Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)

Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)
Bab 7 Kita bercerai saja


__ADS_3

Zaki sudah memikirkan masak-masak untuk menceraikan Lara dan mengambil hak asuh putranya. Ini kesepakatan bersama. Dia sudah membayar Lara milyaran untuk memberikan keturunan dan menikah kontrak dengannya.


Dan jika bercerai, Lara harus pergi dari rumahnya dan meninggalkan Al bersamanya.


"Lara, bagaimana jika kita akhiri kesepakatan kita lebih cepat dari yang seharusnya," kata Zaki saat selesai makan malam di rumah mereka.


"Apa? Tapi kenapa?"


Zaki tidak bisa mengatakan jika dia sudah tahu isi hati Lara.


"Karena aku rasa semua ini sudah cukup. Kau bisa bebas menikah dengan pria yang kau cintai," kata Zaki menatap Lara.


"Kenapa mendadak seperti ini?" Sepertinya Lara keberatan untuk mengakhiri kesepakatan ini. Karena jika sudah berakhir, dia tidak punya alasan untuk bertemu Zaki lagi atau Al. Dia harus menjauhi keluarganya.


"Satu Minggu untuk mempersiapkan diri. Biar ku urus semuanya," kata Zaki lalu pergi meninggalkan Lara yang terpaku di meja makan dengan shock berat.


Jadi, aku benar-benar patah hati. Rasanya lebih sakit dari sakit gigi. Aku akan ke dokter lalu minum obat. Tapi hati yang patah, kemana aku harus pergi menyembuhkan nya?


Zaki pergi menemui Irene di bar. Di sana mereka duduk berdampingan dan berbicara.


"Irene, sepertinya aku akan bercerai dengan lara,"


"Bercerai? Kenapa tiba-tiba?"


"Karena aku ingin dia bebas dan bisa pergi pada pria yang dia sukai," kata Zaki.


"Apakah dia menyukai seseorang? Ohh, kalau begitu maka kau harus melepasnya...."


"Ya...dia akan pergi pada pria yang dia sukai..." kata Zaki tersenyum kecut. Dia tahu siapa yang di sukai Lara, tapi dia memilih untuk menyimpan didalam hati saja apa yang dia tahu.


Lama mereka duduk disana hingga saat malam hari, Zaki pulang setelah mengantarkan Irene. Suami Irene sedang keluar kota, karena itulah dia bebas berkencan hingga larut malam.


"Selamat malam...." kata Zaki lalu meninggalkan rumah Irene.


.......


Saat dia kembali, dia kaget karena Lara masih duduk tak bergerak dari meja makan dimana tadi mereka duduk bersama.


"Lara...kau belum tidur?" tanya Zaki sambil menyalakan lampu.


"Kenapa gelap-gelapan seperti ini? Kau takut aku akan memotong bayaran mu karena listrik ini?"

__ADS_1


Lara diam saja. Hanya sudut matanya ada bekas basah seakan dia baru saja menangis.


Zaki menjadi serba salah melihatnya seperti ini.


"Heh! Jika sudah malam sebaiknya kau pergi ke kamarmu? Kenapa menunggu ku? Sudah ku bilang terserah padaku aku akan pulang atau tidak. Kenapa kau tidak mendengar perkataan ku?"


"Kau benar. Hatiku tidak mau mendengar siapa pun. Bahkan aku bicara padanya, dia tetap keras kepala!" Lara berkata dengan mata kosong dan wajah datar.


"Apa? Pokoknya aku tidak mau melihatmu duduk tengah malam di ruangan ini lagi. Kau harus ke kamarmu setelah jam makan malam. Kau mengerti. Atau aku tidak akan membayarmu jika kau tidak menurut padaku!" Zaki bicara dengan sedikit marah-marah untuk menutupi sikap serba salahnya.


"Aku ingin tetap disini. Aku tidak ingin mengakhiri kesepakatan kita sampai aku sudah siap untuk benar-benar pergi,"


"Apa? Aku tidak minta pendapatmu, disini aku yang memutuskan semuanya," Zaki semakin kesal di buatnya.


"Aku mohon....." tiba-tiba Lara bersimpuh di kakinya. Cintanya telah membutakan dirinya.


"Heh! Lepaskan kakiku! Kau ini sudah tidak waras atau apa? Aku membebaskanmu dan membayarmu meski kontrak berakhir ditengah jalan. Harusnya kamu senang karena aku baik hati padamu," Zaki semakin kehilangan kontrol akan kesabaran nya.


