
Semua pemain Parung FC U19 merasa senang karena pada hari minggu mereka akan bertamu ke Bandung untuk melawan Persib FC U19.
"Waah aku mau bawa pacarku ah, ke Bandung biar bisa jalan-jalan sebelum bertanding," ucap Dani pemain depan Parung FC U19 dengan muka yang berbinar-binar.
"Aku harus siap-siap beli oleh-oleh ini kalau ke Bandung, pasti saudara-saudara ku banyak yang mau nitip nih ...." lirih Reza sambil menepuk jidatnya.
Ali pun merasa senang tetapi tidak mengatakan sesuatu, ia hanya membatin.
Pasti akan sangat menyenangkan pergi kesana, karena Persib adalah tim besar, tetapi ...
Aku mempunyai perasaan yang ragu ... Minda mau aku ajak kesana tidak yah?
Setelah pengumuman itu, Kepala Pelatih Parung FC U19 kembali memerintahkan semua pemainnya untuk berlatih kembali.
Hari sudah mulai gelap dan pelatihan pun mulai berakhir semua pemain Parung FC U19 sudah mulai berkemas untuk pulang.
Zola yang sudah bersiap pulang sambil berjalan santai keluar lapangan menghampiri Ali dulu dan bertanya, "Ali sebenarnya apa yang kamu lakukan setelah latihan di lapangan ini? saya perhatikan kamu tidak pernah ikut pulang ketika pelatihan berakhir?"
Ali terkejut dengan kedatangan Zola, dan menjawab, "Hemm i-ini, aku latihan menembak Zo, kan aku baru saja pindah posisi menjadi pemain depan, jadi aku harus banyak-banyak latihan, supaya bisa mengejar levelmu Zo, hehehe." Ali tertawa paksa, ia pun bingung karena selama ini ia tidak pernah seramah ini kepadanya dengan memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Kamu sudah berbakat Li menjadi penyerang, buktinya kamu mampu mencetak gol kemarin! sudah yah aku pulang," ucap Zola sembari mengacungkan jari jempolnya kepada Ali dan lalu berjalan pergi untuk pulang.
"Owh i-iya Zo, hati-hati!" ucap Ali yang kikuk.
Tak lama Reza datang dan langsung merangkul bahu Ali lalu menariknya untuk segera pulang dan berseru, "Ayook pulang! Jangan latihan terus sampai malam Hahaha!!!"
Ali yang lebih kecil badannya itu lalu tertarik oleh badan Reza, namun ia memberontak untuk melepaskan rangkulan itu dan berseru, "Awas kamu Za, nanti beberapa tahun kedepan kamu akan melihatku mengangkat piala liga Champion bersama AC Milan Hahahahaha!!!"
Ali terus melanjutkan latihan menembaknya yang di arahkan ke sasaran tembak, kali ini dengan jaraknya lebih jauh yaitu 30 meter dan harus 2000 tembakan mengenai target dengan sikap tendangan yang benar apabila ingin menambah 1 nilai Atribut Shooting.
Tetapi dengan nilai Atribut Stamina Ali yang tinggi yaitu bernilai 15, tidak akan menjadi masalah baginya untuk semalaman berlatih menembak. Atribut dengan nilai 15 merupakan nilai standar para pemain profesional di dunia oleh karena itu untuk urusan stamina Ali mempunyai level kelas dunia.
Dari kejauhan terlihat Andre yang sedang berjalan menuju Ali. Andre ingin membantu Ali dalam meningkatkan nilai Atributnya dan ketika sudah dekat dengan Ali, ia berkata, "Ali aku bantu kamu yah, biar aku yang ambil bolanya dan kamu tinggal tendang saja nanti ke sasaran tembak itu." Andre langsung berlari dengan sigap mengambil bola-bola yang di tendang oleh Ali.
"Jangan Coach!!! biar aku saja yang mengambil bolanya aku tidak mau merepotkanmu" teriak Ali kepada Andre sembari berlari cepat ke arahnya, untuk menahan badan Andre yang sedang ingin mengambil bola-bola liar di lapangan.
"Sudah kamu diam!!! tetap di posisi menembakmu!!!" bentak Andre.
Ali tidak bisa berbuat apa-apa setelah dibentak pelatihnya itu dan perintah itu pun langsung diturutinya.
"Siyap Coach!!!" sahut Ali.
__ADS_1
Dengan adanya Andre yang menjadi pendamping Ali dalam latihan malam kali ini, Ali bisa lebih fokus dalam menembak, karena ia tidak perlu lagi berlari mengambil bola yang sudah ia tendang untuk kembali ke posisi tembaknya, dan karena sudah bisa fokus menendang maka tantangan menembak ini akan bisa lebih cepat dilakukan oleh Ali.
Waktu pun cepat berlalu karena mereka berdua seperti menikmati latihan malamnya ini. Tepat jam 9 malam, lampu tembak lapangan otomatis padam mengakhiri latihan mereka.
