
Langkahku berhenti tepat di depan bibir gua yang gelap dan lembab. Aku penasaran dengan tempat ini karena menurut pengamatanku selama dua minggu pertama saat aku tiba di dunia ini, gua ini adalah tempat para goblin tinggal.
"Sekarang, apa yang membuat kalian pergi dari tempat ini?"
Aku pun memasuki bibir gua itu dengan malas. Aku tahu, aku tahu! Para goblin itu kabur karena kemungkinan besar bakal ada musuh kuat yang aku temui di sini. Dan itulah yang aku incar!
Aku menyeringai kegirangan dan air liurku hampir tumpah karena membayangkan Skill apa lagi yang akan aku dapat dari mengalahkan musuh kuat yang ada di sini. Bahkan mungkin saja aku bisa mendapatkan titel dan Buff baru.
Hehehe! Hidup tidak akan menyenangkan jika kau tidak membahayakan hidupmu. Apalagi kalau kau hidup di dunia sistem RPG seperti ini, tentu saja yang kau inginkan bukanlah kehidupan normal seperti NPC game pada umumnya. Kau— lebih tepatnya aku ingin menjadi yang terkuat!
Walaupun mungkin ada makhluk-makhluk kuat seperti Naga Legendaris Gaia dan Pak Hecaton, tapi buktinya aku sudah mengalahkan salah satu dari mereka. Jadi perjalananku tinggal setengah langkah lagi.
Menjadi yang terkuat dan hidup tenang selamanya. Ahh .... Semoga aku tidak bertemu dengan makhluk-makhluk lain layaknya Gaia, atau mungkin raja iblis. Dan yang paling mending dari semua itu mungkin adalah Pahlawan.
Kau tahu, selalu ada saja manusia dengan titel Pahlawan yang berjuang atas nama manusia. Aku ingin melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri bagaimana wujudnya.
Ngomong-ngomong, aku berjalan cukup lancar masuk ke dalam gua. Apa? Kalian bertanya soal penerangan di gua ini? Ayolah, tempat ini adalah bekas markas goblin. Tentu saja ada deretan obor yang berbaris sepanjang jalan di pinggir gua. Lagipula aku sudah memeriksa hal itu sebelumnya, makanya aku berani masuk kesini.
Keadaan gua pada biasanya adalah gelap dan lembab. Tapi gua ini secara mengejutkan lumayan hangat. Stalaktit dan stalakmit yang terbentuk di atap dan lantai gua juga menambah estetika gua ini. Aku tidak menyangka ternyata gua memang seindah ini— yah ..., aku hanya pernah melihat gua dari TV, sih.
"Eh?"
Tiba-tiba, aku terkejut karena kakiku terjebak menginjak sesuatu. Teksturnya yang lengket tapi juga halus membuat kakiku terjebak di sana. Penerangan yang minim di sini membuatku ragu, tapi ini benang, kan?
Bentuknya yang mirip benang dan berwarna putih ini aku yakin adalah benang yang keluar dari hewan. Meskipun masih belum yakin, tapi saat aku melihat ke depan, aku dapat melihat benang-benang putih ini tersebar di seluruh sudut gua ini.
"A-apa-apaan ini?"
Dinding-dinding gua yang dekat dengan bibir gua sebelumnya adalah batu berwarna hitam, tapi makin masuk ke dalam warnanya berganti menjadi putih ditutupi oleh benang ini.
Aku menelan ludah keringku. Keadaannya lebih buruk dari yang aku bayangkan. Pantas saja para goblin itu memilih untuk pergi dari sini, karena apapun yang ada di sini sekarang telah menguasai tempat ini dan menjadikannya sebagai sarang.
Sekarang pilihanku hanya ada dua, terus maju atau keluar dari sini.
Belum terlambat sama sekali kalau untuk kabur dari sini sekarang. Tapi diriku terlalu penasaran untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam. Aku memang sudah memiliki bayangannya di dalam kepalaku, tapi tetap saja aku ingin melihatnya langsung.
"Grkh ...."
Aku menggertakkan gigiku satu sama lain dan memukul kepalaku berkali-kali— tapi tidak terlalu keras. Aku merasa kalau aku akan menyesal jika tidak masuk ke sana, tapi di satu sisi aku juga merasa akan menyesal jika masuk terlalu dalam.
Gimana ini? Gimana ini? Kepalaku semakin tidak karuan karena berada dalam puncak kebingungan. Sampai akhirnya aku memutuskannya.
