Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)

Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)
Bab 13 Kecurigaan Lara


__ADS_3

Satu Minggu ini, Zaki terus mengantarkan dirinya syuting dan pergi kemanapun, entah belanja ke pasar atau sekedar ke salon.


"Berapa lama kau ada didalam?" tanya Zaki dari parkiran karena saat ini dia sedang menunggu Lara. Duduk lama di dalam mobil membuatnya jenuh.


"Satu jam lagi. Jika kau bosan pulanglah. Aku akan pulang naik taksi," jawab Lara dari dalam salon setelah susah payah mengambil telepon dari tasnya. Dia sudah bilang untuk pulang dan tidak menunggunya karena ini akan berlangsung lama. Tapi Zaki keras kepala untuk tetap menunggu dirinya.


"Cepatlah! lakukan semuanya dengan cepat. Kau seperti siput, begitu lambat!" ujar Zaki kesal karena sudah satu jam menunggu dan sekarang harus menunggu satu jam lagi. Tapi, bagaimana pun ancaman Bobi mengganggu pikirannya.


"Hei...ck!" Lara akan memakinya karena dia disamakan dengan siput. Tapi Zaki sudah menutup teleponnya dengan cepat. Lara tersungut kesal dan memasukkan lagi handphonenya kedalam tasnya.


Wanita disampingnya mendengar pembicaraan nya di telpon. Wanita itu memperhatikan Lara dan merasa iri karena suaminya memperhatikan dirinya.


"Nampaknya suamimu sangat mencintaimu," Dia mau mengantar dan menunggumu saat kau sedang ke salon. Aku sudah menikah lima tahun dan belum pernah sekalipun suamiku mau menunggu disalon saat aku melakukan perawatan batin wanita itu. Dia juga ingin sesekali di manja dan diantar kemana-mana.


Lara menoleh pada wanita itu dan tersenyum kecut. Orang lain akan berpikir jika ini kenyataan. Padahal sebenarnya, ini hanyalah sandiwara saja. Pasti Zaki sedang mengalihkan isu hingga dia berlaku seperti ini padanya. Biasanya seperti itu, sejak bertahun-tahun lalu.


"Ehm, benarkah? Aku juga heran, kenapa dia tiba-tiba mengantarkan aku kemanapun aku pergi,"


"Kau harusnya bersyukur. Dia sangat perhatian padamu. Jangan lepaskan dia.....," bisik wanita itu setengah bercanda sambil tersenyum kecil.


"Ehh.....iya..." Lara lalu memikirkan kembali satu Minggu yang begitu berbeda. Dia seperti mendapatkan perlakuan istimewa dari Zaki dalam satu Minggu terakhir ini.


Dia ingat saat ke mall dan dia akan ke toilet. Zaki juga menunggu didepan pintu toilet dan membuat para wanita tertawa karena tingkahnya yang over protektif itu.


.


Lara sudah selesai dan berjalan ke parkiran. Dia melambai pada Zaki dan dengan cepat Zaki turun lalu berlari kecil ke arahnya.


Lara sampai terpana melihatnya.


Begitu sampai di hadapan Lara, Zaki meneliti dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Ada apa? Kenapa melihatku seperti ini?" tanya Lara lalu dia juga melihat ujung kakinya sendiri. Tingkah Zaki seperti seorang bodyguard saja.

__ADS_1


"Apakah kau merasa ada orang yang terus mengawasi mu saat kau di salon tadi?" tanya Zaki. Dia dalam hati khawatir jika orang suruhan Bobi akan menyakiti Lara.


"Tidak. Mengawasi apa? Memangnya aku istri konglomerat?" Lara terheran-heran di buatnya. Semakin hari semakin aneh saja, batin Lara.


"Jika tidak ada. Ayo cepat ke mobil. Kau membuatku sangat bosan disini!" ketus Zaki.


Dasar aneh! gumam Lara dalam hati.


.


Zaki mengomel dan membuat dada Lara menjadi sesak karena sepertinya dia tidak ikhlas melakukan semua ini.


"Wanita itu pasti salah karena berfikir jika aku adalah wanita yang beruntung," kata Lara saat mobil itu melaju perlahan meninggalkan parkiran salon.


"Memangnya apa yang dia katakan?" Zaki menoleh padanya sekilas sambil menyetir.


"Dia ingin suaminya mengantar dan menunggu disalon saat dia melakukan perawatan," Lara mengulang perkataan wanita itu, yang memuji Zaki.


"Haha, dia pasti sedang cemburu padaku bukan?" tiba-tiba saja Zaki menjadi narsis di hadapan Lara.


"Kau sangat narsis!" ejek Lara.


"Bagaimana rasanya di perhatikan? Senang bukan?" tiba-tiba saja Zaki bertanya hal ini.


"Apa? Perhatian yang kau berikan justru membuatku cemas. Aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi," kata Lara lirih.


"Heh! Kau jangan berpikir yang tidak-tidak. Jika ku perhatikan kau, harusnya kau senang. Kenapa kau malah menjadi cemas? Dasar burung beo!"


"Apa? Kau bilang aku burung beo?!" Lara menoleh dan membelalakan matanya.


Ciiiittttt!


........

__ADS_1


Zaki menginjak rem mendadak hingga kepala Lara terbentur dan Zaki bahkan tidak menyadarinya.


Di depannya, Irene bergandengan tangan menyeberang jalan, dan hampir saja Zaki menabraknya karena dia tidak fokus barusan.


Zaki terpana dan hatinya terbakar melihat Irene mengapit lengan Bobi. Mereka menyeberang karena sepertinya memarkir mobilnya di seberang restoran itu.


Lara sambil memegangi kepalanya yang baru saja terbentur, juga melihat apa yang di lihat oleh Zaki. Dan saat melihat Zaki tidak bereaksi, membuat hatinya bertanya-tanya.


Akhir-akhir ini Zaki memang jarang bertemu dengan Irene, dan bahkan dia juga tidak ke kantor. Dalam hati dia bertanya-tanya apa sebabnya semua menjadi berubah dalam waktu cepat.


Tiba-tiba Zaki melajukan mobilnya dengan cepat dan setengah mengebut. Membuat Lara kaget dan berpegangan dengan kuat.


Sesekali dia menoleh menatap wajah Zaki, dan dalam hati tahu jika Zaki sedang marah dan cemburu saat ini.


"Turunkan aku disini!" Teriak Lara ketika mobil itu semakin kencang saja.


Zaki tidak mendengarkannya dan malah semakin kencang.


"Kau tuli! Turunkan aku!"


Ciiiittt!


"Turun!" Tiba-tiba Zaki menoleh dan benar-benar menyuruhnya turun saat itu juga.


"Apa?" Kini Lara menjadi kaget saat benar-benar di suruh turun olehnya.


"Kau minta turun bukan. Sekarang cepat. Turunlah!"


"Tapi....."


Saat Lara masih bingung, Zaki sudah turun dan membuka pintu untuknya.


Mau tidak mau, Lara turun juga dengan tersungut-sungut.

__ADS_1


"Dasar! Dia benar-benar menyuruh aku turun di jalan! Tidak berperasaan!" sungut Lara saat melihat mobil Zaki menjauh dari hadapannya.


Terpaksa Lara menyetop taksi di belakangnya karena dia baru saja mendapat pesan untuk bertemu dengan CEO.


__ADS_2