Sistem Sepakbola : Penyerang Utama

Sistem Sepakbola : Penyerang Utama
CH 26. Awal Akademi Persija


__ADS_3

Setelah Liga 2 U19 Regional Jawa Barat selesai sekarang Ali sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam Akademi Persija di Jakarta.


"Ayah, Ibu, Aa pamit yah mau ke Jakarta ... doain Aa sukses jadi pemain bola Profesional yah?" ucap haru Ali kepada orang tuanya.


"Aa sehat-sehat ya disana jangan lupa selalu sembahyang agar diberi keselamatan oleh yang Ilahi di atas sana, jangan telat makan, jadi anak sopan jangan cari masalah disana ya nak ... Ibu pasti kangen sama Aa ... " Sri sembari meneteskan air matanya memeluk anak satu-satunya yang akan berpetualang di Jakarta.


"Sudah Bu tidak usah berlebihan, anak kita kan cuma pergi lintas Provinsi saja ke Jakarta, hanya 2 sampai 3 jam dari sini juga" timpal Abdul yang sepertinya merasa sedikit risih melihat istrinya sendiri yang terlalu memanjakan Ali.


"Pesan Ayah kamu tetap fokus, jaga pikiran kamu jangan terpengaruh kehidupan di Jakarta, jangan terlena oleh gemerlap kota yah ... jaga nama baik orang tua mu ini ya nak ...." Abdul memberi petuah kepada anaknya Ali.


"Baik Ayah, Ibu Aa berangkat dulu yah ...." Ali berjalan pelan menuju mobil Minda yang sudah menunggu di mobilnya.


"Mas Andre tolong jaga Ali yah di Jakarta nanti ...." ucap Sri.


"Iya Ibu Sri, serahkan segala kebutuhan Ali kepada saya, nanti di Jakarta biar saya yang ngurus Ali" balas Andre.


Ali diantar oleh Andre dan Minda menuju ke Jakarta.


"Ali!!! Kamu mau ninggalin Parung tanpa pamitan dengan kami dulu!!!" Reza tiba-tiba datang ke rumah Ali di bonceng oleh Zola.


"Reza ... Zola kalian datang ke rumahku juga?" Ali dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk teman sepermainannya itu.


"Udah nggak usah cengeng kamu Li." balas Zola, "Nanti di Jakarta jangan macem-macem, jangan kebanyakan jajan malem." Lanjutnya sembari menahan tawanya.


Setelah berpamitan ke semua orang, Ali lalu masuk ke dalam mobil dan pergi menuju Jakarta.


"Aku juga pindah sekolah ke Jakarta Al ..." celoteh Minda sembari memegang setir dan menatap ke arah depan.


"Ng-ngomong apa kamu Nda? apa aku nggak salah denger ... kamu pindah sekolah ke Jakarta?" Ali mulai merasa kebingungan dengan ucapan Minda.


"Yup."


"Iya Minda minta pindah sekolah ke Jakarta dan tinggal denganku disana," sahut Andre ikut menjelaskan.


"Apa karena aku, kamu pindah ...." Ali yang kali ini berceloteh sembari menghadap ke depan.


"Kamu ngomong apa Al? coba ulang sekali lagi ...." Minda yang mendengar celotehan Ali.


"Ng-nggak Nda he he"

__ADS_1


.


Hari pertama Ali di Akademi Persija.


"Kalian disini di pilih oleh para pemandu bakat kami yang sudah sudah teruji secara akademis, mereka adalah lulusan-lulusan pelatih muda terbaik yang ada di Indonesia." Hari Sutjipto Kepala Pelatih Akademi Persija berdiri di depan para pemain berbakat.


"Dari 44 orang yang akan di seleksi hari ini hanya akan di pilih 4 orang yang akan masuk ke Akademi Persija level 1. Oleh karena pentingnya seleksi pagi sampai sore ini, karena itu Bapak harap kalian sudah mempersiapkan segalanya dengan baik sebelum seleksi hari ini."


"Coba kalian lihat di sisi lapangan ada beberapa pelatih yang memegang kertas dan pulpen, mereka adalah tim penilai, tunjukan kemampuan dan keahlian terbaik kalian, agar mereka bisa menilai dengan bagus perjuangan kalian disini."


"Baiklah silahkan kalian semua melakukan peregangan dulu, nanti akan ada waktunya untuk tes pertama kalian."


