
Ya ... mari kita lihat, manusia seperti apa yang ada di dunia ini.
"Si-siapa kau?!"
Sambil terduduk dan nadanya juga sedikit gemetar, Pak Pedang Besar bertanya padaku dengan maksud protektif pada teman-temannya.
Aku melihat ke arah MP mereka masing-masing, MP yang mereka miliki rata-rata tidak lebih dari sepuluh persen tersisa. Oleh karena itu mereka sudah sulit untuk berdiri— kecuali Ksatria Wanita yang MP miliknya masih di atas lima puluh persen.
Pakaian yang aku kenakan sepertinya membuat mereka waspada terhadap keberadaanku di tambah kupluk jubah yang menutupi setengah wajahku membuatku menjadi ... you know, tambah misterius.
"Apa yang kalian lakukan di hutan ini?"
Aku bertanya pada mereka. Apa nada bicaraku sudah pas? Atau terlalu tegas? Atau terlalu lembut? Gawat. Berbicara secara langsung ternyata berbeda dari simulasi yang aku ciptakan di dalam kepalaku. Tekanannya sangat berbeda.
Tapi selagi menunggu mereka menjawab, aku mendapat reaksi yang tidak terduga. Mereka melihat ke arah temannya masing-masing dengan ekspresi bingung. Tunggu ... bukankah bahasa yang aku gunakan sudah tepat? Apa ada kata-kataku yang salah?
Seakan menjawab kegelisahan dalam hatiku, Pak Pedang Besar kembali berbicara. "Maaf, aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
Ehhhh?!!
Apa maksudnya ini?! Bukankah bahasa Indonesia dengan bahasa di dunia ini sama?! Tunggu, kalau dipikirkan lagi tidak mungkin sama, kan? Lalu kenapa aku bisa mengerti bahasa mereka sementara mereka tidak mengerti bahasaku?!
Aku bertingkah bingung dan kelabakan yang membuat mereka juga tambah bingung. Tapi setelah beberapa saat aku menyadari sikapku menjadi aneh, aku kembali bersikap lebih tenang dan kalem. Ekhem! Yang tadi itu tidak pernah terjadi. Lupakan, lupakan.
Oh iya! Sistem super! Di dunia ini, sistem super adalah segalanya. Jadi mungkin saja aku bisa menemukan jawabannya di sana. Aku berbalik badan dan membuka layar interface sistem.
"A-Ano—" Pak Pedang Besar ingin mengajakku berbicara lagi, tapi aku langsung memberinya gestur tangan 'stop' yang membuat dia langsung berhenti berbicara.
Sabar sebentar ya, Pak Pedang Besar dan kawan-kawan. Aku sedang mencari cara agar bisa berkomunikasi dengan kalian sekaligus juga terlihat keren.
Aku memperhatikan pada keseluruhan layar interface dan menemukan sesuatu seperti gambar gear yang biasa digunakan sebagai logo pengaturan. Ini dia, mungkin ada sesuatu yang berguna di sini. Aku kemudian menekannya dan ada banyak pengaturan lainnya yang tidak terlalu aku mengerti.
Etto ..., mari kita lihat. Mataku terus meluncur ke bawah mengikuti jariku yang kemudian berhenti di pengaturan 'Bahasa'. Ini dia! Tanpa basa-basi, aku langsung menekannya dan akhirnya tahu kenapa mereka tidak paham apa yang aku bicarakan.
Ternyata hanya pengaturan 'Pendengaran' yang secara otomatis terpasang dengan bahasa 'Manusia', sementara pengaturan 'Bicara' masih dengan 'Bahasa Indonesia'. Tapi di dunia ini bahasanya bernama Bahasa Manusia, ya? Apakah itu tidak terlalu sederhana?
Aku kemudian menekan arah panah di sebelah pilihan bahasa 'Manusia' dan ternyata ada bahasa 'Iblis'. Jadi benar-benar ada iblis di dunia ini?! Seperti yang diharapkan oleh Isekai! Mereka tidak pernah mengecewakanku. Tapi untuk sekarang aku akan mengaturnya ke bahasa 'Manusia'.
