Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)

Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)
Bab 21 Merasa cemburu


__ADS_3

Zaki berulang kali melihat jam tangannya. Sudah tengah malam Lara belum juga kembali. Dia menjadi sangat khawatir. Zaki segera pergi membawa Al untuk di titipkan pada orang tuanya.


"Kenapa malam-malam mengganggu tidur kami?" tanya ibunya saat keluar menemui Zaki.


"Mah, aku titip Al malam ini," ucap Zaki sambil menggendong Al dari dalam mobil dan memberikanya pada ibunya.


"Memangnya kenapa? Kau terlihat begitu cemas?"


Zaki terdiam. Bagaimana pun dia tidak bisa mengatakan jika Lara belum kembali selarut ini.


"Sudah ya mah, aku sangat buru-buru," kata Zaki tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


"Hei..... tunggu!"


Teriak ibunya namun Zaki sudah pergi melesat dengan cepat.


.


Zaki menghubungi Lara, namun handphonenya tidak di angkat. Hal itu membuatnya panik sekaligus kesal.


Zaki lalu menelpon CEO dan menanyakan keberadaan istrinya.


"Apakah Lara masih bersamamu?" tanya Zaki pada CEO yang malam ini sedang menenggelamkan diri dalam proyek barunya demi melupakan kecewa di hatinya.


"Tidak. Kami bertemu sebentar lalu aku meninggalkan dirinya di...."


Tiba-tiba saja CEO menutup teleponnya dan segera keluar dari rumahnya.


Dan benar saja. Begitu dia sampai di bar itu, Lara masih ada disana. CEO lalu menghampiri Lara dan dia menjadi iba melihatnya seperti ini.


"Lara...." Panggilan dari suara yang sangat dia kenal membuat kepala Lara yang terasa berat menoleh kearah suara itu.


"Ehm, kau...." Lara menatapnya dengan sayu.


"Kenapa masih ada disini selarut ini?" CEO segera membantu Lara berdiri.

__ADS_1


"Suamimu mencarimu. Aku akan mengantar kau pulang," kata CEO sementara Lara hanya berusaha membuka matanya yang terasa begitu berat. Dia hanya mengangguk saja karena dalam pengaruh minuman.


CEO membuka pintu untuknya lalu mengikatkan seatbelt di badannya. Saat itu sebagian rambut Lara menutupi wajahnya dengan berantakan. Ketika Lara setengah menunduk, CEO menatapnya lekat dan dalam, lalu menyibakkan rambutnya dengan salah satu jarinya.


"Tak perlu seperti ini," gumamnya menatap paras yang tiba-tiba memejamkan matanya begitu sudah duduk dengan nyaman di mobil CEO.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Zaki. CEO segera berhenti dan membantu Lara turun lalu memapahnya masuk kedalam.


Zaki yang sudah menunggu sejak tadi segera menghampiri mereka berdua dan menatap tajam CEO dengan rasa cemburu yang tidak bisa dia tunjukkan.


"Kau bisa pulang. Sudah ada aku. Dan... terimakasih...." katanya sambil mengambil Lara dari tangan CEO dengan gesit.


"Ehm..da....." Lara tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum saat melihat CEO akan pamit. Melihat hal itu, Zaki semakin kesal dan membawa masuk Lara denfan cepat.


CEO hanya menggelengkan kepalanya ketika Zaki masuk dan menutup pintu dengan sedikit keras.


.


Zaki membaringkan Lara ke atas kasur di kamarnya. Lalu dengan pelan dia melepaskan sepatu Lara, dan membuka sedikit kancing bajunya agar dia tidak sesak.


"Ck, kau pikir aku mau apa? Aku hanya membuat kau nyaman saja,"


"Hahahaha...aku pikir kau akan membuat aku punya anak lagi?"


"Tidurlah! Aku akan ke kamarku...." kata Zaki setelah mematikan lampu dikamar Lara. Malam ini tidak ada gunanya dia marah atau kesal padanya, karena dia dalam keadaan tidak sadar.


Pagi harinya, Lara terbangun dan segera turun kebawah mencari Zaki serta Al.


"Zaki....!"


"Al...!"


"Kemana mereka sepagi ini?"


Lara nampaknya bangun kesiangan. Karena sekarang sudah jam sepuluh.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku kesiangan....tapi...kemana mereka?"


Lara ke kamar mandi karena merasa badanya bau minuman. Lamat-lamat sambil gosok gigi dia teringat jika CEO mengantarkan dirinya pulang. Lalu Zaki terlihat memapahnya ke kamarnya.


"Kenapa aku seperti ini?" Gumam Lara menyesali karena kemarin dia terbawa perasaan dan melampiaskan nya pada minuman.


.


Ditempat lain.


Zaki memenuhi janjinya untuk menyelamatkan karir Lara. Dia mengadakan jumpa pers dan membuat pernyataan disana. Seluruh wartawan sudah siap sejak tadi dengan kamera mereka.


"Zaki, ini live. Jangan membuat kesalahan," kata Produser Lara.


"Aku tahu,"


Jawab Zaki berjalan di meja paling depan dan duduk lalu menyapa semua orang yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Mengenai berita pernikahan kami, sebenarnya aku katakan dari hatiku yang paling dalam. Larasati adalah wanita yang aku cintai dan aku akan berada disisinya selamanya. Jadi pernikahan kontrak yang beredar, itu tidak benar. Kami akan bersama selamanya..." kata Zaki dengan tegas.


Beberapa orang menjadi gaduh dan sebagian dari mereka merasa puas.


"Kau melakukan yang seharusnya," kata Produser lalu tersenyum lega dari tempatnya berdiri.


Zaki meninggalkan ruangan itu dan kali ini hanya pernyataan saja tidak ada sesi tanya jawab. Setelah itu dia masuk ke dalam dan berita itu menjadi perhatian seluruh masyarakat termasuk Bobi.


Dia melihat di kantornya, melihat berita itu Bobi kecewa karena Zaki tidak mudah untuk di hancurkan, dan juga lega, jika benar dia mencintai Larasati, maka Irene tidak akan berselingkuh lagi dengannya.


"Jika itu benar, aku tidak perlu khawatir lagi," gumamnya tersenyum miring sambil sedikit mengangguk.


Sementara di rumah sakit, Irene sedang berbaring lemah, dia mengalami mual yang hebat tadi pagi. Dan ternyata dia saat ini sedang hamil anak Bobi.


Dia masih kaget dan shock. Karena artinya, selamanya dia akan bersama Bobi sejak tahu dirinya hamil. Sedangkan dia masih mencintai Zaki hingga saat ini.


"Apakah artinya aku harus menyerah pada takdir ku ini?" bisik Irene lirih sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


__ADS_2