Sistem Sepakbola : Penyerang Utama

Sistem Sepakbola : Penyerang Utama
CH 15. Minda Ngambek?


__ADS_3

Minda berlari-lari kecil di rumahnya sendiri untuk mencari Andre Kakaknya dan Ali yang berstatus pacarnya, dari kamarnya yang berada di lantai 2 ia kemudian turun ke lantai 1. Ada perasaan ceria di dalam hatinya yang membuatnya berbahagia, karena ia baru saja bertemu dengan Ali yang telah ia cari-cari selama 2 tahun. Setelah 2 hari kemarin mereka selalu bertemu yang membuat semua rasa penasarannya terhadap Ali sudah mulai pelan-pelan agak menghilang, tetapi seperti masih ada yang mengganjal di hatinya, yang ia pun sebenarnya belum tahu ganjalan apa yang ada di dalam hatinya itu.


Akhirnya Minda dapat menemukan Andre dan Ali yang sedang berada di ruangan Gym, dari luar ruangan ituMinda memperhatikan dengan tersenyum simpul kepada 2 orang kesayangannya itu, yang terlihat  sangat akrab seperti sudah kenal lama saja, mereka saling menertawai dirinya sendiri dengan terbahak-bahak, karena sama-sama lemah dalam mengangkat barbel dan halter yang ada pada alat-alat gym itu.


Karena iri dengan keseruan mereka, akhirnya Minda pun mendatangi mereka dan menyapa, "Halo Kakakku dan pacarku yang kusayangi?" sembari berlari ke arah Andre untuk memeluknya tanpa sebab.


"Eh ... adek ... kenapa kamu malah ada di rumah? sekarang kan, masih jam sekolah!" tanya Andre seraya memeluk balik Adiknya. Bersamaan dengan Andre, Ali pun yang tertunduk malu menyahut, "Halo Nda."


"Aku mau mengajak pacarku jalan dulu, boleh ya Kak? boleh dong? kan Kakak orangnya baik," ucap Minda merayu Andre.


"Aku mau pulang Nda!" tegas Ali yang ingin pulang dulu, karena sangat mengkhawatirkan Ibunya.


"Nah betul itu! kamu antarkan Ali ke rumahnya terus kamu balik lagi ke sekolah sebelum jam istirahat berakhir, oke dek?" ucap Andre memberi pencerahan.


Tanpa di nyana ternyata Minda menerima ajakan dari Ali yang ingin pulang ke rumahnya dulu.


"Baiklah aku akan mengantarkan kamu pulang dulu Al, pasti ibumu sangat khawatir denganmu ...." lirih Minda.


Akhirnya Ali dan Minda pun pergi ke rumah Ali, namun sebelum mereka berangkat, Andre memanggil Minda.


"Dek sini dulu deh!"


"Kenapa Kak," ucap Minda sembari berjalan kembali menghampiri Andre, sementara Ali menunggunya ke arah luar rumah.


"Kakak tahu hubungan kamu dengan Roy, Kakak harap kamu jangan menyakiti hati dari Ali ... ," pesan Andre kepada Minda.

__ADS_1


"Tenang saja Kakak," ucap Minda sembari mengedipkan sebelah matanya dan kembali berjalan ke arah luar rumah menghampiri Ali.


Di dalam mobil Minda mengemudi dengan kecepatan sedang, Ia yang penasaran lalu bertanya, "Ali kamu tuh sudah akrab yah dengan kakakku? kok sepertinya seru banget tadi di gym ...."


"Hemm, baru tadi kok Nda akrabnya, hehe," jawab Ali sembari tertawa kecil.


Seperti biasa dalam perjalanan pulang ke rumah Ali, di dalam mobil hanya Minda yang bertanya dengan bertubi-tubi sementara Ali hanya mengangguk-angguk dan berbicara seperlunya saja.


Akhirnya mereka sampai di rumah Ali.


Ali bergegas melepas sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil dan langsung keluar mobil.


"Terima kasih yah Nda, lagi-lagi aku di anter sampai rumah."


"Kamu tidak kelupaan sesuatu Al?" tanya Minda dengan nada menggoda.


"I-iya Nda"


"Aku salah apa yah," gumam Ali yang bingung seperti ada yang salah dengannya.


Minda langsung menginjak gas dan suara mobil langsung menderu menjauh dari rumah Ali.


"Apa kamu tidak pernah berpacaran Al," gumam Minda yang kesal, karena merasa perlakuan Ali kepadanya hanya seperti perlakuan seorang teman saja.


