Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 1.17 : Mengalahkan Naga Gaia


__ADS_3

Okey.


Sekarang apa?


Aku baru saja melakukan hal gila. Maksudku, orang waras mana yang secara sadar masuk ke dalam perut naga yang mengeluarkan api dari mulutnya! Dan terlebih lagi, naga yang aku masuki adalah naga legendaris!


Ngomong-ngomong, sepertinya saat ini aku berada di dalam lambungnya. Ada cairan kuning dan beberapa tulang belulang yang belum tercerna secara sempurna mengambang di sini, sementara aku sendiri naik ke atas sebuah tulang rusuk yang masih tersusun agar tidak menyentuh cairan lambung itu.


Meskipun Naga Gaia mengeluarkan nafas api, secara mengejutkan di dalam tubuhnya cukup sejuk— walaupun cairan asam lambungnya bisa langsung melelehkanmu.


Aku bisa mengambil kesimpulan kalau api yang dihasilkan Naga itu terbuat dari Mana yang ia kumpulkan di sekitar nyalinya, lalu disemburkan dalam jumlah yang banyak lewat mulut.


"Uwoo ...!"


Saat aku sedang menjelaskan yang sedang terjadi, tiba-tiba getaran seperti gempa terjadi dan hampir membuatku terjatuh dari tempatku berpijak. Walaupun besar, tapi sebenarnya itu hanyalah aktivitas perutnya yang sedang memproses sesuatu.


Kalau tidak salah namanya gerakan periskop? Perisai? Staltik? Ah! Pokoknya tidak jauh-jauh dari itu! Aku sudah tidak terkejut lagi dengan hal itu karena gempa ini sudah terjadi beberapa kali sejak aku masuk ke sini.


"Dan sekarang, apa yang harus aku lakukan?"


Aku bisa saja menyerang dengan menggunakan [Dark Wave] atau serangan-serangan kecil lainnya, tapi aku tidak yakin kalau itu akan berpengaruh besar padanya.


Malah yang aku khawatirkan, serangan kecil itu hanya akan membuat perutnya sakit dan membuatnya melakukan pembuangan. Yang akhirnya membuatku berakhir bau dan kotor— kalian tentu saja tahu apa yang aku maksud, dan aku tidak ingin diriku yang tampan dan bersih ini harus melewati hal seperti itu.


Aku membentuk tanda 'X' dengan tanganku yang menandakan kalau serangan-serangan kecil adalah 'NO' besar. Aku tidak ingin mengambil resiko. Sudah cukup dengan diriku yang menderita, aku belum menunjukkan sisi kerenku selama pertarungan ini.


Tapi jika menggunakan serangan besar .... Aku hanya punya [Abyss of Banishment] dan [Whip of Judgement] yang masing-masing memakai lima puluh persen dari keseluruhan manaku.


Aku mengintip pada layar interface statusku. Sisa MP yang aku miliki saat ini hanya 75% dan cukup untuk satu serangan besarku. Tapi bagaimana jika itu tidak berhasil?! Bagaimana jika aku sudah mengeluarkan banyak mana dan malah gagal total?!


"Argh! Pusing, pusing, pusing!"


Aku menjatuhkan diriku pada tulang rusuk yang membuatnya tidak seimbang, beruntung aku tidak jatuh. Kebiasaan overthinking ini benar-benar harus aku hilangkan, sialan!


Benar. Kau harus tenang, Arka. Tarik nafas, keluarkan, tarik nafas, keluarkan. Setelah mengatur pernafasanku berkali-kali, akhirnya aku bisa sedikit lebih tenang.


Dan agar lebih tenang lagi, aku memiliki kebiasaan untuk membuka layar statusku lalu melihat Skill-Skill yang aku miliki, entah kenapa hal ini bisa membuatku tenang. Meskipun sudah lama aku tidak melakukannya.


Ini semua karena Dewi sialan itu yang tidak memberikanku istirahat! Setelah melawan monster lumpur, aku harus langsung melawan Naga Legendaris. Perbedaan kekuatannya terlalu jauh, oi!


"Baiklah, baiklah. Mari kita tenang lagi."


Skill yang aku miliki sudah lumayan banyak. Selain Skill aktif yang sering aku gunakan, aku memiliki lebih banyak Skill pasif. [Weapon Mastery], [Health Regeneration], [Mana Regeneration], dan yang lainnya. Tapi Skill yang paling tinggi levelnya adalah [Cooking Lv. 10]. Entah sejak kapan bisa jadi setinggi ini, tapi setelah aku memiliki Skill ini, bahan makanan yang aku masak selalu menjadi luar biasa enak.


