Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 2.3 : Membuat Keributan Di Guild Petualang


__ADS_3

Oi, dia beneran jengkel, tuh. Bukankah kalian sudah sedikit berlebihan?


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sekarang aku harus melakukan sesuatu, kan? Tidak mungkin aku diam saja, kan? Tapi apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membuat perasaan wanita penyihir ini menjadi lebih baik sekaligus memberi pelajaran orang-orang tidak sopan itu?


Ah! Aku tahu!


Aku menarik lengan pakaian penyihir wanita yang sedang jengkel dan tenggelam dalam lamunannya sendiri itu, lalu ia pun tersadar dan cukup terkejut ketika aku melakukan hal itu.


"A-ada apa?" tanyanya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi apa kau tahu di mana aku bisa mendaftar menjadi petualang?"


Aku bertanya dengan polos kepadanya, membuat seolah aku tak peduli pada apa yang sedang dia rasakan. Lagipula aku hanya seorang anak kecil di sini, jadi aku masih polos dan tidak paham dengan masalah-masalah rumit yang dia alami— yah ..., ceritanya begitu.


"Hah?! Apa kau tidak bisa sendiri? Lagipula ...." Matanya melirik ke arah orang-orang— yang sepertinya para petualang lainnya, dengan tatapan tajam. "... Aku tidak suka berada di sini lama-lama," lanjutnya.


Sepertinya aku sedikit mengerti dengan apa yang dia rasakan. Menjadi pusat perhatian orang-orang saat kau berdiri di depan mereka dan ditertawakan, tentu saja rasanya tidak enak sekali.


Kebanyakan dari mereka adalah pria dewasa dengan otot-otot yang garang dan terbentuk. Ada juga orang dengan tubuh yang tidak terlalu berotot, tapi memiliki tongkat sihir yang menandakan kalau dia adalah seorang penyihir.


Tapi ada juga sih kumpulan orang yang tidak peduli dengan kami dan sibuk dengan urusannya sendiri, makan misalnya.


"Sudahlah, ayo! Aku tidak mengerti jika harus membuatnya sendiri."


Aku menarik tangannya dengan paksa ke arah meja resepsionis. Sebenarnya aku tahu tempat dan bagaimana cara melakukannya, aku menonton cukup banyak anime untuk tahu bagaimana caranya. Tapi aku ingin membalas kebaikan penyihir wanita ini karena telah mengantarku ke sini.


Saat kami melewati meja makan para petualang itu, mereka terlihat menertawakan dan meremehkan penyihir wanita itu. Sumpah, siapapun beritahu aku apa yang terjadi kepadanya! Aku juga ingin tahu, woi!


"Yo, Viveli. Tumben sekali kau datang kesini, ada urusan apa? Apa jangan-jangan kau ingin ikut turnamen Pahlawan Cadangan lagi?"


"Berisik!" Lagi-lagi dia bergumam kecil tak berani melawan mereka semua.


Salah satu dari mereka mengejeknya dan yang lain juga ikut menertawakannya. Jadi nama penyihir wanita ini Viveli, ya? Dan dia punya suatu masalah yang terjadi di sebuah turnamen bernama Turnamen Pahlawan Cadangan.


Aku melirik ke wajah Kak Viveli— agar lebih sopan, aku memanggilnya 'Kak' saja, dia membenamkan wajah merahnya sedalam-dalamnya ke bawah saat aku masih menarik tangannya menuju ke meja resepsionis.


"Permisi, apa aku boleh mendaftar menjadi petualang?"


"Baik! Eh? Tapi anda ...."


Resepsionis wanita muda itu kelihatan ragu ketika melihat wujudku yang masih anak-anak, tapi aku jadi makin terbiasa dengan hal seperti ini. "Tenang saja, aku murid dari orang itu." Aku menunjuk Kak Viveli.


"Eh?"


"Eh?!"


"Eeeehhhhhh?!!!!"


Kak Viveli kaget. Resepsionis wanita itu kaget. Semua orang di Guild Petualang pun kaget. Aku juga sebenarnya spontan saja sih memikirkan hal ini, meskipun aku harus meminta maaf ke Kak Viveli, karena aku belum meminta persetujuannya.


Kak Viveli langsung menarik telingaku dengan panik lalu kemudian menunduk menyamakan tinggi kita dan berbisik kepadaku.


"A-a-apa yang kau katakan barusan?! Kita bahkan baru bertemu hari ini! Dan kau sudah mengaku sebagai muridku?! Apa yang kau rencanakan?!"


"Wahahaha! Lihat itu! Ternyata Viveli sekarang punya murid! Orang yang ditolak oleh Pahlawan sudah sok-sokan menjadi seorang guru!"