Aku menghilangkan layar interface pengaturan dan berbalik badan. Dan sekali lagi mencoba untuk berbicara dengan mereka. "Ekhem .... Apa kalian mengerti apa yang aku ucapkan sekarang?"
Wajah mereka kembali terkejut. "Ya, kami mengerti." Nice, Pak Pedang Besar! Benar-benar jawaban yang aku tunggu.
[Penahaman Terhadap Sistem Telah Meningkat]
Sistem juga mengatakan sesuatu. Iya, iya, terima kasih atas ucapan selamatnya. Tapi sekarang aku masih punya urusan. Saatnya menanyakan beberapa pertanyaan kepada mereka.
"Apa kalian tidak apa-apa?" Pertama aku menanyakan keadaan mereka, menunjukkan simpati dengan pura-pura khawatir akan membuat mereka lebih santai dan merasa aman.
"Ya ..., berkat anda kami tidak perlu kehilangan nyawa. Hanya saja MP kami terkuras cukup banyak sehingga kami tidak bisa terlalu banyak bergerak."
"Tidak perlu memaksakan diri. Aku hanya kebetulan lewat sini saja." Tapi bohong. "Dan karena aku mendengar teriakan kalian, jadinya aku datang untuk membantu." Bohong lagi. Aku menyelamatkan kalian karena mengalahkan monster lumpur memberikanku EXP yang banyak, kalian tahu.
"Sebelumnya kami benar-benar berterima kasih pada anda. Kalau boleh bertanya, siapa nama anda?" tanya Pak Pedang Besar. "Arka. Panggil saja aku Arka," jawabku.
"Kalau begitu, Tuan Arka. Apa yang anda lakukan sendirian di sini? Sepertinya anda juga masih muda dan pakaian itu juga terlalu lusuh untuk digunakan oleh seseorang."
Hah?!! Kau menghina pakaian yang aku buat dengan susah payah?! Ini adalah pakaian terkeren di dunia ini kalau kau mau tahu! Beraninya kau bilang begitu!
Tapi aku menghiraukan hal itu dan tetap mempertahankan ekspresi yang tenang seperti sebelumnya. "Aku tersesat di hutan ini. Sudah satu bulan lebih aku tidak bisa keluar dari sini, jadi bertemu dengan kalian membuatku tenang."
"Sa-satu bulan?! Di Hutan Jinnestan?!" Jadi nama hutan ini Hutan Jinnestan, toh. Pak Pedang Besar dan yang lainnya terkejut, sementara bagiku itu adalah hal yang biasa. Walaupun memang monster-monster di sini besar dan kuatnya kurang ajar, sih. Apalagi naga legendaris itu.
"Memangnya kenapa?"
"Ka-kalau boleh tahu, level anda ...?" Pak Perisai menanyai levelku. Sepertinya tidak apa jika kuberitahu. "Terakhir aku cek, level 43." Aku naik tiga level karena berhasil membunuh monster lumpur itu sebelumnya.
"E-empat puluh tiga?! Kau masih muda tapi levelmu sudah setinggi itu .... Bahkan anak-anak di Akademi masih sulit meraih level segitu."
Jadi bagi para manusia, levelku yang sekarang sudah termasuk tinggi, ya? Entah ini berkat Sistem Super atau memang keberuntunganku saja.
"Yah, kita tidak perlu membicarakan detail-detail kecil seperti. Selain itu, apa aku boleh bertanya sesuatu pada kalian?"
"Apa yang ingin Anda tanyakan?"
"Apa itu Lux Aeterna?"
"Itu adalah nama negara yang bersebelahan langsung dengan Hutan Jinnestan. Negara yang besar secara wilayah, masyarakatnya makmur, religius, subur dalam hal pertanian, dan akademi sihir terbaik di dunia berada di sana."
Negara yang cukup besar, ya? Mungkin di dunia ini Lux Aeterna mirip seperti Rusia atau Amerika, mungkin. Sepertinya negara yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal. Uangku juga akan terpakai di sana, sayang sekali jika mereka hanya terpendam dan tidak dipakai untuk apa-apa.
