Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan

Sistem OP Sang Pahlawan Cadangan
Chapter 1.9 : Melawan Ratu Mimpi Buruk, Neigh


__ADS_3

"Hah .... Kenapa aku harus ketemu sama ratunya, sih?" ucapku pasrah.


Aku mengaktifkan Skill [Appraisal] milikku dan mengetahui kalau dia adalah ratu dari laba-laba putih yang ada di sini. Julukannya adalah [Queen of Nightmare, Neigh] titel yang cukup keren untuk laba-laba sepertinya.


Karena aku yakin bahwa laba-laba adalah 'mimpi buruk' bagi sebagian besar orang, apalagi kalau laba-laba tersebut ukurannya lebih besar daripada Pak Hecaton— seperti dia.


Iya, dia besar. Tapi sarang ini membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Ia sepertinya juga tidak terlalu terganggu dengan keberadaanku, meskipun sebenarnya dia sadar kalau aku ada di sini.


Kaki-kaki besarnya bergerak sedikit, tapi itu dia lakukan karena ada sesuatu yang bergerak di bawahnya. Yap. Kalian benar-benar bisa membaca pikiranku, yang sedang bergerak bebas di bawahnya adalah anak-anaknya yang baru saja menetas.


Aku memang tidak takut pada serangga, tapi jika mereka berjalan menuju ke arahmu dan mendaki kakimu lalu mencoba masuk ke setiap lubang di tubuhmu, bagaimana? Apa kau masih tidak takut pada serangga? Itu yang terjadi pada diriku sekarang.


Mereka ini hanya level 1 dan 2, aku bisa saja membunuh mereka dengan mudah. Tapi yang jadi masalahnya adalah bukan itu. Aku melirik ke arah laba-laba besar yang delapan matanya terus melihat ke arahku.


Yang aku takuti adalah induknya.


Induk laba-laba ini— Neigh, memiliki level dua kali lipat dari yang aku miliki sekarang. Setelah mengalahkan para goblin, Levelku sekarang adalah Level 25. Sementara Neigh berada pada level 55. Jarak yang cukup jauh dan tentu saja tidak mudah bagiku untuk mengalahkannya.


Sepertinya dia setara dalam segi Level dari Pak Hecaton yang mencapai Level 52 saat aku kalahkan. Tapi tentu saja mereka berdua berbeda jauh dalam hal pola serangan. Setidaknya itu yang aku yakini.


Dengan tubuhnya yang sangat besar yang hampir memenuhi ruangan ini sendirian tentu membuatnya kesulitan bergerak, bahkan dia juga sambil menjaga dan menetaskan telurnya. Itu berarti kekuatannya bukan berada pada kecepatan maupun serangan fisik kuat.


Tapi apa? Apa kekuatan utama laba-laba ini?


Aku menutup mataku sambil terus berpikir. Aku melakukannya karena para anak laba-laba ini terus bergerak bebas di sekujur tubuhku. Aku juga telah menutup setiap lubang di tubuhku dengan Skill [Shadow Construct].


Dengan Skill ini, aku bisa membuat mereka tidak bisa masuk ke lubang hidung, telinga, mulut, dan lubang 'lainnya' begitu saja. Tapi aku masih bisa bernafas teratur seperti biasa. Aku tidak mungkin terlalu lama menahan nafas sambil mencoba menutupi semua lubang di tubuhku, tanganku cuma dua.


Kalian bertanya kenapa mereka mencoba keras masuk ke dalam lubang di tubuhku. Yah ... mungkin mereka menganggapku sebagai makanan. Tapi kulitku terlalu keras bagi mereka yang masih level rendah, jadi mereka mencoba mengunyahku dari dalam.


Bicara tentang kekejaman alam liar. Yah .... Ini bukan Indonesia, sih. Jadi aku tidak bisa terlalu protes macam-macam.


Ngomong-ngomong, sampai kapan aku harus diam berdiri begini? Aku bisa tahan sampai kapanpun asal perutku tidak keroncongan, tapi aku juga harus menemukan jalan keluar secepatnya.


[Clairvoyance]


Aku merapalkan Skill di dalam hati. Mulut dan mataku tidak bebas terbuka untuk saat ini, beruntung aku menemukan hal semacam ini saat aku sedang bosan dan sedang coba-coba.


Apa?! Kalian bertanya kenapa aku selalu berteriak ketika menggunakan Skill padahal aku bisa merapalkannya dalam hati? Kufufu ... apa kalian tidak tahu rasa puas saat meneriakkan sesuatu lalu keluar kekuatan dahsyat dari tubuh kalian? Itu yang aku cari di dunia ini dan tidak bisa aku dapatkan saat aku berada di bumi.