Tawa meremehkan makin terdengar keras di Guild Petualang saat ini. Dan Kak Viveli juga sudah tidak kuat lagi menahan rasa malu yang disebabkan olehku, maka dari itu aku harus segera menyelesaikannya.


"Tunggu sebentar, okey?" Aku membalas bisikan Kak Viveli.


"Hah?"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku tidak suka melihatmu ditertawakan seperti itu. Jadi tunggu aku mendaftar sebentar dan menghajar mereka, lalu kau bisa ceritakan semuanya kepadaku. Apa kita deal, Kak Viveli?"


"Menghajar mereka semua? Apa kau bercan—?"


Sepertinya wajahku sudah menjelaskan semuanya. Senyuman optimisku membuat Kak Viveli tidak bisa menghentikanku lagi. Ia pun berhenti khawatir dan berdiri seperti biasa lagi, sementara aku berjalan mendekati si resepsionis wanita lagi.


"Jadi, bagaimana caranya aku mendaftar menjadi petualang?"


"Anda bisa menempelkan kedua tangan anda di atas bola sihir ini. Setelah itu, bola sihir ini akan memberitahu tentang semua status anda mulai dari Level, titel, dan Skill yang anda miliki."


"Mirip seperti Skill [Appraisal], ya?"


"Nama bola sihir ini memang Bola Sihir Appraisal, fungsinya untuk membuat kartu petualang dan mengetahui status pribadi milik anda. Dan kartu petualang itu juga bisa memperbarui statusnya secara otomatis jika anda mendapatkan sesuatu atau mengalahkan sesuatu."

__ADS_1


"Bukankah lebih mudah menggunakan Skill [Appraisal] daripada dengan bola sihir ini?"


Dia memiringkan kepalanya bingung. "Setahu saya, Skill [Appraisal] adalah Skill langka yang sulit untuk dikuasai. Makanya para pengrajin alat sihir menciptakan bola sihir ini. Alat itu menggunakan Mana pemiliknya untuk dijadikan sebuah kartu petualang," jelasnya.


Pantas saja Kak Viveli tidak menggunakan Skill [Appraisal] kepadaku sebelumnya. Bukan karena dia tidak mau, tapi dia tidak bisa. Aku pun menempelkan kedua telapak tanganku di atas bola sihir dan beberapa saat kemudian, benda itu mulai bersinar.


Sinarnya memang tidak terlalu terang, tapi dari atas punggung tanganku perlahan tercipta sebuah kartu yang menuliskan nama, status, level, dan lainnya.


"Anda bisa membalikkan telapak tangan anda."


Dan aku pun melakukannya. Kartu petualang yang tercipta dari mana milikku pun selesai. Aku memperhatikannya lebih teliti. Nama, titel, level, dan Skill semuanya sama seperti statusku sekarang. Kartunya pun lumayan keras dan tidak mudah robek— ditambah, aku juga yakin kalau ini tahan air.


"Bolehkah aku melihatnya sebentar, aku mau memasukannya ke daftar petualang kota ini."


"Ya."


Aku segera memberikannya kepadanya. "??!!" Tapi pada detik-detik terakhir, tanganku berhenti bergerak. Aku mengingat sesuatu yang dikatakan oleh Dewi Loki sebelumnya.


"Sedikit peringatan saja, kau bisa membuat kehebohan dengan levelmu yang sekarang di sana. Aku sarankan untuk menyembunyikan levelmu yang sekarang."


Jadi ini yang dia maksud menimbulkan kehebohan. Bahkan level Kak Viveli tidak lebih dari 50. Jika mereka tahu aku yang masih 16 tahun sudah Level 100, tentu saja itu akan menjadi masalah.


"Maaf, bisa tunggu sebentar? Aku ingin menikmati kartu petualang ku sedikit lebih lama lagi."


"Baik?" Meskipun dia bingung, tapi dia mengizinkanku untuk melakukannya.


Aku harus melakukan ini secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan siapapun. Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi ....


"[Shadow Construct : Adventurer Card]


Skill [Shadow Construct] sudah menjadi lebih berkembang belakangan ini. Jika tidak mengkonstruksi bagian tubuh atau makhluk hidup yang memang dasar pembuatannya rumit, maka hasilnya bisa dibilang mendekati sempurna. Seperti yang sekarang sedang aku lakukan.


Kartu petualang hasil dari [Shadow Construct] benar-benar mirip dengan aslinya, selain itu aku juga merubah level, Skill, dan titel yang aku miliki.


"Silahkan."


