
[Level Anda Meningkat Dari Lv. 52 Menuju Lv. 60]
Levelku naik delapan level. Pada kondisi normal aku akan menganggap kalau itu adalah kenaikan yang mengagumkan, tapi dengan apa yang terjadi padaku saat ini, aku merasa kalau pertukaran lukaku dengan delapan level itu sangat tidak adil.
[Abyss of Banishment] perlahan menghilang seperti tersedot ke dalam tanah dan meninggalkan padang tanpa rumput biasa. Klon Naga Gaia juga ikut menghilang dari sana.
Meskipun terlihat seperti pasir hisap hitam yang basah, tapi sebenarnya [Abyss of Banishment] adalah pintu dimensi buatanku yang menjebak mereka ke dalam [Dark Domain] hampa udara dan tanpa cahaya.
Selama ini, aku selalu mengatur komposisi oksigen dan udara agar aku bisa bernafas di dalamnya. Karena saat pertama kali masuk ke dalamnya, aku hampir mati kehabisan nafas. Aku baru tahu kalau aku harus mengaturnya sebelum membuatnya.
Ngomong-ngomong, keadaanku sangat kacau sekarang. [Shadow Construct] pada kedua lenganku menghilang karena MP yang menipis. Hanya menyisakan Skill [Clairvoyance] yang membantuku melihat saat ini— bahkan Skill itu sudah mulai mengurang efeknya dan aku tidak bisa merasakan dan melihat secara jelas.
Aku menang. Yah ... aku bisa mengatakan hal itu dengan kebanggaan di dadaku. Maksudku, sebutkan manusia di dunia ini yang bisa menang melawan tiga ribu naga sendirian? Ayo, aku menunggu. Kalian tidak tahu? Sudah menyerah? Aku tidak bisa menyalahkan kalian, karena memang jawabannya tidak ada.
Meskipun kubilang aku bangga bisa menang— tidak ada keraguan dalam hatiku, tapi masalah sebenarnya belum hilang.
Aku mencoba mengangkat wajah penuh luka dan kedua mata yang tertutup ini. Di depanku terdapat kadal sepanjang 100 meter yang selama hampir tiga jam melihatku dan hanya sekali menyerang, yaitu saat menghembuskan nafas api yang langsung menyapu bersih seribu [Shadow] milikku.
Aku menyadari kalau dia masih diam dan memandangiku. Apa ini? Apa dia jatuh cinta padaku atau bagaimana? Tidak, tidak, aku tidak mau menikah dengan naga di dunia ini, okey? Meskipun aku pernah baca manga tentang gadis yang menikahi naga— itu juga naganya adalah bekas manusia. Jadi itu tidak akan terjadi!
Lalu apa yang dia lakukan?
Jika dia marah dan ingin membunuhku, dia dapat dengan sangat mudah untuk melakukannya. Aku tidak mengerti jalan pikirannya— yah, aku memang tidak pernah mengerti, sih.
"Setelah ini apa?"
Eh?
Mungkin aku gila karena aku mendengar ini, tapi barusan naga itu berbicara padaku, kan? Dia memberikan gestur membuka mulutnya sedikit yang semakin membuatku yakin. Dan juga, suaranya sangat berbeda dengan suara sistem yang feminim tapi dingin. Suara Naga Gaia memang juga perempuan— aku bahkan baru tahu kalau dia ini betina, tapi dia lebih bergema dan menggelegar menyebar ke seluruh dimensi ini.
"Kau ... bisa bicara?" tanyaku ragu.
"Aku adalah makhluk yang telah hidup selama ribuan tahun lalu dan diciptakan langsung oleh para Dewa. Tentu saja aku bisa bicara." Ah ... aku lupa kalau ini dunia fantasi. Tentu saja seekor naga sebesar seratus meter bisa bicara.
"Maksudku, kenapa kau tidak bicara dari tadi?"
"Aku sedang memperhatikanmu, manusia. Memperhatikan usaha sia-sia yang kau lakukan sampai mengorbankan anggota tubuhmu dari tadi. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan di sini? Dan lagi ... bagaimana caranya kau bisa masuk kesini?"
Pertanyaan terakhirnya seharusnya mudah aku jawab. Karena ada Dewi sialan yang tiba-tiba saja memindahkanku ke sini. Tapi aku tidak yakin kalau dia akan percaya ceritaku begitu saja, terlebih lagi dia seperti sangat meremehkan manusia.
Bahkan dari tindakan sebelumnya pun aku tahu, kalau dia sama sekali tidak serius. Dia hanya menyerangku satu kali dan setelah itu membiarkanku bermain-main dengan klonnya— jika kau ingin menganggap hal tadi sebagai permainan.