Hari Sutjipto selesai memberikan penjelasan awal kepada para peserta seleksi, lalu ia kembali ke sisi lapangan bergabung dengan asisten pelatih lainnya.


Ali bersama dengan 43 peserta seleksi lainnya masuk ke dalam lapangan.


"Hai, aku Leon, aku peserta dari Makassar, nama kamu siapa?" Tiba-tiba Leon datang dan bertanya kepada Ali.


"Owh, a-aku Ali." Ali yang sedikit kaget karena sapaan Leon menjawab dengan terbata.


"Owh Ali, asal darimana?"


"Parung? heem Provinsi Sumatera Selatan yah?"


"Haah! Bu-bukan, dari Jawa Barat."


"Owh maaf saya belum pernah denger Kota Parung sebelumnya."


"Nggak apa-apa aku mengerti, Parung masih Kabupaten juga ...."


Sambil meregangkan kakinya Ali mengernyitkan dahinya.


Aduh tadi namanya siapa yah ni orang, saking kagetnya jadi nggak fokus tadi waktu dia ngenalin namanya ...


"Coba kamu lihat dan perhatikan para tim penilai di pinggir lapangan, kenapa ketika sedang peregangan masih saja memantau kita sambil menulis di bukunya masing-masing, kamu tahu kenapa?" Leon memberikan pertanyaan yang membuat Ali agak kebingungan.


"Heem iya juga yaah, apa mereka menilai cara kita meregangkan badan yaah?" Ali yang malah balik bertanya.


"Ha ha ha, bukan Li, mereka menilai bagaimana cara kita berhubungan dengan pemain lainnya di lapangan ketika sebelum pertandingan di dalam lapangan, karena hal itu penting untuk menjaga mental para pemain agar lebih tenang ...." terang Leon.

__ADS_1


"Owh iya! Aku baru tau looh ...." Ali yang sedikit terperangah. "Tapi kenapa tadi Pelatih kepala tidak memberi tahu ke kita yah? tanya Ali.


"Sengaja Li, mereka mau melihat mental sosial kita sebenarnya, kalau di beri tahu terlebih dahulu nanti para peserta di sini akan berpura-pura bersosialisasi, seperti aku ini he he."


"Owh iya ... jadi kamu berpura-pura nih sok-sok an nanya ke aku?" Ali yang kembali memberikan pertanyaan bod*h.


Leon hanya menahan tawaannya mendengar pertanyaan Ali, sembari berlari kecil menjauh dari Ali.


Di tinggal sendirian Ali sekarang berusaha mencari teman untuk bisa di ajak ngobrol.


"Halo, aku Ali, kamu siapa namanya?" sapa Ali kepada pemuda berbadan besar dan tegap yang baru saja mendekat kepada Ali.


"Bodo amat ...." Pemuda itu lalu berlari agak kencang dan meninggalkan Ali yang cengok sendirian karena di abaikan oleh pemuda itu.


"Hai, aku Ali, nama kamu siapa?" Ali kembali menyapa seorang pemuda seukuran tubuh yang sama dengannya.


"Urus, urusanmu sendiri bro, aku sedang fokus pemanasan sekarang ...." jawab pemuda itu.


Kembali Ali mendapatkan penolakan dari peserta seleksi lainnya.


Sombong amaaat ...


"Lihat yang sedang pemanasan di ujung sana!" Leon yang menepuk pundak Ali kembali tiba-tiba datang dan menyapanya.


Ali pun tersentak.


Sudah kayak setan aja ni anak, suka tiba-tiba muncul ...


"Pria tinggi besar dengan rambut seperti preman itu ... dia adalah andalan pemain muda dari ibu kota negara Jakarta ... namanya Wijaya biasa di panggil Jay ... dia salah satu peserta yang dipastikan akan lulus seleksi ...." terang Leon.


"Sudah dipastikan bakalan lolos? sok tahu kamu ... memangnya tahu darimana orang yang bernama Jay itu sudah dipastikan lolos?" tanya Ali.


"Ha ha ha, kenapa kamu meragukan intelektualitas aku hah? semua tentang Akademi Sepakbola Jakarta ini aku sudah paham semuanya, aku juga sudah tahu 4 orang yang akan lolos seleksi dari tes ini ...."


Ali terdiam lalu batinnya mulai bertanya.


Siapa sebenarnya orang ini?


Namanya saja aku lupa ...

__ADS_1


__ADS_2