Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 1.5 : Berhadapan Dengan Monster Tangan Seratus (2)


__ADS_3

[Quest Dadakan Dimulai]


[Kalahkan The Prisoner of Tartarus, Hecatoncheires]


[Tingkat Kesulitan : Sangat Sulit]


[Reward : ???]


Sepertinya aku berhasil menarik perhatian monster tangan seratus kepala lima puluh ini, buktinya ratusan matanya menatap marah kepadaku dan kini langkahnya tertuju kesini.


Aku melihat ke arah layar hologram. Hecatoneseirese? Apa-apaan namanya itu? Apa dia hanya melempar huruf-huruf acak pada namanya dan akhirnya jadi seperti itu? Entahlah, tapi memanggilnya dengan nama aslinya akan merepotkan, jadi aku akan memanggilnya dengan nama Pak Hecaton mulai dari sekarang.


Yap. Pak Hecaton kedengaran seperti nama panggilan yang bagus. Humu, humu. Aku mengangguk-angguk yakin karena kecerdasanku dalam memikirkan namanya.


Sekarang pertanyaanku adalah, apakah dia bisa diajak bicara atau tidak. Karena kalau bisa, itu akan menjadi kesempatan yang bagus untuk tidak melakukan pertarungan yang sia-sia.


Mungkin aku akan kehilangan beberapa level dan beberapa Skill lain, tapi kalau aku mati di sini, semua Skill itu akan jadi sia-sia. Ngomong-ngomong, Pak Hecaton semakin berjalan mendekat. Tatapannya kelihatan marah tapi sepertinya memang itu wajah aslinya.


"Oi! Apa kau ... bisa ... pergi dari sini?! Kau ... hampir saja ... menginjak ... rumahku! Kita ... tidak perlu ... bertarung ..., okey?!"


Aku menjelaskan dalam satu per satu kata berharap dia mengerti kata-kataku. Aku juga melakukan gerakan-gerakan yang semakin menegaskan kata-kataku seperti melambai, menunjuk ke arah lain, sampai memberi jempol.


"...."


Dia menunduk dan mendekatkan kepalanya yang banyak itu kepadaku. Puluhan pasang mata fokus padaku, sementara kepala-kepala yang lain mondar-mandir mengawasi keadaan sekitar.


Aku hanya diam saja dan mengangkat kedua tangan untuk membuktikan kalau aku tidak berbahaya. Tapi setelah beberapa saat memperhatikanku, Pak Hecaton tiba-tiba berteriak. Di depan wajahku pula.


"BUKAN GAIA !!!!"


Semua nafas bau dan lendir dari mulutnya yang ia miliki hampir terbang ke arahku. Setelah berteriak, beberapa tangannya menghujam tepat ke arahku dan ingin menghancurkanku. Tapi aku masih lebih cepat untuk melompat dari puncak pohon.


Dan pohon yang malang itu pun harus roboh karena serangan dari Pak Hecaton.


Yah ... aku sudah menduganya, sih. Tidak mungkin akan semudah itu, apalagi sudah ada quest untuk mengalahkannya. Tentu saja dia adalah monster yang berbahaya. Terlebih lagi, tingkat kesulitan yang diberikan oleh sistem untuk mengalahkannya adalah [Sangat Sulit]. Lebih sulit daripada bertahan hidup dari serangan Gaia.


Ngomong-ngomong, julukan Pak Hecaton adalah Prisoner of Tartarus. Apa Pak Hecaton kabur dari penjara dan berjalan kesini? Dan terlebih lagi, dia berteriak 'Bukan Gaia!' kepadaku. Apa yang Pak Hecaton maksud adalah naga legendaris itu, ya?


Hmm ... ada yang aneh di sini.


Pohon malang yang sebelumnya rubuh tiba-tiba sudah berada di depan wajahku. "Eh?" Tetapi pohon itu hanya lewat begitu saja tanpa mengenaiku sedikitpun.