__ADS_1
Tapi sebelum aku kesana dan benar-benar pergi dari hutan ini, masih ada satu hal lagi yang harus aku lakukan di sini.
"Ngomong-ngomong, apa kau tahu tentang Naga Legendaris Gaia? Naga yang besarnya hampir menutupi langit itu, lho."
"Tentu saja kami tahu, Naga Gaia adalah makhluk yang disembah oleh beberapa golongan masyarakat di Lux Aeterna. Tapi ada juga yang menganggap kalau Naga Gaia hanyalah peliharaan Dewa dan banyak juga yang menyembahnya."
Benar-benar negara religius, ya? Dan dewa dewi di sana sepertinya juga sangat terkenal dan bukan sekedar dongeng semata. Kalau begitu, ada kesempatan kalau mereka tahu tentang Dewi itu.
"Aku ingin bertanya satu hal lagi, setelah itu kalian boleh istirahat di tempatku sampai kondisi kalian membaik dan setelah itu terserah kalian." Sebenarnya aku tunawisma, sih. Tapi gua bekas sarang laba-laba itu seharusnya sudah cukup aman untuk menjadi tempat peristirahatan sementara.
"Apa itu?"
"Apa kalian tahu sesuatu ... tentang Dewi Loki?"
SRYIING...
Setelah aku menyebutkan nama Dewi Loki, tiba-tiba sebuah bola cahaya menyilaukan jatuh dari atas langit dan melayang di tengah-tengah kami. Aku sebenarnya tidak tahu bentuk asli cahaya itu, karena silaunya membuatku tidak mampu melihatnya.
"A-apa yang terjadi?!"
"Apa ada monster yang menyerang?!"
Mereka semua tampak panik. Itu berarti ini bukan sesuatu yang diciptakan oleh mereka. Lalu kalau bukan mereka, siapa yang melakukan hal ini.
CRAASHH CRAASHH...
Setelah melayang dan menyilaukan mata kami selama beberapa detik, cahaya itu menembakkan sesuatu kepada party Pak Pedang Besar. Sesuatu yang sangat tajam yang bisa menembus tenggorokan mereka dan membuat mereka langsung tidak bernyawa.
Benar. Manusia pertama yang aku temui di dunia ini dibunuh begitu saja oleh sesuatu yang bahkan tidak aku ketahui. Tapi anehnya cahaya itu tidak menargetku dan hanya ke party Pak Pedang Besar saja.
"Kau bertanya pada orang yang salah, Arka Wijayakusuma."
Eh?! Aku tidak salah dengar! Cahaya itu baru saja mengeluarkan suara dan berbicara denganku! Dan dia juga mengetahui nama lengkapku, padahal aku belum memberitahu tentang itu kepada siapapun di sini.
"Siapa kau?!"
Aku mencabut sabitku dan memasang kuda-kuda bertahan. Suaranya mirip dengan Sistem di kepalaku, tapi yang ini lebih lembut dan memiliki perasaan, nadanya juga lebih ke arah santai dan main-main.
"Tidak sopan sekali, kau tidak mengenal suara orang yang sudah memanggilmu ke dunia ini?"
Mataku terbelalak. Sungguh, mataku hampir keluar dari tempatnya hingga membuat kuda-kudaku melemah karena saking terkejutnya. Jika dia adalah orang yang memanggilku ....
Dia tertawa kecil. Sepertinya ekspresi lucu baginya. "Benar sekali. Aku senang karena kau cepat paham."
Tenang dulu. Aku tidak boleh panik, hal yang harus aku lakukan saat ini adalah tarik nafas dan keluarkan. "Kenapa kau membunuh mereka semua?" tanyaku tenang setelah menarik nafas.
"Ara ...? Kau tidak terlihat terlalu terguncang."
"Karena aku tidak kenal dengan mereka. Lagipula mereka bebas melakukan apapun setelah aku menanyakan beberapa hal, termasuk mati."