Dari dalam rumah terlihat Sri yang berjalan cepat menuju keluar rumah setelah mendengar suara pagar yang di buka. Ketika melihat Ali yang membuka pagar itu, Sri pun langsung memeluk Ali dengan penuh kasih sayang kepada buah hati satu-satunya itu, yang di balas oleh Ali dengan pelukan juga. Dari belakang, terlihat Abdul yang berjalan tergopoh-gopoh menuju ke arah mereka.

__ADS_1


Melihat keadaan Abdul yang terluka, Ali langsung kaget dan berkata, "Bapak kenapa?" Lalu Abdul menceritakan kejadian ketika ia diserang oleh geng motor di dekat GOR.


"Maafkan Aa, gara-gara Aa Bapak jadi begini ...." lirih Ali.


"Sudah tidak apa-apa," ucap Abdul sembari menepak-nepak bahu dari Ali.


Ali pun setelah bertemu kedua orang tuanya langsung menuju kamarnya, ia kembali membayangkan muka Minda tadi yang sepertinya mengambek ketika ia turun dari mobil Minda. Ali juga merasa dirinya seperti ada yang salah sikap, namun kepala Ali masih bingung. Ali juga seperti ada perasaan takut kalau Minda marah padanya.


Ali memang tidak berpengalaman dalam hal berpacaran, yang ia pikirkan selama hidupnya hanya permainan game di komputer Bapaknya atau hanya memikirkan sepak bola saja. Itu yang membuatnya masih bingung dalam menghadapi Minda yang merupakan ahlinya ahli dalam urusan berpacaran karena memang sedari SMP kehidupan yang dijalaninya hanya seputar pergaulan dengan teman-teman geng nya saja yang selalu membahas tentang gaya hidup populer di sekolahnya.


Pada sore harinya Ali kembali berlatih di tim Parung FC U19, ia bertemu dengan  Reza yang mengernyitkan dahinya lalu menyapanya dan bertanya, "Ali! kamu kemarin malam kemana ? Ibumu telepon ke aku terus tau!"


Ali yang sedang santai berjalan tanpa menatap ke arah muka Reza berkata, "Aku kabur Za nginep ke rumah teman."


Reza pun terkejut mendengar hal itu, "Kamu kabur Li!? terus hari ini kamu tidak masuk sekolah juga!? hahahaha ada kemajuan pesat kamu, sudah berani kabur dari rumah dan bolos Sekolah!" ledeknya sembari berlari kecil untuk melakukan pemanasan dan meninggalkan Ali.


Ali kali ini bertemu dengan Zola, yang anehnya hari ini ia menyapa Ali dengan ramah, "Li!?" sembari menganggukkan kepalanya, yang disambut oleh Ali dengan menganggukkan kepalanya juga. Ali pun mengernyitkan dahinya.


Tumben Zola ramah hari ini, biasanya dia tidak mempedulikanku sama sekali


Zola merupakan pemain depan tangguh yang sangat menjanjikan bagi Parung FC U19, ia mempunyai tehnik yang bagus dan kecepatan yang di atas rata-rata. Sudah sepantasnya apabila ada pemain hebat seperti dia akan mempunyai sifat congkak apabila sedang di dalam lapangan baik dalam latihan maupun sedang dalam pertandingan. Ali pun sikapnya selalu merasa segan apabila bertemu dengan Zola karena Ali menganggap level permainannya masih belum bisa menyaingi permainan dari Zola.


Ali kembali memfokuskan dirinya dalam pelatihan menembaknya di lapangan hijau, menendang bola ke arah sasaran, yang kali ini adalah tiang gawang. Tidak lama datang Andre menyapa Ali, "Ali! seperti katamu tadi pagi sekarang pasti kamu sedang melakukan tantangan harian untuk menambah persentase nilai Atribut Shooting yah?" tanya Andre sambil memberikan beberapa bola untuk di tendang oleh Ali nantinya.


"Iya, siyap Coach!" sahut Ali.

__ADS_1


Andre pun memberi pelatihan kembali untuk Ali tentang bagaimana cara menembak dengan sikap yang benar, walaupun Andre tahu semua itu tidak akan berpengaruh pada peningkatan kemampuan Ali yang sudah mempunyai Sistem dan akan sangat mudah bagi Ali bahkan apabila tidak mendengarkan sarannya sebagai pelatih Ali


Ali dan teman-teman satu timnya yang sedang latihan dikumpulkan dengan suara peluit oleh Rahmat Idris Kepala Pelatih Parung FC U19. Ia menyampaikan kepada anak-anak didiknya bahwa pada minggu sore timnya akan bertandang ke Bandung untuk melawan Persib FC U19.


__ADS_2