebihan yang sangat menyusahkanku.


"A-apa ini?! Dia menjebakku?!"


Oh! Pak Pedang Besar baru saja memberikan contoh sehingga aku tidak perlu menjelaskannya kepada kalian. Ya, gerakan tubuh utamanya memang lambat, tapi karena bentuknya yang seperti lumpur, membuat bentuk tubuhnya memiliki batas yang tidak pasti.


Sehingga yang seperti dialami oleh Pak Pedang Besar sekarang, kakinya tidak bisa dilepaskan dengan mudah meskipun ia sudah memberontak dan meronta-ronta. Dan karena tubuhnya terbuat dari bahan sejenis lumpur, tebasan pedang juga tidak terlalu berpengaruh padanya.


Padahal jarak tubuh asli monster masih jauh dari mereka berempat, tapi semakin diserang, bagian kecil tubuhnya yang terpencar masih bisa ia kendalikan dan juga bisa kembali ke tubuh aslinya.


Aku mengurungkan niatku karena aku tidak ingin diserang setiap saat oleh bagian tubuhnya yang terpencar menyeretku ke dalam danau— aku tidak ingin tidur nyenyakku terganggu.


Satu-satunya yang dapat diandalkan saat ini adalah ....


Aku menengok ke arah Bocah Penyihir itu. Aku tahu, aku tahu! Umur kami berdua memang sepertinya tidak terlalu jauh, tapi aku tetap akan memanggilnya Bocah Penyihir.


Ngomong-ngomong, aku bicara kalau hanya dia yang bisa diandalkan karena sihir memang sangat efektif padanya. Tapi sepertinya mentalnya belum terbentuk.


Dia masih belum bergerak dan berhenti gemetaran dari tempatnya berdiri sebelumnya. Ayolah! Teman-temanmu sedang berjuang mati-matian dan kau malah diam ketakutan seperti orang bodoh. Apa dia benar-benar anggota dari party ini? Apa kau tidak salah masuk party, oi?!


Sial. Apa aku harus keluar dan membantu mereka? Tidak, aku tidak punya urusan apa-apa dengan mereka. Tapi bagaimana jika mereka mati? Aku pernah melakukan [Appraisal] pada monster lumpur sekitar tiga minggu lalu dan levelnya sekitar 40an.


"[Appraisal]"


Aku sekali lagi melakukan [Appraisal] padanya karena penasaran apakah monster juga bisa mengalami kenaikan level. Meskipun itu jarang terjadi di game RPG manapun yang pernah aku mainkan, sih.


"??!!" Mataku terbelalak ketika melihat status dari Monster Lumpur.


A-apa?! Tidak mungkin! Monster lumpur sekarang berada di level 62?! Bagaimana dia bisa meningkat secepat itu padahal baru tiga minggu aku tidak melihatnya? Levelnya sekarang lebih tinggi daripada Pak Hecaton dan Neigh.


Mereka tidak mungkin bisa mengalahkannya. Bahkan aku sendiri bakal sedikit kerepotan. Apa aku harus menolong mereka? Tidak, memangnya aku harus? Lagipula mereka bukan seseorang yang aku kenal. Jadi untuk apa aku susah-susah menolong mereka.


Tapi ... mereka adalah manusia pertama yang aku temui di dunia ini. Aku bahkan sudah membayangkan petualangan indah bersama mereka di dalam kepalaku, apa aku ... akan membiarkan mereka mati begitu saja?


"Joseph!"


"??!!"


Bocah penyihir memanggil nama Pria Pedang Besar sehingga membuatnya menengok. "[Fireball Shot] !!" Dan dia merapalkan Skill yang membuat sebuah bola api keluar dari ujung tongkatnya, menerjang lurus ke arah kaki Pria Pedang Besar dijerat.


BOOM...

__ADS_1


Serangannya terkena secara langsung— bahkan kelihatan cukup telak. Bidikannya terarah sehingga kakinya tidak ikut terbakar. Tapi setelah debunya menghilang dan pandangan mereka jelas, semuanya dibuat terkejut sementara aku memasang wajah maklum.


"Sudah kuduga." Pikiranku terpeleset keluar dari mulutku.


Serangan api dari Bocah Penyihir tidak berpengaruh apa-apa terhadap monster lumpur. Perbedaan level mereka berdua terlalu jauh dan bahkan Pak Pedang Besar yang memiliki level tertinggi pun sulit lepas dari jeratannya. Bahkan sekarang dia mencoba menenggelamkannya.


"Tidak akan aku biarkan!"


"Jangan mendekat, Arnold!"


Oh! Baru bergerak sekarang kau? Pak Perisai yang dari tadi mencoba menarik tangan Pak Pedang Besar pun melepaskan genggamannya lalu menghantamkan perisai besar dan beratnya ke lumpur yang menarik kaki temannya.