Apa kalian tahu rasanya ketika sudah berteriak dengan sekuat tenaga tapi yang keluar bukanlah kekuatan kalian, melainkan tetangga di sebelah rumah karena kalian berisik? Jika kalian tidak pernah merasakannya, maka kalian tidak akan mengerti rasa puasnya.


Aku masih terus mengamati situasi dengan Skill [Clairvoyance] dan sepertinya dugaanku tepat. Tidak ada jalan keluar lain sama sekali. Ini adalah ruangan khusus untuk induk laba-laba yang jalan satu-satunya adalah pintu masuk tadi. Bisa dibilang ruangan paling ujung dan paling penting bagi koloni laba-laba ini.

__ADS_1


Jadi mau tidak mau aku harus pergi dari lubang tadi atau membuat jalan baru, ya? Dua-duanya memang pilihan yang tidak mudah, tapi hanya itu pilihan yang aku punya. Selain itu, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya pergi dari sini tanpa membuat Neigh marah.


Aku belum mendapat quest untuk memburunya, jadi aku tidak perlu untuk memancing amarahnya. Bergerak perlahan saja. Benar ... perlahan tapi pasti.


Aku yang dari tadi hanya berdiri diam sambil dikerubungi oleh laba-laba kecil akhirnya mulai bergerak. Guncangan yang aku hasilkan sepertinya tidak membuat mereka pergi melepaskanku begitu saja. Apa mereka ini tidak takut mati, ya? Jika tidak ada induk kalian, aku bisa membunuh kalian semudah membunuh lalat, oi.


Aku masih menutup mataku ketika kakiku mulai melangkah. Aku juga tidak perlu takut menabrak karena Skill [Clairvoyance] milikku masih aktif. Tapi kemudian getaran keras yang tiba-tiba terjadi sesaat setelah aku memulai langkah pertama membuatku sedikit kehilangan keseimbangan.


"Uwooh!" Beruntungnya aku masih bisa menyeimbangkan tubuhku dan tidak jadi jatuh.


Berkat getaran keras macam gempa itu membuat para anak laba-laba yang sedang berkerumun di tubuhku juga ikut jatuh dan aku pun bisa bergerak lebih bebas lagi. Mereka bergerak mundur kembali kepada induknya. Memang efek yang mereka timbulkan tidak terlalu banyak, tapi rambut-rambut halus dari kaki mereka membuat kulitku gatal.


"A-apa sih tadi itu?"


Aku menonaktifkan Skill [Clairvoyance] dan membuka mataku. Tapi mataku langsung melebar ketika di depan wajahku sudah terdapat kaki besar yang berusaha menghujamku.


"Sial!"


BRAAKK...


Tapi aku berhasil menghindarinya dengan kecepatan refleksku. Tanah pijakanku sebelumnya menjadi kawah kecil karena hujaman kakinya cukup kuat dan berat.


"Tch. Beraninya kau nyerang tiba-tiba?! Bilang dulu kalau mau nyerang, woi!"


Apa itu? Apa dia kesal? Apa aku membuat sesuatu yang membuatnya marah? Aku menengok ke kanan dan kiri untuk mencari tahu kalau penyebab Neigh bertindak agresif adalah aku atau bukan. Dan aku mengetahui penyebabnya saat aku melihat ke bawahku.


"Ahh ...."


Aku menginjak salah satu anaknya, toh. Ehek.


BRAAKK...


Dia kembali menghujamku lagi. Maafkan aku, okey?! Aku benar-benar tidak sengaja! Lagipula kau punya banyak anak jadi satu ekor saja mati bukankah tidak masalah? Ayolah, kenapa kau begitu sensitif padaku?


Tapi tentu saja dia tidak memaafkanku. Meskipun hanya satu, tapi itu tetaplah anaknya. Benar-benar ibu yang penyayang. Mungkin aku akan terharu jika saja dia tidak mencoba membunuhku sekarang.


Ngomong-ngomong, gerakan hujaman kaki Neigh lambat. Setidaknya cukup lambat bagiku yang memang mengandalkan kegesitan dan kecepatan. Tapi meski begitu, kakinya yang besar menghasilkan kerusakan yang juga besar dan area kerusakannya pun tidak kalah luas. Jadi aku tidak boleh lengah sedikitpun.


Aku melompat ke atas untuk menghindari hujaman kaki Neigh, tapi kaki yang lainnya berusaha menyerangku saat aku berada di udara. Aku mencabut sabitku di yang aku taruh di punggungku dan memblokir serangan Neigh.


Aku berhasil membelokkan serangannya. Berbeda dengan saat melawan Pak Hecaton, malah aku yang terbang saat mencoba menangkis tangannya. Ternyata Neigh memang tidak terlalu pandai dalam pertarungan fisik. Aku punya kesempatan untuk menang!


