Sistem Sepakbola : Penyerang Utama

Sistem Sepakbola : Penyerang Utama
CH 17. Malam yang Indah 2


__ADS_3

Sore hari semua pemain Parung FC U19 sudah siap berangkat ke Bandung, perjalanan biasanya akan menempuh waktu yang lama karena lalu lintas yang macet. Ali, Reza dan Zola berada dalam satu baris kursi. Ali yang duduk berada di pinggir dekat jendela merasa terusik dengan Reza yang duduk di tengah karena dengkul kakinya yang begitu panjang dan besar.


"Za dengkul kamu jangan ngabisin daerah kursi ku dong!" seru Ali.


"Sudah jangan berisik Li kamu duduk dan tidur saja!" jawab Reza santai.


"Iya nih dengkul kamu gede banget Za," timpal Zola.


Selama perjalanan mereka hanya saling melempar canda sampai akhirnya lelah dan tertidur.


Di tengah jalan Ali sempat menerima WA dari Minda yang mengatakan kalau ia akan menjemput Ali pada malam hari di Bandung dan tidak mau menerima penolakan apapun dari Ali, dengan terpaksa Ali pun harus menerima ajakan itu.


Mereka pun tiba di Bandung pada malam hari. Para pemain Parung FC U19 ini akan menginap di Mess atau Wisma yang khusus untuk tamu atau lawan tanding Persib FC U19, Ali ditempatkan sekamar dengan Zola.


Ali menerima WA dari Minda.


[Al ayo keluar! tadi sore katanya kamu mau maen keluar]


Ali bergumam, "Siapa yang juga yang mau maen, bukannya dia yang paksa aku"


[Iya Nda, sebentar aku cari cara dulu yah biar bisa keluar]


[Bilang saja kamu diare, keluar cari kamar mandi terus kabur]


[Yaudah iya Nda]


"Caranya tidak ada yang lebih keren lagi apa yah" gumam Ali.


Ali pun tidak mengikuti cara yang terlalu receh itu dari Minda untuk kabur, ia malah meminta ijin ke Zola untuk keluar dari Mess ini, dan tidak di duga Zola pun mengabulkan permohonan dari Ali, justru ia membantu Zola keluar dari Mess dengan memberitahukan keadaan di luar dan sekitarnya, hingga Ali pun bisa kabur dengan aman.


Sesampainya di dalam mobil Minda.

__ADS_1


"Kita mau kemana Nda?" tanya Ali.


"Kamu mau makan apa Al?" tanya Minda. Lalu Ali menjawab, "Terserah kamu aja Nda."


"Kalau kamu bilang terserah, sama saja kamu nyuruh aku mikir Al!" ucap Minda terlihat agak kesal.


"Ba-Baiklah, aku mau sop daging ...," lirih Ali. Minda pun menjawab, "Oke kita cari restoran sop iga."


Akhirnya mereka pun pergi ke restoran sop iga untuk makan malam.


Malam ini bersama Minda membuat hati Ali merasa senang, karena ia bisa melihat wajah Minda langsung dari dekat,  matanya yang indah selalu terlihat berseri ceria, bibir merahnya yang selalu terseyum simpul sangatlah memikat dan aura pesona yang keluar dari tubuhnya serasa membangkitkan seleranya untuk terus menjadi orang yang terbaik untuk Minda.


Selesai makan malam mereka kembali ke Mess tempat Ali akan menginap.


Sesampainya di Mess itu, Ali lalu melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Minda yang melihat Ali akan keluar mobilnya dengan cepat berkata, "Ada yang kelupaan tidak Al?"


Ali yang mendengar itu langsung terdiam dan tidak jadi mengeluarkan tubuhnya dari mobil, ia mengembalikan posisinya ke tempat semula di kursi dan memalingkan mukanya ke arah Minda sehingga muka mereka saling berhadap-hadapan dan tatapan mereka langsung dari mata ke mata.


Dengan berani Ali mencium bibir Minda yang tipis merah merekah itu, ciuman itu pun dibalas oleh Minda.


