
Pertandingan latih tanding selesai, dimana Ali berhasil mencetak gol di menit-menit akhir pertandingan.
"Ternyata begini ternyata rasanya mencetak gol, hampir sama rasanya seperti kemarin aku mengecup Minda hahahaha" gumam Ali sambil terkekeh sendirian.
Ali keluar lapangan di sambut dengan tos tangan di atas udara oleh Reza sobatnya yang sekaligus lawannya di pertandingan tadi.
Reza lalu merangkul bahu temannya itu.
"Hebat kamu Ali baru pertandingan pertama sebagai penyerang sudah bisa mencetak gol"
"Itu baru permulaan Za, nanti akan banyak gol lagi yang akan ku cetak" ucap Ali menyombongkan diri sambil terkekeh.
Selesai latih tanding, semua pemain bergerak untuk pulang dan keluar dari GOR Parung itu.
Seperti biasa hanya Ali yang masih bertahan untuk berlatih menembak sasaran.
Tak lama kemudian Rahmat Kepala Pelatih Parung FC U19 memanggil Ali untuk menghadap.
Ali berharap ia akan mendapatkan pujian atas gol yang diciptakannya tadi.
Dengan satu tangannya memegang kertas yang sudah ia gulung lalu ia tepak-tepakan ke tangan yang satunya lagi.
"Ali ini hari ini adalah pelatihan terakhirmu, kamu sudah tidak lagi jadi bagian dari Parung FC"
Mendengar hal itu Ali seperti merasakan langit runtuh dari atas dan menimpa menghujam dirinya.
"Ta-Tapi aku tidak pernah bilang kalau aku ingin hengkang dari tim ini, aku masih betah berlatih disini Coach!!!"
"Ini bukan keputusan kamu untuk menentukan kamu tetap disini atau tidak, Ayahmu lah yang yang memutuskan, dia telah menarik dirimu dari tim ini dan itu keputusan yang mutlak"
"Sekarang kamu rapihkan barang-barang yang ada di lemari kamar ganti mu itu dan cepatlah pulang, tidak usah pulang malam seperti hari-hari kemarin" ucap Rahmat yang lalu berjalan pergi meninggalkan Ali dalam kesedihannya.
Terlihat Ali yang merasa terpukul atas keputusan Ayahnya yang mengeluarkannya dari tim Parung FC U19.
Mukanya dengan cepat berubah warna menjadi merah padam, semua urat-urat pada tubuhnya terlihat keluar menahan emosi. Saat ini level kebencian Ali kepada Ayahnya mungkin sudah mencapai level iblis bahkan melebihinya.
Kemudian ia berjalan menuju ke ruang kamar ganti dengan kakinya yang dihentak-hentakan keras.
Sesampainya di ruangan itu, Ali mulai berpikir cara untuk kabur dari rumahnya.
Ali mulai berpikir untuk benar-benar kabur dari rumahnya, tidak seperti hari senin yang lalu yang merupakan sandiwaranya agar permintaannya menjadi penyerang dapat disetujui oleh Ayahnya.
la awalnya berencana ingin ke rumah Reza dahulu dan menginap disana, tetapi ia baru teringat kalau ia kan sekarang punya pacar mungkin bisa membantu.
Ali pun menulis WA kepada Minda.
[ Kamu lagi apa Nda? ]
[ Akhirnya kamu duluan yang WA aku, dari kemarin aku tungguin terus, masa perempuan dulu yang WA ]
[ Aku lagi santai di rumah Al, kenapa? ]
[ Aku mau kabur ] jawab Ali
[ Maksudmu!!?, kabur dari siapa Al? ]
[ Dari rumah ]
[ Hah, seriusan Al? yaudah kamu tunggu di Indomaret dekat GOR, nanti Aku susul kamu kesana yah ]
[ OK ]
.
.
__ADS_1
Sementara itu rumah Minda.
Terlihat Minda yang sudah sangat rapih dengan pakaian modisnya, ia sudah janjian dengan Roy teman sekolahnya untuk bertemu.
"Halo, Roy maaf kita sore ini gak bisa ketemuan dulu yah"
"Kenapa sayang? kan udah janji mau dinner" tanya Roy.
"Ee..Ini..Ibuku mau diantar ke Rumah Sakit dulu" jawab Minda.
"Sudah yah aku buru-buru"
Tiiit...
Minda langsung bergegas menuju mobilnya lalu pergi berangkat menjemput Ali.
.
Sesampainya di Indomaret dekat GOR Minda yang melihat Ali sedang duduk lesu di depan swalayan itu, langsung menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Ali pun langsung masuk ke dalam mobil Minda.
Sssht..Sssht..Sssht..
Kembali farfum di semprotkan oleh Minda kepada Ali.
