
"Koran! koran!"
"Ambilkan satu untukku!" kata CEO pada sopir nya. Dia akan ke kantor pagi ini.
Saat melihat judul di halaman pertama pada koran yang masih terlipat rapi itu, matanya terbelalak dan dia sangat terkejut hingga langsung membaca seluruh artikel dengan cetak tebal itu.
"Pernikahan kontrak Zaki dan Larasati, Artis pendatang baru, Sudah berjalan tiga tahun. Mereka berdua menipu kita semua"
Tulisan pada judul itu langsung menjadi perbincangan dimana-mana. Bahkan Larasati kehilangan separo pengikut nya begitu juga Zaki di media. Mereka berdua menjadi viral pagi ini dan banjir kecaman serta nyinyiran negatif dari semua pengikut nya yang kecewa akan perbuatannya yang di anggap menyimpang.
CEO langsung ke kantor dan mengadakan rapat darurat untuk film yang sebentar lagi akan launching. Film itu hampir selesai dan tinggal 5% lagi. Tapi scandal pemeran utamanya yang tidak lain adalah Larasati membuat seluruh orang yang terlibat dalam pembuatan film itu menjadi ketar-ketir.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya produser pada CEO.
"Kita akan menunggu klarifikasi darinya," kata CEO dengan menggigit bagian bawah bibirnya.
Dalam hati dia berfikir, jika Larasati menikah kontrak dengan Zaki lalu punya anak, maka dia pasti bukan wanita yang seperti dia duga selama ini. Wanita yang menikah kontrak biasanya bukanlah wanita polos yang baik. Mereka adalah wanita yang demi uang rela melakukan segalanya. Sempat terfikir dalam benak CEO jika Larasati ternyata tidak selugu yang dia lihat selama ini.
"Ternyata aku salah menilai dirimu. Aku berfikir jika kau berbeda dengan mereka? Ternyata kau sama saja," gumam nya lirih. Wanita yang dekat dengan CEO sebelumnya semuanya hanya mengincar kekayaannya saja dan status sosial yang dia miliki. Karena itulah dia belum menikah hingga saat ini.
Zaki sudah bangun sejak pagi, dia berolahraga seperti biasa sembari menunggu Lara menyiapkan sarapan untuknya.
Al berjalan mondar-mandir di dekat Zaki sambil sesekali menatap apa yang dilakukan ayahnya.
"Pa-pah....." Al menunduk di dekat kaki Zaki karena sesuatu yang menarik hatinya.
"Ayo berdiri!" Panggil Zaki mengulur kan tangannya.
Matanya tertarik pada benda yang saat ini dipegang oleh Al.
"Apa itu? Coba papah lihat," ucap Zaki lalu mengambil benda kecil dari tangan mungil Al.
__ADS_1
Saat tangan mungil itu membuka genggaman nya, Zaki melihat cincin pernikahannya dengan Lara yang waktu itu dia lempar saat kesal dan bertengkar dengan Irene. Irene marah melihat cincin di jari Zaki karena kala itu mereka baru saja menikah dan Zaki yang sedang cinta mati dengan Irene membuang cincin itu ke halaman.
Irene kerumah Zaki ketika Lara sedang syuting tiga hari ke luar kota. Bahkan hingga saat ini, Lara tidak tahu hal itu.
"Al kamu dimana?" teriak Lara sambil matanya celingukan mencari mereka berdua.
Zaki langsung memasukkan cincin itu ke sakunya begitu mendengar Lara memanggilnya.
"Ayo sayang! Kita sudah di panggil mamah..." Zaki lalu mengajak Al masuk kedalam. Nampak Lara berdiri diteras dan tersenyum pada mereka berdua.
Mereka lalu makan bersama dan Zaki sesekali memaksa untuk menyuapi Lara.
"Aku bisa makan sendiri," ucapnya saat Zaki berulang kali memaksanya membuka mulut dan menyuapinya beberapa sendok makan.
"Sekali lagi...." pinta Zaki. Lara akhirnya membuka mulutnya lagi dan membiarkan suami kontraknya itu memperlakukan dirinya dengan romantis pagi ini.