Padahal aku hanya melamun sebentar saja, tapi dia sama sekali tidak memberiku kesempatan. Dasar monster yang tidak sabaran! Aku melompat dari satu pucuk pohon ke pucuk lainnya. Pak Hecaton juga masih terus melempariku dengan pohon-pohon.


"Tch."


Sialan. Tangannya yang banyak membuat pohon yang dilempar seakan tidak ada habisnya. Sepertinya aku harus membuat sebuah celah untuk mendekatinya.


"[Shadow]"


Setelah merapalkan mantra, bayangan di bawahku mulai bergerak seolah memiliki pikiran sendiri lalu membelah menjadi tiga. Dan setelah itu, aku tidak menghindari lemparan pohon Pak Hecaton yang satu ini.


Tubuhku terlempar bersama dengan pohon yang dilempar oleh Pak Hecaton. Ia yang menyadari hal itu pun kemudian berhenti melempar untuk sesaat karena menganggap kalau dirinya sudah mengenaiku.

__ADS_1


Dia diam berdiri seolah termenung bingung karena tujuannya sudah selesai. "??!!" Tapi mata banyaknya melebar ketika tahu kalau pertarungan ini belum selesai. Pak Hecaton melihat ke bawah di balik pepohonan, sesuatu hitam yang bergerak dengan cepat menghampirinya.


"Bukan Gaia!" Pak Hecaton kembali berteriak.


"Mata banyak itu benar-benar merepotkan, apa semuanya terhubung ke satu otak yang sama?" gumamku.


Aku melesat dengan cepat dan dalam waktu singkat telah berada di samping kaki raksasa Pak Hecaton. Dengan Skill [Martial Art] aku mencoba memukulnya, tapi itu sama sekali tidak membuatnya bergeming. Kulitnya begitu keras bagaikan memukul batu.


Tapi aku menyeringai. "Aku sudah tahu ini akan terjadi." Kulit yang keras memang adalah pertahanan kebanyakan monster, oleh karena itu aku tidak terlalu terkejut. Malahan kini aku sudah menyiapkan sesuatu.


"Melesatlah! [Dark Wave]"


Tinjuku yang masih menempel dengan kakinya menyalurkan [Dark Wave] berkekuatan penuh yang mampu melubangi tebing, jadi aku yakin kalau ini bisa melukainya.


Daya kejut aura hitam [Dark Wave] langsung mengenai kaki Pak Hecaton dan meledak di tempat, menghasilkan debu yang membumbung tinggi sampai ke dada Pak Hecaton. Apa aku berhasil melukainya?


"Uhuk, uhuk! Hah ... seharusnya aku memakai masker."


Debu yang beterbangan pun mulai menghilang bersamaan dengan batukku yang mereda. Tapi aku masih bisa merasakan kalau tinjuku belum bergerak dan masih menyentuh sesuatu.


Saat aku melihatnya, rasa percaya diriku yang awalnya sudah sangat tinggi seakan kembali dihempaskan ke tanah. Mataku melebar shock ketika mengetahui kalau kulit di depanku bahkan tidak tergores, kulit Pak Hecaton hanya kotor saja karena debu yang beterbangan sebelumnya.


"Ti-tidak mungkin ...."


Saat aku masih dalam keterkejutan, puluhan tangan menghujamku begitu keras dan cepat. Membuatku tidak memiliki waktu untuk menghindar— bahkan melihat arah serangan pun tidak sempat, karena aku terlalu terkejut.


Pak Hecaton kembali bisa mengenaiku dengan telak. Tapi sepertinya dia masih belum menyadari permainanku yang sedari tadi sedang aku mainkan. Ia mengangkat puluhan tangannya yang sebelumnya menghujamku, tapi tidak ada darah atau bagian tubuhku yang tertinggal di sana. Hanya ada aura hitam yang terurai dan terbang terbawa angin.


"???"