Tapi dia benar-benar tidak bersungguh-sungguh membunuhku. Meskipun aku sudah mengeluarkan semua yang aku punya. Terasa menyebalkan tapi mau bagaimana lagi.
"Kenapa kau tidak menjawabku?"
Ups. Saking sibuknya dengan pikiranku, aku sampai lupa dengan pertanyaannya. Apa aku harus menjawabnya dengan jujur? Atau bagaimana? Tapi tidak ada jaminan jika dia percaya.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya padamu ...." Aku malah balik bertanya padanya.
"Huh?"
"Apa sebelumnya ada manusia yang pernah datang ke dimensimu sebelumnya?"
"Aku tidak ingat. Aku bahkan jarang berinteraksi dengan manusia, mereka terlalu rendahan untuk aku ingat. Beberapa dari mereka memujaku sebagai dewa pelindung, bahkan sampai membuatkan kuil khusus untukku. Itu adalah ciri-ciri makhluk lemah yang selalu berlindung dibalik punggung orang lain. Aku membencinya."
Kalian dengar itu, para pemuja Naga Gaia? Dewa yang kalian puja membenci kalian, lho. Apa Dewa seperti ini yang ingin kalian jadikan tempat meminta dan berserah diri?
Dia adalah Tipikal makhluk luar biasa yang selalu merendahkan hal-hal kecil yang tak setara dengannya. Lumayan mudah diingat.
"Jadi benar-benar tidak ada manusia yang kau ingat?"
"Hmm ...?"
__ADS_1
Dia terdiam berpikir. Jangan-jangan memang ada orang seperti itu. "Sepertinya aku tahu satu orang." Beneran ada?!
"Manusia lain menyebutnya 'Pahlawan', 'Harapan Terakhir Manusia', 'Perwakilan Manusia', dan sebagainya. Aku tidak mengingat wajah ataupun namanya, tapi jika aku merasakan keberadaan dan auranya, aku tahu kalau dia adalah 'Pahlawan'."
Perasaan ngeri berjalan di tulang belakangku dan bulu kudukku seketika berdiri. Dia mengatakannya dengan nada yang kalem dan serius. Naga Legendaris Gaia yang bahkan memandangku— orang yang membunuh ribuan klonnya setengah mata, kini berbicara tinggi pada manusia berjuluk 'Pahlawan' itu.
Sebenarnya ... seberapa hebatnya orang itu? Sudah kuputuskan, bagaimana pun caranya, aku harus selamat dari sini dan bertemu dengan orang itu.
"Pembicaraan kita jadi melenceng. Manusia, kau belum menjawab pertanyaanku."
"Ahh ... kau benar. Caraku masuk kesini sangat mudah, Dewi Loki memindahkanku kesini secara tiba-tiba dan—"
"Tunggu!"
"A-apa?" Aku terkejut karena dia tiba-tiba berteriak. Suaranya yang sudah keras jadi lebih keras lagi.
"Kau bilang Dewi Loki?! Dewi busuk itu?!"
"Hehehe .... Ternyata kita satu frekuensi. Aku juga sering memanggilnya 'Dewi Sialan'."
"Bagaimana caranya kau bisa berbicara dengan Dewi buruk rupa, menjijikan, kotor, nan pembawa masalah itu?"
"Wow ... okey, sepertinya kata-katamu berlebihan. Apa dia memang seburuk itu?"
"Buruk? Buruk, katamu?! Dia melebihi kata-kata buruk yang bisa kau bayangkan! Penciptaku yaitu Tuan Bellerofon bahkan sangat membencinya sampai ke tahap bahwa ia akan membunuh siapapun orang yang berinteraksi dengan Dewi kotor itu!"
Okey, okey. Sepertinya pembicaraan ini sudah saaangat jauh melenceng dari yang aku kira. Kebenciannya terhadap Dewi Loki sepertinya juga terlihat terlalu jelas. Nampaknya aku sudah tidak bisa mengulur waktu lebih lama dari ini.
Naga Gaia bisa bicara adalah diluar dugaan, tapi mengulur waktunya masih sesuai rencana. Meskipun tidak maksimal, tapi aku merasa kalau ini sudah cukup karena [Mana Regeneration] dan [Health Regeneration] masing-masing sudah naik ke Lv. 8.
"[Shadow Construct : Right & Left Hand]" Aku kemudian berdiri dan sembari berdiri, kedua tanganku kembali berkat Skill [Shadow Construct]. Tidak perlu dilapisi kulit, cukup elemen kegelapan yang masih memercikkan partikel-partikel sudah cukup bagiku.
