
Minda aku sayang kamu, aku mau kamu jadi pacar aku?
Maaf Al, Aku..tidak bisa...
Tidak bisa menolak, aku mau jadi pacarmu.
Mendengar hal itu...
Aliran darah Ali tiba-tiba melonjak sampai ke ubun-ubun seperti akan menyembur di atas kepalanya.
Ali masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia ingin memastikan lagi dan akhirnya memberanikan diri untuk memandang mata indah dari Minda.
"Ka..kamu serius menerimaku jadi pacar"
"nggak, bohong!"
"Ya seriuslaah emangnya aku kaya orang yang suka ngebohong!" ucap minda sambil membelalakkan matanya.
"Sudahlah, yuk kita nonton aja" ajak Minda seraya menggenggam tangan Ali lalu menariknya.
Ali hanya bisa diam tercengang dengan tubuhnya yang terbawa tarikan dari Minda.
Bukan hanya Ali, tetapi teman-teman satu geng Minda pun tercengang melihat tingkah Minda yang tiba-tiba menerima salah satu anak terculun di SMP untuk dijadikan pacarnya.
"Dah ya gengz, gua cabut dulu"
"Cen cen ( panggilan Minda ) lo mau kemana?" sahut salah satu teman geng Minda.
Ali dan Minda pun pergi ke Bioskop XXI, mereka berangkat memakai mobil Alphard G Premium Sound diantar oleh sopir Minda.
Sesampainya di bioskop Minda lalu membeli tiket film Broken Hearts karena ia mengidolakan aktor Reza Rahadian.
Ali yang sedari Sekolah sampai bioskop hanya terdiam membisu tanpa bisa mengolah kata-kata.
Ia merasa sangat senang sekaligus bingung karena belum siap dengan keadaan sekarang yang tiba-tiba saja terjadi dengan dirinya. Karena ia memperkirakan akan terjadi penolakan dalam dirinya.
Ia termasuk orang yang tidak pernah hidup dalam kemewahan, jangankan untuk menaiki mobil Alphard, naik mobil Daihatsu Xenia saja ia bisa dihitung oleh jari.
Di dalam bioskop leher Ali terlihat begitu tegang, hanya sesedikit senyum saja terkadang membalas omongan dari Minda.
Selama di dalam bioskop hanya Minda yang mendominasi pembicaraan, Ali hanya menganggukkan anggukkan kepalanya saja.
Kencan pertama dalam hidup Ali pun selesai setelah Minda mengantarnya sampai depan kompleks rumahnya.
Keesokan harinya Minda mencari cari Ali di Sekolah tapi tidak ketemu, di telepon dan SMS pun Ali sudah tidak aktif. Bahkan dia sampai mencari ke area kompleks perumahan Ali, tapi tidak sekalipun melihat batang hidung Ali.
Sehari, seminggu dan bahkan sebulan sudah Minda tidak bisa menghubungi Ali.
__ADS_1
Minda bukannya sakit hati ditinggal oleh Ali, Ia ingin berada dalam satu Sekolah SMA lagi bersama Ali, karena kalau bukan dia siapa lagi yang bisa menolong Ali apabila kena bully didalam Sekolah.
Hanya satu yang diperlukan Ali dalam mengarungi kerasnya hidup di dunia ini.
Ali memerlukan penjaga dalam hidupnya, dan penjaga itu adalah...
Doraemon
Ya..Ali seperti Nobita yang memerlukan Doraemon dalam hidupnya, untuk menolongnya dari siksaan Giant.
....
....
2 tahun kemudian...
Minda kedatangan Kakaknya Andre yang baru pulang dari Jerman, setelah belajar kepelatihan selama 4 tahun disana.
Andre langsung mendapatkan pekerjaan sebagai Kepala Pelatih Teknik Pemain Depan U19 di klub Parung FC, karena memang sebelumnya ia sudah menawarkan dirinya melalui lamaran CV yang kirim melalui email, selama ia masih di Jerman.
.....
.....
Pada hari minggu, Minda yang tidak mempunyai jadwal untuk hang out itu entah kenapa sangat ingin ikut bersama Kakaknya untuk pergi menonton pertandingan antara Parung FC U19 melawan Kujang FC U19.