Dunia ini berbeda dengan bumi. Ini bukan Indonesia. Aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Benar. Anggap saja aku tidak mengenal dan melihatnya, maka kesedihannya tidak akan terlalu dalam.
"Kau cukup dingin juga, ya? Tapi ada satu hal yang salah dari kata-katamu. Aku tidak membunuh mereka semua, kok."
"Eh?"
Aku melihat ke arah mereka dan menemukan kalau perkataan Dewi Loki adalah kenyataan. Si Bocah Penyihir ternyata masih hidup dan sedang meringis kesakitan bersandar batang pohon. Aku pun langsung menghampirinya.
Lubangnya tidak menembus tenggorokannya, melainkan hanya belikatnya saja. Dengan cepat, aku langsung memberikan Skill [Healing] padanya. Sebelum akhirnya diganggu lagi oleh Dewi Loki.
"[He—"
"Percuma saja kau menyembuhkannya."
"Ha?"
"Seranganku mengandung racun." Apa kau bercanda?! Serangan yang hampir membunuh secara instan itu masih mengandung racun?! "Dan racunnya tidak akan hilang dengan penawar apapun di dunia ini. Karena seranganku mengandung kekuatan surgawi."
Kekuatan surgawi? Dia menggunakan hal semacam itu untuk menyerang bocah yang baru level belasan?
"Racunnya akan terus menyebar secara perlahan selama tiga hari, dan dia akan terus berteriak kesakitan setiap detiknya sampai pada kematiannya di hari ketiga."
Dia ini .... Aku menghiraukannya dan tetap mencoba Skill [Healing] pada dirinya. Tapi seperti yang dia bilang, [Healing] tidak membantu sama sekali bahkan tidak melambatkan racunnya.
"Apa yang akan kau lakukan, Arka? Apa kau akan membiarkannya tersiksa dengan Skill [Healing] tak bergunamu itu, atau mau langsung mengakhiri penderitaannya?"
Jadi begitu. Dia mengetes rasa simpatiku dengan menggunakan manusia asli. Dewi ini ... Dewi Loki ini. Aku pun menghela nafasku dan mengambil sabitku. Dengan cepat, aku menebaskannya ke leher Bocah Penyihir. Dia tidak sempat berteriak, tebasanku terlalu cepat untuk dirasakan dan nafasnya langsung berhenti.
"Maafkan aku, Rondesh."
__ADS_1
Aku kemudian berbalik ke arah cahaya itu, entah kenapa cahayanya jadi lebih redup dan mudah untuk diterima mataku. Atau karena ada sedikit air di ujung mataku, ya?
"He~ Kau masih bisa menangis, ya? Lucunya."
"Katakan tujuanmu yang sebenarnya membuatku melakukan hal itu."
"Hmm ..., kenapa kau tidak memeriksa levelmu sekarang?"
Level? Meski menyebalkan, tapi aku menuruti perkataannya dan melihat statusku. Yang terjadi pada status dan terutama levelku kemudian membuatku terkejut.
[Level Anda Meningkat Dari Lv. 43 Menuju Lv. 48]
A-apa?! Levelku meningkat lima level?! Apa maksudnya ini? Padahal yang aku bunuh hanyalah manusia level belasan. Tapi kenapa ...? Aku melihat ke arah cahaya Dewi Loki dan dia terdengar menyeringai kecil.
"Apa kau sudah menyadarinya?"
"Apa maksudnya ini? EXP yang aku dapatkan lebih banyak dari monster level tinggi. Apa ini karena perbuatanmu?"
"Jangan salah paham. Sistem yang secara otomatis memutuskan bahwa manusia memiliki EXP yang lebih besar daripada makhluk lainnya. Lagipula, manusia adalah makhluk yang kompleks dalam hal emosi dan perasaan, jadi wajar jika Sistem menganggapnya lebih tinggi daripada monster tak berakal. Dengan kata lain, itu bukan salahku, dong."
"Jadi begitu."
Aku masih belum tahu apa-apa soal dunia ini. Jadi yang perlu aku lakukan adalah belajar dan mencari tahu sebanyak-banyaknya kebenaran tentang dunia ini. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan percaya pada apa yang dikatakan oleh Dewi busuk ini.