Justru kini aku mengarahkan telapak tanganku ke kedua mataku dan bertahan di sana cukup lama. "[Healing]" Yap. Ini juga penting. Karena [Clairvoyance] tidak perlu untuk melakukan semua hal, tapi hanya berfokus untuk hal yang lebih kompleks dan spesifik daripada hanya untuk melihat.
Baiklah, semuanya sudah siap.
"Tentu saja! Kau yang sudah masuk ke dimensiku tanpa izin dan sekarang terbukti sudah berinteraksi dengan Dewi kotor! Kau pantas mati!"
"Hadeh .... Dewi itu selalu saja membawa masalah untukku, baik secara langsung maupun tidak," gumamku.
Kini Naga Gaia yang menyerang duluan. Tidak menunggu waktu lama, dia langsung menyemburkan bola api ukuran raksasa tepat langsung ke arahku. Ditambah lagi, dia mengepakkan sayap besarnya yang menciptakan angin dan mengacak-acak bola apinya sendiri, tapi membuatnya membelah lalu menyebar.
"Gawat! [Dark Domain]"
Aku membuat [Dark Domain] datar di bawah kakiku dan langsung meluncur masuk ke dalamnya. Aku bisa mendengar dentuman api dengan tanah yang sangat keras terjadi di luar sana.
Apa itu berarti dimensi buatanku dekat dengan dimensi buatan Naga Gaia, ya? "Woo ...! Wuooh ...!" Tapi aku tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir, karena getaran yang belum pernah aku rasakan sebelumnya di dimensiku terjadi saat ini.
"A-apa yang terjadi?!" tanyaku panik.
"Siapa yang menyuruhmu untuk kabur?! Kembali kesini!"
Naga Gaia menghantamkan kakinya ke tanah dan seketika dengan satu dentuman itu, aku langsung keluar dari dimensi [Dark Domain] dan terduduk bingung di atas tanah hitam bekas bakaran nafas api Naga Gaia.
"Eh? Hah? Bagaimana bisa?!"
"Kau sudah ditakdirkan mati di sini! Aku sendiri yang menjamin hal itu, jadi tidak perlu repot-repot melawan!"
"Memangnya siapa kau menentukan kematianku seenak kepalamu?!"
"Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah tahu kalau ada yang salah denganmu. Tidak mungkin ada manusia lemah yang dapat bertahan di Hutan Jinnestan, daerah kekuasaanku. Tapi kau beruntung saat itu karena ada hewan pemberani yang menukarkan nyawanya dengan nyawamu!"
Sekarang kita membicarakan pertemuan pertama kita? Aku saat itu memang tidak tahu apa-apa karena baru berpindah dunia, tapi sejak awal ditatap rendah seperti itu olehnya, aku sudah menentukan tujuan pertamaku di dunia ini.
__ADS_1
Aku mengarahkan kepala sabitku ke arah Naga Gaia yang sedang berbicara. "Aku akan membunuhmu, Naga Legendaris Gaia. Karena itu adalah tujuan pertamaku di dunia ini!" ucapanku serius kali ini.
[Quest Dadakan Dimulai]
[Kalahkan The Legendary Dragon, The Goddess of Gaia Religion, The Pet of Bellerofon, Gaia]
[Tingkat Kesulitan : Sangat Sangat Tidak Waras]
[Reward : ???]
Lekukan tercipta di ujung bibirku. Seperti biasa kau lambat sekali, Sistem. Tapi inilah yang aku tunggu-tunggu, itu berarti aku masih memiliki kesempatan untuk mengalahkannya. Meskipun 'Tingkat Kesulitan' yang tertulis di sana membuatku sedikit merinding.
Maksudku, apa-apaan tingkat kesulitan 'Sangat Sangat Tidak Waras' itu, woi?! Apa memang benar-benar ada makhluk dengan tingkat kesulitan seperti itu di dunia ini?! Ini gila! Ini terlalu gila!
"Kau berkepala besar, manusia. Apa yang akan kau lakukan kepadaku jika Klon-ku saja sudah cukup untuk merepotkanmu?"
"Dan kau terlalu banyak bicara. Jangan meremehkan manusia yang tidak berguna ini. Aku akan membuatmu mengingat namaku."
"Sudah cukup!"
Naga Gaia mengangkat tangannya lalu menebaskannya di udara, menciptakan hembusan angin tajam yang membelah apapun yang dilewatinya, kini bergerak dengan cepat ke arahku.