"Terima kasih banyak." Resepsionis itu menerima kartu petualang palsu itu dan sepertinya dia tidak curiga sama sekali dengannya.


Setelah memeriksanya sebentar, resepsionis itu mengumumkan isi kartu petualang ku dengan lantang. "Arka Wijayakusuma. Umur, 16 tahun. Titel, petualang pemula. Dan sekarang berada di level 20."


Padahal Eric dan Eleanor yang sudah 18 tahun saja masih level 16 dan 17. Sial. Aku harus menghilangkan harga diri tidak berguna ini supaya bisa menyamar lebih baik ke depannya.


"Hoo~ Tidak buruk juga. Boleh juga kau jadi guru, Viveli," ucap orang yang dari tadi sangat berisik mengejek Kak Viveli.


"Umurmu yang segitu dan sudah level 20 memang hebat, tapi itu masih jauh dari kata 'menghajar mereka', kau tahu?" Kak Viveli berbisik padaku. Sepertinya dia masih khawatir. Yah, itu wajar sih.


"Aku tahu."


"Lalu, kenapa kau—"


"Tenang saja, tenang saja. Lagipula, aku mau terlihat keren sesekali."


Aku berjalan ke depan orang yang mengejek Kak Viveli dari tadi. Tubuhnya memang sangat besar dan penuh dengan otot, tapi kalau soal level dia masih sangat jauh dariku. Kebanyakan dari mereka hanya level 25 sampai 35 saja, jadi semuanya bukan masalah untukku.


"Apa maumu, bocah?"


"Minta maaf ke Kak Viveli atau aku akan menghajar kalian semua di sini."


"Hah?! Ahahaha!!" Lalu dia tertawa yang diikuti oleh semua orang di belakangnya. "Hah ... kau lucu sekali, bocah. Kau ingin menghajarku di bagian mana? Pipi kanan atau pipi kiri? Silahkan, tinggal pilih saja." Dia mendekatkan kedua pipinya ke arahku dan menunjuknya seolah mengizinkanku untuk memukulnya.


Aku menghela nafas. Sepertinya orang-orang ini memang perlu diberi pelajaran. "Mbak resepsionis!"


"Ah?! I-iya?"


"Biaya kerusakan tempat ini ditanggung mereka, ya?" Aku tidak mau uangku keluar sia-sia karena membayar ganti rugi, jadi setelah mbak resepsionis mengangguk pelan, aku pun tersenyum senang.


BUUAGHHH...


Pria yang paling berisik tadi terbang menabrak tembok dengan pipi yang bengkak dan hidung mimisan. Semua orang kecuali diriku terkejut dengan hal itu karena semuanya berlalu begitu cepat.


"Eh?" Begitu kira-kira respon semua orang di sini.


"Bo-bocah sialan ...." Dia masih sadar? Aku rasa aku terlalu menahan diri. Tapi biarlah, karena kalau langsung pingsan juga tidak akan seru.


Lantai Guild Petualang terbuat dari batu dan semen— begitu juga dengan pilarnya, aku rasa hanya kayunya yang terbuat dari gelonggongan kayu yang disusun berdiri, dan itu rusak cukup parah karena ditabrak olehnya.

__ADS_1


"Ah ... maaf. Tanganku kelepasan." Aku memberikan seringai jahil dan menyebalkan kepadanya.


"Apa yang kalian lakukan?! Cepat hajar dia!"


"Hyaaakhhh !!!"


Yang lainnya kini mulai menyerang. Gerakan mereka lambat— tidak, mataku sudah terbiasa dengan gerakan monster yang besar dan cepat, makanya bagiku mereka terasa lambat. Aku dapat menghindari semua serangannya dengan mudah.


Salah satu dari mereka mencoba memukul kepalaku gada dengan gerakan vertikal dari atas ke bawah, tapi aku berhasil menahannya.


Dari titik butaku, aku merasakan kalau seseorang mencoba menebasku dengan pedang. Tapi aku bergerak cepat ke belakang orang yang memegang gada dan mendorongnya dengan punggungku, membuat masing-masing serangan mereka mengenai keduanya.


"Gaakkhh!"


Aku masih belum bisa mengontrol kekuatanku, jadi aku sebisa mungkin untuk tidak memukul mereka. Aku lebih banyak menangkap orang yang menyerangku pertama, lalu mendorong atau melemparnya ke arah orang lain yang ingin menyerangku. Jadi seperti melempar dua burung dengan satu batu.


"Awas!"


"??!!"


Saat aku sedang sibuk melawan orang-orang dari jarak dekat, teriakan Kak Viveli menyadarkanku dan membuatku menengok ke belakang. Tapi itu sudah terlambat, sebuah bola api mengenai dahiku dengan telak sampai membuatku mendongak ke atas.