"Eh? Apa ini?"


[Infinity Lv. 1]? Aku tidak merasa kalau aku pernah memiliki Skill ini sebelumnya. Apa ini aku dapatkan saat mengalahkan 3000 klon Naga, ya? Ngomong-ngomong, aku langsung membaca penjelasan Skill-nya dan membuat mataku melebar terkejut.


"Ya-yang bener aja?!"


Ini dia. Ini dia yang akan aku gunakan untuk mengalahkan Naga Gaia! Dan Skill [Infinity] ini juga tidak bisa sendiri. Kemampuannya hanya terbatas pada Skill saja dan tidak bisa diaplikasikan pada benda nyata, tapi untuk sekarang itu sudah cukup.


Aku berdiri dengan semangat pada platform tulang rusuk yang tak kokoh ini, lalu merapatkan tanganku seperti orang yang sedang berdoa. Aku memejamkan mataku dan mencoba berkonsentrasi.


"[Abyss of Banishment]"


Aku kemudian memasukkan tanganku ke dalam cairan asam lambung. Bunyi 'csshh' membuktikan kalau cairan ini memang membakar tanganku dan membuatku meringis, tapi aku akan menahan rasa sakitnya untuk sementara waktu.


Setelah beberapa saat, akhirnya aku mengeluarkan tanganku. Sampai pergelangan tanganku melepuh dan kulitnya mengelupas, tapi berkat itu [Abyss of Banishment] berhasil mulai menyebar.


Aku melihat kalau [Abyss of Banishment] menyebar di keseluruhan dinding lambung ini. Namun, itu berhenti ketika sedikit lagi melapisi seluruh dinding lambung. Aku tahu kalau hal ini tidak bisa bergerak terlalu jauh di dalam tubuh Naga Gaia.


Oleh karena itu, akan aku tambahkan Skill ini! "[Infinity] !!"


[Abyss of Banishment] mulai bergerak menyebar lagi. Yosh! Ini benar-benar berhasil! "Wuoo ...!" Gempa kembali terjadi, tapi kali ini lebih keras dari yang tadi. "Haha ...! Apa kau merasakannya, Naga Gaia?! Rasanya dicerna secara perlahan dari dalam?!" teriakku.


[Syarat Penciptaan Skill Baru Telah Diraih, Silahkan Beri Nama Skill Tersebut]


Ujung bibirku terangkat. Ternyata ini membentuk sebuah Skill baru, ya? Untungnya aku sudah memikirkan nama Skill yang akan menyebarkan keputusasaan ini, bahkan pada Naga legendaris sekalipun.


"Teruslah menyebar ... [Abyss of Desperation]"


Aku melihat sebuah lubang di dinding atas lambung dan melesat dengan cepat ke sana untuk keluar dari sini.

__ADS_1


"A-apa yang terjadi?!! Rasanya seperti dimakan dari dalam!"


Di luar, Naga Gaia sedang gelisah, kesakitan, dan tersiksa karena aku ******* organ tubuhnya dari dalam. Dan penyiksaannya semakin bertambah ketika lubang tercipta dari kulit kerasnya dan aku melompat keluar dari sana lalu kembali melompat ke depan wajah Naga Gaia.


"Yahoo." Aku menyapanya dengan ramah.


"Kau! Apa yang telah kau lakukan?!"


"Oh tidak ada, aku hanya sedang memakanmu saja."


"Apa?!" Naga Gaia bersiap mengeluarkan semburan api dari mulutnya lagi. Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu, aku mengarahkan telapak tangan kananku ke arah wajahnya.


"[Infinity]! [Infinity]! [Infinity]! [Infinity]! [Infinity]! ...."


Aku melakukan Skill [Infinity] secara terus menerus dan tidak memberinya kesempatan, dan hal itu terbukti berhasil ketika ia meringis kesakitan dan konsentrasinya dalam mengumpulkan mana pada semburan apinya jadi terganggu.


"[Infinity]!"


CRAAASHH...


Darah menyembur keluar dari hidungku. Aku lagi-lagi terlalu memaksakan diriku. Tapi jika itu membuatku bisa mengalahkannya, aku akan melakukannya terus menerus sampai dia kalah!


