
Irene tanpa sadar bicara soal pernikahan kontrak Zaki dan Lara pada seseorang di telepon. Orang itu adalah sahabat nya yang mengetahui lika-liku kehidupannya sejak awal menikah dengan Bobi.
"Mereka tidak jadi bercerai. Kendati pernikahan nya hanyalah kontrak saja," ucapnya.
Saat itu, Bobi berdiri di pintu dan hampir saja minuman yang dia bawakan untuk istrinya terlepas dari tangannya saat mendengar jika Zaki dan Lara menikah kontrak selama tiga tahun berjalan ini.
"Mas...." Irene menoleh karena melihat bayangan suaminya. Bobi memberikan minuman itu dan pamitan padanya karena ada urusan mendadak.
"Minum ini selagi hangat. Aku harus pergi sebentar," ucap Bobi setelah menaruh minuman di atas nakas.
Bobi langsung ke mobil dan menelpon seseorang. Dia sepertinya mendapatkan bahan peledak untuk menghancurkan Zaki.
"Tulis dengan cetak tebal di setiap majalah yang akan terbit malam ini!" perintahnya. "Pastikan semua orang membacanya!"
.
Ditempat lain Lara baru saja masuk kerumah Zaki menggendong Al sambil menarik kopernya. Tidak disangka dia akan kembali lagi kerumah ini setelah dia memutuskan untuk bercerai dan pergi tanpa pamit.
Disaat bersamaan, Zaki juga datang dengan mobilnya. Lara berbalik dan menatap mobil yang baru datang itu. Dia berdiri terpaku dan melihat Zaki turun dari mobil hitam. Zaki menutup pintu mobil dan membalikkan badannya.
Dilihatnya Lara berdiri tiga meter darinya menghadap ke arahnya. Menggendong Al dan salah satu tangannya memegang kopernya. Sepertinya Lara sengaja menunggu Zaki melangkah mendekati nya dan akan masuk kerumah bersama-sama.
Lara menarik nafas dalam ketika kaki Zaki melangkah lebih dekat padanya.
"Kau kembali?" tanya Zaki terkejut melihat Lara kembali ke rumahnya.
"Ibumu memintaku untuk kembali," jawab Lara.
Zaki mengulurkan tangannya dan mengambil koper Lara lalu menariknya kedalam.
__ADS_1
Mereka kini duduk bersama di sofa dan sesaat hanya saling diam tanpa berbicara.
"Kenapa tiba-tiba memutuskan untuk pergi dan bercerai?" tanya Zaki penasaran.
"Karena jika diteruskan akan semakin membuat kita berdua terluka. Kau ingin hidup bersama mbak Irene. Karena itu lebih baik kita berpisah dan mengakhiri semua ini,"
"Kapan aku mengatakan jika aku akan hidup bersama Irene?" tanya Zaki sambil menatapnya tajam.
Lara tertunduk dan berkata dengan lirih nyaris tak terdengar," Bukankah kemarin malam kau dan Mbak Irene bersama. Jika kalian akan tinggal bersama dirumah ini, maka aku tidak di perlukan lagi,"
"Jadi kau memutuskan untuk berpisah karena berfikir jika aku dan Irene tidur bersama malam itu?"
Lara diam tapi kepalanya mengangguk.
Tiba-tiba Zaki tersenyum terkekeh sendirian. Membuat Lara menatapnya heran.
"Lara, kita hidup bersama selama tiga tahun. Dan pernikahan kontrak ini, suatu saat akan berakhir. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku ingin pernikahan ini menjadi nyata," kata Zaki tiba-tiba dan membuat Lara terpana tidak mampu berkata-kata lagi.
"Aku dan Irene, sudah tidak ada hubungan lagi. Kemarin dia datang, tapi aku melepaskan dirinya kembali pada suaminya. Jika itu sudah aku lakukan. Apakah kau masih mau menerima aku lagi? Kau tentu tahu semua perbuatan burukku. Karena itu, aku ingin bertanya padamu. Jika aku ingin kita benar-benar menikah, apakah kau masih mau menerimaku?"