"Kau boleh tidak membayarku. Tapi biarkan aku tetap disini seperti sebelumnya. Kita tidak usah bercerai...." kata Lara memohon dan kepalanya tertunduk ke lantai.


Zaki terdiam dengan nafas tak beraturan. Sikap Lara ini jelas Zaki tahu sebabnya. Karena Lara mencintai dirinya. Dan Zaki tidak bisa membalas cinta Lara. Dan sikapnya menjadi kasar agar Lara berhenti mencintai nya dan membencinya.


"Aku sungguh-sungguh ingin menjadi teman hidupmu. Menghabiskan setiap waktu bersamamu. Pernikahan kontrak ini, bagiku seperti nyata," lirih Lara dalam tangis yang tertahan. Zaki sudah ke kamar nya, dia tidak mendengar ungkapan nya itu.


Zaki masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan sangat kasar.


Braaakkk!


Dia lalu menarik sprei dan membuangnya kelantai sembarangan. Kemarahannya dia lampiaskan pada bantal serta sprei di tempat tidur.


Saat ini, pikirannya sangat kacau. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi?


Jika bercerai, memang akan menjadi scandal terbesar berita bulan ini. Pernikahan nya tiba-tiba kandas, maka Irene pasti akan menjadi bulan-bulanan wartawan. Dan bulan madu yang dilakukan untuk pengalihan isu akan sia-sia.


Jika diteruskan. Dia tidak bisa bersikap wajar lagi dengan Lara. Candaan serta rasa dalam bumbu persahabatan itu sudah berbeda. Pasti akan sulit hidup bersama dalam satu atap lagi.


"Dasar gadis bodoh!"


"Sudah tahu jika aku tidak akan membalas cintamu,"


"Kau menghancurkan karirmu sendiri,"

__ADS_1


Jika pernikahan kontrak dan istri bayaran sampai ke publik, karirmu akan tenggelam seketika. Dan apa yang kau perjuangkan akan musnah dalam sekejap.


Zaki menggelengkan kepalanya menyesali Lara yang tidak menggunakan akal sehatnya.


"Kenapa kau bodoh sekali!"


Zaki kesal karena Lara telah membuat gagal semua rencana nya.


Jika dia bercerai, maka Zaki dan Irene juga tidak bisa bertemu sesering dulu lagi. Statusnya sebagai duda, pernikahan kontraknya, akan berimbas pada Irene juga. Publik akan mengecam dirinya. Karir dua wanita itu akan hancur dalam kedipan mata.


"Ah, apa yang harus kulakukan?"


.......


Pagi hari Zaki turun ke bawah setelah mandi dan berbaju rapi. Dia melihat meja makan penuh dengan masakan yang baru di buat. Lara membuat semua masakan itu, baginya cinta adalah melakukan yang terbaik untuk orang yang dia cintai. Entah berbalas atau tidak.


Zaki sebenarnya ingin sekali makan semua itu. Makanan nya terlihat sangat lezat. Tapi saat ini, dia sedang berusaha menjaga jarak dari Lara.


"Kau sudah akan berangkat, sarapan dulu. Aku membuat semua makanan kesukaan mu...." kata Lara dengan peluh di dahinya.


Zaki menahan nafas sesaat dan menoleh pada Lara.


"Aku tidak lapar. Kau makan saja, aku langsung berangkat," kata Zaki tanpa banyak bicara seperti biasanya.


Lara terpaku dengan sikapnya yang terus selangkah demi selangkah berusaha menjauhinya.


"Tapi...."


Zaki sudah menyalakan mobil dan pergi dengan cepat.


Lara membuka tudung saji itu dan menatap satu persatu makanan yang sudah ia buat.


"Untuk apa semua ini? Siapa yang bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?" keluhnya melihat semua makanan itu tak tersentuh sama sekali.


Dia lalu teringat pada CEO. Dan hari ini ada jadwal untuk menemui nya di pagi hari.


Maka dia memasukkan semua makanan itu ke rantang dan akan makan bersama CEO di kantor nya.


"Jika tidak segera dimakan akan mubazir. Dan jika dimakan sore hari, rasanya akan berubah...."


Lara lalu pergi menemui CEO setelah dia mandi dengan cepat dan berdandan tipis-tipis saja.

__ADS_1


__ADS_2