Berat dari perisai itu memang dapat membuat lumpur terpencar. Tapi setelah itu apa? Monster lumpur itu hanya tinggal menyatukan 'bagian tubuh' yang terpencar itu dan dia akan kembali sehat. Dan menurutku, keputusannya itu juga bisa dibilang fatal. Sangat fatal.


"Si-sial ...!"


Kaki Pak Perisai malah ikut terjebak sama seperti Pak Pedang Besar sebelumnya. Oh iya, aku sebenarnya tahu nama asli mereka lewat [Appraisal], tapi aku lebih suka memanggil mereka dengan nama buatanku sendiri.


Ngomong-ngomong, keadaan mereka berdua sedang gawat sekali. Jika dalam waktu dekat tidak ada yang menolong, mati tenggelam dalam tubuh monster lumpur adalah satu-satunya masa depan yang mereka miliki.


Ah! Aku mengerti sekarang! Jadi itu alasan kenapa monster lumpur bisa tumbuh dengan begitu cepat, karena dia menjebak makhluk hidup di sekitar sini dengan jangkauannya yang luas. Entah itu besar atau kecil, manusia atau bukan, sekali mereka terperangkap di dalam situ maka tidak ada lagi jalan keluar.


Jadi membunuh dan memakan manusia juga bisa meningkatkan level, ya? Entah kenapa aku menyadari kalau sistem di dunia ini lumayan kejam juga.


"Apa yang harus aku lakukan?!" Ksatria wanita berotot kini yang panik. Yah ... teman-temannya sekarang sedang di ambang hidup dan mati, jadi wajar kalau dia panik.


"Pokoknya jangan mendekat! Kau akan bernasib sama dengan kami jika terlalu dekat!"


"Lalu aku harus gimana?!"


"Skill sihir. Hanya Skill sihir yang bisa melepaskan kami, maka dari itu kau harus pergi mencari bantuan ke kota."


"Apa kau bodoh?! Perjalanan dari kota ke hutan Jinnestan saja memakan waktu seminggu, aku tidak akan sempat!"


"Kalau begitu kembalilah ke kota. Tinggalkan saja aku dan Arnold dan pergilah bersama Rondesh, peringatkan petualang lain untuk tidak mendekati danau ini."


Ksatria wanita memasang kuda-kuda dan sudah termakan emosi. Sepertinya dia akan bernasib sama seperti dua teman party yang lainnya. Tapi Pak Pedang Besar berteriak keras yang membuat Ksatria wanita terdiam.


Dia tersenyum dan memasang ekspresi semua akan baik-bail saja. "Pergilah, hanya kau dan Rondesh yang bisa melakukannya."


"Grkhh!"


Tapi monster lumpur tidak membiarkannya menikmati perpisahan mereka. Dia terus menerus menelan dan hisapannya juga semakin lama semakin kuat.


Baiklah, baiklah. Tidak perlu terpengaruh dengan drama mereka. Aku tidak kenal mereka. Jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menyelamatkan mereka. Sepertinya mereka juga tidak bisa memberikanku pengalaman berpetualang yang menarik— levelnya juga dibawah aku.


"Pura-pura tidak tahu saja, ah~"


Benar. Aku akan pura-pura tidak melihatnya. Bukan berarti aku kejam atau tidak punya hati, tapi tidak ada jaminan kalau mereka orang baik. Aku juga tidak tahu apakah bisa mengalahkannya atau tidak. Mereka juga sudah memberiku informasi yang cukup berguna, kota manusia berjarak tujuh hari dari sini. Itu juga jika aku tidak kesasar.


Aku memutuskan untuk pergi dari sini. Jika aku terlalu lama disini, bisa-bisa aku berubah pikiran. Aku menutup telingaku sambil berbalik badan dan berjalan menjauh dari danau. Apatis, apatis.


[Quest Dadakan Dimulai]


[Kalahkan The Ancient Monster of The Lake, Lasponero Limnis]


[Tingkat Kesulitan : Sulit]


[Reward : ???]


...


..


.

__ADS_1


Terkadang aku berpikir kalau sistem ini rajin sekali menjahiliku.


**


Party Joseph dan kawan-kawannya kini sedang ragu karena mereka dihadapkan dengan dua pilihan. Meninggalkan teman mereka dan pergi dari sini dengan selamat atau mencoba menyelamatkannya dalam keputusasaan.


Dan yang sedang dalam buah simalakama itu saat ini adalah Miranda. Sebenarnya dia sudah tahu pilihan terbaik bagi dirinya dan party nya, tapi tetap saja ia tidak ingin memilihnya. Karena party ini baginya sudah lebih dari party biasa, mereka adalah keluarga.


Yah ... kurasa aku mengerti perasaannya. Mungkin.


"[Dark Domain]"


"??!!"


"Hah?! Apa? Apa yang terjadi?!"