Dua 'aku' yang telah dikalahkan oleh Pak Hecaton sebelumnya hanyalah bayangan hasil rekaan Skill [Shadow] semata, sementara aku masih sehat walafiat di sini.


Di mana kalian bertanya? Lebih tepatnya di atas langit! Cukup jauh dari kepala dan tangan Pak Hecaton bisa menjangkauku. Aku melompat dengan kekuatan penuh sebelumnya dan kini sedang jatuh bebas di udara.


Selain itu, Skill [Shadow] yang aku miliki saat ini baru bisa mengeluarkan tiga bayangan sekaligus. Jika lebih dari itu, maka MP-ku akan habis dengan cepat.


Dan meski aku sudah melatihnya, bahkan sekarang aku hanya bisa memakai [Dark Wave] sebanyak tiga kali. Lebih dari itu maka 'No' besar! Karena aku akan langsung pingsan karena kehabisan MP.


Meski begitu, [Dark Wave] dari jarak dekat bahkan tidak bisa melukainya sama sekali. Aku tahu kalau dia memang keras, tapi kalau sekeras itu bukankah sudah masuk ke ranah tidak masuk akal?! Ayolah, sistem! Beri aku sedikit istirahat!


Aku hanya seorang remaja yang tidak ingin mati saja, kenapa aku harus merasakan ini semua? Apa memang bayaran untuk tidak mati memang sesulit ini?!


Meskipun aku terus mengeluh dan tidak melakukan apa-apa, tapi sebenarnya aku sedang menunggu. Yap. Satu bayanganku yang tersisa kini sedang melakukan tugasnya di bawah. Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku dapat merasakannya keberadaannya. Aku tahu apa yang dia lakukan, Skill apa yang dia gunakan, dan luka apa saja yang dia terima.


Lagipula, dia masih bagian dari diriku. Jadi tidak mungkin aku tidak tahu. Ngomong-ngomong sepertinya dia akan berhasil.


Bayanganku di bawah kini sedang bersatu bersama pepohonan, tak terlalu jauh dari kaki Pak Hecaton. Ia kemudian membuka telapak tangannya dan merapalkan sebuah Skill.


"[Dark Marble]"


Sejumlah aura padat hitam berbentuk bola kelereng kini tercipta di telapak tangannya. Lalu ia menggelindingkan bola aura kecil itu ke belakang kaki Pak Hecaton.


Dan setelah menyelesaikan tugasnya, ia pun menghilang dan melebur bersatu dengan bayangan pepohonan.

__ADS_1


"??!!"


Baiklah! Aku sudah merasakan kalau bayanganku sudah melaksanakan tugasnya, sekarang aku yang sedang terjun bebas bisa segera melesat ke sana. Aku datang Pak Hecaton!


Pak Hecaton dengan cepat menyadari keberadaanku dan seluruh matanya fokus pada diriku yang sedang jatuh bebas. Aku jadi pusat perhatian kalian, ya?! Tapi sayangnya kalian lengah pada satu momen! Aku membentuk pose pistol dengan tanganku dan merapalkan mantra.


"Melesatlah! [Dark Marble]"


Aura padat hitam keluar dari ujung jari telunjuk dan meluncur cepat ke bawah. Aku sengaja mengarahkannya agak ke depan supaya Pak Hecaton akan mundur dan tergelincir oleh [Dark Marble] yang sebelumnya sudah digelindingkan oleh bayanganku.


[Dark Marble] terus melesat kencang dan lurus tanpa halangan berarti. Tapi Pak Hecaton masih terus berdiri tak bergeming dengan [Dark Marble] yang mengarah kepadanya.


Hoho .... Kau ingin sok pemberani ya, Pak Hecaton? Aku tahu kalau [Dark Marble] ini hanya sebutir kelereng, tapi bagaimana jika aku buat seperti ini! Aku kemudian menjentikkan jariku dan kembali berteriak.


"Membesar!"