Ali pun kembali hanya bisa terdiam walaupun hatinya kesal.
Hadeuh...
"Kita mau kemana Al" tanya Minda.
"Terserah kamu Nda"
"Sebenarnya kamu kenapa kepingin kabur Al?"
"Terus kamu mau pergi kemana Al?"
"Masih belum tahu, menurutmu aku harus bagaimana? kamu kan pacar aku?" tanya Ali yang sekarang mukanya memerah bukan karena marah tetapi karena malu.
Minda pun berusaha menahan tawanya, ketika mendengar Ali berkata seperti itu.
"Heem bagaimana kalau kamu menginap di rumahku saja?" tanya Minda santai.
"Hah, jangan Nda nanti aku malu bertemu Kakakmu dan Orang tuamu"
"Lagian kita kan laki-laki dan perempuan"
Kembali Minda menahan tawanya mendengar perkataan Ali.
"Sudah tenang saja" ucap Minda santai seraya menginjak gas mobilnya lebih dalam untuk kembali pulang ke rumahnya.
Rumah Minda berada pada lingkungan perumahan elit.
Terlihat juga banyak rumah-rumah yang modern dan nyaman dengan fasilitas seperti sekolah, taman, toko, dan restoran.
Rumah-rumah pada kompleks ini sangat besar, berdinding tinggi dan sepertinya memiliki tingkat keamanan yang tinggi, karena hanya ada satu gerbang yang mengijizinkan untuk mobil atau motor untuk keluar dan masuk ke jalan kompleks itu.
Mereka pun akhirnya sampai rumah Minda.
Minda lalu menarik lengan Ali dengan cepat dan mengajak masuk Ali.
Ali benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa terkagum-kagum saja melihat rumahnya yang besar ini.
Rumah yang ditinggali oleh kaum-kaum kelas atas dan terbiasa hidup mewah.
__ADS_1
Rumah yang didalamnya terdapat taman, gym dan kolam renang sendiri.
Mereka pun sudah tiba di kamar Minda dan ia menyuruh Ali untuk masuk.
"Ayo masuk, dan mandi dulu sana kamu bau" pinta Minda.
"Kamar mandinya di ujung lalu belok kanan, aku akan membawakan kamu baju bekas A Andre dulu"
Kamar Minda bernuansakan warna pink dan hitam, dengan ada beberapa poster Reza Rahadian yang menjadi idolanya.
Ketika Ali sedang mandi, Minda berteriak.
"Al ini bajunya dekat pintu kamar mandi yaah!!!"
"Iya Nda"
"Aku mau mengambil kue-kue dulu di bawah!!!" teriak Minda.
Ali pun selesai dengan mandi.
Ia mengintip keluar dulu sebelum mengambil baju yang diberikan oleh Minda tadi.
Di lihatnya keadaan kamar aman tidak ada Minda dengan cepat Ali mengambil baju dari meja dekat pintu itu.
Minda datang kembali ke kamarnya.
"Al kamu masih belum beres mandinya!!?"
"Sudah!!!" jawab Al.
"Lalu kenapa baju dan celananya tidak di pakai!!?"
"Aku tidak mau memakai baju itu!!!"
Minda pun lalu melihat dan memeriksa dengan cermat baju berwarna biru dan hitam itu, ia pun tidak menemukan masalah apapun seperti sobek atau hal lainnya yang mengganggu.
"Kenapa kamu gak mau pakai baju ini, jelek bukan!!?" tanya Minda yang sudah mulai agak kesal.
"Bu-bukannya jelek, itu baju Inter Milan, aku benci tim Itali itu!!!" seru Ali menjelaskan.
Minda yang tidak tahu apa-apa tentang tim sepak bola itu, lalu mengancam Ali.
"Kalau kamu gak mau pakai baju ini, kamu semalaman tinggal di kamar mandi ini saja yah!!!"
"Yaudah iya!!!" jawab Ali cepat.
"Yaudah" ucap Minda sembari membelalakkan matanya.
Minda pun dengan kesal menjatuhkan dirinya ke kasur dan lalu memeriksa Handphonenya.
[ Panggilan tak terjawab Roy 3x ]
Minda pun memeriksa WA nya.
[ Sayang kamu dimana ? ] tanya Roy.
[ Aku masih dengan Ibu ] jawab Minda.
Sementara itu terlihat Ali sedang duduk di kloset masih dengan mukanya yang murung.
Selain karena Ayahnya yang sudah mengeluarkanya dari tim Parung FC U19, ia juga harus terjebak di kamar mandi ini dan tidak bisa melakukan Tantangan Hariannya.
Kenapa aku harus terjebak disini..
Ting..Ting..Ting..Ting..
__ADS_1
Ting..Ting..Ting..Ting..
Asiiik