"Besok ketemu lagi ya Al," lirih Minda.


"Iya Nda"


Minda lalu melajukan mobilnya menuju hotelnya, dan Ali menelepon Zola agar dibantu masuk ke Mess nya kembali.


Keesokan pagi hari.


Ali terbangun dalam keadaan sangat segar setelah kemarin ia pergi kencan dengan Minda, ada perasaan menenangkan dalam hati Ali pagi hari ini, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan dengan Ibunya sekalipun yang ia anggap sebagai malaikat penyejuk hatinya. Pikirannya seakan terbuka terhadap Minda dan ia merasa tidak akan ada lagi penghalang yang bisa memisahkan dirinya dengan Minda, mungkin pikiran ini yang akan membawa Ali kedalam jurang kegalauan karena sebenarnya kehidupan percintaan Minda tidak sesederhana dengan apa yang ada didalam pikiran Ali.


Setelah minum segelas air dan melakukan peregangan. Ali lalu merapikan tempat tidur seperti melipat selimut, menata bantal dan guling, menebahi kasur, dan merapikan sprei. Selain itu, ia juga tidak lupa untuk membuka selambu dan jendela kamar agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. Menurut ia menunda merapikan tempat tidur akan membuat kamar terlihat berantakan. Kalau kamar sudah rapi, apabila ia ingin kembali tidur setelah latihan akan pun terasa nyaman dan tidak kepikiran atau punya tanggungan yang mengganjal ketika sudah berada di luar kamar Mess.

__ADS_1


Ali menuju lapangan untuk berlatih, terlihat lapangan rumput hijau yang sangat bagus dan rata, bangunan-bangunan yang elok dan megah dari akademi Persib FC U19 ini.


Latihan kali ini hanya bersifat pemanasan saja sebelum pertandingan melawan Persib FC nanti sore.


Pada siang harinya, semua pemain berada di kantin untuk makan siang, Ali duduk satu meja bersama Reza dan Zola.


"Li kemarin kamu main kemana saja dengan pacarmu itu?" bisik Zola kepada Ali.


"Aku hanya makan saja Zo, ..." lirih Ali.


"Masaaa!? sampai hampir tengah malam Li!?" ledek Zola kepada Ali.


"Iya hanya makan saja memangnya menurutmu aku mau ngapain Zo!" ucap Ali yang kelepasan mengeluarkan emosinya sehingga Reza yang duduk di sebelahnya mendengar.


"Kamu kenapa Li!? kenapa kamu sewot begitu!?" sahut Reza sembari bertanya kepada Ali.


"Tidak apa-apa Za ...." lirih Ali.


"Psst, Ali kenapa Zo? tanya Reza sembari mendongakkan kepalanya kepada Zola.


"Biasa hubungan percintaan tengah malam ...." ledek Zola kembali.


"Ah sudah aku ga lapar nih, mending ke kamar saja!" seru Ali yang sekarang malah cemberut dan kesal.


Reza dan Zola mereka berdua menahan tawanya baru menahan Ali yang ngambek itu dengan berkata bahwa mereka hanya bercanda dan tidak ada maksud mengejeknya. Ali pun duduk kembali di kursinya dan makan bersama teman-temannya itu.


Selama di Bandung ini memang mereka bertiga menjadi lebih akrab dan mulai memahami karakter dari masing-masing temannya itu. Reza dan Zola sangat senang apabila menggoda Ali karena sifatnya yang gampang tersulut emosinya tapi juga sangat mudah untuk dijinakkan emosinya.


Beberapa menit sebelum pertandingan di dalam ruang ganti, Kepala pelatih Rahmat Idris memberikan instruksi kepada pemain-pemainnya.


"Hari ini merupakan pertandingan yang sangat berat melawan Persib FC U19! Walaupun berat jangan beri kesempatan untuk mereka bisa berkembang! Kita buat mereka kewalahan sampai Menit akhir! Tidak boleh ada kekalahan lagi harus kerja keras dan semangat pantang menyerah!" seru Rahmat Idris membakar semangat anak asuhnya itu.

__ADS_1


__ADS_2