Pak Pedang Besar terlihat panik ketika langit biru yang sebelumnya cerah kini perlahan-lahan menutup seolah diselimuti oleh kegelapan yang membentuk sebuah kubah kecil. Tidak, aku tidak yakin kalau mereka tahu bentuk aslinya. Karena kegelapan [Dark Domain] menolak cahaya masuk dari luar seutuhnya.


Kini [Dark Domain] sudah menutup sempurna. Ternyata Skill ini lumayan hebat juga, ia dapat membuat monster lumpur terlihat kebingungan dan sepertinya ketakutan.


Dan bagiku, [Dark Domain] adalah wilayah permainanku. Karena dia termasuk ke dalam Skill milikku, jadi aku bisa menyatu ke dalamnya. Mirip dengan Skill [Shadow]. Memang ada beberapa perbedaan, tapi masing-masing dari mereka memiliki kekurangan dan kelebihannya tersendiri.


Baiklah. Cukup membahas Skill baruku. Pak Pedang Besar dan yang lain nampak bingung dan ketakutan— terutama Rondesh yang sepertinya sudah ingin kencing di celana.


Tapi aku harus mengatakan ini pada mereka. Meskipun aku tidak mengatakannya secara langsung, tapi akan aku katakan sekarang.


Mereka! Sangat! Beruntung!


Mereka beruntung sekali karena tiba-tiba notifikasi quest dadakan muncul ketika aku ingin meninggalkan mereka. Karena sekarang aku memiliki alasan untuk menolong mereka.


"[Shadow Construct : Blindfold]"


"Eh?! Apa ini? Apa yang terjadi? Aku tidak bisa melihat apa-apa!"


Aku menutup mata mereka karena aku tidak ingin mereka melihat apa yang aku lakukan selanjutnya. Sistem bilang tingkat kesulitan monster lumpur adalah 'Sulit', ya? Lebih rendah dari Neigh dan Pak Hecaton berarti.


Kalau begitu, aku akan melakukan hal ini. Aku muncul di belakang monster lumpur dan dia menyadarinya. Wajahnya yang panik dapat terlihat dari ketiga lubang di wajahnya yang bergetar tak karuan. Apa dia benar-benar monster level 60an?


"Ya sudahlah, [Eater]"


Benar. Ini adalah caraku mengalahkannya. Aku akan memakannya hidup-hidup. Gerakannya lambat, juga ketika dia mencoba mendekatiku, aku hanya tinggal menebasnya dengan sabit. Bisa dibilang ini adalah EXP gratis bagiku.


"Kryekhkh!!!"


Wah. Dia bersuara, bahkan berteriak. Suara yang cukup memekakkan telinga dan membuat party itu ketakutan. Tenang saja, tenang saja, Pak Pedang Besar dan kawan-kawannya. Kondisi di sini semuanya terkendali.


"Selamat makan."


Dan aku pun mulai memakannya. Rasanya, yah ... tidak enak. Teksturnya yang tidak keras, tapi juga tidak cair membuatnya menempel di langit-langit mulut, gigi, dan bawah lidah. Lagipula apa juga yang aku harapkan dari rasa seonggok tanah. Aku harusnya bersyukur karena setidaknya ini tidak beracun dan tidak membakarku seperti saat memakan Neigh.


Aku terus memakannya dan ketika dia mencoba menyerang dan menghisapku, aku langsung menebasnya dan lanjut memakannya. Makan, diserang, menebas, lalu makan lagi, begitu terus sampai ke bagian wajahnya yang penuh ekspresi tidak luput dari sasaranku.


Setelah hampir menghabisi semuanya, aku menemukan sesuatu yang tidak seperti lumpur. Benda ini berada di dalam 'kepala' dari monster lumpur. Bentuknya seperti kristal dan transparan, aku juga bisa merasakan energi sihir dari dalam situ.


"Ini pusat kehidupan monster lumpur, ya?" gumamku. Aku memutarnya dan memperhatikannya dengan baik. "Aum!" Dan aku juga memakannya.


Setelah memakannya, monster lumpur itu langsung jatuh ke lantai lemas seakan tidak bernyawa. Jadi itu benar-benar pusat kehidupannya, ya? Aku rasa aku berhasil mengalahkannya. Pekerjaanku jauh lebih mudah karena [Dark Domain] mencegahnya untuk kabur. Skill yang cukup berguna.


[Berhasil mengalahkan The Ancient Monster of The Lake, Lasponero Limnis]


Skip!


Aku akan mendengarkan itu nanti. Sekarang ada hal yang lebih penting dari itu.


Aku kemudian menonaktifkan [Dark Domain] lalu juga membuka penutup mata keempat orang ini. Mereka memicingkan matanya menyesuaikan dengan sinar matahari dan kemudian terkejut ketika melihatku.

__ADS_1


Ya ... mari kita lihat, manusia seperti apa yang ada di dunia ini.


__ADS_2