Itu adalah salah satu kemampuan [Dark Marble], ia bisa membesarkan bola kelerengnya menjadi berkali-kali lipat. Sekarang! Kau sudah tidak punya pilihan lain selain menghindar, Pak Hecaton!


"Eh?"


Padahal sudah lebih besar dari sebelumnya dan jumlahnya juga banyak, tapi kenapa Pak Hecaton tidak bergerak sama sekali? Dia masih terus melihat ke arah [Dark Marble] yang jatuh kepadanya dengan tenang. Apa monster ini tidak punya rasa takut?


Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba semua [Dark Marble] yang sudah diperbesar dengan mudahnya ditepis oleh Pak Hecaton. Sementara tepisan [Dark Marble] tadi melesat ke arah acak dan menghancurkan sekitar yang ia tabrak.


"A ... Apa yang dia lakukan?! Gkh?!!"


Sekarang aku juga sedang jatuh bebas menuju tepat ke atas Pak Hecaton. Puluhan tangannya kini siap untuk menangkap dan memukulku. Gawat! Aku tidak bisa menghindar!


BRAAKKHH...


"Arkkhh ...!!!"


Tubuhku berhasil bergerak dan menghindar di saat-saat terakhir, tapi tanganku tidak cukup cepat untuk mengikuti gerakan tubuhku sehingga Pak Hecaton berhasil menangkap tanganku dan menggenggamnya kuat sehingga aku bisa mendengar bunyi renyah tulang yang dihancurkan.


Belum selesai sampai di situ, dia juga menghantamku beberapa kali ke arah tanah hingga aku merasakan tulang-tulang di tubuhku berantakan. Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi! Harus ... melakukan ... sesuatu!


CRAASHHH...


Pak Hecaton kebingungan saat ia ingin menghantamku ke tanah sekali lagi, tapi genggaman tangannya tiba-tiba terasa ringan. Ia melihat ke arah genggamannya dan sadar kalau di yang tersisa di sana hanyalah tangan saja. Tanpa tubuh.


Sementara aku yang memutuskan tanganku secara sengaja hanya untuk melarikan diri sambil memegangi pundak tanganku yang putus. Bagaikan autotomi yang dilakukan oleh cicak atau kadal, tapi bedanya kini tanganku tidak bisa tumbuh lagi.


Setelah merasa kalau Pak Hecaton telah kehilangan jejakku, aku pun berhenti sejenak— lebih tepatnya jatuh tengkurap ke tanah. Sialan. Kehilangan banyak darah benar-benar tidak bisa aku remehkan meskipun di dunia ini.


"Open ... Status."


Aku membuka statusku dan menyadari kalau MP-ku sudah tinggal sedikit, aku hanya bisa menciptakan beberapa [Dark Marble] dan [Dark Wave] sekali lagi. Aku bahkan tidak tahu apakah itu akan berguna untuk melawannya atau tidak. Maksudku, serangan dari jarak sangat dekat saja bahkan tidak bisa melukainya.


Lalu aku melihat ke arah bar HP. Perlahan-lahan itu menurun menuju ke arah yang kritis. Kehilangan darah sepertinya yang membuat HP-ku turun secara berkala. Aku harus menemukan cara agar HP-ku tidak terus turun.


Tapi aku tidak punya skill penyembuhan, bahkan [Healing] saja belum selesai dalam progresnya. Sial. Pak Hecaton datang begitu saja tanpa peringatan membuatku tidak punya persiapan apa-apa. Yang masih banyak saat ini hanyalah SP. Selama ini aku tidak tahu apa gunanya itu dan aku juga tidak pernah kekurangan SP sampai ke tahap nol, jadi aku rasa itu tidak terlalu penting.


"Sekarang ... bagaimana caranya aku selamat dalam keadaan ini?" gumamku.

__ADS_1


Dalam kebingunganku, aku menyadari kalau ada sebuah apel yang berada tepat di samping tubuhku.


__ADS_2