"Tidak!" Kak Viveli berteriak karena aku terkena serangannya.


"Hahaha! Kau lengah dengan serangan jarak jauh, dasar bocah!"


"Sialan ... aku lupa kalau mereka juga bisa menggunakan Skill," gerutuku.


Rasanya seperti didorong oleh telapak tangan yang hangat, tentu saja serangan itu tidak sakit dan tidak melukaiku sama sekali. Tapi tetap saja itu membuatku kesal.


Aku menatap tajam ke arahnya dengan tatapan marah yang membuatnya ketakutan. Setelah itu, aku menerbangkan sebuah tombak yang berada di samping kakiku ke genggaman tanganku dan tanpa jeda langsung melemparkannya ke arahnya.


"Hiikhh!"


Tombak itu tepat menusuk ... di tembok di sebelah kepalanya, tapi itu sudah cukup membuatnya ketakutan dan jatuh pingsan sambil duduk bersandar.


Dengan begitu, semua orang yang melawanku di sini sudah kalah. Tenang saja, tidak ada yang terbunuh, kok. Aku tidak akan memberikan impresi pertama yang buruk sebagai petualang kepada mereka yang ada di sini. Well ... siapapun yang masih sadar di sini, sih.


"Kau ...."


Kak Viveli terlihat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang bocah menghajar kumpulan orang dewasa dengan level yang lebih tinggi darinya, tentu saja itu pemandangan yang sulit dipercaya.


"Maaf aku tiba-tiba berkata kalau aku adalah muridmu, Kak Viveli. Itu—"


"Siapa kau?"


Ah, tentu saja dia akan curiga. Sekarang responku adalah apa aku akan menjawab dengan jujur atau tidak. Manusia pindahan dari dunia lain? Jawaban yang terlalu acak meskipun itu sebuah kebenaran.


Bahkan jika aku menjawab kalau aku adalah orang yang dikirim oleh Dewi Loki, tetap saja itu jawaban yang buruk.


"Aku—"


Ucapanku kembali terpotong. Kali ini oleh suara tepuk tangan yang berasal dari orang lain yang masih sehat di tempat ini.


"Wah, wah, wah. Terima kasih atas pertunjukan yang menariknya, bocah. Kau benar-benar membuatku terkesan."


Dia berjalan mendekatiku, diikuti oleh empat orang lainnya. Pertanyaanku kepadanya cuma satu. Kau siapa, woi?! Tiba-tiba datang dan sok akrab denganku. Apa negeri ini penuh dengan orang-orang aneh yang suka mencampuri urusan orang lain?


"Katakan, apa kau tertarik untuk ikut Turnamen Pahlawan Cadangan tahun ini?" bujuknya.


Aku memiringkan kepalaku. Dia sepertinya tidak punya niat bertarung, meskipun aku masih tetap waspada kepadanya. Dan soal Turnamen Pahlawan Cadangan, itu adalah turnamen yang diikuti oleh Kak Viveli, bukan? Kenapa dia juga mengajakku.


"Apa untungnya bagiku?" tanyaku.


"Hnm? Keuntungannya?" Dia tersenyum menertawakan ketidaktahuan ku. Ayolah, apa susahnya untuk memberitahuku?! Kenapa semua orang di sini begitu menyebalkan, sih?


"Jika kau menjadi pemenang turnamen itu, kau mendapatkan kesempatan untuk menjadi ksatria kerajaan dan membantu Pahlawan untuk berperang melawan Raja Iblis dan pasukannya. Tapi ...." Dia melirik ke arah Kak Viveli sebelum melanjutkan kata-kata selanjutnya. "... Meskipun kau menjadi pemenang turnamen itu, belum tentu kau pasti akan menjadi ksatria kerajaan. Kau bisa ditolak seperti gurumu itu."


Jadi begitu. Kurang lebih aku mengerti apa yang terjadi kepada Kak Viveli. Dia memenangkan Turnamen Pahlawan Cadangan tahun lalu, tapi entah kenapa dia tidak dipilih oleh Pahlawan. Lalu setelah itu, dia menjadi cemoohan semua orang di sini.


"Bagaimana? Apa kau tertarik?"


Aku berpikir sebentar. Tujuanku ke kota ini sudah tercapai, tapi aku masih penasaran dengan sosok yang dijuluki Pahlawan itu. Dan ini adalah kesempatan yang sangat cocok untuk hal itu.


Aku tersenyum. Karena telah menentukan jawabannya. "Sepertinya menarik, bertemu dengan si Pahlawan itu."

__ADS_1


__ADS_2