Pengeluaran Skill [Infinity] ku sedikit terganggu karena mimisan dan gemetaran di tubuhku kembali terjadi. A-aku tidak akan berhenti begitu saja. Dengan kedua tangan dari [Shadow Construct] yang sudah hampir tidak berbentuk, aku mencoba terus mengarahkannya ke wajah Naga Gaia.


"I ... [Infinity]!"


CRAAASHH...


Kali ini bukan hanya dari hidung, mulutku juga ikut mengeluarkan darah. Tapi Naga Gaia juga tidak dalam kondisi yang baik, hampir 50% tubuhnya telah tertutupi [Abyss of Desperation]. Aku hanya perlu melakukannya sedikit lagi ... sedikit lebih lama lagi.


"Kau akan menyesali ini, manusia!"


"Aku punya nama, sialan! Namaku Arka Wijayakusuma! Sebaiknya kau ingat itu baik-baik, karena nama itulah yang akan membunuhmu! [Infinity]!"


KRAAKH...


Selain membuatku mengeluarkan darah terus menerus, menggunakan Skill juga ternyata dapat mematahkan tulang di dalam tubuhku. Tapi aku tidak akan berhenti, ini adalah pertarungan fisik, stamina, dan mental. Aku tidak akan berhenti bahkan jika harus mematahkan setiap tulang yang ada di tubuhku!


"[Infinity]!"


Dua sayap Naga Gaia yang biasanya membentang lebar kini jatuh ke tanah, karena [Abyss of Desperation] telah mencerna tulang penghubungnya.


Lalu setelah sepuluh menit kemudian berlalu, proses pencernaan sudah mencapai tahap 90% dan hanya tinggal menyisakan leher dan kepala yang kemudian juga jatuh ke tanah.


Aku yang juga sudah menghancurkan hampir seluruh tulang di tubuhku juga jatuh tengkurap di tanah, di depan kepala Naga Gaia.


"Kau benar-benar ... melakukannya, manusia. "


Oh? Naga Gaia ternyata masih bisa berbicara meskipun hanya menyisakan kepala dan lehernya yang terus menerus tercerna.


"Ahakh! Ahakh!" Aku juga ingin menjawabnya, tapi sebelum itu aku malah batuk darah terlebih dahulu. "Sudah kubilang, bukan? Aku datang kesini untuk membunuhmu. Dan juga, aku punya nama."


Hening terjadi antara kami berdua. Seolah menunggu kematian yang sudah pasti bagi Naga Gaia, ia terus memperhatikan diriku yang sekarat ini.


"Apa kekuatanmu ... berasal dari Dewi busuk itu?"


"Tidak, aku tidak terlalu mengandalkannya. Aku melakukannya dengan kekuatanku sendiri. Meskipun aku tidak memungkiri kalau Skill [Rot] sepertinya berasal dari dirinya."


"Manusia— tidak ..., Arka. Akan aku ingat nama itu."


Setelah itu, dia tercerna secara sempurna. [Abyss of Desperation] benar-benar melakukan pekerjaannya dengan baik.


[Berhasil Mengalahkan The Legendary Dragon, The Goddess of Gaia Religion, The Pet of Bellerofon, Gaia]


[Level Anda Meningkat Dari Lv. 60 Menuju Lv. 100]


[Mendapatkan Titel Baru : God Slayer, Dragon Slayer]


Skip.


Aku sedang tidak ingin mendengarnya. Tujuanku kesini memang ingin membunuhnya dan aku berhasil melakukannya, tapi kenapa perasaanku sekarang terasa hampa?


Bersamaan dengan kematian Naga Gaia, dimensi ini juga perlahan hancur dan menghilang. Tanah tempatku tengkurap pun juga menghilang dan aku jatuh bebas ke tanah dan mendarat di pinggir danau.

__ADS_1


Sepertinya dimensi Naga Gaia tidak terlalu jauh dengan tempatku di teleportasi, makanya aku bisa jatuh di sini. Tapi itu tidak penting lagi, untuk sekarang aku mau tidur dan memulihkan HP dan MP-ku terlebih dahulu.


Aku pun memejamkan mataku dan ....


"Kau benar-benar memberiku hiburan yang menarik, Arka." Tiba-tiba seseorang datang menggangguku yang ingin istirahat, dan orang itu adalah yang paling tidak ingin aku temui saat ini. Yaitu Dewi Loki.


"Apa maumu?"


"Dingin sekali, padahal aku datang hanya ingin memberi selamat atas kemenanganmu."