Lara diam saja dan hanya menatap Zaki dengan tatapan sendu. Pria yang saat ini mengutarakan niatnya untuk hidup bersama, apakah dia sungguh-sungguh? Aku tahu aku wanita yang bodoh, karena cintaku padanya begitu buta. Apa yang tersisa dari pria ini? Selain bekas noda dari cinta hitamnya?
"Aku akan memikirkan nya. Beri aku waktu,"
Zaki sejenak menatap kecewa karena Lara tidak langsung menjawab iya saja. Padahal Zaki sudah tahu jika diam-diam Lara menyukainya. Dalam hati curiga, jika Lara sudah di rayu oleh CEO itu.
"Aku ingin jawabannya sekarang," kata Zaki tiba-tiba sambil berdiri dan mengambil setangkai bunga di atas meja makan lalu bersimpuh di hadapan Lara.
"Larasati...maukah kau menikah denganku?" Zaki menunduk dan tangannya terulur sambil memegang setangkai mawar merah.
__ADS_1
Lara terpana lagi.
Jawab sekarang Lara! pinta Zaki didalam hati.
"Sudah ku bilang jika aku butuh waktu. Ini adalah pernikahan seumur hidup. Jadi aku harus benar-benar memikirkan nya..." kata Lara yang harus mencari bukti keseriusan Zaki pada lamarannya ini.
"Memangnya apa yang kau tunggu? Kita sudah menikah. Sudah hidup bersama selama tiga tahun. Apa lagi yang ingin kau pikirkan hingga harus membuatku menunggu?" Nada suara Zaki berubah lebih keras. Dia berdiri di hadapan Lara dan wajahnya kesal karena Lara tidak langsung menjawab Iya saja.
"Tentu saja banyak sekali yang harus aku pertimbangkan. Sebelum nya pernikahan kita hanya kontrak saja. Sekarang kau ingin aku menjadi istrimu selamanya. Artinya kita akan tinggal bersama untuk seumur hidup. Bagaimana aku bisa membuat keputusan dalam waktu beberapa menit?" Lara menjadi kesal karena Zaki bicara dengan nada marah padanya.
"Jika aku berubah pikiran kau akan menyesal!"
"Jika begitu mudahnya pikiranmu berubah-ubah, lalu apa gunanya kau melamar ku? Kalau begitu kau memang tidak sungguh-sungguh. Lebih baik aku tidak perlu menjawabnya saja. Untuk apa aku membuang waktu memikirkannya!" Kesal Lara dan akan menggendong Al ke atas.
Zaki dengan cepat menarik tangannya dan mendekapnya kedalam pelukannya.
"Beri aku tiga belas detik!" Zaki langsung mencium Lara tanpa Lara bisa melepaskan diri dari dekapan nya yang sangat kuat. Zaki menciumnya dan ini adalah yang kedua kalinya selama pernikahan tiga tahun itu.
Yang pertama masih dalam ingatan Lara, malam pembuahan Al yang merupakan bagian dari kesepakatan. Namun setelah itu mereka menjaga jarak layaknya orang asing yang tinggal dalam satu atap.
Dan kini, pria konyol ini melamarnya, bahkan sebelum dia memberikan jawaban iya, dia sudah nekat mencium nya.
Zaki melepaskan Lara dan membalikkan tubuhnya memunggunginya.
Lara terdiam dan menjadi tidak nyaman setelah adegan barusan yang sangat tiba-tiba.
Lara berjalan ke atas sambil menggendong al tanpa bicara sepatah katapun.
Sementara Zaki berbalik dan menatap istrinya dalam diam dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Pikirkan dengan cepat. Aku akan menunggu jawaban mu!" Tiba-tiba saja dia berbicara lantang saat melihat Lara berjalan naik ke lantai dua.
Lara menoleh dan Zaki tersenyum konyol sambil menaruh dua jarinya di bibirnya lalu membalikkannya.