"Ah! Bodo amat, lah! Persetan dengan apa yang ada di dalam nanti!"
Aku pun memotong benang yang menjebak kakiku dan melanjutkan langkahku menuju ke gua yang lebih dalam.
Dan tanpa aku sadari, dari titik butaku seolah ada yang mengawasi dan menciptakan delapan titik sinar kecil namun tajam dari langit-langit gua. Setelah itu, ia merayap cepat pergi dari sana.
**
Cukup lama aku telah berjalan lurus masuk lebih dalam ke gua ini. Dan kini setiap jengkal dan sudut sudah dipenuhi oleh benang-benang putih yang menghiasi seluruh bagian gua ini. Pasti yang punya benang ini adalah seorang arsitektur handal, pikirku.
Dan aku berhenti melangkah, karena di depanku sekarang terdapat dua jalan bercabang yang membuatku harus memilih salah satu jika mau lanjut.
Aku menopang daguku dengan tangan dan berpikir. Tidak perlu terlalu spesifik dan hanya perlu memilih salah satu menurutku.
Orang-orang bilang, kanan adalah jalan yang selalu membawamu ke keberuntungan. Jadi kebanyakan orang akan memilih jalur kanan jika ada percabangan di setiap tempat. Jadi kurasa, aku juga akan melakukannya.
"Yosh, sudah kuputuskan." Aku pun berbelok ke kiri.
Suasana gua dari jalan yang aku pilih entah kenapa semakin lama semakin mencekam. Obor yang menempel di dinding-dinding gua semakin sedikit— kalaupun ada, beberapa pasti sudah jatuh dan mati sepanjang yang aku temukan.
__ADS_1
Udaranya juga semakin menipis karena aku telah jauh dari pintu gua. Dan suara butiran air yang menetes dari langit-langit gua seakan menjadi suara pengiring yang tak nyaman untuk didengar.
Ayolah, Arka! Kau yang memilih untuk masuk ke sini dan belok kiri! Lagipula, yang ada di sini tidak mungkin terlalu buruk. Paling hanya ada beberapa monster kuat dan merepotkan lainnya. Nn, tidak ada yang perlu ditakutkan.
Aku menguatkan dan menenangkan diriku sendiri. Lagipula, sepertinya sudah terlambat untuk kembali keluar. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya ada di sini.
Tapi aku kemudian cengar-cengir sendiri. Jika mengikut kepada manga Jepang yang pernah aku baca sebelumnya, siapa tahu di sini ada perempuan cantik yang terjebak di sini.
Setelah itu, aku menyelamatkannya dan dia berterima kasih padaku lalu bertanya padaku kenapa kau menyelamatkanku. Tapi aku hanya menjawab, 'Aku tidak memerlukan alasan untuk menyelamatkan seseorang'. Sheesh ...! Benar-benar keren!
"Ngehehe ... ehehehe ...." Tanpa sadar tawaku keluar dari mulutku karena skenario yang aku ciptakan di dalam otakku.
CRKK...
"Hn?"
Karena terlalu banyak membuat skenario palsu, aku sampai tidak sadar kalau diriku kini bukan berada di lorong gua lagi. Sekarang tempatnya lebih besar dan lebih luas. Sebuah ruangan yang penuh dengan benang-benang putih.
Aku juga melihat banyak bulatan benang putih yang tergantung di langit-langit gua. Jumlahnya ada banyak. Banyak sekali. Besar bulatan itu sepertinya dapat memuat tubuh dan sabitku di dalamnya.
"I-ini seperti ...."
Sarang. Benar, itu kata yang aku cari dari tadi. Ini adalah sarang suatu makhluk dan aku telah masuk ke dalamnya. Dan bulatan-bulatan itu hanya memiliki dua kemungkinan.
Itu bisa jadi makanan mereka. Atau telur mereka.
Ini gawat. Jika aku ketahuan oleh yang punya sarang memasuki tempat privasi mereka, maka aku akan menjadi target seluruh koloni.
Dengan perlahan dan hati-hati, aku mulai melangkah mundur dari sarang makhluk ini. Tapi kecerobohanku seolah tidak membiarkan diriku punya hidup yang tenang. Aku tanpa sengaja menginjak salah satu benang yang menghubungkan benang itu dengan bulatan yang tergantung. Dan sisanya bisa kalian tebak.