Suaranya berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya dia seperti berbicara dari telepon, tapi sekarang seolah dia berada di depanku. Aku mencoba mendongak dan melihatnya, tapi ia menahan ubun-ubunku dengan telapak sepatunya.


"Nope, nope, aku sarankan kau tidak melihat ke atas. Karena aku malu kalau seseorang melihat wajah asliku secara langsung. Mari kita lanjutkan seperti ini saja."


Ternyata benar dia ada di sini! Tapi berbicara seperti ini entah kenapa cukup aneh, seperti seorang majikan berbicara pada hewan peliharaannya.


"Heh~ Apa wajahmu seburuk itu sampai kau sendiri malu?"


"Kau bisa menganggapnya begitu. Dewa-dewi lain juga bilang seperti itu, Gaia juga bilang begitu, kan?"


"Iya. Jadi, kau benar-benar datang kesini hanya untuk memberiku selamat? Kau luang sekali sebagai seorang Dewi."


"Tidak apa-apa, kan? Apa salahnya mengunjungi hiburan terbaikku dan memberinya sedikit kesenangan." Lagi-lagi dia menganggapku sebagai tontonan penghilang rasa bosannya. "Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa rencanamu untuk ke kota manusia belum berubah?" lanjutnya.


"Ya, aku bisa mati penasaran jika tidak segera kesana."


"Sedikit peringatan saja, kau bisa membuat kehebohan dengan levelmu yang sekarang di sana. Aku sarankan untuk menyembunyikan levelmu yang sekarang."


"Benarkah? Aku pikir menjadi kuat bukanlah hal yang perlu ditutup-tutupi."


"Itu memang benar, tapi beda cerita jika kau menjadi terlampau kuat."


"Apa-apaan itu, kau mengkhawatirkanku? Menjijikkan sekali."


"Itu hanya saran, aku tidak memaksamu untuk menurutiku. Malahan aku menunggu apa yang akan kau lakukan selanjutnya."


Apa dia benar-benar Dewi busuk kotor seperti yang Naga Gaia bilang? Aku merasa kalau dia tidak seburuk itu. Meskipun aku tidak boleh tertipu dengan ucapannya. Tapi setidaknya, aku akan mencoba mendengarkan sarannya.


"Baiklah, aku mengerti."


"Kau menerima saranku?"


"Akan aku pikirkan lagi nanti. Dan juga, satu hal lagi ...." Aku menepis kakinya yang berada di ubun-ubunku dan berdiri menatapnya— ternyata lebih mudah dari yang aku duga.


Dia juga memakai hoodie putih bersih khas medieval yang menutupi hampir keseluruhan wajahnya. "... Aku akan mengembalikan Skill [Blessing of God] kepadamu."


Seperti yang aku bilang pada Naga Gaia sebelumnya, aku tidak ingin terlalu mengandalkannya. Levelku yang sekarang seharusnya sudah cukup untuk bertahan hidup di dunia ini, jadi aku tidak terlalu membutuhkan bantuannya lagi.


"Kau yakin?" tanyanya.


"Aku yakin."


Wajahnya memang tertutup, tapi aku bisa melihat senyumnya mengintip keluar dari sana.


SWUUUSHH...


Tiba-tiba, angin yang cukup besar berhembus ke arah kami berdua dan secara tidak sengaja meniup kupluk Hoodie yang dipakai oleh Dewi Loki dan memperlihatkan wajahnya.



"Kau memang benar-benar ... tontonan yang sangat menarik, kau tahu?" ucapnya.


Wajahnya terlihat. Dan dia ... tidak buruk rupa. Apanya yang buruk rupa?! Ini mah kelewat cantik, woi! Aku tidak tahu apakah para Dewa Dewi punya mata, tapi tidak ada unsur buruk rupa dari wajahnya sama sekali. Bahkan membuatku pipiku saat ini memerah.


"Ternyata memang memalukan harus menunjukkan wajahku pada manusia secara langsung."


"Ma-maaf." Aku memalingkan wajahku. Sepertinya aku terpana cukup lama menatapnya.


"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu yang itu. Dan untuk mempermudah perjalananmu di kota yang baru, aku akan melakukan sesuatu atas keinginanku sendiri."


"Apa?"


Tiba-tiba penglihatanku menjadi buram dan kesadaranku perlahan menghilang. Yang terakhir aku lihat adalah wajah dari Dewi Loki.

__ADS_1


Setelah aku pingsan, Dewi Loki melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui dan kemudian merapalkan Skill kepadaku. "[Teleportation]"


__ADS_2