Serangan Neigh yang aku blokir sebelumnya menghantam dinding gua dan menciptakan kawah di sana. Selain itu, stalaktit yang tergantung di langit-langit gua juga berjatuhan dan menimpa anak laba-laba.

__ADS_1


Lihat! Kau juga membunuh anak-anakmu sendiri! Dan bahkan lebih banyak dari yang aku lakukan! Bukankah itu berarti aku tidak terlalu bersalah di sini? Aku masih menganggap diriku tidak bersalah karena Neigh juga secara tidak sengaja membunuh anak-anaknya sendiri.


Tapi sepertinya sekarang dia sudah tidak peduli dengan hal itu. Karena ia kini fokus untuk menyerang dan mencoba membunuhku.


Kembali fokus ke pertarungan, aku menancapkan ujung sabitku pada dinding gua dan menjadikannya pijakan dan tempat melesat agar momentum yang dihasilkan dapat langsung menuju ke arahnya.


Meskipun tidak sekuat Pak Hecaton, tapi kaki Neigh tetaplah keras. Sial, apa semua makhluk di dunia ini keras-keras ya kecuali kadal bakar? Tapi kalau begitu aku sudah tahu kelemahannya. Sama dengan Pak Hecaton, aku akan mengincar kepalanya!


Kakinya tidak bisa menjangkauku saat aku melesat menuju matanya. Hahaha ... siapa suruh kau memilih ruangan sempit seperti ini! Padahal aku tidak mau menyerangmu, tapi kau yang menyerangku duluan. Jadi ini balasannya.


Meskipun aku merasa sudah menang, tapi cukup aneh karena tidak ada notifikasi layar interface seperti biasanya saat aku mau mengalahkan monster-monster macam Pak Hecaton. Terlebih lagi ini adalah musuh yang tangguh dan levelnya tinggi, apa aku benar-benar tidak akan menerima hadiah ketika mengalahkannya?


Cukup disayangkan juga. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus keluar dari sini dan mengalahkannya tanpa mendapat apa-apa. Yang penting aku bisa selamat dulu.


Kini aku pun menebaskan sabitku dan ingin sampai pada salah satu mata dari delapan mata Neigh yang berada sangat dekat denganku. Bahkan aku bisa melihat refleksi bayanganku sendiri dari matanya. Warna tubuh putih berpadu dengan mata merah ruby. Indah sekali. Tanpa sadar aku malah memujinya.


"Ap—?!"


Aku memicingkan mata dan tebasanku sontak melemag ketika delapan mata Neigh secara tiba-tiba memancarkan sinar super terang yang membuatku lengah dan hampir membuat mataku buta.


Apa-apaan ini?! Aku tidak tahu laba-laba bisa melakukan hal seperti ini?


Saat aku sedang bingung juga terkejut, secara aneh, kakiku menyentuh tanah yang membuatku tidak siap dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh berguling ke depan beberapa meter.


Apa yang terjadi? Padahal sebelumnya aku melayang cukup tinggi di atas tanah. Lalu saat mendarat pun, perasaannya berbeda dengan batu gua yang penuh dengan benang putih lengket. Lebih terasa seperti mendarat di conblock berpasir.


Aku kemudian berdiri dan membersihkan lengan serta pakaianku dari butiran pasir yang menempel. Ternyata itu memang bukan imajinasiku semata. Kemudian aku memperhatikan sekitarku dan menyadari sesuatu yang berbeda.


"Itu ... sekolahku?"


Aku tidak bermimpi. Yang aku lihat di depanku adalah bangunan sekolah pada saat aku masih di bumi. Ini benar-benar mirip— tidak, sama persis malah. Entah bagaimana caranya aku bisa berada di sini tiba-tiba.


"Ah! Sabitku?!"


Aku mencoba meraih punggungku dan meraba apakah di sana ada sabitku atau tidak. Tapi tidak ada. Padahal sebelumnya dia masih berada di genggamanku. "Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamku bingung.


Suasana di sini juga lebih sepi dari biasanya. Aku masih ingat sekali bahkan ketika sore pulang sekolah, gedung sekolah masih ramai karena ada anak-anak yang melakukan ekstrakurikuler.


Aku menengok ke kanan dan kiri. Tapi benar-benar tidak ada orang seolah gedung ini sudah ditinggalkan sejak lama.


Aku tidak boleh diam saja. Jika aku memang benar berada di sekolah, pasti ada seseorang yang aku kenal yang akan aku temui.


"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Tekadku pun sudah bulat, akhirnya aku masuk ke dalam gedung sekolah. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi pada diriku dan bagaimana caranya aku bisa berada di sini.

__ADS_1


__ADS_2