Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)

Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)
Bab 11 Tolak semua kerja sama


__ADS_3

Bobi baru saja keluar dari ruangan rapat sebuah stasiun televisi Abs. Dan dia masuk ke mobil dengan senyum puas di wajahnya. Berhenti sejenak disamping mobilnya lalu menoleh ke belakang.


"Beraninya menusukku dari belakang. Lihat apa yang bisa aku lakukan untuk menghancurkan mu!"


Sebuah mobil baru saja datang dan seorang pria turun dari mobil yang baru saja parkir di sebelah mobilnya. Dia keluar dengan berkas kerja sama dengan pihak televisi Abs.


Bobi yang sudah menyalakan mesin mobilnya, menunda sesaat, dia sejenak memperhatikan pria itu dengan tatapan sinis penuh kebencian.


Pria itu langsung masuk ke dalam kantor yang megah itu. Bobi nampak menelpon seseorang dari dalam mobilnya. Pria itu adalah pria yang dimaksud dalam rapat tadi.


"Dia datang, ingat, jika kau bekerja sama dengannya, akan aku tarik semua saham di perusahaan mu, dan akan aku pindahkan ke televisi sebelah,"


"Baiklah, kami mengerti,"


Bobi menutup teleponnya, lalu menarik dua sudut bibirnya kebawah, dan melajukan mobilnya dengan angkuh.


....


Zaki bertemu dengan CEO televisi Abs dengan kerja sama yang hari ini akan disepakati.


"Aku minta maaf, salah satu pemegang saham terbesar kami sepertinya tidak bisa bekerjasama lagi denganmu," kata CEO dengan nada sangat menyesal. Dia juga ditekan secara mendadak, dalam hati sungguh-sungguh menyesal karena sebelumnya memberi harapan pada Zaki.


"Siapa dia? Mungkin aku bisa bertemu secara pribadi. Kau tahu jika semua film yang aku buat selalu sukses di pasaran,"


Ting!


Ada pesan singkat dari Bobi. CEO lalu menatap Zaki dan memberikan alamat pemegang saham itu agar Zaki bicara empat mata dengannya dan mereka bisa meneruskan kerja sama ini.


"Terimakasih, aku akan segera menemuinya..." kata Zaki lalu beranjak dan pergi dari gedung yang sudah lama menaunginya hingga dia sukses seperti sekarang ini.


CEO menatap punggung Zaki dan menarik nafas dengan berat. Dia menggeleng bingung dan bergumam dalam hati," sepertinya ada masalah diantara mereka. Nampaknya bukan hal sepele."


.....


Zaki segera pergi untuk menemui salah satu pemegang saham terbesar di stasiun televisi itu. Dia harus membicarakan ulang masalah kerjasama yang sudah berlangsung begitu lama namun tiba-tiba di hentikan sepihak.


Salah satu tangan Zaki memegang berkas kerjasama, dia berdiri di depan pintu kantor Bobi. Salah satu tangannya terangkat lalu mengetuk pintu perlahan dan dalam hati berdoa agar pertemuan ini berhasil.

__ADS_1


"Masuk!" ucap Bobi dari dalam.


Pintu terbuka perlahan dan Zaki masuk lalu menutup pintu kembali.


"Silahkan duduk!" ucap Bobi menatap sinis dan sudah mempersiapkan untuk membalas perbuatan Zaki padanya.


Zaki mendongak dan terkejut saat menatap kursi dimana Bobi memutar badannya dan menghadap ke arahnya.


Mereka berdua saling bertatapan dan saling membaca konflik dalam hati masing-masing.


Zaki sudah terlanjur masuk, dalam hati tidak menduga jika suami Irene, kekasih gelapnya adalah pemegang saham terbesar di stasiun televisi Abs.


"Jadi kau? Pantas saja hari ini semua kerjasama di batalkan. Jadi kau membalas ku?" kata Zaki menggertakkan rahangnya.


"Haha, sebenarnya aku tidak bermaksud begitu, hanya saja beberapa rating film yang kau buat grafiknya terus menurun,"


"Mungkin bukan rating film saya yang turun, bapak bisa melihat ulang data yang di maksud. Film saya selalu ada di puncak nominasi,"


"Baiklah, mungkin kau benar dan aku salah. Tapi, aku tidak bisa bekerja sama lagi denganmu,"


"Jika aku tahu kau adalah pemegang saham televisi Abs, aku tidak akan datang. Aku telah membuang waktumu, jadi permisi...."