BRAAKK... BRAAKK... BRAAKK...
Dari bulatan-bulatan benang yang jatuh itu, beberapa dari mereka terbuka dan aku tidak sengaja melihat ke dalamnya.
Mataku sedikit melebar, tapi aku tidak terlalu terkejut. Sesuatu yang aku lihat ada di dalam bulatan benang itu adalah goblin tak bernyawa yang tubuhnya sudah setengah meleleh.
Aku dapat melihat salah satu bola matanya yang sudah tidak pada tempatnya lagi, tapi masih tergantung pada tengkoraknya dan kulit dan dagingnya yang sudah tidak menutupi tulang rusuknya. Satu kata. Menjijikkan.
Mengikuti suara jatuh bulatan-bulatan benang yang berisik barusan, aku merasakan getaran dari benang-benang di lantai gua, seakan gempa terjadi. Tapi aku tahu kalau itu bukan gempa.
Aku tersenyum miris menyadarinya. Getaran itu berasal dari pemilik sarang yang sedang menuju ke sini.
"Sembunyi ... sembunyi .... Ahh!"
Aku tidak mau mengambil terlalu banyak resiko dan akhirnya bersembunyi di dalam bulatan benang itu. Dan yang bisa aku lakukan selanjutnya adalah menunggu.
Menunggu sang pemilik sarang ini.
Itu dia.
Awalnya muncul satu, lalu kemudian lima, lalu kemudian aku kehilangan hitungan karena gerombolan lainnya datang bersama-sama dan langsung menyebar ke segala penjuru arah— ke kanan, kiri, dinding gua, bahkan ke langit-langit.
Dan pemilik sarang ini seperti yang sudah aku perkirakan. Laba-laba. Tapi aku belum pernah melihat laba-laba dengan kombinasi warna seperti ini di bumi.
Seluruh tubuhnya berwarna putih. Tidak ada warna lain. Putih, putih, dan putih. Lalu delapan matanya memancarkan sinar merah yang mengintimidasi. Warna kombinasi yang cukup aneh bagi seekor laba-laba.
Ngomong-ngomong, secara sembunyi-sembunyi barusan aku melakukan [Appraisal] kepada beberapa laba-laba ini dan rata-rata mereka hanya sekitar Level 5 sampai 8. Setara dengan satu goblin. Dan aku mengerti kenapa para goblin itu memilih kabur daripada melawan mereka.
Para goblin itu bahkan tidak lebih dari seratus, tapi laba-laba ini masih terus menerus bertambah jumlahnya dari pintu masuk untuk memeriksa apa yang terjadi di gudang makanan mereka. Jumlahnya dua— tidak, mungkin saja tiga ratus ekor.
Bahkan sepertinya aku bakal kesulitan untuk melawan mereka yang unggul dalam hal jumlah. Itu berarti aku harus segera kabur dari sini. Rasa penasaranku sudah terbayarkan dan aku juga tidak mau melakukan pertarungan sia-sia di sini.
__ADS_1
Tapi pertanyaanku satu, bagaimana caranya aku keluar tanpa ketahuan oleh mereka? Maksudku, lihat di sana! Di sana! Dan di sana juga! Tempat ini penuh dengan laba-laba putih, woi!
Bahkan jika aku menunjukkan pergerakan sedikit atau memunculkan bagian tubuhku akan membuat mereka sadar kalau aku ada di sini. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa tetap diam di sini akan membantu? Cairan enzim yang digunakan untuk melelehkan mangsanya di dalam bulatan ini tidak bekerja padaku, sih.
Sepertinya itu adalah keputusan yang tepat. Aku akan menunggu sampai mereka pergi atau setidaknya jumlahnya berkurang. Benar. Itu adalah jalan terbaik saat ini. Menunggu dan menunggu.
Atau aku pikir akan semudah itu.
Kenapa! Dunia! Tidak pernah! Berpihak! Padaku! Sekali saja! Para laba-laba itu tiba-tiba mulai mengecek bulatan benang satu persatu dan mengeluarkan mangsa yang sedang diproses di dalamnya.
Lebih kejamnya lagi, mereka langsung memakan mangsanya itu di tempat dengan taringnya. Apa-apaan pertunjukan yang mengerikan barusan?
Tanpa menunggu lama, mereka langsung bergeser ke bulatan benang kedua, lalu ketiga, lalu keempat, dan kemudian milikku secara bersamaan.
