
Aku pun masuk ke dalam gedung sekolah. Lorong pintu masuk yang sepi memiliki suasana yang berbeda saat biasanya aku selalu berjalan lewat sini dalam keadaan ramai dan canda tawa bersama teman-temanku.
Melihat ini membuatku teringat masa-masa itu. Walaupun baru satu tahun bersekolah di SMA, tapi kedekatan kami sudah terasa seperti tiga tahun bersama. Mungkin saja karena anak laki-laki di kelas kami lebih sedikit daripada anak perempuan yang lebih dominan, membuat kami lebih solid dan dekat.
Bukannya aku tidak punya teman dari kelas lain atau diluar sekolah, tapi teman-teman kelasku memiliki kedekatan yang berbeda karena hampir setiap hari kami selalu bersama.
Aku melewati lorong pintu masuk dengan perlahan sambil meraba dinding hijau di sini. Aku melewati meja resepsionis yang pada saat aku masih sekolah, teman-temanku selalu mengendap-endap berusaha bolos sekolah.
Kalau soal yang seperti itu, aku tidak ikutan. Karena aku tahu, kalau usaha mereka tidak akan berhasil. Meskipun mereka mengendap-endap tapi selalu ada kamera CCTV yang menyala dua puluh empat jam sehari.
Jadi saat jam istirahat dan aku ingin berjalan ke kantin, aku sering melihat teman-temanku dihukum di depan tiang bendera sambil hormat. Yah ... padahal aku sudah memperingatkan mereka, tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga masih anak sekolah.
Yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah lewat di depan mereka sambil membawa jajanan dan duduk sambil memakan jajananku sampai habis. Kalau dipikir-pikir, kelakuan cukup jahat, ya? Aku masih bisa membayangkan wajah kesal dan lapar mereka sampai sekarang.
Dan kini tiang bendera itu ada di depanku, bendera merah putih juga terpasang di atasnya— meskipun tidak berkibar karena tidak ada angin. Mengingat hal itu membuatku tidak bisa menahan senyum kecil tercipta di bibirku.
Aku pun meninggalkan tempat itu dan pergi menuju ke tempat lainnya. Tempat yang penuh kenangan bagiku, yaitu ruangan kelas.
Tempatnya berada di lantai dua gedung sekolah di samping ruang perpustakaan. Aku menyusuri lantai dua dengan berbagai kenangan yang kembali muncul di kepalaku sesaat aku melangkahkan kakiku setiap jengkalnya.
Dan kini aku telah sampai.
Ruangan yang sama dengan ruangan kelas lainnya, jika kosong begini tidak akan ada sesuatu yang terlalu bagus di sini. Tapi kelas ini adalah sumber kebahagiaanku— tidak, kurasa sumber kebahagiaan semua teman-teman sekelasku ada di sini.
Aku berjalan menuju ke meja paling kiri di baris nomor dua dekat tembok, lalu kemudian duduk di sana. Ini adalah tempat dudukku selama belajar.
Aku tidak dapat tempat duduk di belakang bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku tidak kebagian. Aku kalah cepat dengan teman-temanku yang masuk pagi hanya di saat berebut tempat duduk.
Tapi pada akhirnya, aku kebagian duduk di sini. Dan sepertinya ini adalah takdir bagi anak pintar sepertiku yang tidak bisa duduk di belakang. Sementara teman-temanku yang duduk di belakang malah sering menghampiriku dan bertanya soal pelajaran. Kampret emang mereka.
Selain nilai pelajaranku yang baik ketika duduk di sini, aku juga menemui takdir indah lainnya. Yap. Orang yang duduk persis di depanku adalah perempuan yang aku sukai.
Kulitnya cukup putih bagi orang Indonesia, matanya bulat penuh keceriaan. Lalu setiap ke sekolah rambutnya selalu bergaya kuncir kuda dengan aksesoris minim sehingga aku tahu kalau wajah aslinya memang cantik— mungkin hanya bedak dan pelembab bibir. Entahlah, aku tidak ahli soal kosmetik.
