
Pada malam hari menjelang dini hari.
Di dalam kamar Minda, terlihat Ali dan Minda yang masih mengobrol. Obrolan mereka di pisahkan oleh tebalnya dinding tembok kamar mandi.
Minda yang sedang duduk tepat di depan pintu luar kamar mandinya terlihat semakin mengantuk, "Hoaaam." Lalu ia mengubah posisi duduknya, yang awalnya duduk sila menghadap pintu luar kamar mandi, lalu dengan merangkak, kini ia merubah posisinya menjadi bersandar di pintu luar kamar mandi itu.
Sama hal nya dengan Ali, yang juga semakin mengantuk "Hoaaam." Lalu ia pun merubah posisi duduknya, yang awalnya ia duduk di kloset pelan-pelan ia merangkak akhirnya duduk bersandar di dalam pintu kamar mandi juga.
Lama kelamaan mereka berdua pun tertidur ....
.
Sementara itu di kediaman rumah Abdul, terlihat Abdul bergegas pergi menuju garasi rumahnya, Ia lantas keluar dengan menyetir mobilnya. Abdul meninggalkan Sri sendirian di rumahnya untuk mencari Ali, ia berencana akan mencari Ali di GOR Parung.
Sesampainya disana, Abdul langsung turun dari mobilnya dan mencari Ali anaknya, namun Ali tidak ditemukannya. Tidak mau menyerah begitu saja, Abdul lantas menyusuri jalan-jalan di sekitar GOR itu dengan mengendarai mobil, berharap masih ada jejak Ali yang terlihat disana.
Dari kejauhan ia melihat ada orang yang tergeletak di tengah jalan. Pelan-pelan Abdul menjalankan mobilnya ke arah orang itu, dan setelah dekat dengan orang itu Abdul langsung menepikan mobilnya.
Setelah ia tilik lebih lanjut, ternyata orang yang tergeletak di tengah jalan itu sepertinya gadis muda dengan memakai jaket bermotifkan geng motor. Abdul sedikit merasa lega karena bukan Ali yang tergeletak di tengah jalan itu.
Tiba-tiba dari belakang muncul sekumpulan anak remaja tanggung yang menaiki motor menuju ke arah Abdul, ada beberapa yang membawa samurai. Melihat hal itu Abdul langsung mengangkat gadis muda yang tergeletak tadi untuk menolongnya. Namun tanpa diduga gadis itu tiba-tiba bangun dan langsung tertawa, "Hahahaha, hajar gaes."
Di beri aba-aba oleh gadis itu, sekumpulan remaja tanggung yang merupakan geng motor yang paling di takuti di daerah Parung tersebut, langsung menyerang Abdul. Geng motor itu sedang menaikkan level ke-gangsters-annya dengan mencari korban acak untuk dibunuhnya.
3 remaja turun dengan cepat dari motor dan langsung menyerang Abdul dengan tangan kosong. Akan tetapi Abdul yang memang sudah mempunyai dasar olah tubuh yang baik hasil dari pelatihannya sebagai seorang pemain sepak bola, dapat dengan mudah menghalau serangan 3 remaja itu.
Kemudian datang lagi 2 remaja turun dari motor, mereka pun berlari menuju Abdul sambil membawa samurai di tangannya, mereka langsung menyambar Abdul dengan sebatan sembarangan, bagi mereka yang penting samurai itu mengarah kepada Abdul.
Abdul yang masih melawan 3 orang bertangan kosong pun langsung kewalahan karena kedatangan 2 orang lagi yang membawa samurai.
Dari belakang terdengar seseorang berteriak, "Minggir semuanya! Biar gua yang habisin Bapak itu!"
Orang yang berteriak itu adalah Ketua geng motor itu.
Seketika saja 5 anak remaja yang sedang menyerang Abdul terdiam dan memberi jalan untuk Ketua geng-nya untuk menghabisi korban acaknya itu.
Ketua geng itu akhirnya muncul dari kerumunan anak-anak remaja dan ketika ia mendekati korban yang akan ia bunuh itu, Ketua geng itu terkejut dan berkata, "Bapak Abdul?"
Sama hal nya dengan Abdul yang juga terkejut setelah melihat orang yang datang kepadanya dari kerumunan itu ternyata ....
"Zola ...."
Abdul pun tidak menyangka kalau yang akan menyerang dirinya adalah orang yang pernah ia selamatkan dari jeratan para geng narkoba.
__ADS_1
Zola juga merupakan pemain andalan dari tim Parung FC U19 yang berposisi sebagai Penyerang sayap kanan.
Mengetahui Abdul yang akan jadi korbannya, Zola langsung menyuruh semua anggotanya itu untuk pergi meninggalkan dia dan Abdul berdua saja.
Dengan perasaan bersalah Zola berkata, "Pak Abdul, maafkan aku ....Tolong jangan kasih tau Bapakku yah ....Sekali lagi aku minta maaf ...."
Bapak yang di maksud Zola adalah Rahmat Idris Pelatih Kepala Parung FC U19, Bapak angkat dari Zola.