Orang yang dengan mudahnya mempermainkan nyawa seseorang tidak patut dipercaya.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya padamu."
"Hoo ... apa itu?"
"Kenapa kau memanggilku ke dunia ini?"
"Hmm ...."
Dewi Loki terdiam sebentar. Pasti dia punya alasan yang kuat dan memilihku untuk ditransfer ke dunia ini. Jika mengambil contoh pada animanga yang aku lihat.
"Karena aku bosan saja, sih."
"Hah?! Kau memanggilku karena kau bosan?! Alasan bodoh macam apa itu?!"
Tidak bisa dipercaya! Memangnya ada Dewi sebodoh dan sesenggang ini?! Bukankah Dewi pada dongeng memiliki tugasnya masing-masing?
"Menjadi Dewi membuatku menjadi terlalu kuat dan mahatahu, maka dari itu semuanya jadi terasa membosankan bagiku. Ah! Aku juga tahu kalau kau memanggilku 'Dewi Bodoh' di dalam hatimu barusan, lho."
"Gkh ...!" Dia tahu?! "Ja-jangan seenaknya mendengar isi hati seseorang. Privasi, oi!"
"Baiklah, baiklah, aku akan menekan kekuatan mahatahu-ku khusus untukmu."
Aku kemudian menghela nafas. "Hah .... Sepertinya aku tahu alasanku datang kesini. Aku memang tidak senang karena ada orang yang memanfaatkanku hanya sebagai hiburan, tapi aku juga harus berterima kasih padamu karena terus membuatku tetap hidup." Aku memang tidak punya banyak pilihan selain menghiburnya, sih.
"Benar sekali, Arka. Hibur aku sekeras yang kau bisa. Jika aku sudah bosan padamu, aku bisa kapan saja akan membuangmu. Kau juga tidak punya hak untuk protes, karena nyawamu di dunia ini berada di tanganku."
Sebutir keringat kekhawatiran muncul di dahiku. Tiba-tiba nadanya berubah menjadi lebih dalam dan serius. Meskipun aku bisa membayangkan kalau masih ada seringai main-main pada wajahnya.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Dia langsung menanyaiku. Nadanya juga langsung berubah menjadi lebih ceria. Dewi ini benar-benar mengerikan.
"Rencananya aku akan meninggalkan hutan ini dan mengunjungi negara manusia, Lux Aeterna. Aku ingin melihat kehidupan seperti apa yang ada di sana. Tapi sebelum itu, masih ada satu urusan lagi yang harus aku selesaikan di sini."
"Dan apa urusan itu?"
"Aku ingin membunuh Naga Legendaris Gaia."
Dewi Loki menyeringai dan kemudian tertawa keras. Tapi itu tidak seperti dia mengejekku, dia hanya terhibur dengan rencanaku. "Kau benar-benar tontonan yang menarik, kau tahu?" ucap Dewi Loki.
"Jangan sebut aku sebagai 'tontonan' meskipun aku memang sebuah tontonan."
"Tapi aku yakin kau sekarang tidak tahu di mana Gaia berada, kan?"
"Ya. Tadinya aku mau mencari sisiknya yang berubah menjadi naga-naga kecil, tapi kebanyakan dari mereka sudah mati."
"Kau tidak perlu melakukan hal merepotkan seperti itu."
"Eh?"
"[Teleportation]"
Dewi Loki merapalkan sebuah Skill kepadaku yang membuatku langsung berpindah dari pinggir danau. Kini aku sedang berada di udara. Jatuh bebas. Benar. Dewi sialan itu memindahkanku di langit yang tinggi.
"Eeehhhhh!!!! Dasar Dewi sialan!!!"
__ADS_1
Meskipun aku kini sedang jatuh bebas. Tapi aku bisa melihat di bawahku dengan jelas, sayap membentang luas yang sedang terlipat dan makhluk super besar yang tertidur pulas. Dia adalah Naga Legendaris Gaia yang sedang tertidur.