Dari kejauhan terlihat Minda datang ke lapangan untuk menjemput Andre dengan membawa makanan ringan yang digoreng ala-ala cafe kekinian.
"Kakaak! Al! Aku datang, bawa makanan!!!" teriaknya dari kejauhan.
Setelah mendekat, Minda berkata,"Kakak ini aku bawain makanan!" ia lalu memberikan makanan itu ke Andre.
"Al, ayo kita pulang, aku antar kamu sampai ke depan rumah yah? tanya Minda sembari memegang tangan Ali.
Mengingat kejadian kemarin malam, dipikir Ali kalau Minda masih marah, tetapi akhirnya hati Ali lega karena dilihatnya Minda yang sudah ceria kembali menatap dirinya malam ini.
"I-iya Nda! ta-tapi kan jalan kita tidak searah, nanti kamu dan Coach Andre malah pulangnya kemaleman ...," jawab Ali yang masih saja canggung apabila Minda menempel erat dengan dirinya.
"Gak apa-apa Ali!, kita jalan-jalan malam dulu, sekalian aku mau tahu dimana rumahmu! oh iya sekalian menjenguk Bapak Abdul juga!" sahut Andre.
Mendengar hal itu Minda terkejut, lalu bertanya, "Memangnya Bapak kamu kenapa Al!?"
"I-itu Nda, kemarin waktu malam hari Bapak aku diserang oleh geng motor, soalnya kemarin malam aku dicari oleh Bapak, Nda ... " lirih Ali.
Abdul dan Sri telah siap menyambut mereka dengan minuman hangat dan makanan ringan yang telah di suguhkan di atas meja. Mereka sudah tahu akan kedatangan tamu dari WA yang dikirim oleh Ali.
Andre mengucapkan keprihatinannya kepada Abdul atas musibah yang terjadi kemarin malam.
Minda yang selalu berdekatan dengan ali, mendapat perhatian dari Sri.
"Adik Kang Andre cantik yah? kok ali tidak pernah cerita kalau punya teman perempuan yang bernama Minda?" tanya Sri kepada Ali.
"I-ini Bu, a-" jawab Ali yang langsung dipotong oleh Minda.
"Aku ini pacarnya Ali Buu, mungkin Ali lupa kasih tau ke Ibu," ucap Minda sembari tersenyum dan menatap paksa Ali agar mau tersenyum juga.
"I-iya Buu, ini pacar a-ku ...," lirih Ali.
Abdul dan Sri terkejut namun mereka tetap bisa menjaga sikap tenang ketika mendengar hal itu.
"Owh ... Minda tuh pacarnya Ali yah ... Ali tuh memang orangnya jarang cerita-cerita kalau ada apa-apa," ucap Sri sembari tersenyum.
Ucapan dari Sri pun menjadi pembicaraan penutup dari masalah hubungan asmara Ali dengan Minda ini dan pembicaraan pun beralih ke pembahasan yang lainnya.
__ADS_1
Andre dan Minda pun akhirnya pulang kembali ke rumahnya.
"Jadi selama ini kamu pulang diantar Minda yah Aa? katanya teman? ko tadi malah ngakunya pacar kamu?" tanya Sri.
Ali hanya menyeringai saja kepada Ibunya, dan pergi berlari ke kamarnya.
Ting..
[Sistem Aktif]
"Berapa persentase kenaikan Atribut Shooting ku "
...----------------...
-[ Shooting 10 ] [ Red ] [ 6 % ]
...----------------...
Ting..
[Sistem Non Aktif]
Keesokan siang hari.
Terlihat Ali yang sedang menulis WA di Handphone nya dan Reza sedang makan siang ketika jam istirahat sekolah.
[Nda sore ini kamu mau ikut ke Bandung gak? Besok aku ada pertandingan melawan Persib FC U19]
[Mau dong Al, kamu ikut aku di mobil yah?] balas Minda merasa senang.
[Tidak bisa Nda, aku harus ikut di bis bersama tim.]
[Oke gapapa Al, nanti kita ketemu di Bandung saja.]
Sementara itu di cafe dekat sekolah Minda, terlihat Minda sedang makan siang bersama Roy.
"Roy malam ini kita gak keluar yah, aku ada urusan," ucap Minda.
"Kamu kenapa sih akhir-akhir ini selalu menghindar dariku!" bentak Roy. "Kamu punya cowok lain kan?" tanya Roy.
"Kalau iya kenapa Roy! Kamu juga bukan pacarku hah! Aku dan Kamu bisa dekat hanya karena status sosial kita saja yang tinggi dan kita bisa bersenang-senang sesuka hati! Sudahlah kamu juga kan, bisa bermain dengan cewek-cewek mu yang lain itu!" jawab Minda yang membalas bentakan dari Roy tadi, lalu berjalan meninggalkan Roy sendirian di meja cafe menuju kelas sekolah.
__ADS_1