-Flashback On-
Dua tahun yang lalu, Abdul melakukan perjalanan tugas kantor untuk peninjauan ke sebuah desa yang sangat terpencil di daerah Parung.
Di tengah perjalanannya di desa itu, ia melihat ada bocah kecil yang sangat lihai dalam mengolah si kulit bundar sedang bermain di lapangan. Abdul lantas menghentikan motor yang sedang ia kendarainya dan mendekati ke lapangan dimana bocah kecil itu bermain.
Abdul yang berada di tepi lapangan itu memberi tepuk tangan keras setelah melihat bocah itu mencetak gol, lalu berkata, "Nama kamu siapa Cil?" sambil menunjuk ke arah bocah yang tadi mencetak gol.
"Namanya Zola Pak!!!" serentak anak-anak lainnya memberi tahu Abdul namanya.
"Aku Zaenudin Pak!" seru bocah yang tadi disebut Zola itu.
"Owh begitu, ku panggil Zola saja yah."
Pertemuan itu membawa Abdul kembali bersama Rahmat koleganya di Parung FC U19, ketika sudah 6 bulan kemudian.
Sekembalinya Abdul ke Desa itu, Zola sudah tidak tinggal disana lagi. Menurut orang-orang Desa sana, Zola yang sudah yatim piatu itu di ajak bekerja oleh Kakaknya di kota Parung.
3 bulan kemudian Abdul tanpa sengaja melihat Zola di pasar dengan banyak luka lebam di muka dan sekujur tubuhnya. Ia baru saja di hajar oleh sekumpulan geng narkoba karena tidak mau memberitahukan keberadaan Kakaknya.
Akhirnya dengan bantuan Abdul dan Rahmat, geng narkoba tersebut dapat di ringkus kepolisian, dan Zola yang sekarang sebatang kara dijadikan anak angkat oleh Rahmat.
-Flashback Off-
Zola yang sebenarnya tidak tega melihat Abdul yang terluka, tetapi ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan Abdul dengan mengendarai motornya, daripada ia mendapatkan masalah yang lebih besar lagi jika ia malah membantu Abdul.
Abdul yang terluka di bagian lengannya karena sebatan samurai, mengeluarkan banyak darah. Ia lalu dengan sisa kekuatannya, mengendarai mobil menuju UGD Rumah Sakit Parung.
Sesampainya Abdul di UGD, akhirnya ia mendapatkan perawatan pertama, lengannya pun mendapatkan beberapa jahitan.
Tidak lama Sri yang sudah di hubungi oleh Abdul datang ke UGD di antar oleh tetangganya, dan langsung menemui Abdul.
Melihat Abdul dengan luka jahitan di lengannya Sri merasa sedih di tambah masih memikirkan Ali yang belum pulang menambah pedih hatinya.
Abdul mengatakan kepada Sri kalau ia akan memasukkan lagi Ali ke tim Parung FC U19, ia berkata, "Ibu coba kamu kirim WA ke Ali kalau Bapak akan memasukkannya lagi ke tim Parung FC U19." Sri pun langsung mengirim WA tersebut kepada Ali.
__ADS_1
Abdul jadi teringat kembali bagaimana aura mata dari anak-anak remaja tanggung yang menjadi anggota geng motor tadi yang penuh keputus-asaan, amarah dan kebencian. Ia tidak mau lama kelamaan Ali menjadi seperti itu akibat perlakuan keras dari nya.
.
.
Sementara itu pagi hari di rumah Minda.
"Ali! Ali! Ali!" teriak Minda sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandinya.
"Ali! Ali! Ali!" teriak Minda sekali lagi.
Kreeek!
Ali membuka pintu kamar mandi itu dan tiba-tiba terjatuh pingsan.
Melihat Ali tersungkur pingsan Minda langsung panik dan berteriak, "Ali!!! Kamu kenapa!"
Melihat Ali yang hanya memakai handuk saja, Minda tidak berani menyentuhnya lalu tanpa berpikir panjang ia langsung mencari bantuan. Dan yang pertama ada dalam pikirannya adalah meminta bantuan kepada kakaknya yaitu Andre.
Minda lalu turun ke bawah menuju taman, ia tahu kebiasaan Kakaknya yang setiap pagi selalu ada di taman untuk melakukan peregangan otot.
Sesampainya di taman ia melihat Andre langsung menghampirinya dan menarik lengannya.
"Ka sini deh ikut adek!" paksanya
Andre lalu terkejut, "Eh! eh! ada apa ini dek?"
"Ikut dulu nanti juga tahu," jawab Minda.
Minda dengan cepat mengarahkan Andre ke kamarnya.
Sesampainya mereka di sana.
Andre melihat seseorang yang hanya ditutupi oleh handuk sedang menelengkup di depan pintu kamar mandi Minda. Lalu berkata,
"Adek! ini siapa?"
"Ali ...." lirih Minda yang malu sembari menundukkan kepalanya.
Mendengar hal itu Andre terkejut, "Ali!"
Andre langsung mengangkat badan Ali untuk dipindahkan ke atas kasur.
__ADS_1
"Badan Ali sangat panas sekali ... Dek tolong minta kompresan ke bibi yah?" pinta Andre.
"Iya" sahut Minda.