"Jadi bagaimana? Apakah kau akan menganggur sejak sekarang?"


"Masih banyak televisi lain yang akan menerima ku. Aku bekerja secara profesional, dan tidak mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan!" Zaki bicara tanpa menoleh.


"Aku akan melihat kau dari gedung ini. Kau akan keluar masuk kantor mereka dan akan kembali dengan tangan kosong!" Jelas sekali jika Bobi sedang membuat rencana untuk mengancurkan Zaki secara halus.


Zaki hanya mendengarkan tanpa membalasnya dan satu tangannya menarik gagang pintu lalu keluar dari kantor suami Irene itu.


.....


Irene gelisah dirumahnya, dia memikirkan apakah Zaki baik-baik saja saat ini. Dia sudah memblokir nomornya dan sekarang tidak tahu bagaimana bicara dengannya.


"Aku harus bicara dengan Lara. Ya, aku akan ke lokasi syuting dan bertemu dengan nya,"


Irene segera mengambil tas cangklong dan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Aku hanya akan menemui sahabatku saja. Kalian tetaplah disini," kata Irene pada dua bodyguard itu yang terus mengawasi gerak geriknya.


Kedua bodyguard itu saling berpandangan dan mengangguk. Irene melenggang dengan nafas lega karena mereka berdua tidak mengikutinya.


Namun saat mobilnya keluar, mobil lain juga menyusulnya keluar.


"Sial! Itu mereka," Irene melihat wajah dua pria itu dari spion mobilnya.


Irene seakan tidak peduli pada keberadaan dua bodyguard itu, dia tetap pergi ke lokasi dimana Lara syuting saat ini.


Dari kejauhan nampak Lara baru saja menyelesaikan adegan pertama dan kini riasannya sedang di perbaiki kembali.


Irene melenggang mendekati dirinya, dari kejauhan dua bodyguard itu terus mengawasi gerak-gerik nya.


"Bisa bicara sebentar," kata Irene lebih sopan kali ini.


"Maaf, bisa biarkan kami berdua saja?" kata Lara pada perias wajahnya.


"Ada apa menemuiku?" tanya Lara saat mereka hanya berdua saja.


Irene duduk dihadapannya dan menoleh sekilas pada dua bodyguard itu. Seakan dia takut jika kedua bodyguard itu mendengarkan pembicaraan nya.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Irene tanpa menyebut nama Zaki. Sedangkan yang ditanya sudah tahu, siapa yang di tanyakan oleh Irene. Tidak lain dia sedang ingin tahu keadaan suaminya.


"Dia pergi ke stasiun Televisi hari ini, kenapa kau tidak bertanya langsung padanya saja?" tanya balik Lara.


"Aku tidak bisa menemuinya lagi atau berbicara padanya," jawab Irene dengan suara lembut dan lirih. Berbeda dari beberapa pekan lalu yang setiap bicara nya merendahkan Lara.


Lara nampak diam saja dan mencoba memahami apa yang sudah terjadi antara suaminya dan Irene. Apakah hubungan mereka akan berakhir atau justru berlanjut ke pernikahan. Mengingat sekarang suaminya Irene sudah tahu semuanya.


"Aku hanya ingin tahu keadaan nya. Jika dia baik-baik saja, aku merasa lega. Dan...ya...jangan beritahu dia jika aku menemuimu sekarang,"


Deg. Lara bingung dengan sikap wanita di hadapannya ini.


"Baiklah...." jawab Lara dan Irene pamit padanya setelah lega jika tahu Zaki baik-baik saja.


Lara menatap kaki jenjang wanita itu yang membuat para pria tidak bisa berpaling saat menatapnya.

__ADS_1


Dia lalu melihat kakinya sendiri yang tidak seindah kaki wanita itu. Tiba-tiba dia membandingkan postur tubuhnya dengan wanita yang di cintai oleh suaminya.


"Pantas saja Zaki sangat menyukainya. Para pria memang selalu mengagumi fisik yang indah! Aku merasa tidak percaya diri jika berada didekatnya," lirih Lara sedikit kesal karena tanpa sadar membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.


__ADS_2