
Zaki hari ini seharian ada dirumah. Dan hal itu diam-diam menarik perhatian Lara. Bagaimana tidak? Biasanya dia sibuk bekerja dan keluar kota untuk berkencan dengan kekasih gelapnya itu.
"Aku akan pergi...!" pamit Lara.
Lara mengecup kening Al dan tersenyum kecil pada Zaki yang sedang menggendong Al di ruang tamu.
"Jangan lama-lama. Nanti dia rewel..." ucap Zaki menatapnya hangat.
"Jika sudah selesai aku langsung pulang. Kali ini, kau tidak perlu mengantarkan aku. Aku bisa pergi sendiri. Aku akan naik taksi saja," Lara lalu keluar dan Zaki menatapnya dari tempatnya berdiri.
Zaki nampak menghela nafas dalam. Dia tidak punya pekerjaan. Bobi benar-benar menutup semua akses untuk nya. Ancamannya ternyata tidak main-main.
"Asal Irene baik-baik saja. Jangan pikirkan diriku," batin Zaki sambil mengintip Lara yang berjalan ke halaman.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah Zaki. Ternyata itu mobil CEO. Dia mbuka salah satu jendela dan mengeluarkan kepalanya, memanggil Lara.
"Larasati... naiklah!"
"Hai...kau menjemput ku?" Lara kaget karena tidak disangka CEO malah menjemput nya.
Zaki sepertinya mendengar suara CEO, jadi dia membuka tirai jendela dan mengintip sekali lagi.
"Dasar buaya itu! Terus saja mendekati Lara!"
Dilihatnya Lara masuk ke dalam mobil dan mereka sudah tidak terlihat lagi.
Di hari ulang tahunya, ternyata CEO ingin menghabiskan seharian ini dengan Lara. Entah kenapa dia tertarik pada wajah manis itu. Pembawaannya yang sederhana dan simpel, terlihat anggun di matanya. Sayangnya, dia adalah istri Zaki. Namun, kemarin dia mendengar jika Zaki telah berselingkuh dengan Irene. Karena itulah dia mendekati Lara dan ingin tahu reaksi nya.
Sejak dari tadi CEO diam-diam memperhatikan wajah manis dihadapan nya yang terlihat sedang kesal akan suatu hal. Kadangkala dia harus menahan senyumnya yang tertahan karena wajah itu begitu terlihat lucu saat dia tengah kesal.
"Jika aku melihatmu seperti ini, sepertinya kau sedang kesal pada seseorang. Apakah aku mengundangmu disaat yang tidak tepat?" tanya CEO mengulum senyumnya.
"Ohh, tidak. Apakah aku terlihat sedang kesal?"Lara langsung memperbaiki roman wajahnya.
"Hmm....." CEO hanya tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Semakin lama diperhatikan, ternyata dia tidak bisa menyembunyikan perasaan yang diam-diam dia simpan untuk Lara.
"Kemarin aku bertemu CEO televisi Abs, aku dengar sekarang Zaki tidak bekerja sama dengan mereka lagi,"
__ADS_1
"Apa? Tapi, beberapa hari yang lalu dia kesana dan hanya mengatakan jika dia akan cuti beberapa bulan kedepan," Lara terkejut mendengar suaminya tidak bekerja sama dengan televisi Abs lagi. Dalam hati juga bergumam kenapa hal sebesar ini tidak dia ceritakan padanya?
"Apakah suamimu tidak mengatakan padamu?"
"Tidak. Aku terkejut setelah mendengar semua itu darimu,"
Lara nampak sedih setelah mendengar jika Zaki tidak ada pekerjaan lagi.
Pantas saja, dia mengantar kan dirinya kesana kemari, ternyata ini penyebabnya, pikir Lara.
"Jika sudah tidak ada keperluan lagi, aku pamit untuk pulang," kata Lara berpamitan pada CEO.
"Aku akan mengantarmu...."
"Eh..."
Didalam mobil, setelah mereka makan dan menikmati suasana berdua, CEO menanyakan keadaan Lara.