Tapi aku masih tenang. Aku keluar dari kuda-kudaku dan berdiri tegak bersama sabitku. Lalu ketika angin tajam itu datang, aku maju ke depan dan dengan tubuh rampingku aku bisa menyelip masuk ke tengah-tengah sana dan keluar tanpa luka.
"[Rot]" Selain itu, aku mengaktifkan Skill [Rot] pada sabitku dan menebas setengah lingkaran secara horizontal pada angin tajam kedua yang datang. Angin tajam itu langsung menghilang dan menabrakku hanya dengan angin sepoi-sepoi.
Skill [Rot] selain dapat 'membusukkan' benda padat, juga dapat digunakan pada benda cair dan gas. Makanya tebasan angin yang kedua tidak mengenaiku, karena aku sudah terlebih dahulu menghancurkannya dengan [Rot].
Setelah itu, aku langsung melesat ke depan mendekati Naga Gaia. Dia tetap mencoba untuk menebasku berkali-kali, tapi itu masih tidak berhasil dan pada akhirnya aku sampai ke tubuh besarnya. Aku berhasil mendarat di bagian punggung tubuh besarnya itu.
"Saatnya membalaskan tangan dan mataku!"
Aku menebaskan sabitku yang sudah dilapisi oleh Skill [Rot]. Tapi aku sudah menduganya, kalau tebasan itu tidak akan berpengaruh banyak pada kulitnya.
"Apa yang kau lakukan di sana?! Cepat turun!" ucap Naga Gaia kesal.
Itulah beberapa kelemahan memiliki tubuh yang kelewat besar, kau tidak bisa meraih seluruh tubuhmu. Naga Gaia mencoba mengepak-ngepakkan sayapnya dengan kasar dan kuat, tapi aku juga memiliki cara untuk bertahan.
Aku dengan sekuat tenaga mencoba membuat lubang kecil dengan gabungan Skill [Rot] dan [Dark Wave], baru setelah itu ujung sabitku bisa menancap di sana dengan cukup kuat. Bahkan klon-klon baru yang mencoba menyerangku malah tersapu oleh kepakkan sayap besar Naga Gaia.
Setelah lima menit bertahan, akhirnya kepakkan sayapnya berhenti. Sepertinya dia juga sudah menyadari kalau hal itu sudah tidak berguna melawanku. Tapi hal yang sama juga berlaku padaku. Benar. Jika aku sangat kesulitan bahkan dalam melukainya, bagaimana caranya aku membunuhnya?!
Sambil berpegangan pada sabit yang masih menancap pada kulit keras Naga Gaia, aku berpikir keras. Memaksa otak yang hanya dipakai untuk belajar ini dalam merancang strategi.
"Ah! Aku tahu!"
Aku berhasil memikirkan sebuah cara. Sebuah cara yang lagi-lagi terdengar gila tapi patut untuk dicoba. Aku memang sudah akrab dengan rencana gila buatanku sendiri, tapi sepertinya ini adalah yang paling gila.
Aku mencabut sabit yang menancap di kulit kerasnya. Kini Naga Gaia masih menunggu tentang apa yang akan aku lakukan, sepertinya dia cukup tenang karena percaya diri pada kulit sisiknya yang keras.
"Yosh!" Aku sudah siap.
Lalu setelah itu, aku melangkahkan kakiku melesat menuju ke leher dan kepala Naga Gaia. Jarak yang perlu aku tempuh cukup jauh padahal hanya dari punggung ke kepalanya saja.
Dan setelah itu, aku melompat dari atas kepala menuju ke depan wajahnya. Membuat lagi-lagi mata kami bertatapan, tapi kali ini dengan jarak yang jauh lebih dekat.
Terkadang, jika manusia dalam keadaan panik, semangat, atau terlampau senang, dia akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang-orang normal. Dan itu yang aku lakukan sekarang.
Naga Gaia kembali membuka mulutnya dan ingin mengeluarkan nafas apinya lagi. Tapi hal itu memakan waktu, untuk mengumpulkan api sebesar itu tentu saja butuh waktu. Dan aku akan memanfaatkan waktu yang sempit itu untuk masuk ke dalam tubuhnya.
Benar. Kalian tidak salah dengar. Rencana yang aku pikirkan dari tadi adalah dengan masuk ke dalam tubuhnya.
"Ini dia! Geronimo!"
__ADS_1
Meskipun hawanya sangat panas karena Naga Gaia ingin menghembuskan nafas api, tapi aku berhasil melewati nyalinya dan meluncur mulus di dalam tenggorokannya.
Aku berhasil masuk ke dalam tubuh Naga Gaia.