Dia adalah salah satu perempuan cantik dan pintar yang ada di kelas. Sering ditanyai soal pelajaran oleh teman-teman kelas perempuan dan juga selalu mendapat nilai yang tinggi.
Dia benar-benar versi perempuan dari diriku. Yang membuatku aku awalnya kagum dengan dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa tetap pintar dan cantik di saat yang bersamaan, bukankah orang seperti itu harusnya langka?
Maksudku, aku sendiri memiliki beberapa kelemahan dan aku masih belum bisa mengatasinya. Tapi dia seakan orang yang tidak punya kelemahan, aku bahkan tidak masalah jika orang menganggap kalau dia lebih sempurna dariku— karena aku juga berpikir demikian.
Lalu rasa kagum itu berubah menjadi rasa suka. Keseharianku yang awalnya hanya bermain dan belajar, tiba-tiba sesuatu yang bernama 'cinta' menyelinap masuk ke dalam sana dan membuat semuanya kacau.
Apa yang kalian lakukan jika jatuh cinta pada seseorang? Tentu saja kalian akan selalu memikirkannya setiap saat, 'kan? Dan itulah yang terjadi pada diriku sendiri.
Saat makan, saat mandi, bahkan saat sebelum tidur. Wajahnya selalu terbayang di dalam kepalaku. Bahkan ketika berbicara dengannya, jantungku berpacu kencang tak karuan dan membuat wajahku memerah bagai kepiting rebus.
Aku hanya bisa memperhatikan punggungnya ketika ia sedang duduk di depanku saat itu. Dan ketika dirinya berbalik badan, aku berpura-pura sibuk melakukan sesuatu seperti menulis atau pura-pura membaca.
Tapi meski begitu, ada suatu hal yang membuatku tidak bisa menyatakan cintaku padanya.
Sebenarnya teman kelas laki-laki sudah mengetahui kalau aku menyukainya, dan yang perempuan juga mendukungku. Tentu saja rasa percaya diriku ikut naik ketika dukungan sudah datang dari berbagai pihak.
Lalu sesuatu terjadi.
Guru waktu itu menyuruhku ke depan kelas untuk membacakan hasil tugas yang akan kami koreksi bersama. Dan aku pun berjalan ke depan kelas tanpa masalah.
Aku membawa buku milikku dan mulai melihat soal pertama yang ingin aku baca. Lalu kemudian aku melihat ke arah teman-temanku.
Lalu tiba-tiba aku merasa gugup, mulutku rasanya kaku tidak bisa digerakkan dan juga tidak mau mengeluarkan suara. Mataku melebar dan tubuhku gemetaran.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Padahal aku sering berbicara di depan teman-temanku dan aku juga sering mengajari mereka. Tapi kenapa ketika aku berdiri sendiri di sini dan tatapan mereka tertuju padaku, aku tiba-tiba merasa takut dan ragu.
Benar. Itu adalah kelemahanku.
Aku tidak suka menjadi pusat perhatian sendirian. Tatapan mereka terlalu mengerikan bagiku dan ekspektasi tinggi mereka menyiksaku. Bahkan ketika itu adalah teman-temanku sendiri, aku masih belum bisa.
Lalu setelah kejadian memalukan itu, guru menyuruhku untuk duduk dan menggantiku dengan yang lain, sementara aku hanya bisa berjalan kembali ke tempat dudukku dengan lemas. Tidak ada yang tertawa atau mengejekku, mereka hanya bingung. Aku juga tidak tahu dan bingung kepada diriku sendiri.
Sejak saat itu aku tidak bisa menyatakan perasaanku padanya. Aku yang telah memalukan diriku sendiri tidak pantas bagi orang sepertinya. Yang bisa aku lakukan hanyalah memperhatikannya dari jauh seperti sebelumnya. Dan setelah itu, hubungan kami pun menjauh.