"Aku mendengar kabar tidak sedap tentang suamimu dan Irene. Semoga itu tidak benar,"
"Ehm, itu...."
"Apa?!" Lara terperanjat kali ini.
"Kau sepertinya tidak terkejut. Apakah kau juga sudah mengetahuinya?" CEO menoleh menatap wajah Larasati dengan lekat.
"Aku....ya kau benar. Aku sudah tahu hal itu..." jawabnya tanpa bisa berpura-pura lagi.
"Kau tidak marah?" CEO heran melihat ekspresi wajah Larasati.
"Aku...tentu saja aku marah. Aku mencakar wajahnya. Aku juga menendang kakinya. Memangnya apa lagi yang harus aku lakukan?" Larasati asal menjawab kali ini.
"Kau berhak marah....jika kau butuh teman berbagi, aku akan ada untukmu kapanpun kau ingin aku temani," ucap CEO penuh simpati.
Bagaimana kabar itu tersebar lagi kali ini? Siapa yang menyebarkan nya? Dan aku sangat merasa tidak berharga sebagai seorang istri ketika suamiku ketahuan berselingkuh dengan wanita lain. Bagi mereka pernikahan kami nyata, dan rasanya aku begitu merasa terhina saat ini.
Lara akhirnya pulang diantar oleh CEO sampai didepan rumahnya.
"Kau mau masuk kedalam? Sepertinya Zaki sudah pulang?" kata Lara mempersilahkan CEO.
__ADS_1
"Terimakasih, lain kali saja...."
Saat Lara akan berbalik masuk ke halaman rumahnya, Zaki keluar sambil menggendong Al. Matanya menatap sinis pada Lara yang di antar pulang oleh CEO.
"Sepertinya kalian semakin dekat saja," sapa Zaki terdengar tidak suka .
"Kami hanya bertemu untuk urusan pekerjaan. Tidak ada yang lain," sahut Lara.
"Tapi kelihatannya dia sangat peduli padamu?"
"Peduli bagaimana?" Lara bertanya dan tidak mengerti apa yang ingin di ungkapkan Zaki.
"Dia sangat sibuk. Kenapa dia harus mengantar mu pulang?"
"Kau seperti sedang cemburu saja," goda Lara tersenyum meledeknya.
"Cih, Tidak akan,"
Mereka berdua lalu beriringan masuk kedalam.
Lara menatap Al dalam gendongan Zaki dengan sangat nyaman. Satu tanganya dia masukkan kedalam gendongan menempel di dadanya. Dan satu lagi kakinya berayun-ayun.
Aku akan menanyakan hal tadi besok saja, pikir Lara.
.
Saat ini, makan malam terasa begitu berbeda. Karena hari ini, Zaki yang menggantikan dirinya memasak didapur, sedangkan Lara menjaga Al.
Jika dilihat, nampak ada banyak perubahan dalam sikap Zaki sejak tidak bisa bertemu dengan Irene.
Tiba-tiba saja pintu dibuka dengan kencang, karena kebetulan tidak di kunci, dan seorang wanita dengan baju terkoyak menerobos masuk. Rambutnya nampak berantakan, matanya nanar, mencari seseorang dan begitu melihat Zaki, dia langsung menghambur kearah ya.
Zaki dan Lara terkejut saat pintu dibuka dengan keras dan mereka langsung berdiri.
Irene menghambur memeluk Zaki dan menangis di dadanya. Sementara Lara hanya bisa terpana saat wanita lain memeluk suaminya.
"Irene....apa yang terjadi...?" tanya Zaki kebingungan dan saat ini, tepat dihadapan Lara, Irene tanpa rasa sungkan memeluk dan mendekap suaminya sangat erat.
Lara menatapnya tanpa berkedip untuk sekian menit lamanya, hingga pelan-pelan dia memalingkan wajahnya dan menghela nafas dalam. Hatinya entah kenapa serasa tergores pedang tajam melihat semua itu dengan sangat dekat.
__ADS_1
Meskipun hanya pernikahan kontrak, tetap saja rasa sakit itu seperti nyata.