Aku tidak punya pilihan lain. Jika itu yang kalian mau, maka baiklah!
Ketika beberapa laba-laba mulai mendekati bulatan benang dengan aku yang ada di dalamnya, aku bersiap untuk merapalkan mantraku. Dan setelah mereka merobek benangnya, mata kami berdua bertemu.
"Halo, tuan laba-laba."
"Khiik ...?"
"Menyebarlah! [Dark Wave]"
Gelombang aura hitam menghempaskan semua laba-laba yang berada di sekitarku. Tidak hanya menghempaskan, banyak juga dari mereka yang langsung terhapus eksistensinya karena memiliki stat kecil dan tidak bisa menahan [Dark Wave] milikku.
Dan setelah mereka semua tersapu dan membukakan jalan untukku, ini adalah kesempatanku untuk kabur. "Sekarang!" Aku melesat dengan kecepatan tinggi karena stat kecepatanku telah meningkat.
Para laba-laba itu bersuara— tidak, berteriak? Aku belum pernah mendengar suara laba-laba sebelumnya, jadi aku agak bingung. Suara yang mereka hasilkan hampir mirip dengan suara ketika kalian menggesek permukaan kaca dengan kuku. Ngilu? Iya.
Tapi aku tidak memikirkan itu terlalu lama, karena gelombang besar laba-laba layaknya tsunami mulai membuntutiku. Selama berlari, aku menembakkan beberapa [Dark Marble] dan memperbesarnya yang membuat pergerakan mereka terhambat.
Aku terus berlari selama beberapa menit dan akhirnya sampai pada percabangan tempat aku memilih belok ke kiri sebelumnya. Itu berarti tinggal sedikit lagi, sebelum aku bisa keluar dari sini.
"Hah ...?!"
Saat aku ingin berjalan lurus, para laba-laba tiba-tiba menutup jalan dengan membuat sarang laba-laba lengket. Aku berlari lebih cepat dan membelahnya dengan sabit.
Tapi itu tidak mudah. Sabitku tidak bisa langsung membelahnya dan malah menempel pada sarang laba-laba itu. Satu lapis saja sudah butuh waktu serta usaha ekstra dan lapisan yang sudah mereka buat .... Sialan. Terlalu banyak.
Mereka membuatku tidak bisa keluar dari sini dan satu-satunya jalan adalah jalur kanan yang mau tidak mau aku berlari ke sana. Tapi di sini juga begitu banyak laba-laba— meskipun tidak sebanyak sebelumnya, sehingga aku masih bisa menebas mereka dengan sabit ketika mereka melompat ke arahku.
Aku mencoba menengok ke belakang dan itu adalah pilihan buruk. Gelombang tsunami laba-laba masih mengejarku tanpa lelah. Tapi ini adalah satu-satunya jalan lurus di gua ini. Aku tidak tahu apa yang ada di ujung gua ini.
"??!!"
Aku telah sampai pada ujung gua. Tapi itu bukan jalan buntu, ada sebuah lubang besar yang berada di lantai dan mengarah langsung ke bawah.
Apa itu aman? Bagaimana dengan dasarnya? Apa yang sudah menungguku di sana? Apa aku masih bisa naik ke atas lagi setelah turun ke bawah?
Kebiasaan overthinking-ku mulai muncul lagi. Tapi tidak ada waktu untuk itu, aku langsung melompat ke lubang itu tanpa memikirkan banyak hal. Dan untuk mencegah ratusan laba-laba masuk ke dalam mengikutiku, aku memiliki rencana brilian.
"[Shadow Construct : Wall]"
Lubang itu tertutup dengan skill [Shadow Construct] dan mencegah laba-laba kroco itu mengikutiku. Setidaknya aku aman untuk saat ini dari mereka, tapi aku mendarat dengan selamat dan melihat ruangan sarang ini.
Sarang ini lebih besar daripada tempat penyimpanan makanan karena aku tahu kenapa. Benar. Mataku melebar karena hal pertama yang aku lihat di sini adalah delapan kaki besar yang sedang beristirahat dengan delapan mata merah yang sadar akan keberadaanku.
Aku pun menghela nafas dan tidak tahu mengapa aku bisa sesial ini di dunia ini. Apa karena Dewi Loki yang memanggilku, atau karena hal lain? Aku tidak tahu.
"Hah .... Kenapa aku harus ketemu sama ratunya, sih? Kampret, kampret," ucapku pasrah.
__ADS_1