Cerita yang cukup menyedihkan, bukan?
Apa?! Kalian menyebutku penakut? Dengar sini, itu bukan tindakan penakut, tapi sadar diri! Semoga kalian bisa membedakan hal itu.
__ADS_1
"Arka ...?"
"??!!"
Aku langsung melompat dari bangku dan berdiri. Masuk ke dalam mode waspada. Muscle memory yang sudah terlatih membuatku langsung meraih punggungku dan ingin mengambil sabit, tapi sayangnya sekarang aku sedang tidak memilikinya.
Ada seseorang yang memanggilku— terlebih lagi namaku. Aku belum memberitahu siapa-siapa di dunia lain soal namaku. Jangankan memberitahu, bertemu manusia pun aku juga belum pernah.
Jadi situasi ini adalah pertemuanku dengan manusia yang pertama setelah sekian lama.
Tapi ketika aku melihat pada suara orang yang memanggilku, mataku sontak melebar dan mulutku menganga. Dia jelas bukan orang dari dunia lain, karena pakaian yang ia kenakan adalah baju SMA Indonesia. Lalu kemudian dia adalah perempuan, wajahnya bingung seakan bertanya kenapa aku ada di sini.
Lalu yang terakhir, dia adalah teman sekelasku. Lebih tepatnya perempuan yang aku sukai sewaktu aku di kelas.
"Shireen?"
Oh iya, aku belum memberitahukannya. Nama perempuan itu adalah Shireen Aulia. Dialah perempuan sempurna yang aku bicarakan dari tadi. Tapi aku masih tidak mengerti kenapa dia bisa ada di sini— meskipun aku tahu kalau kami sedang berada di kelas.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.
"Yang aku lakukan? Arka, apa kau tidak apa-apa? Kau kelihatan seperti orang yang bingung."
Tentu saja aku bingung! Aku tiba-tiba berada di sini dan Shireen juga ikut berada di sini. Apa ini semacam ilusi? Apa aku terjebak di dalamnya? Wajahku sepertinya terlihat bingung, yang membuat Shireen nampak khawatir.
Dia kemudian berjalan perlahan mendekatiku dan kuda-kudaku juga melemah. Shireen kemudian berhenti ketika jarak kami begitu dekat. Dia menempelkan punggung tangannya ke dahiku, sepertinya memeriksa apakah aku sedang demam atau tidak.
"Kau tidak demam. Apa kepalamu baik-baik saja?"
Wajahnya dekat! Dekat sekali! Terlalu dekat! Aku bahkan bisa mencium wangi sampo rambutnya. Gawat, ini tidak baik bagi tubuhku. Aku kemudian mundur dan menengok ke arah lain sembari menjauhkan tangannya dari dahiku.
"A-aku tidak apa-apa."
"Benarkah? Tapi perilakumu aneh saat ini."
Dia bergerak ke arah aku membuang wajahku dan mata kami kembali bertatapan. Dia memang lebih pendek dariku sehingga saat aku menunduk, wajah kami jadi lebih dekat.
"Saat pulang sekolah, aku hampir tertabrak truk. Tapi tiba-tiba sebuah suara yang menamai dirinya sistem berbicara di dalam kepalaku dan aku teleportasi ke sebuah hutan ...." Aku mulai bercerita.
"Arka?"
Shireen yang mendengarnya terdiam dan kemudian tertawa geli. "Maaf karena aku tertawa, tapi apa kamu sedang membicarakan tentang video game?" tanyanya.
"Ah, iya, sepertinya begitu. Memang terdengar seperti video game, ya?"
Tidak mungkin dia percaya begitu saja, ya? Lagipula ceritaku terlalu gila untuk menjadi kenyataan. Tapi aku juga tidak menganggap kalau aku sedang bermimpi, makanya aku bingung dan bimbang dari tadi.