Saking serius dengan Handphone nya Minda sampai-sampai tidak mengetahui kalau pertandingan sudah berjalan. Dan...
Gol!!!...
Tim tuan rumah kebobolan hanya dalam waktu 3 menit saja.
Minda pun ikut merayakan gol itu tanpa mengetahui kalau yang yang memasukkan bola adalah tim dari lawan yang di asuh oleh Kakaknya.
Pada menit 10, 19, 31 dan 43 gol gol pun terus menghujani gawang Parung FC U19 yang dijaga oleh Ali itu.
Tanpa sadar Minda pun selalu merayakan gol-gol itu sembari lalu memainkan Handphone nya.
Babak pertama pun usai dengan Parung FC U19 yang sementara kalah 0 - 5 dari Kujang FC U19.
Babak kedua pun kembali dimulai, Minda yang sudah bosan dengan Handphone nya kali ini lebih memperhatikan jalannya pertandingan.
Pada menit ke 53 tim Kujang FC U19 yang memakai seragam berwarna merah hitam itu kembali memasukkan bola ke gawang Parung FC U19 yang memakai seragam berwarna kuning hitam itu. Minda pun kembali merayakan gol itu.
"Yeay, ngegolin lagi!"
Minda baru menyadari kalau di bawahnya terlihat Kakaknya yang sedang serius tegang memperhatikan permainan sepak bola itu bersama dengan pemain-pemain dengan seragam berwarnakan kuning hitam.
__ADS_1
"Eh..Tim Kakakku itu yang seragamnya berwarna kuning hitam yaah, lagi kalah dong"
"Salah ngedukung berarti aku" gumamnya dengan mimik bersalahnya.
Dan...
Gol!!!!...
Pada menit ke 68 tim Kujang FC U19 kembali memasukkan si kulit bundar itu untuk ke tujuh kalinya ke gawang Ali.
Lalu hujan pun turun dengan rintik-rintik pelan mulai membasahi lapangan dan tribun yang di duduki oleh Minda itu. Ia pun mulai merasa tidak nyaman karena hujan kecil ini membuatnya menjadi basah.
Dan...
Gol!!!...
Pada menit ke 80 Kujang FC kembali menambah pundi-pundi gol nya menjadi 0 - 8 untuk kemenangan tim merah hitam itu.
Minda yang sudah merasa tidak nyaman lagi duduk di tribun yang sudah mulai basah itu berniat turun dan mencari tempat untuk berteduh.
Setelah itu terdengar suara dari pelatih Parung FC U19...
" Ali..Ali.. Fokus!!!!!"
Ali...
Nama yang tidak asing di telinga Minda, ia pun kembali ke tribun tempat ia duduk tadi dan maju kedepan ke dekat pagar depan tribun itu.
Lalu ia picingkan matanya ke arah kiper dari Parung FC U19 itu.
Apaaa..ternyata benar itu adalah Ali yang selama ini aku cari-cari...
Ali kamu kenapa selalu begini, gawangmu telah kebobolan banyak sekali..
Dhuaar..
Mulai terdengar suara petir dengan hujan yang semakin deras turun hampir menggenangi lapangan sepak bola itu.
Minda saat ini sudah tidak peduli lagi dengan hujan yang semakin deras yang terus membasahi rambut serta pakaiannya, yang ada di pikirannya hanyalah Ali yang terlihat sangat rapuh seperti repihan kaca pecah.
Pada menit 90 ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir, datang serangan dari Kujang FC U19.
Penyerang sayap kiri dari Kujang FC U19 lolos dari jebakan offside, berlari hingga masuk kotak pinalti.
Para pemain dan pelatih yang melihat itu sudah pasrah saja, karena sudah dipastikan bola itu akan masuk kalau di tendang oleh pemain Kujang FC bernomor punggung 10 itu. Terlebih Ali yang menjaga gawang itu.
Minda yang terlihat panik juga mulai berdoa, dengan mengepalkan kedua tangannya didepan dadanya.
__ADS_1
Penyerang bernomor 10 itu pun langsung melesakkan bolanya dengan menendang bola efek kanannya