Selesai makan, Zaki membantu Lara membawa piring serta mangkok dan membantu Lara mencuci piring juga. Hal itu membuat Lara berulang kali menoleh menatap lekat-lekat wajah suaminya. Selama tiga tahun, belum pernah dia membantu nya mencuci piring didapur. Jika dia berubah dari kebiasaan sebelumnya, hal itu justru membuat Lara cemas.
Lara berjalan meninggalkan Zaki sambil berbicara sendiri. "Ada apa dengannya? Jika sikapnya lain dari biasanya, malah membuat aku khawatir," batin Lara sembari mengajak Al bermain.
Saat bermain, sesekali dia melihat Zaki dari kejauhan yang masih sibuk mengelap piring.
Zaki berbalik dan menoleh pada Lara yang duduk di sofa. Akhirnya mereka bersitatap dan dengan cepat Lara memalingkan wajahnya. Sedangkan Zaki menaruh lap yang menjadi basah setelah di gunakan lalu berjalan mendekati Lara.
"Mulai sekarang aku akan membantu semua pekerjaan rumah. Kita akan melakukannya bersama-sama," kata Zaki tiba-tiba hingga membuat Lara tercengang.
"Tapi kenapa? Kenapa kau mendadak berubah? Jangan membuat aku cemas melihat sikapmu yang tidak biasa ini?" Lara menatapnya dan Zaki kesal karena pertanyaan Lara yang mempertanyakan perubahan sikapnya.
"Jadi kau mau aku bagaimana?" Tiba-tiba saja nada suaranya menjadi tinggi setelah beberapa menit yang lalu begitu hangat.
"Aku senang kau membantu ku mengurus pekerjaan rumah. Tapi jika semua terjadi begitu mendadak, aku cemas memikirkan nya,"
__ADS_1
"Jika kau cemas maka tidak usah dipikirkan. Dan semua ini tentu ada imbalannya. Jika aku membantumu mengerjakan pekerjaan rumah maka kau harus memijitku karena aku pasti lelah setelah membantu mu...." ucapnya cengengesan dan tertawa kecil seakan merajuk seperti anak kucing yang manis.
"Apa!?" Lara berdiri seketika dan menghadap pada Zaki.
Kesempatan itu justru digunakan Zaki untuk menarik tubuhnya ke atas pangkuannya.
"Duduklah sejenak seperti ini...."Lara berada di pangkuan Zaki dan wajah mereka sangat dekat sekali.
Lara berusaha melepaskan diri dari pelukan Zaki yang membuatnya tertahan di atas pangkuannya.
"Katakan dengan jujur, kau juga nyaman dengan semua ini bukan?"
"Eh, apa?" wajah Lara menjadi merah seperti buah tomat matang seketika.
"ck, wajahmu menjawab semuanya,"
"Memangnya ada apa di wajahku?" Lara memegang wajahnya sendiri.
Disaat yang sama, CEO dan Produser film yang di bintangi Lara datang kerumah Zaki. Dan mereka berdiri di pintu yang terbuka di ruang tamu. Saat itulah mereka melihat pemandangan syur kala Zaki mencium Lara yang sedang duduk di pangkuannya.
"Hmm..."
Sontak saja, CEO dan produser langsung memalingkan wajahnya serta membalikkan tubuhnya.
"Issshhh!"
Mereka salah karena main nyelonong saja dan kini, mereka baru mengetuk pintu.
Tok tok tok!
Lara langsung mendorong tubuh Zaki dan berdiri seketika. Dia menatap kesal wajah Zaki yang terus bersikap arogan. Zaki hanya tersenyum nakal saat berhasil mencium Lara tadi, ketika jatuh di pangkuannya.
__ADS_1
"Biar aku yang melihatnya. Kau duduklah disini..." kata Zaki segera bangun untuk menemui tamunya. Zaki melihat bibir Lara yang nampak sedikit belepotan karena adegan barusan. Juga bajunya yang berantakan hingga dia berinisiatif untuk menemui tamu selagi Lara memperbaiki riasan serta merapikan bajunya.