Tapi tawa Shireen memang selalu manis. Membuat rasa lelahku luntur begitu saja. Aku senang karena bisa melihat tawa dan senyumannya lagi.
"Meskipun aku tidak terlalu mengerti, tapi itu yang disukai oleh anak laki-laki, kan? Kedengarannya memang menyenangkan, apalagi kau mengatakannya seolah kau yang benar-benar mengalaminya," ucap Shireen.
Aku tahu itu memang terdengar gila. Tapi percayalah padaku, wahai Shireen. Lagipula aku terlalu terbawa suasana dan secara tidak sengaja malah menceritakan kehidupanku di dunia lain. Aku sadar kalau ada yang salah denganku.
"Tapi tetap saja ...." Dia berbicara lagi. Kali ini lebih santai dan senyumannya belum hilang. "... Meskipun kehidupan seperti itu terdengar menyenangkan, tapi tidak ada salahnya untuk hidup seperti ini, kan? Hanya belajar di sekolah dan bercanda bersama teman."
Shireen benar. Itu memang tidak ada salahnya. Itu tidak salah sama sekali.
Aku kembali terkejut. Seseorang tiba-tiba merangkulku dari belakang dan ternyata itu adalah teman-teman laki-lakiku. Dia tersenyum dan mengacungkan jempolnya padaku.
Suasana yang sebelumnya sepi dengan cepat berubah menjadi ramai dan hangat, semua teman kelasku kini lengkap lalu mengerubungiku dan Shireen.
Shireen kemudian mengulurkan tangannya, diiringi oleh teman-teman lainnya yang juga menunggu balasanku dengan antusias. Aku tidak masalah untuk menerima uluran tangannya, tapi ... entah kenapa aku merasa kalau ada yang salah.
"Mari kita jalani lagi kehidupan sekolahan kita," ajak Shireen.
Aku mengulurkan tanganku perlahan menuju tangan Shireen. Semakin dekat dan dia juga antusias melihatnya. Tapi pada saat aku sudah tinggal menerima uluran tangannya, aku menariknya sedikit.
"Eh? Ada apa, Arka?"
Shireen terlihat bingung— begitu juga yang lainnya. Hati kecilku memang ingin menerimanya, tapi aku sadar kalau aku tidak bisa.
"Maafkan aku, Shireen." Aku kemudian menarik tanganku kembali ke posisi biasa dan Shireen nampak tidak percaya. "Aku harus pergi dari sini."
"Kenapa, Arka?! Apa jangan-jangan ada yang lebih penting daripada tinggal di sini?!"
__ADS_1
"Tidak. Aku sadar kalau aku juga lebih lama tinggal di sini."
"Lalu kenapa?!"
Aku menatap wajah Shireen dengan senyuman sedih. "Ini tidak terasa nyata bagiku."
Benar. Ini tidak nyata. Dunia ini terlalu indah untuk jadi kenyataan dan aku memang seharusnya tidak berada di sini. Aku seharusnya sedang bertarung melawan Neigh. Si laba-laba besar itu.
"A-Ar—"
[Pengaruh Ilusi Queen of Nightmare Terbatalkan. Akan Segera Berpindah Ke Dunia Nyata]
Suara sistem bergema di kepalaku. Ternyata benar kalau ini tidaklah asli. Gedung sekolah ini juga bergetar hebat dan atap reruntuhannya memisahkan aku dan Shireen. Dari balik reruntuhan yang terus jatuh, aku bisa melihat wajah Shireen yang masih sedih.
Sialan! Tidak akan aku biarkan laba-laba itu membuat Shireen sedih— meskipun ini hanya ilusi. Semakin lama, reruntuhan bertumpuk semakin tinggi. Jadi sebelum kami benar-benar berpisah, aku mengucapkan kata perpisahan pada Shireen palsu.
"Aku senang bisa melihat wajahmu lagi."
BRAAAKK...
Aku membuka mataku dengan terkejut. Sepertinya aku sudah kembali ke gua sarang laba-laba. Tapi posisiku sedang tidak nyaman sekarang, kakiku di kepala sementara kepala di kaki. Iya, aku terbalik.
Aku mencoba meronta, tapi kini aku berada di sebuah tempat yang sempit dan lengket. Tidak hanya itu, kulitku juga terbakar karena ada cairan asam yang ingin melelehkanku. Jadi begitu, aku berada dalam bulatan benang, ya?
Sepertinya para laba-laba itu mencoba menjadikanku makanan. Strategi yang menarik. Dia menjebak mangsanya di dalam ilusi dan saat mangsanya lengah, dia menggantungnya dan mengguyurnya dengan cairan asam.
Tapi sayang lawan mereka adalah aku.
[Clairvoyance]
Aku mencoba mengamati situasi diluar. Seperti yang sudah aku duga, aku kini tergantung di langit-langit gua dan Neigh berada di bawahku— kembali memberi makan, anaknya.
Jadi dari sana dia mendapatkan kata 'Nightmare'. Aku pikir karena penampilannya, ternyata karena kemampuan menjebak lawan dalam ilusi buatannya. Tapi kini aku akan membalasmu.
Aku meraih punggungku dan menemukan sabit berada di sana. Bagus sekali. Beruntung aku tidak terpisah darinya. Dan sekarang adalah bagian pembalasan.
Aku menempelkan tanganku pada dinding bulatan ini dan merapalkan Skill. "[Rot]" Seketika dinding itu menghilang dan aku jatuh dari sana.
"Oiiii!! Apa kau merindukanku, laba-laba?!"
Teriakanku menggema di dalam gua dan tentu saja itu menarik perhatian Neigh. Tapi sudah terlambat, aku sudah terlalu dekat pada matanya. Dia ingin kembali membuat sinar dari matanya, tapi aku sudah belajar dari pengalamanku. Skill [Clairvoyance] tidak aku nonaktifkan, itu berarti aku tinggal menutup mataku dan masalah selesai.
Dan aku juga memiliki teknik baru. "[Shadow Construct : Schyte]" Aku melapisi sabitku dengan [Shadow Construct], setelah itu aku merapalkan Skill [Rot] dan menaruhnya pada bilah sabit.
Sabitku mungkin akan langsung membusuk ketika terkena [Rot], tapi jika aku melapisinya terlebih dahulu maka itu akan bertahan karena ketahanan Skill sama dengan ketahanan penggunanya.
[Quest Dadakan Dimulai]
[Kalahkan Queen of Nightmare, Neigh]
[Tingkat Kesulitan : Sangat Sulit]
[Reward : ???]
Tepat waktu sekali!
Notifikasi dadakan muncul sesaat sebelum aku berhasil menebas tujuh dari delapan mata milik Neigh secara bersamaan. Dan dengan begitu, aku berhasil mengalahkannya dalam satu kali serangan.
[Berhasil Mengalahkan Queen of Nightmare, Neigh]
[Level Anda Meningkat Dari Lv. 25 Menuju Lv. 32]
[Mendapatkan Titel Baru : Neigh Slayer]
[Mendapatkan—]
Skip.
Aku tidak mau mendengarkan itu dulu ssekarang, kepalaku sudah terlalu pusing untuk hal-hal rumit seperti itu. Mungkin aku akan memeriksanya nanti, tapi untuk sekarang bar HP, MP, dan SP sedang rendah. Jadi aku butuh makanan untuk memulihkannya.
"Dan sekiranya apa yang bisa aku makan. Hm?"
Aku berdiri di atas mayat Neigh. Otakku tiba-tiba menamparku dengan ide gila. Tapi aku tidak membencinya sama sekali. Terkadang manusia harus bersikap diluar nalar jika ingin terus hidup. Dan itu yang akan aku lakukan sekarang.
__ADS_1
"Yah .... Selamat makan, kurasa?" Aku pun mulai memakan bagian kepala Neigh.